
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Hampir sekitar satu jam Rachel berjalan menyusuri jalanan raya seorang diri
Ia memutuskan berjalan kaki pada malam hari seperti ini bukan karena tak sanggup membayar ongkos untuk naik kendaraan umum
tapi, ia memutuskan berjalan karena ingin meredam amarah yang masih menyusup di dalam hatinya
Meski sudah berjalan cukup jauh, tapi entah mengapa kaki dan tubuhnya tidak merasakan letih
Bahkan luka lecet pada bagian belakang kakinya akibat flat shoes yang ia kenakan tak berasa apapun pada dirinya
Hingga kedua kakinya itu berhenti tepat di sebuah gedung apartemen mewah di kawasan elite
Melangkah masuk ke dalam gedung, Rachel menuju sebuah unit apartemen milik Amel, sahabat satu-satunya yang ia miliki di negara ini
Sampai di depan kamar milik sahabatnya itu, Rachel berulang kali menggedor pintu dan menekan bell hingga akhirnya seruan dari dalam terdengar menyauti
Seorang perempuan cantik yang terlihat seperti terganggu tidurnya itu membukakan pintu di iringi dengan gerutuan
"Siapa sih malem-mal ... Achel" ucap Amel saat sadar sahabatnya itu yang sedang berdiri di depan pintu
"Sorry gue ganggu tidur elo. Gue ikut tidur di sini ya, Mel" ucapnya sambil menyelonong masuk ke dalam apartemen Amel
Amel yang sudah terbiasa pun tidak mempersalahkannya, ia mengikuti Rachel masuk ke dalam setelah menutup kembali pintu apartemen nya
Begitu di dalam Rachel langsung menyandarkan tubuhnya di sofa empuk milik Amel
Keringat di dahinya masih terlihat meski ia sudah memasuki ruangan ber-AC
Amel yang datang dari dapur membawa segelas air putih dingin pun langsung memberikannya kepada sahabatnya itu
Dari depan pintu tadi Amel sudah dapat melihat peluh yang membanjiri dahi Rachel
"Nih minum dulu" Amel menyodorkan segelas air itu sambil ikut duduk di samping Rachel
Menerima air dari Amel, Rachel langsung meneguknya hingga habis
"Abis dari mana sih lo, kok sampe keringetan gini?" tanya Amel curiga
Rachel kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa
"Kantor polisi" jawab Rachel seraya memejamkan kedua matanya
"Hah kantor polisi? Ngapain? Bukannya tadi elo lagi kerja?" tanya Amel kaget
"Nyokap berantem sama temennya di cafee, akhirnya di bawa ke kantor polisi karna bikin keributan"
"Apa?" teriak Amel
"Berisik Mel, gak usah teriak-teriak"
"Iya sorry sorry ..
Nyokap elo tuh ya, kenapa sih bikin masalah mulu" ucap Amel kesal
Rachel hanya diam sambil kembali memejamkan matanya
"Lagi ya Chel, gue kan udah bilang mending elo tinggalin aja sih nyokap lo sendiri.
Elo kan udah bisa cari uang sendiri, kuliah juga tinggal bentar lagi.
Ngapain sih masih aja tinggal sama nyokap lo yang kerjaannya bikin masalah doang" ucap Amel gemas
Sahabatnya itu selalu saja tidak mendengarkan saran dari dirinya
"Gue gak bisa, Mel" ucap Rachel
Ada nada lirih dari jawaban Rachel dan Amel tau penyebabnya
"Kenapa? Masih karena alesan yang itu?" tanya Amel
Rachel menganggukan kepala nya pelan
Amel menghembuskan nafanya kasar
"Ya ampun Chel, mau sampe kapan sih elo mikirin ucapan nyokap lo itu terus?
Gue gak habis pikirnya kenapa nyokap lo bisa nyalahin elo penyebab kehancuran hidupnya karena elo lahir ke dunia.
Emangnya itu kemauan lo buat lahir dari rahim nyokap lo, emangnya lo minta di lahirin di antara kedua orang tua lo yang udah siap cerai?" ucap Amel geram
"Kalo kedua orang tua lo gak jadi cerai karena hadirnya elo ke dunia dan mantan pacar nyokap lo akhirnya jadi mutusin ninggalin dia itu semua bukan kesalahan elo, Chel.
__ADS_1
Itu semua karna kesalahan kedua orang tua lo.
Malah yang ada elo di sini yang jadi korban di antara mereka berdua.
Elo harus tumbuh sendiri tanpa kasih sayang kedua orang tua lo sampai sebesar ini" sambung Amel
Rachel perlahan membuka kedua matanya, tatapan sendu Rachel menatap lurus ke depan
Ada sedikit genangan air mata di pelupuk matanya, yang coba ia tahan
Dan Amel yang paling mengerti, perempuan itu selalu mencoba tegar bagi dirinya sendiri
Amel menghembuskan nafasnya kasar, mengalihkan pandangannya ke arah lain
Sama dengan Rachel, dirinya juga sedang mencoba tegar di depan sahabatnya itu
Semua kisah sedih kehidupan Rachel, Amel lah yang paling tahu tentang itu
Bahkan dirinya bisa merasakan semua kesedihan yang selalu Rachel coba untuk pendam
Dan
mungkin jika menjadi Rachel ia tak akan bisa setegar itu
"Elo udah makan?" tanya Amel mengalihkan topik pembicaraan
Gelengan dari Rachel pun membuat Amel langsung bangkit dari duduknya
"Kebiasaan deh elo, suka ninggalin makan.
Mau makan apaan biar gue pesen online?" tanya Amel yang meraih ponsel dari meja Tv
Dirinya tak pernah masak sendiri, jadi mungkin tidak ada bahan-bahan makanan di dapurnya
"Gak usah pesen, bikinin gue mie instan aja" jawab Rachel
"Enggak! Apaan makan mie.
Lo kira gue gak punya duit apa buat beliin elo makan.
Udah deh buruan mau makan apaan, gue pesenin" omel Amel
Rachel tersenyum kecil, senyuman yang bahkan jarang terlihat oleh siapapun
"Yaudah apa aja"
"Jangan yang mahal-mahal" peringat Rachel saat sahabat nya itu sudah siap mengetikan pesanan makanan nya
"Tenang aja, duit jajan gue masih banyak.
Gak bakal abis cuma di pake traktir makan elo doang mah" ucap Amel
Yang berhasil membuat Rachel terkekeh kecil
"Iya iya terserah elo deh" ucap Rachel
Amel tersenyum simpul saat dirinya bisa melihat tawa dari wajah Rachel yang selalu dingin
*******
Siang hari ini Ravin sedang bersiap untuk pergi ke kampusnya, hanya ada satu jadwal mata kuliah untuk hari ini
Saat dirinya baru akan berangkat pergi, panggilan dari sang ibu membuatnya berbalik menoleh
"Udah mau pergi Kak?" tanya Mama Rara
Ravin mengangguk sambil mendekat pada Rara
"Kakak kira Mama tadi udah berangkat ke kantor Papa" ucap Ravin
Tangannya mengambil alih barang bawaan yang ada di tangan Rara
Mereka beriringan menuju halaman utama
"Tadi Mama masih siapin makan siang buat Papa, malah Mama kira kamu yang udah berangkat" ucap Mama Rara
"Belum kok, masih banyak waktu.
Gimana kalo Mama bareng Rav aja?" tanya Ravin
"Emangnya bener kamu masih ada waktu?" tanya Mama Rara
"Bener Ma, masih cukup kok kalo anter Mama ke kanto Papa dulu" jawab Ravin
"Hemm ... yaudah deh boleh" jawab Mama Rara setelah sejenak berfikir tadi
__ADS_1
"Yaudah Kakak ambil mobil dulu di garasi ya" ucap Ravin
Rara menganggukan kepalanya, menunggu di depan halaman utama rumah mewah itu
Ia pun memberitahukan pada Anton untuk tidak jadi mengantarnya pergi
*******
Di sepanjang perjalanan menuju kantor Ken, Rara banyak mengobrol dengan sang putra
Banyak hal yang mereka bicarakan, terutama tentang rencana Ravin untuk kedepannya
Apakah ia akan langsung terjun ke perusahaan untuk belajar menjalankan perusahaan sang Kakek atau malah akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2
"Kalo Mama terserah pilihan kamu aja Kak, gimana nyamannya Kakak aja.
Jangan terlalu di paksain, pilihan hati Kakak sendiri kan yang paling penting" ucap Mama Rara
Ravin sedikit dilema dengan keputusan ia selanjutnya, sang Papa menyarankan Ravin seusai lulus untuk mulai belajar mengurus perusahaan secara langsung
sedangkan, Ravin merasa belum siap untuk itu
Ia mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan nya lagi
"Kakak masih bingung Ma, mau ikut saran Papa atau lanjut S2" jawab Ravin
"Semua pilihannya bagus kok, kalo terjun langsung ke perusahaan nanti kamu bisa belajar dan praktik langsung.
Kalo lanjut S2 kamu juga belajar dan semakin banyak menambah ilmu" ucap Rara
"Kakak pikirin lagi aja baik-baik" sambungnya
Ravin menganggukan kepalanya tanda mengerti
Saat di lampu merah, Rara yang sedang asik mengobrol pun tak sengaja melihat seseorang di depan halte bus tempat mereka berhenti
"Kak, itu bukannya temen kamu yang semalem kerja di restoran itu kan?" tanya Mama Rara sambil menunjuk ke arah halte
Ravin menolehkan kepalanya, ke sebelah kiri
Ada Rachel sedang berdiri di depan halte itu
seperti sedang menunggu bus datang
"Beneran itu temen kamu yang semalem?" tanya Mama Rara lagi memastikan
"Emm .. itu .. "
"Kak, kita tawarin bareng aja gimana? Kayanya dia juga mau ke kampus, gimana kalo sekalian bareng kamu aja"
"Eh .. emm itu .. gak usah deh, Ma"
"Loh? Kenapa?" tanya Rara menatap Ravin heran
"Emm .. Kakak gak terlalu kenal juga, Ma.
Lagian dia nya juga takut gak mau" jawab Ravin
"Masa sih gak terlalu kenal tapi kalian bisa tau namanya, udah deh coba dulu ajakin siapa tau mau"
"Jangan lah, Ma" ucap Ravin
"Ah kamu ini gak boleh begitu, Kak.
Udahlah biar Mama aja yang ajakin.
Semalem kalo gak salah denger namanya Rachel kan" ucap Mama Rara
"Ma .. jangan" cegah Ravin
"Kenapa sih kamu, Kak.
Gak baik biarin cewek cantik naik bus sendirian, udah kamu diem aja" ucap Mama Rara
Saat Rara sudah siap menurunkan kaca mobilnya dan siap memanggil Rachel
Secara tiba-tiba ...
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya, Like , Coment dan Vote
See you next episode ❣️