Angan Cinta

Angan Cinta
Pasti Bahagia


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Seperti ucapan Mama Rara tadi siang, bahwa Mama Rara dan Papa Ken akan ikut ke rumah sakit bersama untuk menjenguk Rachel.


Ternyata bukan hanya Mama dan Papa nya, tapi kedua adiknya pun ikut.


Itu semua karena Raisa yang merengek ingin ikut, mereka pergi sebelum waktu makan malam.


Papa Ken bilang sekalian saja mereka makan malam bersama di luar seusai menjenguk Rachel mumpung ini juga hari weekend.


"Mama bawa apa?" tanya Ravin sat melihat Mama nya itu menenteng sebuah paper bag.


Ia duduk di kursi pantry, menyaksikan Mama nya yang sedang sibuk memasukan kotak-kotak makanan ke dalam paper bag


"Oh ini, Mama buatin soup jagung sama pie keju kesukaan Rachel" jawab Mama Rara.


Ravin mengerutkan dahinya.


"Mama tau dari mana itu kesukaan Rachel?" tanya nya heran.


"Taulah, kan waktu Rachel main ke sini waktu itu Mama banyak ngobrol sama dia" jawab Mama Rara


"Emang nya Kakak gak tau kesukaan Kak Rachel?" tanya Raisa.


Dan Kakak nya itu menggeleng dengan polosnya.


"Huh gimana mau ada kemajuan kalo kesukaannya aja gak tau" ledek Arka yang baru turun ikut menimbrung.


"Tau nih, mana ada cewek bisa luluh kalo Kakak nya kurang perhatian begini" ucap Raisa.


"Kakak mau belajar gak sama aku? Cara meluluhkan hati perempuan" ucap Arka bangga.


"Bener tuh, belajar tuh Kak sama Kak Arka.


Ceweknya banyak" ucap Raisa.


"Udah-udah kalian jangan ngeledekin Kakak kalian terus dong" ucap Mama Rara.


"Kak, kamu panggil Papa ya cepetan gituh. Kita langsung tunggu di mobil" ucap Mama Rara.


"Iya Ma .. " jawab Ravin langsung beranjak.


"Ayo kita langsung ke mobil aja" ajak Mama Rara pada putra putrinya.


Raisa dengan semangat menggandeng lengan sang ibu menuju halaman rumah.


Sedangkan Arka membawa paper bag yang berisi makanan untuk Rachel.


Tak lama kemudian Papa Ken dan Ravin menyusul mereka ke halaman rumah.


Dua buah mobil sudah di siapkan oleh Pak Ujang.


Satu akan di gunakan Ravin dan satu akan di gunakan oleh Papa dan Mama serta adiknya.


Butuh sekitar kurang dari satu jam mereka tiba di rumah sakit Harapan.


Kedatangan satu keluarga pemilik rumah sakit itu membuat para staf kaget.


Apalagi tidak ada pemberitahuan apapun kalau Kendra Aditya Nugraha akan berkunjung ke rumah sakit


Para petinggi rumah sakit pun menyambut mereka dengan kelimpungan.


"Tuan Kendra, maaf untuk penyambutannya yang kurang baik.


Kami tidak menerima pemberitahuan sebelum nya kalau Tuan akan datang ke sini" ucap Hans wakil direktur rumah sakit Harapan.


Ada juga beberapa kepala bagian rumah sakit yang ikut menyambut.


"Tidak perlu penyambutan begini, saya ke sini bersama keluarga hanya untuk menjenguk temannya Ravin" jawab Ken.


Semenjak Papa Wisnu pensiun , ia mengurus mengambil alih dan menjalankan perusahaan, Ken sudah jarang sekali datang ke rumah sakit.


Paling hanya beberapa bulan sekali dalam setahun.


Dan untuk mengurus rumah sakit ia mempercayakan nya pada Tante nya yang kini menjabat sebagai direktur.


Para pejabat dan karyawan rumah sakit sudah tahu kalau ada seorang perempuan yang di bawa putra pemilik rumah sakit.


"Oh iya Tuan, kami sudah dengar salah satu pasien di kamar VVIP itu teman Tuan Ravin" ucap Hans.


"Apa perlu kami antar ke ruangan nya Tuan?" tanya Hans.


"Tidak perlu, kami bisa pergi sendiri.


Kalian semua lanjutkan saja pekerjaan kalian" ucap Ken.


Hans dan para kepala bagian yang lain pun langsung membubarkan diri dan kembali bekerja sesuai ucapan Ken.


Ravin sekeluarga langsung pergi ke ruangan rawat inap Rachel.


********


Rachel yang sedang duduk di atas ranjangnya sedang sibuk memindah-mindahkan siaran TV di depannya.


Ia tampak bosan dengan siaran yang ada di TV.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memainkan ponsel atau menonton TV saja.


Sesekali ia turun dari ranjang nya untuk melihat pemandangan indah Jakarta yang sudah gelap dari jendela ruang rawatnya yang berada di lantai cukup tinggi.


Kamar rawat yang mewah dengan fasilitas lengkap itu ia dapatkan dari Ravin yang tentunya sebagai putra pemilik rumah sakit.


Meski mewah dan serba lengkap, Rachel tetap saja merasa bosan berada di ruangan itu sendiri.


Amel sudah pergi tadi sore karena ada urusan.


Dan Ravin belum menghubungi nya sedari siang tadi, padahal Rachel menunggu sekali kabar dari lelaki itu.


Apakah Ravin akan menemaninya lagi di rumah sakit?


"Apa Ravin bakal nginep lagi ya?" batin Rachel.


Rachel jadi sedikit berharap lebih.


Ceklek


Suara pintu ruangan yang di buka membuat Rachel menoleh ke arah pintu.


Ravin yang muncul dari sana membuat Rachel yang sedang murung jadi tersenyum sumringah.


Ternyata lelaki itu datang lagi untuk menemaninya.


"Chel .. " Ravin memanggil nya sambil tersenyum.


"Elo dateng lagi?" tanya Rachel.


Ekspresi senang terlihat di wajah perempuan cantik itu.


"Iya .. " jawab Ravin.


"Tapi gue gak sendiri" tambah Ravin sambil melangkah masuk.


Membuka pintu itu lebar-lebar, kini Rachel dapat melihat Mama Rara dan Raisa yang masuk ke dalam di susul oleh Papa Ken dan Arka di belakang.


"Tante, Raisa .. " ucap Rachel kaget.


"Hai Rachel sayang .. "


Mama Rara masuk ke dalam ruangan, mendekat ke samping ranjang Rachel.


"Halo Rachel .. " sapa Papa Ken.


"Hai Kakak Rachel .. " sapa Raisa dan Arkana.


"Halo Om, Tante .. "


"Hai juga Raisa Arkana"


Mereka berkerumun mengelilingi ranjang Rachel.


Rachel pun menyalami kedua orang tua nya Ravin.


"Gimana keadaan kamu sekarang, Nak?" tanya Mama Rara.


Ia duduk di kursi samping ranjang.


"Udah baikan kok Tante, Rachel enggak apa-apa kok, Tante" jawab Raisa sambil tersenyum.


Luka lebam di tubuhnya memang masih terlihat, tapi itu sudah membaik.


"Syukurlah" jawab Mama Rara


"Ya ampun Kak, itu luka nya sakit ya?" tanya Raisa


Ia meringis melihat beberapa luka Rachel.


"Enggak terlalu kok, Sa. Udah di mendingan juga" jawab Rachel.


Papa Ken dan juga Arkana sama menanyakan kondisi Rachel.


Mereka melanjutkan nya dengan obrolan santai.


********


Di sela-sela obrolan mereka, Ravin melihat nampan makan malam Rachel di atas meja.


Makan malamnya terlihat masih banyak dan hanya di makan sedikit.


"Chel, itu makan malem elo kok di abisin?


Kenapa?" tanya Ravin.


Rachel menoleh ke arah Ravin di samping kirinya.


"Iya tadi gue kurang nafsu makan" jawab Rachel.


"Kenapa Rachel, apa makanan di rumah sakit ini enggak enak?" tanya Papa Ken.


"Oh .. bukan Om bukan" sanggah Rachel buru-buru.


Mana mungkin makanannya tidak enak, semua makanan yang di berikan perawat padanya adalah makanan-makanan sehat dan enak.


Rachel malah seperti tidak memakan makanan makanan rumah sakit saja.

__ADS_1


"Kalo gitu Rachel mau makan soup jagung buatan Tante?


Ini sengaja loh Tante buat sendiri, karena Tante mau jengukin kamu" ucap Mama Rara.


"Tante kenapa harus repot-repot segala buatin soup jangung buat Rachel" ucap Rachel terharu.


Seumur hidup Mami nya pun tak pernah memasakan apapun untuknya.


Mau ia sehat atau sakit sekalipun.


"Enggak apa-apa sayang, gak repot kok" jawab Mama Rara.


"Gimana kalo kamu cobain soup nya?" tanya Mama Rara


"Iya Tante mau" jawab Rachel.


"Biar Kakak pindahin dulu ke mankok ya Ma" ucap Ravin sambil mengeluarkan termos berisi soup dari paper bag.


Setelah soup jagungnya Ravin kepindahkan ke mangkuk, Mama Rara mengambil alih mangkuk nya hendak menyuapi Rachel.


"Biar Rachel makan sendiri aja Tante" ucap Rachel sungkan.


"Udah biar Tante aja yang siapin" ucap Mama Rara sulit di tolak.


Sambil menunggu Mama Rara menyuapi Rachel, Papa Ken dan Arkana menunggu di sofa.


Ravin dan Raisa malah asik melihat pemandangan di luar jendela.


Saat Mama Rara menyuapi Rachel, tiba-tiba saja Rachel menangis membuat Mama Rara kaget.


"Loh kok nangis, Kenapa?


Soup buatan Tante gak enak ya?" tanya Mama Rara.


Rachel menggelengkan kepalanya sambil menunduk, ia berusaha menyembunyikan tangisannya.


Ravin dan yang lainnya mendengar Rachel menangis pun ikut kaget.


Ravin sampai langsung menghampiri nya.


"Kenapa Ma?" tanya Ravin.


"Enggak tau, tadi Mama lagi suapin tiba-tiba Rachel nangis"


"Chel .. kenapa?" tanya Ravin mendekati perempuan itu.


Lagi-lagi hanya gelengan yang di berikan oleh Rachel sebagai jawaban.


"Ada yang sakit?"


"Iya sayang apa ada yang sakit?" tanya Mama Rara.


Mama Rara beralih dari kursi duduk di tepi tempat tidur untuk memeriksa keadaan Rachel.


Rachel kembali menggeleng, lalu ia mendongakan wajahnya menatap Mama Rara.


Secara tiba-tiba Rachel memeluk Mama Rara sambil masih menangis.


"Makasih Tante" ucap Rachel lirih.


"Makasih buat apa sayang?"


Mama Rara mengelus punggung Rachel.


"Makasih buat semuanya"


Rachel tak dapat menahan tangisnya, baru kali ini ketika ia sakit ada orang yang perhatian padanya, membuatkan makanan kesukaan nya, dan menyuapinya seperti layaknya seorang ibu pada putrinya.


"Andai aja Rachel punya Mama seperti Tante" gumam Rachel pelan.


Mama Rara memeluk Rachel lebih erat, sambil membelai kepalanya.


"Kamu bisa anggap Tante seperti Mama kamu sendiri, Sayang.


Tante juga Mama nya Rachel" ucap Mama Rara.


Isak tangis Rachel semakin keras, ada nada kepiluan di dalam tangisnya itu yang membuat siapapun yang mendengar merasa ikut bersedih.


Seolah ada luka yang begitu dalam di hati gadis dingin itu.


Ravin mengusap-usap lembut punggung Rachel, ia seakan bisa ikut merasakan kesedihan nya.


"Suatu saat elo pasti bahagia, Chel. Pasti.


Dan gue akan selalu berusaha untuk itu" batin Ravin.


.


.


.


.


Jangan lupa Like, Vote dan Coment


Ini double karna kemarin gak up ya ..

__ADS_1


Enjoy ..


See you next episode ❣️


__ADS_2