
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Niat utama Ravin datang ke rumah Nara adalah untuk jujur tentang hubungan nya dengan Rachel.
Tapi, nyatanya waktu sudah hampir petang pun Ravin belum sempat bisa berbicara dengan Nara berdua.
Karena hari ini weekend dan Om Hendra libur bekerja, tentu saja Om Hendra selalu ada di antara Ravin dan Nara.
Seperti kebiasaan dulu saat Ravin datang bermain ke rumah Nara, pasti Ravin banyak menghabiskan waktu menemani Om Hendra.
Mulai dari mengobrol tentang kuliah, bisnis, bermain catur, lalu mengecek barang-barang antik milik Om Hendra.
Tak ada kesempatan bagi Ravin untuk berbicara berdua dengan Nara.
Sedangkan jam sudah menunjukan hampir pukul 6 sore.
Ia harus segera pulang, karena ada janji makan malam dengan Rachel.
"Nar .. aku mau ngomong sama kamu sebentar" ucap Ravin.
Ini kesempatan nya, saat Om Hendra baru pamit pergi ke ruang kerjanya.
"Kamu mau ngomong aja pake izin segala Rav.
Emang mau ngomong apa?" tanya Nara.
Nara tampak mengerutkan kening melihat sikap Ravin yang terlihat gelisah dan bingung.
"Emm .. aku mau jujur sama kamu tentang sesuatu" ucap Ravin.
"Tentang?" dahi Nara semakin berkerut dalam.
Tidak biasanya Nara melihat raut wajah Ravin seserius ini.
Kecuali tentang masalah penting.
Entah kenapa, perasaan Nara jadi was-was.
Ada apa sebenarnya? pikiran Nara kemana-mana.
"Maaf aku gak bilang lebih awal, tapi aku rasa kamu harus tau soal ini" ucap Ravin.
Nara diam, masih menunggu ucapan selanjutnya dari Ravin.
"Nar, sebenarnya aku.... "
Praaaaang ...
suara keras pecahan sesuatu dari atas membuat Ravin menghentikan ucapan Ravin.
Nara dan Ravin kedua nya menoleh ke atas, di mana suara pecahan itu berasal dari ruang kerja Hendra.
"Papi .. " gumam Nara.
Merasa ada hal buruk yang terjadi di atas, Nara buru-buru berlari ke arah tangga meninggalkan Ravin yang masih duduk di tempat nya.
Ravin pun mengikuti Nara dari belakang.
Saat Ravin baru sampai di lantai atas, teriakan dari Nara membuat Ravin langsung masuk ke ruang kerja milik Papi Nara.
"PAPI ... " teriak Nara.
Ravin melihat Hendra tergeletak di atas lantai tak sadarkan diri.
Tak jauh dari tempat Hendra pingsan, ada guci besar yang pecah.
Sepertinya suara keras tadi berasal dari guci tersebut.
"Om Hendra .. " buru-buru Ravin menghampiri Hendra dan Nara.
"Pi .. Papi bangun Pi" Nara tampak panik dan menangis.
Mencoba menyadarkan ayahnya.
"Nara, Om kenapa?" tanya Ravin kaget.
Nara menggelengkan kepalanya.
"Enggak tau, aku masuk Papi udah begini" jawab Nara.
Sama hal nya dengan Ravin, Nara pun tak tahu apa yang terjadi pada Papi nya.
Saat masuk Nara sudah melihat Papi nya tergeletak begitu saja.
"Pi .. Papi bangun Pi.
Papi jangan bikin Nara takut Pi"
Sambil terus menangis Nara masih berusaha menyadarkan Hendra.
Gadis itu menepuk-nepuk pipi sang Papi sambil memangku kepala Hendra di atas pahanya.
Ravin yang sama kaget, tetap berusaha tenang dan tidak ikut panik.
Ravin mencoba memeriksa denyut nadi, detak jantung dan nafas Hendra.
"Nar kayanya Om pingsan, kita harus bawa dia kerumah sakit" ucap Ravin.
"Iya Rav, ayo cepet"
"Iya ayo .. " ucap Ravin.
Ravin dengan sigap menggendong Hendra di punggung nya dan Nara mengikuti Ravin dari belakang sambil memegangi tubuh Hendra.
__ADS_1
Saat mereka akan turun, Bi Inah dan supir pribadi keluarga Nara datang menaiki tangga.
"Ya Allah Non, kenapa sama Tuan?" ucap Bi Inah kaget.
"Papi pingsan Bi, Nara mau bawa ke rumah sakit.
Tolong bibi siapin barang-barang penting buat Papi, nanti bawa ke rumah sakit sama Mang Asep ya" ucap Nara.
"Iya Non iya" jawab Bi Inah.
"Nara pergi duluan, Bi" ucap Nara berlari turun ke bawah.
Menyusul Ravin yang di bantu Mang Asep membawa Hendra ke mobil.
Bagitu sampai di depan mobil, Nara duduk di belakang sambil menaruh kepala sang ayah di atas pangkuan nya.
Air mata gadis itu masih beruraian.
Sedangkan Ravin, dengan sigap ia langsung mengendarai mobil mewahnya menuju salah satu rumah sakit milik keluarganya.
Sambil menuju perjalanan menuju rumah sakit, Ravin menghubungi Oma Siska untuk meminta di siapkan tenaga medis yang bersiaga di depan untuk menunggu kedatangannya membawa Hendra.
"Kamu tenang ya Nar, Om pasti baik-baik aja" ucap Ravin.
Dari balik kaca spion Ravin mencoba melihat Nara yang masih terlihat panik.
Nara hanya mampu menganggukan kepalanya.
Air matanya masih belum surut.
Ia begitu ketakutan saat melihat Papi nya tak sadarkan diri, takut terjadi sesuatu yang buruk pada orang tua satu-satunya itu.
********
Begitu sampai di rumah sakit, tim medis yang di minta Ravin sudah siaga di depan pintu utama IGD.
Dua dokter dan beberapa perawat serta Oma Siska pun sudah menunggu di sana.
Begitu mobil Ravin terparkir di depan, para tenaga medis langsung sigap membawa tubuh Hendra dengan brangkar.
Ravin dan Nara mengikuti mereka semua.
"Apa yang terjadi?" tanya Oma Siska sambil mengikuti para medis menuju ruang penanganan.
"Kita enggak tau Oma, tiba-tiba aja kita liat Om Hendra udah enggak sadarin diri di ruang kerja nya" jawab Ravin.
"Apa kalian langsung tahu begitu Hendra pingsan?" tanya Oma Siska lagi.
"Iya Oma, begitu kita tau Om pingsan kita langsung bawa kesini" jawab Ravin lagi.
Kedua dokter terbaik yang di siapkan Siska pun langsung membawa tubuh Hendra ke dalam ruangan.
"Kalian tunggu aja di luar, biar Oma periksa dulu Hendra di dalam" ucap Oma Siska.
"Enggak apa-apa Nara, Papi kamu pasti baik-baik aja.
Kamu tunggu dulu sama Ravin ya" ucap Oma Siska pada Nara.
"Rav, kamu tenangin Nara ya"
"Iya Oma .. " jawab Ravin.
Siska langsung ikut masuk ke dalam ruangan, untuk ikut mengawasi keadaan Hendra.
"Nar, kamu tenang dulu ya" ucap Ravin.
Gadis itu masih saja menangis.
"Rav .. Papi Rav .. " ucap Nara bergetar.
"Kamu tenang, kita berdoa supaya Om Hendra enggak kenapa-kenapa" ucap Ravin.
Tubuh Nara yang bergetar menghambur, memeluk tubuh Ravin.
Dan tangan Ravin menepuk-nepuk punggung Nara, mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Aku takut Rav, aku takut Papi kenapa-kenapa.
Aku takut Papi ninggalin aku kaya Mami" ucap Nara sesegukan.
"Kamu jangan berpikiran buruk kaya gitu Nar.
Papi kamu pasti baik-baik aja" ucap Ravin menenangkan.
"Tapi aku takut Rav" pelukan Nara semakin erat di pinggang Ravin.
Wajahnya ia tenggelamkan di dada Ravin, membuat baju milik Ravin basah karena air mata gadis itu.
"Aku tau, tapi kita harus tetap berpikiran positif.
Lebih baik kita berdoa supaya Om Hendra enggak kenapa-kenapa dan ini cuma pingsan biasa"
"Kamu yang tenang dulu ya .. " usapan lembut itu kembali Ravin berikan di punggung Nara.
Membiarkan gadis itu menumpahkan tangisannya sementara.
*********
Di apartemen Amel, Rachel tengah bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama Ravin.
Sesuai dengan pesan Ravin beberapa jam yang lalu mengatakan kalau acara makan malam nya tetap akan jadi.
Walau Ravin belum pulang dari tempat Nara, tapi Ravin mengatakan kalau ia tidak akan telat.
Ravin akan menjemputnya tepat jam 7 malam.
__ADS_1
"Ravin jemput jam berapa?" pertanyaan itu terlontar dari Amel yang juga tengah bersiap.
Gadis itu tengah memakai sepatu hels milik nya.
Amel juga akan pergi malam minguan bersama pacar baru nya, yang baru beberapa minggu resmi ia pacari.
"Katanya jam 7" jawab Rachel.
"Oh .. sama dong. Yoga juga jemput gue jam 7" jawab Amel.
"Kalian mau pergi kemana aja nanti?" tanya Amel setelah hening sejenak di antara mereka.
"Enggak kemana-mana. Paling cuma makan malam terus jalan-jalan sebentar" jawab Rachel.
"Gimana kalo kita double date aja Chel. Gue sama Yoga, elo sama Ravin.
Kita jalan berempat, kayanya seru" usul Amel.
"Dih ogah ah" jawab Rachel.
"Kenapa sih? Seru tau, kaya orang-orang sama sahabatnya"
"Udah ya cukup sering gue ketemu sama lo tiap setiap minggu nya.
Masa ngedate juga harus sama elo, males" ucap Rachel yang berhasil mendapat pukulan di pahanya dari Amel.
"Jahat banget lo sama gue" cebik Amel.
"Biarin, lagian gue enggak mau double date, double date an.
Malu tau" ucap Rachel.
"Malu kenapa sih, malah seru tau" ucap Amel.
"Seru dari mananya" cebik Rachel.
Suara panggilan masuk dari ponsel Amel membuat perdebatan mereka berakhir.
"Yoga udah jemput nih Chel. Padahal masih 15 menit lagi" ucap Amel.
"Yaudah, kalo udah di jemput pergi aja.
Elo juga udah siap ini"
"Terus elo gimana?"
"Ya gue tunggu Ravin lah.
Lagian dia juga masih di jalan kali"
"Jadi elo gue tinggal nih?"
"Ya iyalah, masa gue ikut sama lo" ucap Rachel sambil tertawa.
Amel pun ikut terkekeh.
"Yaudah, gue pergi duluan deh ya"
"Iya udah sono .." ucap Rachel.
"Iya gue berangkat, byee .. Rachel" ucap Amel sambil berlari kecil menuju pintu.
Rachel mengiyakan, lalu mencoba menghubungi Ravin saat Amel sudah pergi.
Sudah ketiga kali nya Rachel menghubungi ponsel sang kekasih, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Rachel pun mengirim beberapa pesan yang menanyakan posisi Ravin saat ini dan mengatakan kalau dirinya sudah siap.
Sambil menunggu pesan nya di baca dan di balas oleh Ravin, Rachel mencoba menonton televisi.
Menit berganti menit, waktu pun semakin berlalu.
Sudah setengah jam lama nya dari waktu janjian mereka, tapi Ravin masih belum datang.
Bahkan pesan dan telepon Rachel pun tak di angkat sama sekali.
"Kemana ya dia? Kok tumben telat.
Telepon sama pesan aku juga enggak di baca sama sekali" gumam Rachel.
"Apa masih di jalan ya?" gumamnya lagi.
Rachel pun memutuskan untuk menunggu lagi.
Mungkin Ravin sedang terjebak macet, pikirnya.
Tapi waktu terus berjalan dan semakin larut, sudah cukup lama Rachel menunggu Ravin yang tak kunjung datang.
Bahkan kekasih nya itu tak ada kabar sama sekali.
Saking lelahnya menunggu, tanpa sadar Rachel sampai tertidur di sofa ruang Tv.
Berharap Ravin akan datang tak lama lagi.
•
•
•
•
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
See you next episode ❣️
__ADS_1