
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah hampir satu jam lama nya menembus macetnya kota jakarta, Ravin akhrinya sampai di apartemen Amel.
Ravin dengan tergesa-gesa meniki lift menuju unit milik sahabat dari kekasihnya itu.
Tapi saat dirinya baru saja tiba di depan pintu apartemen, suara seseorang yang tak asing memanggilnya dari belakang.
"Ravin ... "
Ravin berbalik badan, mendapati Amel sedang berdiri di belakangnya penuh dengan tatapan tanya.
"Kok elo berdiri di situ? Ngapain?" tanya Amel.
Ravin bungkam, dia tahu kalau Amel sepertinya tidak tahu kalau Rachel tak jadi pergi.
Karena di salah satu pesan yang di kirim Rachel, kekasihnya itu mengatakan bahwa Amel sudah pergi lebih dulu dan ia masih menunggu Ravin.
"Rachel mana? Kok elo sendirian?" pertanyaan kedua terlontar dari Amel, karena tak ada jawaban dari pertanyaan nya yang pertama.
"Emm .. Itu Mel .. " Ravin tergagagp hendak menjawab.
"Jangan bilang elo baru dateng?" tebak Amel.
Tatapan nya menusuk tajam pada Ravin.
Ada kecurigaan pada diri Amel melihat Ravin yang kebingungan.
"Tadi gue ada urusan mendadak, Mel" ucap Ravin.
"Urusan mendadak apa?" tanya Amel.
"Ada sedikit masalah penting" jawab Ravin.
"Lebih penting dari Rachel?
Sampai jam segini baru dateng" tanya Amel tajam.
Sahabat dari kekasihnya itu melihat pada jam tangan yang ia gunakan sudah menunjukan hampir pukul setengah dua belas malam.
Sudah sangat larut bagi Ravin untuk datang jam segini.
"Bokap nya sahabat gue tiba-tiba pingsan dan gue lagi ada di sana.
Jadi gue harus bawa dan temanin dia ke rumah sakit" jawab Ravin.
Sebenarnya Ravin tak perlu menjelaskan pada Amel tentang apa penyebab dia sampai melupakan janji nya pada Rachel.
Tapi saat Ravin dan Rachel masih baru berpacaran dan Amel orang pertama yang tahu, Amel pernah memberikan peringatan pada Ravin secara tegas.
Kalau sampai Ravin melukai atau membuat Rachel sedih dan kecewa.
Maka Ravin harus berurusan dengan Amel.
Bukan hanya karena Amel begitu menyayangi Rachel hingga gadis itu melakukan itu.
Karena Amel tahu benar, bagaimana kehidupan Rachel yang membuat Rachel tak percaya pada cinta.
Dan ini pertama kali nya Rachel melabuhkan hatinya pada seseorang.
Amel tidak mau Rachel mengalami kecewa.
"Oh .. " jawab Amel.
"Palingan Rachel juga udah tidur Rav.
Kenapa enggak besok aja ke sini nya" ucap Amel.
Ravin diam sesaat menatap pintu apartemen, membuat Amel mulai curiga.
"Kalian berantem?" pertanyaan datang lagi dari Amel.
"Kita enggak berantem, tapi kayanya Rachel marah sama gue" jawab Ravin.
"Gue lupa kasih kabar ke dia karna handphone gue ada di mobil, padahal dia udah nungguin gue" sambung Ravin.
Perasaannya merasa bersalah dan Amel bisa melihat itu.
Amel diam, menatap tajam Ravin yang masih berdiri di depan pintu.
"Jadi elo mau masuk?" tanya Amel karena tak tega juga mengusir Ravin.
"Boleh?" tanya Ravin.
Amel menganggukan kepalanya.
"Boleh aja.
Tapi kalo Rachel udah istirahat, elo balik aja.
Biar gue yang sampain sama dia besok kalo elo ke sini" ucap Amel.
"Iya .. Mel. Thank you" jawab Ravin lega.
Amel menganggukan kepalanya, mendekat ke arah pintu.
Ravin menggeser tubuhnya saat Amel hendak memasukan pasword apartemen nya.
"Ayo masuk" ucap Amel setelah pintu apartemen nya terbuka.
Amel membuka lebar-lebar pintu, mempersilahkan Ravin masuk ke dalam unit miliknya.
Ravin menunggu Amel masuk ke dalam lebih dulu, karena ini pertama kali nya Ravin masuk ke dalam apartemen milik sahabat dari kekasihnya itu.
Amel berjalan mendahului menuju ke ruang tengah yang di ikuti oleh Ravin dari belakang.
"Elo duduk dulu biar gue cek apa Rachel udah tid... " ucapan Amel menggantung begitu kedua matanya melihat tubuh Rachel tertidur di sofa ruang tengah.
Amel terkesiap begitupun juga Ravin.
Mereka sama-sama melihat ke arah Rachel yang sedang meringkuk di sebuah sofa panjang, dengan satu tangan yang ia gunakan sebagai bantalan dan satu tangannya lagi masih menggenggam erat ponsel nya.
Gadis itu terlihat sangat pulas.
__ADS_1
"Si bodoh, ngapain coba tidur di situ" ucap Amel, nadanya terdengar kesal.
Bukannya Amel tidak mengerti kalau Rachel menunggu Ravin datang hingga tertidur.
Lihat saja pakaian dan make up tipis yang masih melekat di diri Rachel, membuktikan bahwa gadis itu bahkan belum beranjak sedari beberapa jam yang lalu.
Ketika Amel mendekat hendak membangunkan Rachel, Ravin menahan nya.
"Mel, biar gue aja" ucap Ravin yang di iyakan oleh Amel.
"Yaudah gue ke kamar dulu" ucap Amel, dirinya mengerti kalau Ravin dan Rachel pasti butuh privasi berdua.
Setelah Amel berlalu masuk ke dalam kamar, Ravin pun mendekat.
Ia berjonngkok di depan sofa tepat menatap wajah Rachel.
Rasa bersalah merayapi hati Ravin saat menatap wajah Rachel yang tertidur di atas sofa.
Kekasihnya itu bahkan menunggu dirinya hingga tertidur seperti ini.
Ravin menarik pelan ponsel yang masih di genggaman Rachel, meletakan ponsel itu di atas meja.
Ravin menggenggam erat tangan Rachel seraya mendaratkan ciuman di punggung tangan Rachel bertubi-tubi.
"Maaf .. Maaf Sayang" ucap Ravin berulang-ulang.
Ia merasa benar-benar bersalah.
Merasa tidurnya terusik, Rachel akhirnya terbangun.
Matanya mengerjap berkali-kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Dan, tatapan Rachel bertemu dengan Ravin membuat kerutan di dahi Rachel muncul.
Rachel bergumam pelan sambil masih menyakinkan dirinya kalau ia lihat benar kekasihnya.
"Ravin?"
*********
Ravin enggan melepaskan genggaman tangan nya pada Rachel.
Meski Rachel meminta melepaskan nya sebentar untuk pergi mengambilkan Ravin minum.
Tapi, Ravin tetap merasa enggan.
Lelaki itu terus merekatkan erat, jari-jari nya di sela-sela jari milik Rachel.
Setelah Rachel bangun dari tidurnya dengan kaget karena Ravin tiba-tiba ada di hadapannya, kini mereka tengah duduk berdua di sofa yang tadi si tiduri Rachel.
"Aku enggak haus kok" ucap Ravin karena Rachel kukuh hendak mengambilkan minum untuknya.
"Iya tapi tetap aja, masa ada tamu minum aja enggak di sediain" ucap Rachel.
Ravin menatap Rachel begitu dalam membuat Rachel mengerenyit.
Lalu tiba-tiba Ravin memeluk tubuh Rachel dengan erat.
"Maaf Sayang .. " ucap Ravin.
"Maafin aku .. " ulang nya.
Rasa bersalah Ravin semakin besar, apalagi saat Rachel tak marah sama sekali padanya karena sudah melupakan janji mereka.
Rachel malah dengan sabar mendengarkan penjelasan Ravin.
Dan ia bisa memaklumi dan turut sedih saat mendengar kabar tentang Ayahnya Nara yang masuk rumah sakit.
Tangan Rachel terulur untuk membalas pelukan Ravin.
Ia menopang dagunya di atas bahu Ravin.
"Enggak perlu minta maaf terus, kamu kan jelasin sama aku.
Lagian nyawa Papi nya Nara itu lebih penting dari pada sekedar makan malam kita" ucap Rachel pengertian.
Ravin semakin menyerukan wajahnya di potongan leher Rachel, pelukannya terasa makin erat saja.
"Kamu benaran enggak marah atau kecewa sama aku kan?" tanya Ravin takut-takut.
Jujur selain rasa bersalah, Ravin juga takut Rachel marah atau kecewa pada nya.
"Enggak" Rachel menggeleng.
"Serius?" tanya Ravin.
"Iya serius .. " jawab Rachel.
Hati Ravin merasa lega, ia kemudian melepaskan pelukannya.
Lalu memberikan ciuman di kening Rachel.
"Makasih Sayang kamu udah pengertian" ucap Ravin dengan senyum mengembang.
Rachel ikut tersenyum tipis, tapi di dalam senyumannya itu ada terselip juga rasa tidak nyaman.
Meski ia mengerti sepenuhnya tentang keadaan Papi nya Nara, tapi tidak sepenuhnya tentang Nara.
Setidaknya ada terselip sedikit rasa tak nyaman itu.
Bagaimana pun juga Nara juga perempuan dan Nara tidak suka dengan dirinya bahkan pernah menuduh buruk tentangnya.
Rachel juga bisa merasakan kalau Nara memiliki perasaan lain pada Ravin.
Wajar bukan kalau dirinya merasakan tak nyaman, meski Rachel selalu menutupi nya dari Ravin.
Kruucuuk ...
Bunyi suara perut Ravin terdengar nyaring, di antara keheningan Ravin dan Rachel.
Ravin dan Rachel sama-sama melirik ke arah perut Ravin lalu kembali saling bertatap.
Suara tawa kedua nya pecah bersamaan.
"Kamu laper?" tanya Rachel sambil masih tertawa.
__ADS_1
Ravin menyengir kaku sambil menggaruk tak gatal.
"Dasar perut bikin malu aja" ucap Ravin.
"Kamu belum makan malam?" tanya Rachel.
Ravin menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Belum sempet. Kamu udah makan malam?" tanya balik Ravin.
Rachel juga menjawab dengan gelengan.
"Belum juga" jawabnya.
"Kok belum makan sih?
Harusnya kamu makan aja begitu aku susah di hubungin.
Kalo kamu sakit gimana?" ucap Ravin khawatir.
"Perasaan yang tadi perutnya bunyi kamu deh, kok jadi aku"
"Ya kan kamu juga belum makan, Sayang" ucap Ravin.
"Ayo kita cari makan sekarang, kamu harus makan sesuatu" Ravin berdiri, mengajak Rachel pergi.
"Udah larut malam, Sayang" tahan Rachel.
Ravin melirik ke arah jam di dinding yang sudah hampir pukul 12 malam.
"Sebentar aja, pasti masih banyak tempat makan yang buka kok" ucap Ravin.
"Enggak usah keluar deh, biar aku masak aja buat kamu sama aku" ucap Rachel.
Ravin kembali duduk di samping Rachel.
"Kamu bisa masak?" tanya Ravin.
"Sedikit" jawab Rachel.
"Kok kamu enggak pernah bilang" ucap Ravin.
"Kan kamu enggak pernah tanya"
"Ya kamu cerita dong, aku kan pengen tau semua tentang kamu meski hal-hal kecil juga" ucap Ravin.
"Iya iya .. udah ya kita bahas soal ini nanti aja.
Jadi enggak mau aku masakin?" tanya Rachel yang langsung di jawab anggukan semangat oleh Ravin.
"Jadi dong" jawab Ravin semangat.
Rachel tersenyum sambil beranjak dari duduk nya.
"Aku bikinin griled chicken aja ya yang cepat, kebetulan masih ada salad sama mashed potato di kulkas buat side dish nya.
Gimana?" tanya Rachel.
"Apa aja asal masakan kamu" jawab Ravin sambil tersenyum.
"Yaudah kamu tunggu sini aja sambil nonton tv" ucap Rachel berlalu meninggalkan Ravin.
Rachel mengikat rambut panjangnya lalu mulai memakai apron di tubuhnya.
Kemudian ia menyiapkan semua bahan-bahan untuk masakannya.
Saat Rachel sedang sibuk berkutat dengan masakannya, tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.
Membuat Rachel sedikit terlonjak kaget.
"Rav .. " sentak Rachel.
Ravin menopangkan dagunya di atas bahu Rachel sambil masih memeluk nya.
"Apa Sayang"
"Rav .. lepas, enggak enak ada Amel"
"Amel udah istirahat" jawab Ravin.
"Yaudah lepas, aku susah nih masaknya" keluh Rachel.
Tapi, Ravin tak mendengarkan ucapan Rachel.
Ia tetap memeluk Rachel hingga gadis itu pasrah dan membiarkannya, sambil kembali melanjutkan masakannya.
Aroma dari griled chicken Rachel mulai tercium harum.
Membuat perut Ravin semakin lapar.
Rachel terus masih sibuk memasak makanannya tanpa peduli dengan Ravin yang masih bergelayut manja memeluknya.
Hingga sebuah ucapan terlontar dari bibir Ravin membuat pergerakan tangan Rachel berhenti seketika.
"Aku mau menikah sama kamu, Chel.
Aku mau seperti ini setiap hari.
Memeluk kamu, memakan masakan kamu, tidur di samping kamu, melihat kamu setiap membuka mata.
Aku mau seumur hidup aku bersama kamu, menjadikan kamu rumahku dan satu-satu nya menjadi tujuan aku"
"Aku cinta kamu, Rachel"
•
•
•
•
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
See you next episode ❣️
__ADS_1