
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Rachel terus mengikuti Ravin dari jarak jauh, saat langkah kaki lelaki itu menuju ke taman belakang.
Taman yang hanya di tumbuhi rerumputan dan beberapa pohon besar yang di gunakan beberapa mahasiswa untuk berteduh bahkan tidur di bawah sana.
Situasi sekitar cukup sepi, memang taman ini hanya di datangi beberapa mahasiswa sebagai tempat istirahat atau mahasiswa yang sedang ingin sendiri saja.
Ravin duduk di salah satu pohon besar yang menjadi sandarannya, menunggu Rachel menyusul nya.
Menduduki dirinya di samping Ravin, Rachel dapat melihat wajah Ravin yang terlihat di tekuk masam.
Baru pertama kali Rachel melihat ekspresi wajah Ravin yang seperti ini.
Selama ini Ravin tak pernah menunjukkan wajah kesalnya, lelaki itu terlihat selalu tersenyum dan lembut.
"Mau ngomong apa, Rav?" tanya Rachel.
"Siapa yang tadi?" tanya Ravin, setelah Rachel mendudukan dirinya di samping Ravin.
"Temen-temen aku. Yang rambutnya pendek namanya Siska, yang rambutnya kriting namanya Maruna" jawab Rachel.
"Bukan mereka yang aku tanya" ucap Ravin jengkel.
"Terus?" tanya Rachel pura-pura tak mengerti.
Sebisa mungkin Rachel menahan tawanya.
"Laki-laki sok ganteng yang duduk di depan kamu tadi.
Siapa dia?" ucap Ravin dengan ketus.
"Oh .. itu Hugo anak fakultas teknik" jawab Rachel.
"Oh .. hebat ya.
Pantes aja dari tadi enggak ada hubungin aku sama sekali, ternyata lagi makan sama anak teknik" ucap Ravin dengan nada menyindir.
"Aku enggak makan sama dia" sanggah Rachel.
"Enggak makan sama dia?"
Ravin akhirnya menolehkan wajahnya ke arah Rachel.
Hingga Rachel bisa melihat dengan jelas wajah masam Ravin.
"Iya enggak" ucap Rachel tanpa merasa bersalah.
"Terus yang tadi aku liat itu apa ya?"
"Kamu duduk datu meja loh Sayang bahkan saling hadap-hadapan sama sih Digo itu" ucap Ravin.
"Hugo, Rav. Bukan Digo"
"Bodo amat, aku enggak peduli siapa namanya" ucap Ravin semakin kesal.
"Aku enggak makan sama dia, si Hugo nya sendiri yang main duduk aja di sana" jelas Rachel.
"Ya kamu kan bisa larang" ucap Ravin.
"Mana mungkin bisa, emangnya kantin itu punya aku.
Bisa larang orang sesukanya"
"Ya makanya kita enggak usah rahasiain hubungan kita, biar enggak ada lagi yang bisa deketin kamu"
"Jangan sekarang, Rav"
"Kenapa sih? Kamu takut cowok-cowok yang naksir kamu pada mundur kalo tau kamu punya aku?" tanya Ravin.
"Kok kamu bisa-bisa nya mikir gitu sih, Rav" ucap Rachel marah.
Ucapan Ravin berhasil membuat emosi Rachel, ia tak menyangka Ravin akan mengatakan hal seperti itu tentang dirinya.
"Ya habis kamu nya juga, kenapa harus di sembunyiin segala hubungan kita.
Aku cuma pengen tunjukin sama orang-orang kamu milik aku" ucap Ravin tak kalah emosi.
"Ya karna aku enggak mau orang lain menganggap hubungan aku sama kamu itu sama kaya hubungan aku sebelum-sebelumnya.
Aku enggak mau orang kira aku pacaran sama kamu cuma buat manfaatin kamu aja" ucap Rachel masih emosi.
"Ya kamu enggak usah peduliin omongan orang" ucap Ravin tak mau kalah.
"Mana bisa aku enggak peduli.
Aku enggak mau mereka sama-samain kamu sama yang lain nya.
Karena aku tulus sayang sama kamu.
Kamu enggak akan pernah sama dengan mantan-mantan aku.
Ini pertama kali nya aku miliki orang yang aku
sayang, aku enggak mau ada banyak pengganggu di sekeliling kita.
Begitu juga sama hubungan ini, hubungan ini sangat berarti buat aku" ucap Rachel menggebu-gebu.
Tanpa sadar Rachel seperti meluapkan semua perasaan nya pada Ravin.
Ravin tertegun sesaat, sampai akhirnya kedua bibirnya melengkung dengan sempurna setelah mendengar ucapan Rachel.
__ADS_1
Hati Ravin semakin merasa bahagia.
Ternyata Rachel juga menyayangi nya sebesar itu.
Menganggap hubungan ini sangat berharga sama seperti dirinya.
Tak peduli lagi jika masih ada orang di sekitar mereka, Ravin langsung memeluk tubuh Rachel dengan erat.
"Ra.. Rav .. " Rachel berjengit kaget.
Gadis itu panik, ia mencoba lepas dari pelukan Ravin takut ada yang melihat mereka berpelukan saat ini.
Tapi Ravin enggan untuk melepaskan mengendurkan apalagi melepaskan pelukannya.
"Aku juga" ucap Ravin.
"Ya?" Rachel seperti masih belum sadar dengan ucapannya sendiri tadi.
"Aku juga benar-benar tulus sayang sama kamu, Chel.
Hubungan ini juga sama sangat berarti nya buat aku" ucap Ravin.
Rachel tertegun, baru sadar apa yang ia ucapkan saat emosi tadi adalah seluruh perasaannya pada Ravin.
Perasaan yang selalu ia coba tutupi dan tak pernah ia ungkapkan.
Mendadak rasa malu timbul dari diri Rachel, ia membalas pelukan Ravin untuk menyembunyikan wajahnya di dada Ravin.
"Maafin ucapan aku tadi ya, Sayang" ucap Ravin.
Rachel menganggukan kepalanya di balik dada Ravin.
Tangannya mengusap punggung kekar milik kekasihnya itu.
"Aku tau tadi kamu cuma kesal aja" jawab Rachel.
"Maaf karna rasa cemburu, aku jadi luapin emosi aku ke kamu"
"Enggak apa-apa, harusnya aku juga jangan ikut terpancing emosi" jawab Rachel.
Ravin melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Rachel penuh cinta.
"Aku malah bersyukur karena emosi kamu itu, aku jadi bisa tau perasaan kamu yang sebenarnya" ucap Ravin sambil tersenyum.
Wajah Rachel seketika memerah, ia kembali malu dengan pengakuan tanpa sadarnya.
"Udah, ah jangan di bahas lagi. Aku malu"
Ravin terkekeh sambil mencubit gemas pipi merah Rachel.
"Kenapa malu sih, aku kan pacar kamu.
Mulai sekarang, ungkapin aja semua perasaan kamu.
Dan satu kecupan Ravin berikan di kening Rachel membuat gadis itu kaget.
"Ravin nanti ada yang liat" cebik Rachel.
"Biarin aku, enggak peduli"
Ravin kembali menarik Rachel ke dalam pelukan nya.
"Aku sayang kamu, Chel" ucap Ravin.
"Aku juga, Rav" Rachel membalas pelukan Ravin.
********
Setelah pertengkaran kecil antara Ravin dan Rachel, yang berakhir manis semakin membuat hubungan keduanya semakin erat saja.
Meski masih merahasiakan hubungan ini dari orang-orang, Ravin dan Rachel tetap menikmati kemesraan sebagai pasangan baru walau secara diam diam.
Seperti bertemu di tempat sepi, saling bersentuhan saat tak sengaja bertemu, saling menatap lewat rak buku di perpustakaan, dan pulang pergi ke kampus bersama secara sembunyi-sembunyi.
Meski pun awalnya mereka sering takut akan ketahuan, tapi lama kelamaan mereka berdua malah menikmatinya.
Rasanya selalu mendebarkan setiap mereka hendak bertemu diam-diam.
Contohnya seperti saat di kantin siang tadi, saat Rachel sedang makan sendirian.
Ravin sengaja duduk di deretan meja yang di tempati Rachel bersama teman-teman satu jurusannya.
Lelaki itu mengambil kesempatan dengan duduk di samping Rachel.
Bahkan tak ada yang tahu bahwa di bawah meja tangan kiri Ravin menarik tangan kiri Rachel untuk ia genggam.
Mungkin orang-orang akan mengira mereka menikmati makan siang seperti biasanya.
Tapi, Rachel hampir saja tersedak saat Maruna menyapa nya dari belakang.
"Chel .. " sapa Maruna tepat di balik punggung Rachel.
Rachel yang kaget langsung menarik tangan nya dari genggam Ravin dengan paksa.
Rachel tahu, mungkin Una sudah melihat semuanya tadi.
Saat Ravin menggenggam erat tangan nya, bahkan Ravin memainkan jemari Rachel.
"I.. iya Na?" jawab Rachel gelagapan.
Una yang ada di tengah-tengah Rachel melirik pada Ravin dan Rachel secara bergantian.
Senyuman penuh arti tercetak jelas di wajah Una.
__ADS_1
"Gue cuma mau sampein, tadi elo di cari Pak Nawawi" ucap Maruna.
"Ada apa?" tanya Rachel.
Pasti ini tentang skripsi nya, Pak Nawawi itu dosen pembimbing Rachel.
"Enggak tau, katanya sih soal skripsi.
Dia cuma minta elo cepat temuin dia, dia bilang katanya ada di kampus cuma sampai jam dua" ucap Una.
"Oh .. yaudah gue ke sana sekarang deh" ucap Rachel berdiri sudah hendak pergi, tapi Ravin menahan tangannya.
"Mau kemana?" tanya Ravin.
"Enggak denger tadi?
Mau nemuin Pak Nawawi" jawab Rachel.
"Habisin dulu makanan kamu" ucap Ravin.
"Enggak deh, aku udah kenyang" jawab Rachel.
"Kenyang gimana? Makanan nya juga baru kamu makan sedikit"
"Tapi aku beneran udah kenyang, Rav.
Udah ya aku mau ketemu dosen pembimbing aku dulu"
"Makan sedikit gimana bisa kenyang sih, ngerjain skripsi itu capek loh.
Butuh tenaga ekstra, kalo kamu sakit gimana?"
Perdebatan keduanya membuat orang-orang yang ada di hadapan mereka berdua mengerutkan kening.
Mereka benar-benar bergerak-gerik layaknya sepasang kekasih, mereka bahkan sampai tak sadar kalau di sekeliling mereka ada orang lain.
"Itu gampang nanti, aku bisa cemil roti atau cari makan lagi" jawab Rachel masih kekeh.
"Tapi, Say.... "
Kedua mata Rachel membulat sempurna saat
Ravin keceplosan hendak memangil Rachel dengan sebutan sayang.
Beruntung saja lidah Ravin bisa menahan nya meski mendapat tatapan heran dari teman-temannya.
"Tapi, Say .. emm sayur iya sayur. Makan rotinya rasa sayur, bagus itu buat kesehatan" ucap Ravin gelagapan sekena nya.
"Oh .. O.. Oke" jawab Rachel sama gugup.
Maruna yang seperti nya paham dengan situasi saat ini, hanya mampu mengulum bibirnya.
Mencoba menahan tawa.
"Astaga, dua orang ini lucu banget sih" batin Maruna.
Tebakan menebak dalam hati, kalau memang ada sesuatu antara Ravin dan Rachel.
Apalagi ia sudah melihat sendiri genggaman Ravin dan Rachel tadi.
"Yaudah aku pergi dulu" ucap Rachel meminta Ravin melepaskan tangannya.
Dengan berat hati Ravin melepaskan cekalan tangannya pada Rachel, membiarkan gadis itu pergi.
"Gue duluan ya Jo, semuanya" pamit Rachel pada Jojo dan teman-teman Ravin.
"Oke Chel, semangat ya bimbingan skripsi nya" ucap Jojo pada Rachel.
"Iya Jo, makasih" jawab Rachel yang membuat Ravin kesal.
Harusnya ia yang menyemangati Rachel lebih dulu.
Rachel mengisyaratkan pamit melalui kedua matanya pada Ravin.
Lalu iya benar-benar pergi dari sana.
Baru Rachel pergi tak jauh dari sana, suara satu notifikasi pesan masuk berbunyi dari ponsel Rachel.
Yang ternyata dari Ravin.
Ravin : Semangat bimbingan skripsi nya Pacarku Sayang.
I love you, Honey 🖤.
Rachel tak mampu menahan bibirnya untuk tidak tersenyum setelah membaca pesan dari Ravin.
Perempuan itu menoleh lagi sesaat ke belakang, dimana Ravin masih menatapnya sambil tersenyum.
Rachel membalas senyuman itu, sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana.
Saat Rachel sudah benar-benar tak terlihat, Ravin kembali berbalik ke ke depan untuk melanjutkan makan nya.
Tapi, Ravin tersentak saat melihat tatapan tajam penuh introgasi dari Jojo, mengarah padanya.
•
•
•
•
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
__ADS_1
See you next episode ❣️