
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Pagi hari di kediaman keluarga Nugaraha terasa ramai dan hangat seperti biasanya.
Semua anggota keluarga selalu di wajibkan untuk sarapan bersama sebelum mereka melakukan aktivitas mereka.
Itu seperti sebuah peraturan yang di haruskan oleh Mama Rara untuk suami dan anak-anaknya.
Dan
semua nya pun selalu menurut apa yang sudah di tetapkan oleh Mama Rara.
Karena mereka tahu perempuan paruh baya itu selalu melakukan semua terbaik untuk keluarga ini.
"Pagi Mama, Papa, Kakak .. " sapa Raisa ceria memasuki ruang makan
Putri bungsu dari Ken dan Rara itu mencium pipi kedua orang tuanya lebih dulu sebelum duduk di kursi miliknya di samping Ravin
"Pagi Sayang .. " sapa Mama dan Papa
"Pagi Dek .. " jawab Ravin sambil mengusak pelan rambut adik gadis nya itu
"Pagi jelek .. " jawab Arka meledek
"Enak aja, udah cantik begini di bilang jelek.
Aku kan nurunin semua kecantikan dari Mama" ujar Raisa tak terima
Raisa mencebikan bibirnya sebal pada Kakak kedua nya itu
"Cantik kaya Mama gimana? Liat dong itu pipi beluber-luber" ledek Arka lagi yang belum merasa puas
Meledek sang adik adalah hobby bagi Arkana
"Papa .. " rengek Raisa
Jika malas meladeni jahilan sang Kakak, Raisa akan meminta pembelaan dari sang Papa pasti akan selalu membelanya.
Sedangkan Mama dan Kakak pertama nya yang malah asik menyaksikan aksi saling ledek yang sudah biasa terjadi di setiap pagi hari itu.
"Arkana jangan ledekin adik kamu terus" ucap Ken memperingatkan
"Iya Pa .. " jawab Arka
Sedangkan Raisa menjulurkan lidahnya pada Arka karena merasa puas.
"Kalian ini ya , setiap hari ada aja ributnya.
Enggak bosen apa saling ledek terus.
Liat tuh Kakak, selalu tenang setiap hari. Kalian juga kaya gitu bisa gak sih" ucap Mama Rara
Ravin senyum melirik pada kedua adiknya yang tampak diam saja saat di ceramahi oleh sang Ibu
Ketiga putra putri nya itu memang memiliki sifat-sifat yang berbeda.
Ravin memang sangat pendiam dan tenang seperti Papa Ken
Putra sulungnya itu juga lebih sulit mengekspresikan perasaanya, di banding kedua saudara nya yang lain
.
Sedangkan kedua adiknya, Arkana dan Raisa mereka lebih bawel dan terbuka dari segi apapun.
"Kakak kan diam-diam menghanyutkan Ma, kaya kemaren tau-tau udah bawa calon aja ke rumah" ucap Arkana asal
Sontak saja itu membuat sang Kakak tersedak sarapannya.
Uhuk ..
Uhuk ..
Ravin meneguk segelas air yang ada di sampingnya.
Anggota keluarga yang lain saling tersenyum penuh arti saat melihat wajah Ravin yang memerah.
Entah karena tersedak atau karena malu.
"Pake di gendong-gendong lagi" ucap Raisa menimpali
"Berarti doa Mama biar cepat-cepat punya cucu bakal terkabul nih kayanya" Mama Rar menimpali ucapan Arka
__ADS_1
Uhuk ..
Uhuk ..
Ketiga nya malah asik meledeki Ravin, tak peduli lelaki itu masih terbatuk-batuk
"Pelan-pelan Kak" ucap Ken
Sang Papa menjangkau punggung Ravin yang tak jauh darinya lalu menepuk punggung putra sulungnya itu
"Jangan mikir yang aneh-aneh deh kalian" ucap Ravin saat pernafasannya sudah normal
"Gimana gak mikir aneh, Kakak bawa perempuan cantik sambil di bopong gitu" jawab Raisa
"Itu kan gara-fara kaki nya sakit, lagian Kakak sama Rachel cuma teman" jelas Ravin
"Lebih dari teman juga enggak apa-apa. Mama setuju" ucap Mama Rara
"Ma .. "
Ravin bingung kenapa keluarga nya itu begitu senang jika membahas tentang Rachel dari kemarin
Saat istri dan kedua anaknya yang lain senang meledek Ravin, Papa Ken malah asik mengamati ekspresi putra sulungnya itu
Ucapan Ravin yang menyangkal terus menerus malah terlihat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Ravin.
Seperti ada rasa senang yang coba Ravin coba sangkal.
Tepukan di bahu Ravin dari sang Papa membuatnya menoleh
"Udah jangan di sangkal. Nanti malah makin dalam" ucap Papa Ken yang berhasil membuat Ravin bingung
"Ayo di lanjutin sarapannya" ucap Papa Ken saat Ravin belum sempat bertanya maksud ucapan Sang Papa
Perasaan Ravin tiba-tiba saja menjadi aneh dan bingung.
********
Keadaan di kampus cukup aman setelah kejadian ribut kemarin.
Meski masih ada anak-anak yang membicarakan hal itu diam-diam, tapi Ravin tidak masalah.
Asalkan kejadian itu jangan sampai terdengar oleh para dosen atau rektor.
"Rav .. " panggilan lembut dari Nara membuat Ravin menghentikan langkahnya
Berbalik badan, Ravin dapat melihat perempuan itu sedang berjalan menghampirinya.
"Nar udah dateng?"
"Iya .. "
"Kamu di anter siapa?" tanya Ravin
"Di anter sama Papi sekalian jalan ke kantor" jawab Nara
"Oh .. "
"Kamu mau kemana? Kok ke arah sini, bukan ke kalas?" tanya Nara
"Aku mau nganterin ini tas nya Rachel" jawab Ravin sambil menunjukan Tote bag yang ia bawa
Nara melihat ke arah tas yang Ravin bawa
"Kok bisa ada sama kamu?" tanya Nara
"Oh itu semalem ketinggalan di mobil aku" jawab Ravin
"Semalam?" tanya Nara mengerutkan dahinya
"Iya semalam aku anter Rachel ke apartemen temennya, kayanya dia lupa bawa tasnya.
Makanya aku mau balikin, tapi kata teman nya dia lagi libur" jawab Ravin jujur
Entah kenapa tiba-tiba Nara merasa hati nya begitu sakit seperti ada sesuatu yang menancap di hatinya
saat mendengar ucapan Ravin.
Apa itu alasan Ravin dari sore kemarin susah di hubungi?
Batin Nara bertanya-tanya
"Kamu kok jadi kaya deket banget ya sama Rachel" ungkap Nara
__ADS_1
"Deket gimana?" tanya Ravin mengernyitkan dahi
"Ya deket, kemaren aja kamu bantu dan belain dia" ucap Nara
"Ya itu kan karna aku yang jadi penyebab keributan antara dia sama Intan.
Aku cuma coba ngelerai aja."
"Tapi emang harus pake gendong dan sampe bawa ke rumah segala ya?" tanya Nara
Ada nada tak suka dari cara bicaranya
"Kamu tau dari Arka ya?" tanya Ravin
Dari mana Nara tahu Ravin membawa Rachel ke rumahnya pikir Ravin
"Kamu enggak perlu tau aku tau dari mana" ucap Nara kesal
Mendapat pertanyaan balik dari Ravin, berarti membenarkan kalau Ravin membawa Rachel ke rumahnya
Melihat kekesalan Nara membuat Ravin bingung
"Kamu kenapa sih Nar? Kok aneh gini" ucap Ravin
Tidak biasanya gadis yang selalu lembut itu menunjukkan kekesalan nya secara terang-terangan begini.
"Lagi dateng bulan ya? Kok keliatan kesel begini" tanya Ravin tak peka
Ketidak pekaan lelaki itu membuat Nara semakin kesal saja.
"Enggak!" jawab Nara marah
Perempuan itu pun berbalik badan lalu pergi dengan perasaan kesal, sedih dan marah.
"Nar .. Nara .. " kepergian sahabatnya itu semakin membuat Ravin bingung dengan sikap gadis itu hari ini
Ravin menahan pergelangan tangan Nara, membuat gadis itu menoleh
"Kamu mau kemana? Ada apa sih?"
"Pikir aja sendiri" ucap Nara menepiskan tangannya dari Ravin dan kembali melangkah pergi
Saat Ravin hendak mengejar Nara, suara dering telepon dari hp nya membuat Ravin mengerutkan dahinya saat melihat panggilan itu berasal dari nomer yang tidak ia kenal
"Halo .. " angkat Ravin
Suara merdu dari perempuan di sebrang sana berhasil membuat langkah Ravin yang mengikuti Nara terhenti seketika
"Ravin .. emm .. ini Rachel, bisa ketemu sebentar?" ucap nya ragu-ragu
Matanya yang menatap punggung Nara yang semakin menjauh
Dan
telinganya yang mendengar suara Rachel di seberang sana
membuat Ravin bingung
Manakah yang harus ia pilih?
Mengejar Nara yang pergi karena marah tak jelas
atau
Pergi menemui Rachel yang sedari tadi ia cari?
.
.
.
.
Kalian tim mana nih?
RavinNara atau RavinRachel?
Untuk hari Minggu libur up ya ..
Up nya cuma Senin-Sabtu aja.
Jangan lupa di like, comen dan vote sehabis baca
__ADS_1
See you next episode ❣️