
Hai Hai Selamat Tahun Baru semuanya ☺️
Semoga 2021 menjadi lebih baik dari tahun lalu buat kita semua ..
Awali tahun baru dengan semangat baru 💪 .. yeeaayy !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Ravin sudah sejam menunggu di Caffe, tapi kekasihnya itu belum juga datang. Malah kini ponselnya tidak dapat di hubungi, membuat Ravin cemas saja.
Sambil masih berusaha menghubungi Rachel, Ravin pergi meninggalkan Caffe tersebut.
Hendak pergi menuju tempat yang sekiranya di datang kekasihnya itu.
Karena tak dapat menghubungi Rachel, Ravin pun beralih menghubungi sahabat Rachel yaitu Amel dan beruntungnya gadis itu dapat di hubungi oleh Ravin.
"Halo Rav .. "
Begitu sambungan telepon itu tersambung, Amel langsung menyahut dari sana.
"Halo Mel.. Elo lagi ada di mana? Gue ganggu gak?"
"Gue lagi ada di kampus nih, enggak kok. Ada apa?"
"Gue mau nanya, elo tau gak Rachel sekarang ada di mana? Atau dia ada ngehubungin elo gak?"
"Rachel? Gue gak tau ada di mana dia. Hari ini gue juga belum kontekan sama dia.
Kenapa? Kalian berantem?"
"Oh gitu .. Enggak kok. Gue tadi janjian sama dia, tapi sampai sejam dia gak datang-datang. Nomernya juga sekarang gak bisa di hubungin lagi, gue khawatir sama dia"
"Hah serius? Elo udah coba cek ke rumah dia atau apartemen kalian? Siapa tau dia lupa janjian sama elo"
"Ini gue lagi di jalan menuju ke sana. Yaudah gue udahin dulu ya Mel.
Kalo elo dapet kabar dari dia kasih tau gue ya" pinta Ravin.
"Iya iya, gue pasti kabarin lo. Gue juga nanti coba hubungin Achel"
"Oke .. Thank you Mel"
"Iya Rav .. "
Tut
Sesudah panggilan telepon nya dengan Amel, Ravin langsung melajukan mobilnya menuju apartemen lebih dulu untuk memeriksa apakah Rachel ada di sana.
Lalu pergi ke rumah Rachel jika gadis itu tak ada di sana.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, Ravin yang sudah sampai di parkiran basemen apartemen langsung pergi menuju unit apartemen nya, memeriksa Rachel apakah ada di sana atau tidak.
"Chel .. "
Ravin masuk ke ruang tamu, lalu memeriksa ke setiap ruangan mencari keberadaan Rachel.
"Sayang .. "
"Achel .. " panggil nya berkali-kali tak mendapat sahutan, yang nyatanya di seluruh tempat memang tidak menemukan sosok Rachel.
"Rachel kamu kemana sih sayang?" Gumam Ravin sambil mencoba menghubungi Rachel kembali, hasilnya tetap sama tidak bisa di hubungi.
Tak ingin membuang waktu, Ravin langsung bergegas pergi menuju kekediaman Rachel dan Mama nya.
Dengan harapan Rachel ada di sana.
Mencoba sabar menghadapi kemacetan ibukota, Ravin ingin memastikan lebih cepat keberadaan Rachel dengan menghubungi Mela.
Nyatanya Ravin semakin gelisah dan khawatir saat Mela mengatakan Rachel belum pulang.
"Achel belum pulang Rav, tadi kan dia izin mau pergi nemuin kamu. Sampai sekarang belum pulang ke rumah, memangnya kalian gak jadi ketemu?"
Itulah jawaban yang Ravin terima dari Mela melalui panggilan telepon tadi.
Meski tahu Rachel tak ada di rumah, Ravin tetap pergi ke sana karena harus menemui Mela dan menjelaskan hilang kabar dari Rachel yang tiba-tiba.
Setelah melewati macet sekitar 45 menit, Ravin tiba di rumah Rachel. Mela tampak menunggu kedatanganya di luar rumah.
"Rav gimana? Kamu udah tau Rachel kemana?" tanya Mela.
Perempuan paruh baya itu langsung bertanya begitu Ravin tiba.
"Belum Tante" jawab Ravin lemah.
"Amel .. Amel kamu udah coba tanya dia?"
"Ravin udah hubungin Amel, dan Amel belum berkabar sama Rachel hari ini.
Apa Tante tau teman Rachel yang lain selain Amel?" tanya Ravin.
Keduanya kini berdiskusi di ruang tengah.
"Tante gak tau, tapi kayanya gak ada deh Rav. Achel bukan anak yang gampang bergaul, dan satu-satunya teman yang dekat sama dia cuma Amel" jawab Mela.
Yah meski Mela tak begitu dekat dengan Rachel tapi ia pasti tahu pasti bagaimana sifat putri nya itu.
"Perasaan Ravin enggak enak Tante"
Ravin memijat pangkal hidungnya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan bingung.
"Ravin udah hubungin Amel lagi dan dia juga bilang gak ada teman lagi yang dekat sama Rachel selain dia.
Rav juga udah coba tanya sama teman-teman yang cukup dekat sama Rachel di kampus, mereka juga sama gak tau keberadaan Rachel" jelas Ravin.
Entah kemana menghilangnya gadis itu secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Dia kemana sih sebenarnya? Kok bisa hilang gini, bikin khawatir aja.
Kenapa tiba-tiba jadi banyak kejadian aneh sih akhir-akhir ini" ucap Mela cemas.
Walau hubungan ibu dan anak itu tak erat, Mela tetap merasa takut dan cemas pada putri semata wayangnya kini.
Biasanya Rachel akan pergi dan tak ada kabar jika habis bertengkar dengannya. Dan Mela pasti tahu nya gadis itu kabur ke kediaman Amel.
Tapi kini, mereka tak bertengkar dan bahkan hubungan keduanya semakin membaik belakangan, lalu kenapa Rachel bisa hilang kabar?
"Ravin harus pergi Tante, Ravin mau coba cari Rachel ke tempat lain lagi" ucap Ravin seraya bangkit.
"Tante ikut ya" Mela ikut berdiri.
"Jangan, Tante di rumah aja. Siapa tau nanti Rachel pulang, Tante harus kabarin aku kalau dia datang"
Menghela pelan, Mela terpaksa menuruti permintaan calon menantu idamannya itu.
"Kamu juga ya kabarin Tante"
"Iya Tan pasti. Kalau gitu Rav pamit" Ravin mencium tangan Mela sopan.
"Iya hati-hati Ravin"
Ravin bergegas pergi. Mencari kemana pun asal Rachel bisa di temukan.
Bahkan ia berniat melaporkan kehilangan ke kantor polisi, meski Rachel baru saja hilang kabar beberapa jam yang lalu.
*********
Rachel mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba membuka mata saat kesadarannya kembali. Kepalanya terasa berat dan pening sekali.
Menggeliat pelan, Rachel merasakan aneh pada tubuhnya. Terasa seperti ... di ikat?
Mencoba menghalau rasa pusing, Rachel membuka mata melihat ke sekeliling dan menyadari dirinya kini sedang tersungkur di atas tanah. Tubuhnya meringkuk ke samping dengan tangan di ikat kebelakang dan kaki yang terikat di depan.
Kepalanya semakin terasa sakit saat ia berusaha bangkit duduk.
"Aahh .. " Rachel meringis merasakan denyut di kepalanya.
Dengan susah payah akhirnya Rachel berhasil bangun dan duduk.
Matanya menelisik tempat keberadaannya saat ini.
Sebuah ruangan besar yang kotor dengan penerangan minim, tempat Rachel kini berada.
Hanya ada beberapa lampu kecil yang mulai meredup di beberapa bagian, tapi Rachel dapat melihat banyak box kayu di dalam tempat tersebut.
Seperti dirinya berada di sebuah gudang.
"Gue kenapa? Kenapa gue bisa ada di sini, kaki sama tangan gue juga di ikat?" gumam nya.
Tangan dan kaki nya menggeliat, berusaha melepaskan ikatan.
"TOLONG ... TOLONG ... " teriak nya nyaring.
Rachel berusaha mencari pertolongan.
Telapak tangannya masih berusaha melepaskan ikatan yang sangat kuat itu.
"Tolong .. " lagi-lagi Rachel berteriak.
Tapi tak ada suara atau apapun yang terdengar menyahuti nya.
"Sebenarnya siapa yang ngelakuin ini? Kenapa gue bisa ada di sini? Bukannya terakhir kali gue lagi di dalam mobil Edward"
Apa ini perbuatan Edward? Atau perbuatan orang lain?
Rachel berusaha mencerna apa yang terjadi pada dirinya.
Meski merasa takut, tapi Rachel berusaha tetap tenang dan berpikir jernih agar bisa membebaskan diri.
Dirinya tak boleh lemah. Ia harus bebas.
"Emmhh .. ayo dong ikh .. " Rachel masih berusaha membuka ikatan tangannya walau tambang yang mengikat nya begitu kuat dan besar, Rachel tak menyerah.
Bahkan kuku-kuku panjangnya sampai melukai kulitnya, Rachel tak peduli.
Melihat sekeliling, mencoba mencari benda yang bisa ia gunakan untuk kabur. Namun nihil, tak ada Apun selain box dari kayu yang berjejer di sana.
Terlalu fokus untuk melepaskan diri, Rachel sampai tak sadar pada suara derap kaki yang mendekat ke ruangan tersebut.
Tak lama di susul dengan terbuka nya celah pintu sehingga menampakan sosok yang kini baru saja datang itu.
"Wahh .. udah bangun ternyata"
Rachel kaget terperanjat lalu mendongkak, melihat sosok yang kini masuk dan berjalan mendekatinya.
"Ed.. Edward .. "
"Lagi berusaha kabur, hmm?" Lelaki itu kini berdiri menjulang tinggi di depan Rachel.
"Edward, elo apa-apaan. Lepasin gue" teriak Rachel.
"Apa Lo bilang? Lepasin? Enak banget" ucap Edward seraya tertawa nyaring.
"Udah lama gue nunggu waktu ini, dan elo minta di lepasin gitu aja? Jangan mimpi Rachel" ucap Edward.
"Kenapa elo ngelakuin ini sama gue. Apa mau lo br*ngsek" bentak Rachel.
Edward tampak berjalan kebelakang, memutari tubuh Rachel lalu berjongkok tepat di samping Rachel untuk mensejajarkan tubuh mereka.
"Mau tau alasannya cantik?" Edward berbisik di telinga Rachel.
Rachel mendelik tajam, saat Edward menunjukan seringai menyeramkan nya.
"Lepasin gue!" ucap Rachel malah di tertawakan oleh Edward.
"Ravin gak akan tinggal diam kalau dia sampai tau elo ngelakuin ini. Cepat lepasin"
__ADS_1
"Hahaha ... Sayang nya dia gak bakal tau tuh, karena dia lagi asik peluk-pelukan sama cewek lain"
"Tutup mulu lo baj*ngan"
Rachel tidak dapat lagi menahan air matanya mendengar kenyataan yang di ucapkan Edward.
Dirinya jadi terbayang lagi saat melihat Ravin dan Nara berpelukan di caffee tadi siang.
"Loh loh .. kok nangis?" Edward mengusap air mata di pipi Rachel.
"Padahal gue belum apa-apain elo loh" ucap nya sambil tertawa jahat.
Rachel berpaling, tak sudi tangan besar Edward menyentuh wajahnya.
"Kenapa elo ngelakuin ini sama gue? Apa salah gue?" gumam Rachel.
"Mau tau alasannya?"
Tangan Edward merambat ke belakang, menyentuh rambut panjang Rachel.
"Karena elo dan nyokap lo, udah ngehancurin hidup gue"
"AAKH .. "
Edward menarik rambut Rachel ke belakang dengan sangat kuat, membuat kepala Rachel mendongkak.
"Elo dan nyokap lo, kalian penghancur" Edward mengucapkan itu tepat di atas wajah Rachel.
"Aakhh sa.. sakit" Rachel merintih, merasakan kulit rambut seakan ingin terlepas dari kepalanya.
"Dan sekarang gue bakal bikin hidup kalian berdua yang hancur" Edward menyeringai saat melihat air mata Rachel menetes saking menahan sakit.
"E.. elo dendam karena gue gak terima lamaran lo? Bukannya dari awal gue udah bilang kalau gu.. gue gak bis... " ucapan Rachel terpotong kala Edward tiba-tiba tertawa kencang.
"HAHAHAHA .. "
"Elo masih berpikir kalau gue ngelakuin ini karena gue suka sama lo?" tawa Edward masih belum mereda.
Kini lelaki itu telah melepaskan cengkeramannya di rambut Rachel.
Dan kembali berdiri menjulang di depannya.
"Gue enggak nyangka elo naif juga ternyata.
Elo kira gue benar-benar suka sama lo?" ucap Edward.
Dia mengibas-ngibaskan celana di bagian lututnya yang kotor akibat berjongkok tadi.
"Tapi wajar sih .. Gue kan belum cerita ya tentang yang sebenarnya"
Rachel sudah tidak peduli pada ucapan lelaki di hadapannya kini.
Ia masih merasakan sakit yang teramat di kepalanya akibat cengkraman Edward tadi.
"Oke, gue bakal ceritain tentang dongeng yang bagus. Tapi nanti, setelah gue bawa nyokap lo juga buat nemenin Lo di sini"
Rachel langsung terkesiap begitu mendengar Mami nya di sebut-sebut.
"A.. apa lo bilang?" Rachel mendongkak untuk melihat Edward.
"Wih .. enggak usah kaget gitu"
"Jangan libatin nyokap gue, br*ngsek" teriak Rachel.
"Tentu aja gue harus libatin dia. Karena dia juga harus dengar tentang dongeng panjang yang bakal gue ceritain, sebelum kalian berdua tidur"
"Tidur selama-lamanya, hahaha"
"Br*ngsek, baj*ngan si*lan. Jangan bawa-bawa nyokap gue!!" umpat Rachel berkali-kali.
Tidak bisa, Rachel tidak bisa membiarkan Mami nya terlibat dan sampai kenapa-kenapa.
Bagaimana pun ia tidak bisa membiarkan Mami nya terluka.
Seperti apapun hubungan keduanya, jiwa anak dan rasa sayang dalam diri Rachel tak bisa melihat ibu nya terluka.
"Gue enggak nyangka elo sayang juga sama nyokap lo itu. Kalau gitu gue bakal secepatnya jemput dia biar bisa nemenin Lo di sini"
"Jangan"
"Elo tunggu ya baik-baik .. Jangan nakal" ucap Edward seraya mengelus puncak kepala Rachel.
Rachel menggeleng kuat-kuat, masih meminta Edward mengurungkan niatnya.
Tapi hasilnya nihil, lelaki itu tetap melenggang pergi meninggalkan Rachel sendiri.
"Mami .. " Rachel terisak, memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Ibu nya sedangkan dirinya sendiri masih terikat di sini.
Yang kini berkelebatan di kepalanya adalah nama Ravin. Berharap kekasihnya itu tahu.
Tetapi apakah lelaki itu bisa menolong nya?
Atau dia masih asik berduaan dengan Nara?
Entahlah, Rachel di penuhi kekalutan dan ketakutan saat ini.
Ia tak mengerti apa motif dendam Edward pada dirinya dan juga Mami nya.
Ada apa sebenarnya?
•
•
•
•
Jangan lupa Like Coment dan Vote.
__ADS_1
See you next episode ❣️