
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Rachel dan Ravin masih saling bertatapan dengan wajah mereka yang sangat dekat, seolah-olah waktu mereka berhenti saat ini.
Mata mereka saling mengunci satu sama lain, dengan tatapan yang dalam.
Sungguh Ravin begitu terpesona pada wajah cantik gadis pujaannya itu, bola mata berwarna coklat itu seolah menghipnotis nya.
Membuat kedua bola mata hitam Ravin enggan untuk berpaling.
Suara tawa dari anak-anak di taman itu berhasil mengembalikan kesadaran Rachel, ia dengan gelagapan mengalihkan pandangan nya dan menjauhkan wajahnya dari Ravin.
Begitu pula dengan lelaki itu.
"Ehem .. " Ravin berdehem sambil menegakan tubuhnya.
Lelaki itu memanglingkan wajahnya ke arah lain.
Wajah mereka sama-sama memerah karena malu.
Entah,
malu karena tadi mereka saling bertatapan dengan intens dan cukup lama.
Atau karena mereka sadar bahwa sedari tadi mereka di perhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang di taman.
Orang-orang yang melihat kedua insan itu tersenyum-senyum, seolah merasakan aura kasmaran dari keduanya.
"Ra.. Rav" ucap Rachel gugup.
Jantungnya masih berdebar-debar karena hal tadi.
"Iya?" Ravin langsung menjawab cepat dengan lantangnya.
Karena sama-sama gugup dan malu.
Rachel masih mengatur degup jantungnya, sambil memanglingkan wajahnya ke samping.
"Emm .. kok jadi elo yang tiba-tiba dorong gue? Bukannya tadi Amel ya?" tanya Rachel.
"Itu ... emm .. Iya tadi gue yang minta Amel buat ganti dorong kursi roda lo" jawab Ravin.
"Oh .. Terus kapan elo dateng nya? Kok gue bisa gak tau?" tanya Rachel.
"Tadi gue dateng pas kalian mau ke taman, jadi gue ikutin diam-diam dari belakang" jawab Ravin.
Ia kembali mendorong kursi roda Rachel ke tempat yang mereka tadi tuju.
Sebuah kursi di dekat sebuah pohon rindang.
Lalu duduk di kursi tersebut berdampingan dengan Rachel.
"Ngapain pake diam-diam segala sih. Kan bikin kaget" ucap Rachel.
Ravin terkekeh sambil mengusap kepala Rachel.
"Sorry ya .. " ucap Ravin.
Wajah tampan Ravin yang sedang tertawa berhasil membuat jantung Rachel kembali berdebar-debar.
Dengan segera gadis itu mengalihkan pandangannya, sambil mengatur nafasnya.
"Aduh, jantung gue kaya nya bermasalah akhir-akhir ini" batin Rachel.
Rachel memegangi dada nya, mencoba agar debaran di jantung nya tidak terus berlari-larian.
"Kenapa sih" gumam Rachel sambil menepuk-nepuk bagian dadanya.
Hal itu yang di lakukan Rachel itu tak luput dari perhatian Ravin.
"Kenapa Chel? Dada lo sakit?" tanya Ravin khawatir.
Rachel mengerjap kaget.
"Eh? E.. enggak kok?" jawab Rachel.
Ravin memegang kedua bahu Rachel, membalikan tubuh Rachel agar menghadapnya.
"Beneran enggak apa-apa? Gue tadi liat elo pegangin dada lo?"
"Apa dada lo sakit?" tanya Ravin.
Ia masih tak percaya meski Rachel mengatakan tak apa-apa.
Rachel menganggukan kepalanya.
"Beneran enggak apa-apa kok, Rav" seulas senyuman Rachel tunjuk kan agar Ravin tak lagi khawatir.
"Bener ya?" tanya Ravin memastikan.
"Iya bener" jawab Rachel menyentuh satu tangan Ravin di bahu nya.
"Kalo ada yang sakit atau kurang enak, bilang sama gue ya" ucap Ravin lebih tenang.
"Iya .. " jawab Rachel.
Sudut bibirnya terus berkembang membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
Perhatian lelaki itu berhasil membuat senyuman Rachel tak menyurut.
Ravin menurunkan kedua tangan nya dari bahu Rachel.
Mereka kembali duduk mengarah depan, menikmati pemandangan indah taman rumah sakit di sore hari.
"Gimana konsultasi hari ini?" tanya Ravin setelah hening sesaat.
"Konsultasinya lancar. Perasaan gue jauh jadi lebih lega dan tenang setelah banyak bicara sama dokter Yuni" jawab Rachel.
Kemudian perempuan itu menceritakan bagaimana dan apa saja yang ia rasakan setelah melakukan konsultasi.
"Syukurlah kalo perasaan lo jadi lebih lega dan tenang.
Kan udah gue bilang, ini gak nyeremin" ucap Ravin.
Rachel menganggukan kepalanya setuju.
"Iya .. Elo bener Rav.
Thanks ya elo udah sabar buat bujukin gue" ucap Rachel.
"Gak perlu makasih, ini kan juga buat kebaikan lo.
Elo jangan terbayang-bayang lagi soal kejadian hari itu, jadi elo harus berusaha buat lawan rasa takut lo" ucap Ravin.
"Iya, gue bakal usaha terus buat lawan rasa takut gue" jawab Rachel.
Ravin mengulurkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut Rachel yang di terpa angin ke belakang telinga nya.
Hal itu membuat Rachel menoleh ke samping.
"Gue enggak mau cowok br*ngsek itu terus masuk ke dalam fikiran lo, Chel" ucap Ravin.
Matanya menatap kedua mata Rachel.
"Gue pengen cuma gue aja satu-satu nya cowok yang ada di dalam fikiran lo" ucap Ravin serius.
Ucapan Ravin berhasil membuat kedua pipi Rachel menghangat dan memerah.
"Maksud lo?" tanya Rachel.
Ia sebenarnya mengerti maksud dari ucapan Ravin, terlebih itu semua di iringi sikap manis Ravin.
Tapi ia tak ingin menyimpulkan sendiri, setiap perempuan pasti ingin penjelasan.
Tangan Ravin yang semula menyelipkan anak rambut Rachel, kini turun untuk menggenggam jemari gadis itu.
"Gue mungkin enggak tau gimana perasaan lo sama gue.
Tapi, yang jelas gue pengen elo tau gimana perasaan gue sama lo" ucap Ravin serius.
Detak jantung keduanya pun berdetak tak teratur.
"Gue suka sama lo, Rachel"
*******
Amel baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Rachel, dahi Amel mengerenyit saat melihat kedua insan itu terlonjak kaget lalu bersikap canggung.
Entah apa yang sudah ia lewatkan tadi?
Pikir Amel dalam hati.
"Ehem .. ehem .. " Amel berdeham sambil berjalan mendekat ke ranjang Rachel.
Perempuan itu terlihat baru sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
Dan Ravin, lelaki itu pun melakukan hal yang sama di dekat jendela.
"Kalian kedua kehujanan Rav, Chel?" tanya Amel.
Gadis itu duduk di tepi ranjang Rachel lalu meraih handuk yang Rachel pegang.
Ia membantu mengosokan nya di rambut coklat panjang Rachel.
"Iya, tadi kita hujanan di taman" jawab Ravin.
Ravin dan Rachel jadi teringat kejadian tadi, saat dirinya tengah tengang usai mengatakan cinta pada Rachel.
Ia menunggu respon apa yang akan di berikan oleh gadis itu.
Tapi, tiba-tiba hujan turun secara mendadak dan lebat membuat semua orang yang ada di taman langsung berhamburan berlarian.
Sama hal nya dengan orang lain, Ravin pun langsung menarik tangan gadis itu untuk berlari meninggalkan taman.
Padahal Rachel baru hendak mengatakan sesuatu.
"Mikirin apa sih kalian berdua?" tanya Amel menghentakan Ravin dan Rachel yang sedang melamun.
"Enggak ada" jawab kedua nya bersamaan.
Amel mengerenyit dahinya.
"Yakin?" tanya Amel lagi.
"Iya!" jawab keduanya lagi kompak.
Hal itu semakin membuat dahi Amel berkerut.
__ADS_1
Apalagi di tambah pipi Rachel yang bersemu merah dan sikap Ravin yang terlihat canggung.
"Kayanya ada hal yang gue lewatin nih" sindir Amel melirik kedua nya bergantian.
Rachel memanglingkan wajahnya ke samping, begitu pula dengan Ravin yang membelakangi keduanya.
"Ngelewatin apaan" ucap Rachel pura-pura tenang.
"Ya mana gue tau" ucap Amel megerdikan kedua bahu nya.
"Kali aja kalian nyembunyiin sesuatu dari gue" ucap Amel.
"Kita gak nyembunyiin apa-apa kok" kini Ravin yang bersuara.
Melihat tingkah aneh keduanya membuat Amel semakin yakin ada sesuatu yang terjadi tadi.
"Ada yang aneh sama ini bocah dua" batin Amel.
Meski penasaran, tapi Amel tidak ingin bertanya lebih lanjut.
Ia hanya akan membiarkan saja, toh lama kelamaan Rachel pasti akan bercerita padanya tentang apapun itu.
"Iya iya gue percaya" ucap Amel.
Amel pun melanjutkan mengeringkan rambut Rachel.
"Kok elo bisa keujanan sih, Chel.
Emangnya tadi elo gak langsung bawa Achel masuk Rav begitu udah mendung?" tanya Amel.
Ravin pun berpindah duduk ke sofa.
"Sorry Mel, tadi kita keasikan ngobrol" jawab Ravin.
"Huh .. gimana sih.
Besok kan Achel udah boleh pulang, gimana kalo nanti dia malah sakit lagi gegara hujan" keluh Amel.
"Yaelah Mel, gue enggak bakal sakit cuma karena hujan" protes Rachel.
"Ya siapa tau, kan elo baru sembuh. Bisa aja rentan" jawab Amel.
Perempuan itu terus menggomel sambil menyisiri rambut Rachel.
Andai tadi Amel melihat Rachel basah kuyup sebelum ganti baju, pasti omelan nya semakin panjang.
"Ya ampun!" seru Amel heboh.
Perempuan itu langsung memberikan handuk yang ia pegang ke tangan Rachel.
"Gue lupa kalo Yoga udah nunggu di depan rumah sakit" ucap Amel.
Perempuan itu tampak heboh mengambil tasnya, lalu mengeluarkan make up dari dalam tasnya untuk touch up.
"Yoga siapa?" tanya Rachel yang tidak mengenal nama lelaki yang menjemput Amel.
"Adalah. Gebetan gue, nanti gue kenalin oke" ucap Amel.
Buru-buru gadis itu memperbaiki penampilannya.
"Gimana gue cantik gak?" tanya Amel heboh.
"Iya udah cantik"
Rachel mengangguk-anggukan kepalanya.
Sedangkan,
Ravin terkekeh melihat tingkah Amel.
"Yaudah gue pergi dulu ya .. Bye .. bye .. Rachel" ucap Amel mencium pipi sahabatnya itu.
"Bye Rav .. jagain Achel ya" ucap Amel yang di iyakan oleh Ravin.
Dalam sekejap gadis itu sudah menghilang dari ruangan Rachel.
Usai kepergian Amel, suasana di dalam ruangan itu kembali hening.
Ravin dan Rachel masih sama-sama terdiam.
Sampai akhirnya Ravin mnedekat ke sisi ranjang Rachel.
Pandangan keduanya saling bertemu sesaat.
"Rav .. "
"Chel .. "
Ucap keduanya berbarengan.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, Coment dan Vote
__ADS_1
See you next episode ❣️