
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Sudah hampir dua minggu lamanya Ravin coba mengamati sikap Nara padanya.
Setelah ucapan Jojo waktu itu, Ravin tidak bisa langsung menyimpulkan kebenarannya.
Ia ingin menganalisa sendiri kebenaran itu melalui sikap Nara padanya.
Dan, sebenarnya Ravin masih bingung.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa Nara menyukai nya sebagai lelaki dewasa bukan sahabat.
Karena sikap Nara memanglah sangat manja padanya sedari dulu.
Mereka sudah terbiasa bersama, biasa saling menjaga dan mengekang satu sama lain.
Tapi, itu semua dalam konteks yang baik.
Dan menurutnya sikap Nara masih sama saja hingga saat ini.
Tapi Ravin tidak bisa memungkiri, bahwa ia juga merasa hal berbeda pada Nara.
Hanya satu hal yang harus Ravin lakukan untuk dapat memastikan apa Nara memang menganggapnya lebih dari sekedar sahabat.
Yaitu, mengatakan tentang hubungannya dengan Rachel kepada Nara.
Reaksi dari Nara nanti yang bisa memastikan Ravin, tentang perasaan Nara padanya.
Dan di hari Sabtu ini, Ravin sudah bersiap akan pergi ke rumah Nara.
Sudah lama juga ia tak berkunjung ke rumah Nara dan bermain di sana.
Sebelum pergi Ravin lebih dulu memberi kabar kepada Rachel.
Mengeluarkan ponselnya dari saku, Ravin menelpon sang kekasih sambil memakai jam tangannya.
Tut ..
Tut ..
"Halo ... "
Baru dering kedua, suara Rachel sudah terdengar menjawab di sebrang sana.
"Halo Sayang .. "
"Iya, kenapa Sayang?"
"Enggak apa-apa. Tumben kamu angkat telepon nya cepet"
"Oh .. aku emang kebetulan lagi pegang hp"
"Bukan emang lagi tungguin telepon dari aku?" goda Ravin.
"Pede .. siapa yang nungguin.
Aku emang lagi iseng main hp, kamu telepon"
"Iya deh iya, yang enggak mau ngaku"
"Dih, siapa yang enggak mau ngaku.
Kamu ada apa telepon?"
"Oh itu, aku cuma mau bilang hari ini aku jadi ke rumah Nara.
Kamu enggak apa-apa kan?" tanya Ravin.
Meski kemarin saat mereka bertemu Ravin sudah izin tapi rasanya Ravin berat untuk pergi.
Karena ini hari Sabtu, dimana harusnya setiap weekend Ravin akan menghabiskan waktu bersama Rachel.
"Enggak apa-apa, Rav.
Lagi kamu kan udah bilang kemarin" jawab Rachel.
Usai memakai jam tangannya, Ravin berpindah duduk ke sofa.
"Benaran gak apa-apa?" tanya ulang Ravin.
Dalam hati kecil Ravin, ia berharap setidaknya Rachel akan cemburu walau sedikit saja.
Bagaimanapun juga kan Nara itu perempuan, apa Rachel sama sekali tidak peduli ia dekat dengan perempuan lain?
"Enggak apa-apa, Sayang.
Lagian Nara kan sahabat kamu, kamu kenal lebih dulu sama dia di banding aku.
Aku enggak mau ngekang persahabatan kamu sama dia"
Ravin tersenyum, ia benar-benar beruntung memiliki perempuan pengertian seperti Rachel sebagai kekasih.
Karena di luaran sana banyak perempuan yang tidak suka jika kekasihnya memiliki sahabat perempuan.
"Makasih, Sayang.
Kamu benar-benar luar biasa" ucap Ravin.
"Yaudah, nanti malam kita ketemu biar aku jemput ya.
Kita makan malam di luar"
"Enggak usah, Rav.
Kalo kamu enggak bisa, enggak apa-apa kok hari ini kita ketemu"
"Tapi aku yang kenapa-kenapa.
Nanti aku bisa kangen setengah mati kalo enggak liat muka kamu sehari aja"
"Dasar gombal" ucap Rachel sambil terkekeh di sebrang sana.
"Pokoknya nanti malam kamu siap-siap aja.
Aku pasti jemput.
Kamu masih di apartemen Amel kan?"
Rachel menganggukan kepalanya, meski Ravin jelas tak bisa melihatnya.
__ADS_1
"Iya, aku masih di apartemen Amel"
"Yaudah, aku pergi dulu.
Kamu jangan lupa makan siang ya, Sayang .. "
"Iya kamu juga ..
Hati-hati ya di jalannya"
"Iya Sayang ku ..
Love you .. " Ucap Ravin di di sertai kecupan di balik ponsel nya.
"Me too .. " jawab Rachel.
Ravin mengakhiri panggilan itu dengan masih bibir yang terus tersenyum.
Hubungannya dengan Rachel semakin erat dan romantis saja.
Kini Rachel juga semakin bersikap manis padanya.
Membuat Ravin selalu rindu setiap kali tak bisa bertemu di kesibukan masing-masing.
Getaran pesan masuk dari Nara di ponsel Ravin, membuat Ravin tersadar.
Setelah membaca, pesan yang berisi Nara yang menanyakan keberadaannya.
Ravin bergegas menuju ke kediaman sahabat kecilnya itu.
Tempat yang sudah biasa Ravin datangi sedari masa kanak-kanak.
Tapi, kali ini Ravin hendak datang bukan untuk sekedar bermain seperti biasanya.
Ada tujuan lain yang ingin Ravin lakukan.
Ia akan mengatakan tentang hubungan nya dengan Rachel, serta ingin tahu tentang perasaan Nara yang sebenarnya pada dirinya.
*********
Nara tampak sibuk sedang menyiapkan makan siang di meja makan luas rumahnya.
Bibir gadis itu terus tersenyum memandangi semua masakan hasil karya yang kebanyakan makanan kesukaan Ravin.
Bisa memasak sedari remaja, Nara sudah handal betul membuat semua makanan yang di sukai Ravin.
Gadis itu sudah sering membuatkan makanan untuk Ravin sedari dulu.
Saat masa sekolah dulu, Nara sering memasak untuk Ravin saat Ravin dan Jojo menemani nya saat Papi nya harus pergi keluar kota.
Mereka terbiasa bersama menghabiskan waktu di rumah mewah itu.
Tapi semenjak mereka bertiga memilih jurusan kuliah yang berbeda-beda, sesuai dengan cita-cita masing-masing.
Kini Nara, Ravin dan Jojo jarang sekali berkumpul bersama di rumah Nara.
Ravin pun hanya datang sesekali di saat senggang, apalagi akhir-akhir ini.
Lelaki itu sangat sibuk.
Makanya, saat Ravin mengatakan akan datang ke rumahnya Sabtu ini.
"Senyum terus dari tadi"
"Papi .. " Nara sedikit tersentak saat mendengar suara Papi nya dari samping.
Hendra, Ayah dari Nara tampak masuk ke ruang makan.
Melihat wajah anak gadisnya tampak berseri-seri membuat Hendra ikut bahagia.
Pasalnya, akhir-akhir ini tampak muram.
"Papi liat, kamu senyum terus dari pagi.
Semangat juga masaknya.
Segitu seneng nya ya Ravin mau dateng ke sini" goda Hendra pada putri semata wayang nya itu.
Pipi Nara tampak bersemu mendengar ucapan sang ayah.
"Enggak kok, biasanya juga Nara semangat setiap hari" elak Nara.
"Hemm .. iya deh semangat setiap hari.
Berarti hari ini semangat banget" ledek Hendra dengan senyuman jahilnya.
"Ih .. Papi apaan sih" ucap Nara manja, mengerucutkan bibirnya.
Hendra tertawa senang menjahili anak gadis kesayangan nya itu.
Ia tampak sangat bahagia melihat Nara bahagia.
Gadis kesayangannya itu adalah satu-satunya kebahagiaan bagi Hendra, semenjak istrinya meninggal dunia.
Meninggalkan dirinya dan Nara berdua.
Hendra selalu berusaha membuat Nara selalu bahagia, dengan cara apapun.
Dan kini Hendra tahu, kalau kebahagiaan putri nya ada pada Ravin.
Hendra tahu, Nara putrinya menyukai Ravin lebih dari sekedar sahabat.
Ia bisa tahu itu semua meski Nara tak pernah bercerita.
Ting Tong ..
Ting Tong ..
Bunyi suara bel dari luar, membuat Nara menghentikan gerakan tangan nya masih merapihkan meja makan.
"Itu kayanya Ravin datang" ucap Nara pada Papi nya.
Bi Inah, asisten rumah tangga nya yang datang dari arah dapur sambil membawa makanan, kemudian meletakan makannya di meja makan.
Hendak membukakan pintu tapi, Nara menghentikan nya.
"Bi, biar Nara aja yang buka.
Bibi tolong lanjutin ini aja terus buatin minuman ya" cegah Nara.
Bi Ina mengangguk patuh sambil mengiyakan
__ADS_1
"Pi .. Nara ke depan dulu ya.
Papi tunggu aja di ruang keluarga" ucap Nara terburu-buru ingin membuka pintu.
Hendra menggelengkan kepalanya saat melihat putri nya itu berlari tanpa menunggu jawabannya.
"Dasar anak itu .. " gumam Hedra sambil tersenyum.
********
Nara begitu senang saat Ravin memakan masakan nya dengan lahap.
Sedari dulu, Ravin memang selalu memuji masakan buatan nya.
Tapi, hari ini rasanya Nara lebih senang lagi karena Ravin akhirnya datang lagi ke rumahnya setelah sekian lama.
"Kamu tahu Ravin, Nara masak semua makan kesukaan kamu tapi dia enggak masakin satu pun makanan kesukaan Om" ucap Hendra di sela-sela makannya.
"Masa sih Om?" ucap Ravin sambil tertawa kecil.
"Iya .. kamu liat aja semua makan ini.
Semua nya makan kesukaan kamu katanya"
"Ih ... Papi ..
Papi kan tiap hari juga aku masakin" ucap Nara
"Tapi enggak sampai heboh ini" ucap Hendra lagi.
Ia amat suka meledek putri kesayangan nya itu.
Sekalian juga agar Ravin peka.
"Ya kan ini karna Ravin udah lama enggak kesini" ucap Nara.
"Segitu spesialnya Ravin buat kamu"
"Papi ... "
Pipi Nara sudah memerah malu.
Sedangkan Ravin hanya diam, ia kini bisa melihat jelas sikap lain Nara padanya.
Dan ia mengerti maksud ucapan Hendra padanya bukan sekedar gurauan semata.
Ada maksud lain yang tersirat ketika Hendra terus mengatakan hal-hal itu.
Ravin tersenyum tipis saat pandangan Nara dan Hendra tertuju padanya.
"Lain kali enggak perlu sampai kaya gini, Nar.
Aku kan kesini buat main, bukan buat ngerepotin kamu" ucap Ravin.
"Aku enggak repot kok Rav.
Kamu jangan dengerin ucapan Papi deh, dia kan iseng" jawab Nara.
"Loh kok jadi Papi?" ucap Hendra.
"Iya .. Papi kan rese" ucap Nara mengerutkan bibirnya membuat Hendra tertawa.
Interaksi manis Nara dan Hendra memang sudah biasa seperti ini, membuat Ravin ikut tersenyum.
Tapi di balik senyuman nya itu ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Yaitu tentang kenyataan bahwa Nara benar-benar menyukai dirinya sebagai seorang laki-laki dewasa.
Apa yang kan terjadia pada persahabatan mereka jika Nara benar menyukai nya.
Sedangkan ia memiliki gadis lain sebagai tambatan hati.
Apakah persahabatan mereka yang sudah hampir dua puluh tahun itu akan rusak karena masalah perasaan.
Ravin malah menjadi takut hal itu benar-benar terjadi.
Karena Nara juga sama penting baginya, gadis itu sudah seperti saudaranya sendiri meski mereka tak ada ikatan keluarga.
"Rav .. kok ngelamun?"
Teguran dari Nara, membuat Ravin tersadar.
Ravin menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Enggak kok. Ini aku lagi nikmatin aja masakan kamu" jawab Ravin.
Nara tampak senang mendengar nya.
"Yaudah makan yang banyak" ucap Nara yang di iyakan oleh Ravin.
Lelaki itu makan sambil dengan hati dan pikiran yang terus berdiskusi.
Tentang rencana nya hari ini.
"Gue harus cari cara yang paling baik.
Jangan sampai Nara terluka dan persahabatan kita rusak" batin Ravin.
•
•
•
•
Maaf ya aku baru up karna kemarin-kemarin aku lagi ada masalah serius.
Jadi gak aku gak bisa update.
Jangan kan buat ngetik, inspirasi aja gak ada sama sekali.
Mohon pengertiannya ya semua.
Makasih buat yang masih setia nungguin.
Jangan lupa di dukung!!
Vote, Like dan Coment.
See you next episode ❣️
__ADS_1