
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Rachel merasa ada yang aneh pada dirinya selama beberapa hari ini. Dirinya merasa seperti sedang di awasi dan di ikuti oleh seseorang yang tak di kenal.
Entah ini hanya firasatnya saja, atau memang benar ada yang mengikuti nya. Tapi ketika Rachel berusaha menemukan orang mengikuti nya itu, tak ada seorang pun.
"Aneh .. " Rachel menggosok leher belakang nya saat kembali merasakan ada seseorang yang mengikuti nya dari belakang.
Tapi saat ia berbalik untuk memastikan, tetap tak ada orang yang mencurigakan.
Rachel mencoba mempercepat langkahnya, menuju sebuah caffe yang cukup ramai. Ia langsung duduk di sebuah meja dekat jendela sambil mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.
Ia akan mengerjakan skripsi nya di sini saja.
Niat awal Rachel hendak pergi ke sebuah perpustakaan pun ia urungkan.
Rachel merasa lebih aman jika dia berdiam diri di tempat yang ramai seperti ini saja sampai Ravin bisa menghampiri nya.
Kebetulan Ravin saat ini sedang ada urusan dengan Papa nya, jadi kekasih nya itu tak bisa menemani nya.
Kejadian Randy dulu membuat Rachel jadi lebih paranoid dan waspada terhadap situasi-situasi berbahaya.
Memesan sebuah minuman dan makanan ringan, Rachel coba mengerjakan skripsi nya sambil mengawasi keadaan sekitar.
Karena Rachel masih merasa tidak tenang meski sudah berada di tempat yang ramai.
Melirik jam yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 8 malam, tak terasa ia sudah berada di sana selama dua jam.
Dan selama itu pula Rachel menunggu Ravin.
"Ravin lama banget sih .. " gumam Rachel.
Gadis itu kembali meraih ponsel nya di atas meja lalu mencoba mengetik pesan untuk Ravin.
Baru beberapa ketikan, ponselnya malah berdering sebuah panggilan masuk dari Ravin.
Segera ia menekan tombol hijau.
"Halo sayang .. " ucap Rachel.
Dapat Rachel dengar jawaban dari sebrang sana.
" .... "
"Aku masih di Caffe Senja. Kamu di mana?"
" ..... "
"Eemm .. belum. Kamu jadi temuin aku?"
" .... "
"Yaudah aku tunggu"
" .... "
"Iya .. kamu hati-hati di jalan" jawab terakhir Rachel.
Kemudian ia memutuskan panggilan telepon nya.
Sambil menunggu Ravin, Rachel memakan camilannya sembari melihat ke sekitar caffe.
Saat menatap ke arah jalanan di sebrang nya, Rachel tak sengaja menangkap sesosok yang seperti sedang memperhatikan nya.
"Kok gue ngerasa kaya itu orang merhatiin gue ya" gumam Rachel.
Saat Rachel terus menatap orang berpakaian serba hitam itu, pria tersebut malah pergi dari sana membuat Rachel curiga.
Karena penasaran Rachel pun beranjak dari kursinya, berlari keluar untuk memastikan orang tersebut pergi ke arah mana.
Di luar tepat di depan pintu masuk caffe, Rachel masih dapat melihat sosok itu pergi menjauh sambil masih menengok kearah Rachel.
"Kaya nya orang itu benar-benar merhatiin gue dari tadi" gumam Rachel.
Masih sibuk mengamati orang tersebut, Rachel tersentak kaget saat tiba-tiba pundaknya di tepuk dari belakang.
"Sayang .. "
Rachel berbalik kaget.
"Rav .. kamu bikin kaget aja" keluh Rachel sambil memegangi dadanya.
"Maaf sayang .. " Ravin terkekeh pelan.
"Kamu lagi apa di luar?" tanyanya.
"Emm .. itu .. " Rachel melirik ke arah orang tadi yang ternyata sudah tak ada.
"Loh kemana orang itu?" batin Rachel.
"Liat apa sih?" tanya Ravin lagi saat tak mendapat jawaban.
"Enggak kok, enggak liatin apa-apa" jawab Rachel tersenyum.
"Benaran?" tanya Ravin.
Rachel menganggukan kepalanya.
"Masuk yukk .. " ajak Rachel merangkul lengan Ravin.
Ravin mengangguk tersenyum mengiyakan ajakan Rachel.
Keduanya masuk ke dalam caffe, tapi Rachel masih sempat kembali melirik ke arah tadi.
"Apa ini emang cuma perasaan gue aja ya?" batin Rachel.
__ADS_1
*********
Hendra sangat bingung dengan keadaan putri nya saat ini. Sudah hari ketujuh Nara mengurung dirinya di dalam kamar.
Tubuh gadis itu terlihat lebih kurus dan terlihat kurang sehat.
Setiap hari makanan yang di bawakan untuk nya hanya di makan sedikit.
Hendra bingung untuk melakukan apa sementara dirinya pun tak tahu dengan apa yang terjadi antara Nara dan Ravin.
"Nara ayo makan dulu nak, kamu belum isi perut sedari pagi" bujuk Hendra sambil membawa nampan berisi makanan untuk Nara.
Gadis itu masih berbaring ke samping, membelakangi sang Papi.
"Nara enggak lapar, Pi" ucap Nara.
Hendra duduk di tepi tempat tidur sambil memangku nampan.
"Sedikit aja sayang, kamu bisa sakit kalau begini terus" ucap Hendra.
"Tapi Nara benar gak lapar, Pi" tolak Nara.
Hendra menghembuskan nafas lelah nya.
"Yasudah, Papi simpan makanan nya di sini ya. Kalau nanti kamu lapar, langsung makan ya Nak" ucap Hendra tak memaksa.
"Iya Pi" jawab Nara pelan.
Hendra pergi meninggalkan kamar Nara yang masih membelakangi nya.
Setelah keluar dari kamar Nara, Hendra langsung bergegas masuk ke kamarnya.
Meraih ponsel nya di atas meja kerja, Hendra sudah bertekad akan menghubungi Ravin.
Tidak ada cara lain untuk membujuk Nara selain oleh Ravin.
Meski Nara sudah melarang Papi nya berkali-kali untuk menghubungi Ravin, tapi melihat anak semata wayangnya itu seperti sekarang Hendra tak tega.
Beberapa kali Hendra menghubungi Ravin belum ada jawaban juga dari sana.
Saat percobaan ketiga nya akhirnya Ravin menjawab panggilan dari Hendra.
"Halo .. "
Eh? Tapi bukan suara Ravin yang menjawab telepon nya?
Seperti suara seorang perempuan.
"Halo .. " ulang dari sebrang.
"Halo .. ini dengan siapa? Bukannya ini ponsel Ravin?" tanya Hendra.
"Iya benar, Ravin nya sedang ke toilet"
"Oh, yasudah bisa minta tolong sampaikan saja pada Ravin kalau Om Hendra menghubunginya.
"Baik nanti akan saya sampaikan"
"Yasudah terima kasih ya"
"Iya .. sama-sama"
Hendra pun mengakhiri panggilan telepon nya pada Ravin.
Dahinya mengernyit dalam sambil menatap layar ponselnya yang masih menyala dan menampilkan kontak Ravin.
"Siapa ya perempuan yang barusan menjawab telepon Ravin?" tanya Hendra sendiri.
"Apa dia ada sangkut pautnya dengan permasalahan antara Ravin dan Nara?" gumam Hendra.
Rasa penasaran Hendra pun semakin dalam tentang permasalahan yang terjadi antara putrinya dengan Ravin.
Kini harapan Hendra hanya Ravin seorang, semoga saja lelaki itu masih mau bertemu Nara dan menjelaskan tentang semua nya pada Hendra.
*********
"Siapa?" tanya Ravin saat Rachel mengatakan ada telepon masuk ke ponselnya.
"Namanya Om Hendra, dia telepon beberapa kali.
Terus dia minta tolong bilang ke kamu buat hubungin balik dia" jawab Rachel.
Lelaki yang baru saja kembali dari toilet itu kembali mendudukan dirinya di kursi samping Rachel.
"Maaf ya aku lancang angkat telepon kamu, aku takutnya itu penting" ucap Rachel sambil menyerahkan ponsel Ravin.
Ravin menerima ponsel nya dari tangan Rachel sambil mengusap lembut kepala Rachel.
"Enggak apa-apa lah sayang, angkat aja" ucap Ravin.
Ravin tak pernah keberatan Rachel jika memegang ponselnya, mau kekasihnya itu membuka pesan, menerima panggilan, atau memeriksa seluruh isi ponselnya pun Ravin tak pernah keberatan.
Karena tak pernah ada hal yang Ravin sembunyikan dari Rachel.
"Kamu enggak hubungin balik Om Hendra itu?" tanya Rachel
saat melihat Ravin malah meletakan kembali ponselnya setelah menerimanya dari tangan Rachel.
"Nanti aja, sekarang kita makan dulu.
Kamu udah telat banget makan malam" jawab Ravin sambil mulai memegang alat makannya.
"Tapi Om itu tadi kayanya ada hal penting yang mau di bicarain loh Rav" ucap Rachel.
"Perasaan kamu aja kali, lagian dia Papi nya Nara. Enggak mungkin ada hal penting yang mau dia bicarain" jawab Ravin.
"Papi nya Nara?"
__ADS_1
Ravin mengangguk sambil menyuapkan makanan miliknya ke mulut Rachel.
"Malu ih" keluh Rachel menerima suapan Ravin yang terkesan memaksa.
"Kalo malu makanya, cepat makan makanan kamu biar enggak aku suapin" ucap Ravin.
"Iyaa .. iyaa .. " Rachel mengerucutkan bibir nya membuat Ravin gemas.
Keduanya kembali menikmati makan malam mereka yang sudah terlambat.
Di sela-sela makannya, Rachel merasa penasaran dengan tujuan Papi Nara menelepon Ravin, juga penasaran dengan keadaan Nara yang sudah tak datang ke kampus.
Apalagi tentang pembicaraan antara Ravin dan Nara saat di rumah Ravin saat itu.
"Sayang .. " panggilan Rachel membuat Ravin menoleh.
"Hum? Kenapa Sayang?" tanya Ravin saat melihat wajah Rachel yang seperti hendak bertanya.
"Emm .. itu, kamu udah tau gimana keadaan Nara? Udah beberapa hari ini dia enggak keliatan di kampus" ucap Rachel ragu.
"Dia pasti baik-baik aja" jawab Ravin.
"Kamu sama Nara baik-baik aja kan? Kalian enggak berantem gara-gara aku kan?" tanya Rachel lagi.
Rachel tak ingin ia menjadi perenggang hubungan persahabatan Ravin dan Nara.
"Enggak, ayo cepat abisin makan kamu" ucap Ravin mengalihkan pembicaraan.
"Rav .. jangan mengalihkan pembicaraan" ucap Rachel kesal.
Ravin tak peduli, rasanya enggan ketara sekali di wajah Ravin saat membicarakan Nara.
Bukan karena Ravin benci pada Nara, tapi karena Ravin hanya tak ingin membahas Nara di depan Rachel.
Karena Ravin masih menutupi kisah masa lalu nya dengan Nara dari Rachel.
Dan menutupi semua ucapan buruk Nara mengenai Rachel.
Ravin ingin menjaga perasaan Rachel.
"Rav .. "
"Kalo makan kamu udah selesai, ayo aku antar pulang" putus Ravin saat Rachel masih berusaha membicarakan Nara.
Melihat sikap Ravin yang seperti itu membuat Rachel pasrah, padahal Rachel hanya ingin Ravin lebih terbuka lagi padanya.
Berharap Ravin mau bercerita dan berkeluh kesah padanya.
Keduanya melanjutkan makannya lagi dalam diam, bahkan keheningan dari diam kedua nya berlanjut sampai Ravin mengantarkan Rachel pulang ke rumahnya.
Tak ada percakapan apapun lagi setelah tadi.
Hingga sesampainya di rumah Rachel, baru Ravin membuka suaranya.
"Besok aku jemput" ucap Ravin.
Rachel menoleh sambil membuka seat belt nya.
"Enggak perlu, aku bisa taksi atau bus" jawab Rachel.
Meraih tas dan juga buku-buku nya di jok belakang, Rachel bergegas hendak turun dari mobil.
Tapi Ravin segera menahan pergelangan tangan Rachel saat membuka pintu.
"Kamu marah?" tanya Ravin saat Rachel menoleh. Pandangan keduanya bertemu.
Rachel menggeleng samar.
"Enggak, kenapa aku harus marah?"
"Karena aku enggak mau membicarakan Nara" tebak Ravin.
"Bukan, karena kamu enggak mau terbuka" sanggah Rachel dalam hati.
"Udah lupain aja, kamu hati-hati di jalan. Aku mau masuk" ucap Rachel menarik pergelangan tangannya dari Ravin.
Ravin menghembus nafas beratnya. Lalu mengangguk pelan.
Menghindar dari pertengkaran lebih baik.
"Yaudah, kamu istirahat ya" ucap Ravin seraya mencium pelipis Rachel.
Rachel menganggukan kepalanya lalu benar-benar keluar dari mobil.
Ia masih berdiri di depan rumahnya sampai mobil Ravin benar-benar pergi.
Saat mobil Ravin sudah benar-benar tak terlihat, entah kenapa hawa tak nyaman kembali ia rasakan.
Seperti ada seseorang yang kembali memperhatikan nya.
Melihat ke sekitar Rachel tak melihat ada siapapun.
Karena rasa takut dan waspada nya, Rachel buru-buru masuk ke dalam rumah.
Rachel tak tahu kalau sebenarnya sedari tadi memang ada orang yang memperhatikan dirinya dan Ravin dari tempat yang gelap.
•
•
•
•
Jangan lupa Like Coment dan Vote
See you next episode ❣️
__ADS_1