Angan Cinta

Angan Cinta
Melupakan


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


"Oma gimana keadaan Papi?" tanya Nara ketika melihat Siska baru saja keluar ruangan.


"Iya Oma, gimana keadaan Om Hendra?" tanya Ravin.


Siska melepas masker yang terpasang di wajahnya.


"Kalian tenang aja, enggak ada yang perlu di khawatirin.


Keadaan Hendra sekarang sudah lebih baik dan sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan" ucap Siska.


Nara bisa bernafas sedikit lega mendengar jawaban dari Siska.


"Lalu Oma, kenapa Papi bisa tiba-tiba pingsan?" tanya Nara.


Hatinya masih tak tenang, ia takut ada sesuatu pada Papinya.


Ia takut Papi nya mengalami sakit parah, padahal selama ini Papi nya baik-baik saja sepengetahuan nya.


"Kamu tenang dulu ya Nara.


Papi kamu pingsan karena tekanan darahnya terlalu tinggi"


"Apa itu berbahaya buat Papi, Oma?" tanya Nara.


Jelas sekali guratan khawatir itu terlihat dari wajahnya.


"Sebenarnya ini cukup berbahaya karena bisa memicu penyakit serius yang lain nya.


Tapi, yang di alami Papi kamu masih gejala tekanan darah tinggi saja.


Papi kamu akan membaik jika dia menjaga pola hidup sehatnya" ucap Siska.


"Karna usia Papi kamu sudah mulai memasuki usia rentan dimana penyakit mulai bisa berdatangan.


Dia harus jaga kesehatannya, pola makan, olahraga dan juga Papi kamu jangan terlalu stres.


Semua itu bisa memicu tekanan darahnya naik dan pingsan seperti sekarang" jelas Siska.


Ravin mengusap punggung Nara di samping nya, mencoba memberikan ketenangan.


"Tapi, keadaan Om Hedra sekarang baik-baik aja kan Oma?" tanya Ravin.


Siska mengangguk sambil tersenyum, wanita yang sudah paruh baya itu juga ikut mengusap pundak Nara yang terlihat sedih dan cemas.


"Hendra baik-baik aja, kamu jangan terlalu khawatir ya" ucap Oma Siska pada Nara.


Nara mengangguk, sambil mencoba memaksakan senyuman nya.


"Iya Oma .. Makasih" ucap Nara.


Nara tahu, Ravin dan Oma Siska mencoba menyemangati nya.


Meski khawatir Nara juga berusaha meyakinkan dirinya kalau Papi nya akan baik-baik saja.


"Kalau begitu Oma pamit dulu, kalian sudah boleh menjenguk Hendra kalau sudah di pindahkan ke ruang perawatan" ucap Siska.


"Iya .. Makasih banyak Oma" ucap Nara.


"Sama-sama, Sayang" ucap Siska sambil membelai pipi putih gadis cantik itu.


"Makasih ya Oma, maaf Rav ngerepotin Oma" ucap Ravin.


Siska mencubit lengan kekar Ravin dengan gemas.


"Kamu ini kaya sama siapa aja bilang begitu. Wanita tua ini kan Oma kamu, mana ada Oma yang ngerasa di repotin cucu nya" ucap Siska.


Ravin terkekeh sambil memeluk adik dari Kakek nya itu.


"Iya .. iya maaf Oma ku, Sayang" ucap Ravin.


Siska mengusap punggung Ravin penuh sayang.


"Kalau gitu sebagai permintaan maaf nya, minggu depan Kakak harus datang ke rumah Oma" ucap Siska


"Iya Oma, Insya Allah kalau ada waktu Kakak ke sana"


Siska melepaskan pelukannya pada Ravin.


"Pokoknya Oma tunggu ya .. "


"Iya Oma .. "


"Yaudah Oma balik lagi ke ruangan ya" ucap Siska yang di iyakan oleh Ravin.


"Nara Oma pamit ya, kamu juga jaga kesehatan ya jangan sampai sakit karna terlalu mikirin Papi mu.


Insya Allah Papi kamu akan baik-baik saja" ucap Siska.


"Iya Oma .. "

__ADS_1


"Yaudah Oma pergi dulu"


Setelah mengucapkan itu, Siska kembali ke ruang kerja nya.


"Nar, biar aku yang urus administrasi nya.


Kamu tunggu sebentar di sini ya" ucap Ravin.


"Iya Rav .. Makasih ya"


"Jangan di pikirin" ucap Ravin sambil mengelus kepala Nara.


Setelah itu Ravin pergi menuju tempat administrasi rumah sakit.


********


Tak lama setelah Ravin pergi, Hendra keluar dari ruang IGD hendak di pindahkan ke ruang perawatan.


Bi Inah dan Mang Asep pun terlihat baru saja datang membawa perlengkapan milik majikannya itu.


Nara dengan di bantu oleh Bi Inah, merapihkan barang-barang milik Hendra ke dalam lemari di ruangan VIP tersebut.


"Non Nara .. Non mau makan malam apa biar Bibi carikan di luar" tanya Bi Inah pada Nara yang sedang duduk di kursi samping brangkar.


"Enggak usah Bi, Nara enggak nafsu makan" tolok Nara.


"Jangan gitu Non, nanti Non bisa sakit.


Nanti kalau Non sakit, siapa yang jagain Tuan"


Nara terdiam menatap wajah Hendra yang terlihat pucat dengan selang infus yang menempel di tangannya.


Ada rasa bersalah pad diri Nara karena kurang memperhatikan kesehatan orang tua satu-satunya itu.


"Tapi Nara benaran enggak laper, Bi" jawab nya dengan lemas.


Mana mungkin di saat seperti ini ia bisa menikmati makan malam.


Di kepalanya terus berputar kejadian tadi.


Kejadian sang Papi tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Andai saja ia dan Ravin telat sedikit saja, mungkin hal buruk bisa terjadi pada Papi nya.


"Tapi Non ... "


Ceklek ...


Suara pintu yang di buka membuat perhatian Bi Inah teralihkan.


"Kenapa Bi?" tanya Ravin karena melihat wajah wanita paruh baya itu terlihat bingung.


"Emm .. Ini Den Ravin, Non Nara nolak terus buat makan malam.


Padahal ini udah jam 8 malam, bibi takut lambung nya Non Nara kambuh" ucap Bi Inah.


Mendengar kata makan malam membuat Ravin teringat pada Rachel seketika.


Ia lupa kalau sudah berjanji akan menjemput Rachel makan malam bersama.


"Ya Allah .. aku lupa ada janji makan malam sama Rachel" batin Ravin.


Melihat jam di tangan nya yang sudah menunjukan pukul 8 lewat 10 menit.


Dirinya sudah terlambat satu jam lebih dari waktu janjian nya dengan sang kekasih.


Buru-buru Ravin merogoh saku celana nya mencari ponsel miliknya untuk menghubungi Rachel.


"Hp ku kok enggak ada" gumam Ravin yang tak mendapati ponselnya di mana pun.


Ravin mengusap kasar wajahnya dengan sebelah tangan, saat ingat kalau ponselnya tertinggal di dalam mobil seusai menghubungi Oma di perjalanan tadi.


Ravin menoleh pada Nara yang tampak diam saja di samping Papi nya.


Gadis itu pasti masih merasa khawatir.


"Bi, tolong cariin makanan apa aja ya buat Nara.


Nanti biar saya yang bujuk biar dia mau makan" ucap Ravin pada Bi Inah.


"Baik Den" jawab Bi Inah.


Ravin memberikan beberapa lembar uang pada Bi Inah untuk membeli makanan.


Ia memutuskan akan menemani Nara sebentar lagi, sampai Nara mau untuk makan saja.


Ravin tidak mungkin pergi meninggalkan Nara sekarang untuk menemui Rachel saat ini.


Situasinya membuat Ravin kesulitan untuk memilih.


"Aden mau sekalian di beliin makan apa?" tanya Bi Inah yang di jawabi gelengan oleh Ravin.


"Ravin enggak usah, Bi" jawab Ravin

__ADS_1


Bi Inah mengangguk mengerti lalu meninggalkan ruang perawatan Hendra untuk membeli makan malam.


Sedangkan, Ravin menghampiri Nara yang masih terdiam.


"Nar, istirahat dulu yuk di sana" ajak Ravin menunjuk sofa besar yang ada ujung ruangan.


"Enggak, Rav. Aku mau di sini aja jagain Papi" tolak Nara.


"Biar aku yang jagain Om, kamu istirahat dulu nanti kita bisa gantian" bujuk Ravin.


Nara mendongkak, menatap Ravin yang berdiri di samping nya.


"Istirahat sebentar sebelum makan malam kamu datang.


Kamu kan juga harus jaga kesehatan" ucap Ravin.


"Tapi, Rav .. " Nara hendak menolak lagi, tapi tatapan mata Ravin yang memohon padanya membuat gadis itu tak mampu untuk menolak lagi.


Dengan berat hati Nara menuruti permintaan Ravin.


Gadis itu beranjak dari kursi menuju sofa.


Dan Ravin menggantikan Nara untuk menjaga Hendra di samping nya.


*********


Waktu sudah pukul setengah sepuluh malam saat Ravin berpamitan pada Nara untuk pulang sebentar, yang sebenarnya pergi untuk menemui Rachel.


Sesudah Bi Inah membawakan beberapa bungkus makanan, Ravin juga harus membujuk dulu Nara agar mau makan.


Lalu Ravin berjaga di sana sebentar, sebelum pergi ke apartemen Amel.


Dan, saat ia mengecek ponselnya di dalam mobil.


Ada puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan dari Rachel yang ternyata menunggu nya datang.


Sambil melajukan mobilnya dengan terburu-buru, Ravin berusaha menghubungi nomer ponsel sang kekasih.


Tapi sudah berkali-kali Ravin mencoba, masih tak ada jawaban dari Rachel sekalipun.


"Dia pasti marah" ucap Ravin.


Oh jelas saja, Ravin yang menjanjikan untuk makan malam bersama.


Tapi, ia pula yang tak datang dan tak memberi kabar sama sekali.


Apalagi saat Ravin membaca pesan terakhir dari Rachel yang mengatakan ia masih menunggu nya.


Itu membuat Ravin merasa bersalah.


Karena situasi kacau tadi, Ravin sampai melupakan semuanya.


"Sayang, angkat dong" gumam Ravin.


Ini sudah panggilan keenam dan masih belum ada jawaban.


Ravin mendesah frustasi, takut-takut kalau Rachel benar-benar kecewa padanya.


Karena panggilan nya tak mendapatkan jawaban juga dari Rachel, Ravin semakin melajukan mobilnya dengan cepat meski jalanan kota Jakarta malam ini masih cukup macet.


Setelah hampir satu jam, Ravin akhrinya sampai di apartemen Amel.


Ravin dengan tergesa-gesa menuju unit milik sahabat dari kekasihnya itu.


Tapi saat dirinya baru saja tiba di depan pintu apartemen, suara seseorang yang tak asing memanggilnya dari belakang.


"Ravin ... "


Ravin berbalik, melihat seorang perempuan yang ia kenal sedang berdiri di belakang nya.






Hai semua, jadi aku mau cerita nih.


Aku lucu-lucu deh baca-baca Coment kalian yang udah tebak menebak alur ceritanya.


Rata-rata dari kalian tebakan nya sama semua kalau Ravin bakal di minta buat nikahin Nara sama Papi nya wkwkwk.


Aku jadi ngerasa seru dan terhibur baca Coment kalian hehehe.


Makasih ya buat apresiasi kalian di karya aku.


Itu bikin aku semangat dan ngasih inspirasi juga buat aku mikirin jalan ceritanya hehehe


Pokoknya biar tau gimana kelanjutannya, apa tebakan kalian bener atau enggak, di ikutin terus ya novelnya.


Jangan lupa Like, Coment dan Vote juga.

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2