
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah membalas pesan dari Rara yang mengajaknya pergi keluar, Rachel bersiap-siap untuk pergi.
Rara memintanya bertemu di salah satu salon yang ada di mall Jakarta.
Butuh dua puluh menit untuk Rachel bersiap-siap.
Setelah berpamitan seperlu nya pada sang Mami yang masih mengoceh, Rachel langsung pergi menggunakan taksi online yang sudah ia pesan.
Rachel juga sempat mengobrol dengan Ravin via telepon dan lelaki itu mengatakan akan menyusul ke tempat Rachel dan Mama nya sepulang dari rumah sakit nanti.
Mobil taksi online yang di tumpangi Rachel berhenti di depan lobby mall, setelah memberikan ongkos dan mengucapkan terima kasih pada sopirnya.
Rachel langsung masuk ke dalam mall dan menuju salah satu salon mewah tempat Mama Rara menunggu nya.
"Selamat datang ... " sapa seorang security yang membukakan pintu salon.
Rachel tersenyum ramah lalu masuk ke dalam.
Salah seorang staf perempuan di meja kasir yang ada di bagian paling depan salon.
"Halo Kakak cantik .. " sapa staf tersebut.
"Ada yang bisa di bantu? Mau perawatan apa?" tanya nya lagi.
Rachel tersenyum kaku, lalu melirik ke area dalam salon di mana banyak pengunjung sedang melakukan treatment.
"Mm .. saya mau ketemu sama seseorang. Katanya dia sudah di dalam" ucap Rachel ragu.
Saat di perjalanan tadi Rachel menerima pesan dari Rara yang meminta nya untuk datang saja ke salon dan meminta ke pada staf salon untuk mengantarnya.
"Ketemu dengan siapa ya Kak?" tanya staf tersebut.
"Namanya Ibu Aira" jawab Rachel.
"Aira Nugraha?"
"Iya Aira Nugraha"
"Oh Kakak nya Kak Rachel ya?" tanya staf itu.
"Iya mbak"
"Oh iya Kak silahkan ikut saya, Kakak nya udah di tunggu sama Ibu Rara"
Staf tersebut meminta Rachel untuk ikut dengannya menuju ruangan VIP di mana Rara sudah menunggu.
Rachel memasuki sebuah ruang salon yang lebih luas dan mewah di sana ada beberapa juga ibu-ibu paruh baya yang sedang asik treatment dan mengobrol.
"Permisi Bu.. "
Staf perempuan itu membawa Rachel pada seorang perempuan cantik paruh baya yang sedang asik mengajak mengobrol pelanggan yang lain.
Sepertinya dia adalah pemilik salon nya.
"Iya Hera?" tanya perempuan yang di panggil itu menghampiri.
"Ini tamu nya Ibu Rara udah datang" ucap staf bernama Hera itu.
Perempuan paruh baya itu langsung menghampiri Rachel, memandangi Rachel sambil tersenyum lebar.
"Jadi kamu calon menantu nya Rara? Ya ampun cantik banget.
Ravin pinter banget sih pilih calon istri" cerocos nya.
Rachel tersenyum kiku saat perempuan itu terus memuji nya sambil merangkulnya ramah.
"Ayo kita samperin Rara"
Rachel mengangguk ikut berjalan di sampingnya.
Terlihat Rara sedang duduk di sofa pojok sambil membaca majalah.
"Rara .. " panggil perempuan paruh baya itu dengan riang.
Rara langsung mendongkak dan meletakan majalahnya ke atas meja.
"Rachel udah datang .. " Rara berdiri langsung memeluk Rachel dengan hangat.
Rachel tersenyum sambil membalas pelukan Rara.
"Iya Tante .. " jawab Rachel.
"Ayo duduk sayang" ajak Rara saat mereka melepaskan pelukannya.
Rachel menurut, duduk di samping Rara dengan perempuan pemilik salon yang ikut duduk di sofa sebrangnya.
"Jadi ini calon mantu kamu itu?"
Lagi-lagi perempuan pemilik salon itu memanggil Rachel calon menantu Rara.
"Iya .. " jawab Rara membuat Rachel kaku dan tersipu.
"Din kenalin ini pacaranya Ravin, namanya Rachel"
"Rachel kenalin ini sahabatnya Tante namanya Tante Dinda" ucap Rara memperkenalkan.
Rachel menjabat tangan Dinda dengan sopan.
"Rachel, Tante"
"Adinda .. Panggil aja Tante Dinda
Tante ini sahabatnya Rara dari satu SMP, satu SMA, satu kampus, sampe satu fakultas" ucapnya dengan cerewet.
"Satu fakultas?" Rachel mengerutkan kening nya.
"Bukannya Tante itu kuliah kedokteran ya?" tanya Rachel.
__ADS_1
Pasalnya Rachel bingung kenapa sahabatnya Rara yang lulusan kedokteran bisa jadi pemilik salon.
"Iya .. Tante Dinda ini juga lulusan kedokteran.
Dia sempat jadi dokter selama lima tahun, tapi beralih jadi bisnis salon karena hobby" jelas Rara.
"Iya .. Tante emang dulu dokter.
Tapi sekarang udah pensiun, jadi nerusin hobby sekalian bisnis biar enggak bosen di rumah" ucap Dinda.
"Oh .. " Rachel mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tante udah lama loh pengen ketemu kamu semenjak Rara suka ceritain tentang pacar nya Ravin.
Eh, akhirnya sekarang bisa ketemu juga.
Ternyata emang cantik banget kaya yang di ceritain Rara, pinter banget Ravin bisa dapetin blasteran gini" ucap Dinda panjang lebar.
Rachel terkekeh pelan melihat Dinda yang sangat cerewet.
"Aduh Din, kamu bikin Rachel pusing kalo ngomong terus.
Ayo ah, aku mau perawatan berdua nih sama calon menantu ku" ucap Rara.
"Iya iya .. yaudah kalian aku kasih me time berdua deh, kalian spa dulu aja ya baru treatment yang lain.
Aku juga mau lanjutin kerjaan"
"Yaudah boleh" jawab Rara.
"Kita me time berdua ya, Sayang.
Kamu temanin Tante perawatan ya .. " ucap Rara pada Rachel.
"Iya Tante .. " jawab Rachel.
********
Rara dan Rachel kini sedang mejalani treatment spa pada tubuhnya.
Kedua nya terlihat begitu menikmati pijatan demi pijatan sambil di lulur dari para staf ahli di salon milik Dinda.
Sesekali kedua nya mengobrol untuk mencairkan suasana.
"Chel .. " panggil Rara.
"Iya Tante .. " jawab Rachel disela-sela pijatannya, meski tengkurap tapi wajah Rachel dan Rara saling berhadapan.
"Tante mau tanya sesuatu boleh?"
"Boleh Tante, tanya aja" jawab Rachel sungkan.
"Mm .. Ravin cerita sama Tante, katanya kamu enggak kasih jawaban soal ajakan nikah nya dia ya?" tanya Rara yang berhasil membuat kedua mata Rachel melebar.
"Eh? Ravin cerita soal itu sama Tante?" tanya Rachel.
Rachel meringis, dirinya jadi merasa malu.
Tapi, Tante liat dia jadi pendiam gitu beberapa hari ini.
Jadi Tante tanya sama dia ada masalah apa, terus dia cerita soal itu sama Tante" jawab Rara.
"O.. oh gitu ya Tan" jawab Rachel kikuk.
Rara tersenyum, ia dapat melihat wajah malu Rachel.
"Maaf ya kalo Tante terkesan ikut campur.
Tapi, Ravin itu memang sedari kecil paling dekat banget sama Tante.
Jadi kalo ada hal yang aneh sama dia Tante bisa langsung tau" ucap Rara.
"Maaf ya Tante" ucap Rachel tiba-tiba.
"Loh .. kenapa kok kamu minta maaf?" tanya Rara bingung.
"Iya soalnya Rachel enggak enak soal masalah ini" jawab Rachel.
Dirinya tidak tahu kalau Tante Rara sampai akan mengetahui ini.
"Eh kenapa kamu harus enggak enak sama Tante?
Tante enggak apa-apa kok Sayang, Tante justru yang enggak enak karena ikut campur dalam hubungan kalian"
"Enggak kok Tante"
"Tante cuma penasaran aja, apa yang sebenarnya membuat kamu enggak yakin sama Ravin.
Pasti ada sesuatu kan? Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu dan kamu perlu teman cerita, Tante siap kok" ucap Rara.
Rachel merasa terharu dengan ucapan Rara, ibu dari kekasihnya itu sangatlah pengertian.
Bahkan Rara seperti biasa tahu kalau ada kegelisahan di diri Rachel yang bahkan ibu nya sendiri saja tak bisa merasakan.
"Kalo kamu merasa enggak siap cerita juga enggak apa-apa kok.
Tapi kalau Tante bisa kasih saran, jangan terlalu memendam sesuatu sendiri
Di sini banyak yang sayang sama kamu, termasuk Tante juga"
Rachel tidak tahu harus mengatakan apalagi, yang jelas ia sangat merasa bersyukur di pertemukan dengan orang-orang sebaik Ravin dan keluarganya.
********
Rachel tak pernah tahu, kalau ia terbuka dan menceritakan semua beban dan rasa sakit yang ada di dalam hatinya bisa membuat ia selega ini.
Apalagi Tante Rara benar-benar berhati malaikat, tanpa menyela, memandang sebelah mata ataupun mencela apa yang telah terjadi pada kehidupannya.
Perempuan paruh baya itu begitu baik, mensuport nya dan memberikan banyak masukan.
Tak segan juga Rara memeluk dan menghapus air mata Rachel saat ia menangis jika mengingat apa yang selama ini ia rasakan.
__ADS_1
Dan kini Rara juga sudah tahu apa yang menjadi penyebab ragu nya Rachel pada keinginan Ravin untuk menikahi gadis itu.
"Halo Kak .. "
Rara yang kini sedang makan malam bersama dengan Rachel setelah melakukan perawatan di salon dan shopping.
Menerima telepon dari Ravin yang sedang menyusul mereka berdua.
"Iya di restoran biasa tempat sama Papa"
"Iya .. iya .. yaudah hati-hati di jalan" ucap Rara mengakhiri panggilan dari Ravin.
"Ravin mau ke sini?" pertanyaan itu terlontar dari Dinda yang juga ikut makan malam bersama.
"Iya .. katanya dia udah di jalan, bentar lagi juga sampai" jawab Rara
"Kok enggak telepon ke Rachel?" tanya Dinda.
"Oh itu, ponsel Rachel mati Tante habis baterai" jawab Rachel.
"Oh .. iya iya ..
Yaudah kita pesan makan duluan aja kali ya?"
"Iya pesan duluan aja, lagian Ravin juga enggak lama kayanya"
Mereka pun setuju untuk memesan makan lebih dulu.
Setelah selang 20 menit, makanan mereka pun tiba.
Bersamaan dengan Ravin yang baru saja datang.
"Ma .. " sapa Ravin mencium tangan dan puncak kepala sang ibu.
"Eh udah datang kak"
Ravin mengangguk, juga menyalami Dinda yang duduk di samping Rara.
"Mami juga ikut?"
"Iya dong, kan Mami juga mau kenalan sama calon mantu" jawab Dinda.
Ravin hanya menyengir lalu duduk di samping Rachel.
"Kamu udah pesan makan?" tanya Ravin sambil mencium pelipis Rachel yang sudah menjadi kebiasaan.
"Iya .. kamu udah makan?" tanya Rachel dan Ravin menggeleng kepalanya.
"Hei .. cium cium.
Belum sah, enggak boleh" ucap Mama Rara yang membuat Rachel malu.
"Hehe maaf Ma, sedikit kok" cengir Ravin.
"Makanya cepat di sah-in Rav, biar mau lebih dari cium juga boleh" timpal Dinda.
"Aku sih mau nya gitu Mami, tapi ya .... " Ravin menatap ke arah Rachel yang tampak diam juga melirik ke arahnya.
"Aku enggak mau buru-buru memaksakan, yang terpenting Rachel harus udah merasa siap" ucap Ravin sambil tersenyum membelai lembut kepala Rachel.
Ravin tidak ingin membuat Rachel merasa tidak nyaman karena terus membahas masalah pernikahan, di saat gadisnya itu belum siap.
"Iya, yang terpenting itu kesiapan di antara kedua pihak bukan cuma satu pihak aja" tambah Mama Rara.
Membuat Rachel tersenyum lega.
Rachel dapat merasakan bahwa Ravin dan Rara tak ingin membuat dirinya terbebani.
"Iya sih, kalian nikmati aja dulu masa-masa sekarang.
Apalagi kuliah kalian juga udah hampir selesai, pasti lebih lega kalau udah lulus biar bebannya berkurang satu persatu"
"Nah itu juga tujuan kita, Mi"
"Udah dulu ngobrolnya, ayo kita makan nanti keburu dingin.
Kamu juga pesan makan dulu Kak" ucap Mama Rara.
Ravin pun memesan makanan nya pada seorang pelayan.
Sambil menunggu makanan Ravin, yang lain makan lebih dulu.
"Aduh .. lama makanannya, aku laper banget" rengek Ravin pada Rachel.
"Kamu mau makan punya aku dulu?" tawar Rachel.
Ravin menggelengkan kepalanya.
"Enggak usah, nanti kamu enggak kenyang"
"Enggak apa-apa, ini banyak kok"
"Enggak usah"
"Enggak apa-apa, ayo cobain dulu" ucap Rachel sambil memberikan sendoknya pada Ravin.
Ravin menggeleng tapi sambil membuka mulutnya.
"Suapin .. " ucap nya manja membuat kedua orang tua yang kini ada di hadapan mereka menggelengkan kepala.
"Dasar anak muda .. " ucap keduanya.
•
•
•
•
Jangan lupa Like, Coment dan Vote
__ADS_1
See you next episode ❣️