
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Ravin barsiap untuk pulang saat sudah hampir waktu makan siang.
Usai menjaga Rachel semalaman, Ravin juga menemani Rachel sarapan dan menunggu hingga dokter datang memeriksa keadaannya.
Ravin sempat berkonsultasi dengan Dokter yang menangani Rachel sebagai pasien nya.
Ravin menceritakan tentang Rachel yang bermimpi dan menangis hiteris semalam dan Dokter mengatakan kalau itu adalah hal wajar.
Keadaan Rachel saat ini masih belum stabil, mimpi yang di alami nya semalam di akibatkan shock yang di alami nya.
Untuk menghindari kejadian itu terulang kembali, Dokter menyarankan agar jangan melibatkan dulu Rachel dalam kasus ini dan lebih baik menstabilkan dulu keadaannya.
Ravin juga meminta pada pihak rumah sakit milik keluarga nya itu untuk menjaga Rachel eksklusif dan selalu melaporkan keadaanya secara langsung pada Ravin.
"Chel, gue balik dulu ya. Nanti gue ke sini lagi" pamit Ravin.
Rachel yang sedang duduk bersandar di ranjang menganggukan kepala nya.
"Kalo elo capek, enggak usah ke sini lagi aja Rav" ucap Rachel
"Enggak apa-apa. Gue paling istirahat sebentar di rumah juga cukup" ucap Ravin
"Yaudah kalo gitu hati-hati" ucap Rachel.
Ravin mengangguk lalu membelai lembut kepala Rachel.
"Iya .. nanti makan siang di abisin ya, terus obatnya di minum" ucap nya sebelum pergi.
Rachel kembali mengangguk patuh, bibir pucatnya menyunggingkan sebuah senyuman.
Kehangatan interaksi keduanya membuat seseorang yang sedang duduk di ujung sofa mendelik jengah.
"Ehem .. ehem .. kaya nya udah pada lupa ya kalo gue masih ada di sini" sindir Amel.
Kehadiran dirinya yang baru tiba beberapa waktu lalu seolah tak di anggap oleh kedua orang yang sedang asik itu.
Sindiran Amel tentu saja membuat kedua nya malu, Ravin langsung menurunkan telapak tangan nya dari kepala Rachel.
Begitupun perempuan itu, langsung memanglingkan wajah karena malu.
Amel menyengir geli melihat Ravin dan Rachel yang tampak malu-malu.
Ravin berdehem untuk menghilangkan rasa malunya.
"Yaudah Mel, gue balik dulu ya. Titip Rachel di sini" ucap Ravin.
Amel melangkah mendekat ke sisi ranjang Rachel.
"Iya udah balik aja, gak usah khawatirin Achel selama ada gue" ucap Amel.
"Yaudah gue balik dulu ya" pamit Ravin yang di iyakan oleh kedua perempuan itu.
Amel pun mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang Rachel.
"Adududu .. yang gak rela di tinggal sampe di liatin terus" ledek Amel pada Rachel yang terus menatap ke arah pintu keluar.
"Apaan deh lo Mel" ucap Rachel.
"Ciee .. enggak usah malu-malu gitu dong Chel.
Jadi gimana udah resmi apa belum nih?" tanya Amel sambil menarik turunkan kedua alisnya.
Rachel berdecak sebal pada keahlian sahabatnya itu dalam urusan meledek.
"Resmi apaan sih"
"Duh pura-pura gak ngerti gitu"
"Jangan aneh-aneh deh, Mel"
"Kok aneh-aneh sih, udahlah jadiin aja. Kalian cocok tau"
"Iya .. iya terserah elo aja deh"
"Fix kalo jadian jangan lupa pajak jadian nya ya. Gue mau di teraktir sampe puas" ucap Amel kegirangan.
"Gimana elo aja deh ya" balas Rachel malas menanggapi racauan sahabatnya itu.
Ting
Suara pesan masuk dari ponsel Amel membuat percakapan mereka terhenti.
Setelah membaca pesan dari ponselnya, Amel menoleh pada Rachel.
Ingin mengatakan sesuatu tapi terasa ragu.
"Kenapa?" tanya Rachel yang menyadari raut wajah berbeda dari sahabatnya itu.
"Emm .. Mami lo nanyain keberadaan lo Chel. Gue harus jawab apa? Elo mau gue kasih tau aja atau jangan?" tanya Amel ragu.
Rachel diam sesaat, dia tampak sedang berfikir.
Belum sempat Rachel menjawab, satu pesan masuk ke hp Amel dari Mami Mela.
"Apa katanya?" tanya Rachel yang melihat sekilas notifikasi pesan Mami nya.
Wajah Amel yang semula ragu dan hati-hati kini terlihat kesal setelah membaca pesan kedua.
"Bener-bener keterlaluan nyokap lo ya, Chel. Gue kira dia nanyain elo karna khawatir, tau nya nanyain lo cuma buat minta uang" ujar Amel dengan kesal.
Meski Amel merasa kesal, tapi tidak bagi Rachel.
Ia sudah bisa menduga hal tersebut.
__ADS_1
"Bales aja, bilang nanti gue transfer" ucap Rachel.
"Gak mau. Gila gampang banget main kasih aja, emang nya dia kira elo mesin ATM apa" gerutu Amel.
Ia malas untuk membalas pesan Mami nya Rachel.
"Udahlah Mel enggak apa-apa. Elo tau kan dia gak bakal diam kalo belum dapet yang dia minta.
Jadi bales aja" ucap Rachel.
Meski dengan gerutuan Amel akhirnya menuruti permintaan sahabatnya itu.
********
Ravin memasuki rumah mewah keluarganya.
Di sambut oleh Pak Ujang yang kaget melihat kondisi wajah Ravin,
Ravin sempat bertanya pada Pak Ujang keberaan Papa Ken.
Dan
supir setia keluarga Nugraha itu pun mengatakan kalau Papa Ken ada di rumah karena hari ini sedang libur bekerja.
Ravin mengucapkan terima kasih dan langsung masuk ke dalam rumah sambil memberikan salam.
"Assalamualaikum .. " ucap Ravin.
"Wa'alaikumsalam .. " suara Mama Rara terdengar dari dalam.
Juga langkah kaki terburu-buru dari perempuan paruh baya itu terdengar oleh Ravin sedang menghampirinya.
Seperti nya Mama nya itu memang sedang menunggu kedatangan dirinya.
"Kakak udah pulang, baru aja Mama.. Astaghfirullah ..!" pekik Mama Rara
Sambutan dari Mama Rara berubah jadi pekikan kaget saat melihat wajah putra sulung nya itu.
Luka lebam pada pelipis, pipi dan ujung bibir Ravin berhasil membuat Mama nya itu khawatir.
"Ya Allah Kakak, ini kenapa muka Kakak luka-luka begini"
Mama Rara menyentuh wajah Ravin dengan kedua tangannya.
"Mah .. aaww .. " Ravin meringis nyeri merasakan telapak tangan Mama Rara menyentuh luka nya.
"Kok bisa begini Kak? Ya ampun muka kamu bonyok"
"Enggak parah kok, Mah"
"Enggak parah gimana. Kamu berantem sama siapa sih Kak?"
"Kakak enggak berantem kok, Mah"
"Enggak berantem tapi bisa begini?"
"Kamu mukulin orang? Ya Allah kamu bilang mau nginep di rumah teman, tapi malah mukul orang.
Pantesan aja perasaan Mama enggak enak semaleman kemarin" ucap Mama Rara cerewet.
"Kakak udah pulang?"
Suara itu berasal dari Papa Ken yang baru saja keluar dari kamar.
Papa Ken yang sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya dari Hadi, tidak merasa cemas saat melihat Ravin yang terluka.
"Udah Pa" jawab Ravin.
Ravin pun merasa santai saja karena tahu Papa nya itu sudah tahu keadaan yang sebenarnya.
"Ya Alla Pa liat muka Ravin babak belur begini Pa"
Papa Ken mendekat, menghampiri anak dan istrinya tersebut.
"Mana babak belur Ma? Kalo segini aja sih cuma luka ringan, kamu jangan terlalu khawatir gitu" ucap Ken santai.
Mama Rara memukul tangan Papa Ken yang merangkul pinggang nya.
"Kamu tuh ya, anaknya luka-luka begini kok malah keliatan santai aja.
Bukan nya khawatir kek cemas kek" omel Mama Rara.
"Kok Mama jadi omelin Papa juga sih" protes Papa Ken.
Ravin mengulum bibir nya menahan senyum saat Papa nya itu juga kena omel oleh Mama Rara.
"Ya abis santai begitu kaya yang udah tau aja.
Atau jangan-jangan emang Papa udah tau ya.
Kalian sekongkol ya nyembunyiin ini dari Mama"
"Bukan gitu, Ma" ucap Ravin
"Udah Ma, nanti Papa jelasin.
Sekarang biarin Ravin istirahat dulu"
"Kak, kamu naik ke atas sana.
Mandi terus sholat Dzuhur, nanti habis makan siang kamu ke ruangan Papa"
"Iya Pa .. " jawab Ravin.
"Kakak ke kamar dulu ya Mama cantik dan bawel" ucap Ravin sambil mencium pipi wanita kesayangannya itu.
Mama Rara memukul pelan lengan putra sulungnya.
__ADS_1
"Yaudah sana, anak bandel" jawabnya.
Ravin tertawa kecil sambil berlalu dari sana menuju kamarnya.
********
Usai mandi dan sholat Dzuhur, Ravin duduk di tepi kasur sambil masih memakai sarungnya.
Meraih hp nya di atas nakas, Ravin mencoba menghubungi nomor Rachel.
Tapi, nomor gadis itu masih tidak aktif.
Lalu ia beralih menghubungi nomor Amel.
Menunggu sambungan teleponnya di angkat, Ravin merebahkan sebagian tubuhnya di atas kasur dengan kaki terjuntai ke lantai.
"Halo Rav .. "
Suara yang ia dengar bukan suara milik Amel, tapi suara perempuan yang ingin ia hubungi.
"Halo Chel, kok elo yang angkat?"
"Iya .. Ada apa? Amel lagi keluar, hp nya dia tinggal.
Kalo elo mau hubungin dia nanti gue bilang Amel.. "
"Gak usah, gue emang mau hubungin elo kok.
Cuma nomor elo gak aktif" potong Ravin
"Oh, hp nya belum gue haeger .. gue kira cari Amel.
Ada apa?"
"Enggak apa-apa, cuma mau nanya Elo udah makan siang apa belum"
"Udah kok"
"Habis kan?"
"Iya habis kok"
"Udah minum obat juga?"
"Iya udah"
"Keadaan nya gimana sekarang?"
"Udah baik-baik aja kok Rav , jangan khawatir"
"Syukur lah"
"Yaudah sekarang tinggal istirahat"
"Iya ini juga mau istirahat"
"Inget kata dokter tadi pagi, sebelum tidur jangan melamun dan jangan mikirin macem-macem"
"Iyaa inget .. "
"Kalo ada apa-apa langsung hubungin gue"
"Iya .. iya Ravin ..
Kok elo jadi bawel banget sih" ucap Rachel tertawa
"Masa sih?"
"Iya kaya ibu-ibu"
"Duh .. kayanya gue kualat gara-gara sering bilang Mama bawel.
Jadi di katain bawel kaya ibu-ibu juga" ucap Ravin yang berhasil membuat Rachel tertawa di ujung sana.
"Hahaha rasain tuh"
Ravin tersenyum lega saat mendengar Rachel tertawa lepas.
"Udah puas ngetawain nya?
Sana cepet istirahat"
"Iya ini juga mau istirahat"
"Yaudah gue tutup ya teleponnya"
"Iya Rav"
"Yaudah bye Chel .. "
"Iya .. bye Rav .. "
Ravin menutup mengakhiri teleponnya dengan Rachel.
Bibirnya terus tersenyum menatap langit-langit kamarnya sambil meletakan ponselnya di atas dada.
Debaran jantung berdebar cepat hanya dengan mendengar suara gadis cantik itu.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
__ADS_1
See you next episode ❣️