Angan Cinta

Angan Cinta
Perjodohan?


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Mata Rachel membulat seketika, melihat seseorang yang kini sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah khawatir.


"Ravin .. "


"Sayang" Ravin langsung meraih kedua pundak Rachel, memeriksa keadaan kekasihnya itu.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Ravin.


Raut khawatir dan cemas itu terpatri nyata di wajah tampan Ravin.


Rachel menganggukan kepalanya, bingung.


"Kamu... kok ke sini lagi?" tanya Rachel.


Perasaan curiga mulai menjalar di hatinya.


"Mami kamu tadi telepon aku, dia bilang ada yang kirim paket ancaman ke kalian" ucap Ravin.


Ternyata dugaan Rachel benar, ini pasti ulah sang Mami.


"Enggak apa-apa kok, semuanya udah di beresin.


Tadi ada Pak Anwar dan Bu Hindun yang tolong" jawab Rachel.


Ravin tahu, Mela yang memberitahu nya.


Dan juga Ravin sudah berpapasan dengan Pak Anwar di depan gerbang tadi, saat lelaki paruh baya itu hendak membuang paket ancaman tersebut.


Ravin pun sudah melihat isi hadiah mengerikan tersebut.


"Ayo masuk dulu" ajak Rachel, tidak mungkin ia membiarkan Ravin di depan terus.


Ravin mengangguk, masuk lebih dulu. Di ikuti Rachel di belakang setelah menutup pintu.


"Siapa Chel?" tanya Mela berbalik.


Ibu dari Rachel itu mendapati Ravin menghampirinya untuk menyalami.


"Assalamualaikum Tante" ucap Ravin meraih lengan Mela.


"Walaikumsalam, eh Ravin udah datang" ucap Mela.


"Iya Tante" jawab Ravin.


"Tante enggak apa-apa?" tanya Ravin.


Lelaki itu duduk saat Mela mempersilahkan nya duduk di sofa.


"Enggak apa-apa Rav. Tante sama Rachel aman kok.


Makasih ya kamu udah mau datang" ucap Mela terlampau ramah.


Rachel mencibir pelan pada Mami, masih kesal karena ia memberitahu Ravin.


Gadis itu berjalan menuju dapur.


Ravin tersenyum mengiyakan.


"Udah seharusnya Ravin datang, Tan. Makasih Tante udah hubungin Ravin"


"Memang seharusnya. Karena sekarang cuma kamu yang bisa Tante handalkan"


"Mi jangan begitu, enggak enak kalau sampai Pak Anwar dan Bu Hindun denger.


Kan mereka yang tadi udah bantu kita" sela Rachel sambil membawa minuman untuk Ravin.


Ia meletakan nya dia atas meja.


"Iya .. iya .. maksud Mami tuh bukan enggak menghargai pertolongan Bu Hindun dan Pak Anwar.


Cuma kan, Ravin ini pacar kamu. Jadi sepatutnya kamu mengandalkan dia dalam segala hal"


Tapi, sayangnya Rachel bukan perempuan manja yang mudah bergantung pada orang lain.


Rachel itu perempuan yang mandiri, ia sudah terbiasa melakukan apapun sendiri sedari kecil. Dan kini, Rachel pun masih merasa canggung jika harus mengandalkan Ravin.


Meski, justru Ravin malah merasa bahagia jika Rachel mau bergantung padanya.


"Tante tau siapa orang yang kirim paket itu?" tanya Ravin pada Mela.


Perempuan paruh baya itu menggeleng.


"Kalo Tante tau udah Tante hajar deh itu orang. Kok jahat banget sih" ucapnya geram.


"Enggak ada nama pengirimnya, bahkan nama toko bunga nya pun gak ada" ucap Rachel pada Ravin.


"Kayanya ini udah di rencanain. Orang itu kirim di hari kelulusan kamu, berarti dia tau kegiatan kamu.


Orang itu juga sengaja kirim di saat cuma ada Tante di rumah, buat menghilangkan kecurigaan" duga Ravin.


Mela bergidik takut.


"Aduh Tante jadi ngeri, kalo di rumah sendirian"


"Tante tenang aja, besok Ravin akan suruh orang buat pasang cctv di rumah ini.


Biar kalau terjadi hal aneh, kita punya bukti. Dan Ravin juga bisa pantau kalian"


"Aku juga berpikir mungkin mau pekerjakan satu satpam buat jaga di depan" sambungnya.


"Iya bagus itu, Tante setuju"'

__ADS_1


"Enggak perlu satpam Rav, ini kan cuma rumah kecil. Apa enggak berlebihan"


"Ini buat keamanan kalian"


"Tapi cctv aja udah cukup, enggak perlu pakai satpam segala.


Rumah aku bukan rumah mewah yang harus di jaga satpam" tolak Rachel.


"Satpam itu bukan buat jaga rumah mewah aja Chel. Tapi juga buat jaga keamanan penghuni rumah.


Lagian Cctv itu cuma alat, seenggaknya kalau satpam itu manusia. Dia bisa bergerak membantu dan melindungi kalau ada sesuatu"


"Udahlah Chel, kamu nurut aja sih. Ini kan juga demi keamanan Mami sama kamu" ucap Mela.


Rachel menghela pasrah, berdebat dengan dua orang ini juga percuma.


Ia tidak akan menang.


"Yaudah terserah" jawabnya.


Mela tampak mengacungkan jempolnya pada sang calon menantu.


Jika melawan keras kepalanya Rachel, memang hanya sang Mami yang mampu.


Ravin tersenyum kecil menanggapi nya.


"Udah deh, Mami tinggal ke kamar dulu ya. Kalian lanjutin ngobrolnya berdua aja" ucap Mela beranjak bangkit.


Mami tahu kalau Ravin dan Rachel butuh ruang berdua untuk berbicara bebas.


"Iya Tante" jawab Ravin.


"Jangan berantem ya .. " Mela menepuk bahu Ravin dan Rachel yang duduk berdampingan itu.


Lalu melenggang masuk ke kamar dengan raut ceria.


Rachel sampai menggelengkan kepala melihat nya, padahal satu jam yang lalu ibu nya itu begitu histeris ketakutan.


Tapi, kini sifat aslinya sudah kembali lagi hanya dalam beberapa waktu.


********


"Kenapa kamu gak hubungin aku?


Kalau Mami kamu gak telepon aku, mungkin aja aku gak tahu apa yang terjadi sama kalian" hardik Ravin begitu Mela Mauk ke dalam kamarnya.


Kini tinggal keduanya duduk di ruang tamu.


Rachel mengigit bibir dalam nya, merasa kesal dengan Mami nya yang sembunyi-sembunyi menghubungi Ravin.


"Mami ya ampun"


"Aku enggak mau bikin kamu khawatir, Rav"


"Justru aku semakin khawatir karena kamu gak jujur tentang ini.


Aku malah terlihat kaya orang yang gak berguna buat kamu, Chel" ucap Ravin marah.


Rachel merasa bersalah.


"Apa sesusah itu buat kamu lebih jujur dan terbuka sama aku tentang apapun itu?" tanya Ravin.


Gadis itu duduk diam, menundukkan kepalanya.


"Maaf .. " cicit Rachel pelan.


Ravin menghela nafas berat, meraih telapak tangan Rachel untuk ia genggam.


Membuat gadisnya itu mendongkak.


"Tolong lebih terbuka sama aku, Chel" pinta Ravin.


Keduanya saling bersitatap.


"Ya?" ucap Ravin lagi meminta.


Jika sudah di tatap dalam dengan nada lembut seperti ini tentu saja Rachel akan kalah.


Akhirnya perempuan itu mengangguk, Rachel memutuskan untuk menceritakan semua kejadian aneh yang beberapa minggu ini ia alami.


Meski, pada akhirnya Rachel harus siap menerima resiko keposesifan Ravin yang akan meningkat.


********


Sudah tiga hari semenjak teror yang Rachel terima di rumahnya.


Sejak mengetahui kebenaran bahwa Rachel sudah beberapa kali di teror, Ravin langsung turun tangan menjaganya.


Di rumah kekasihnya itu sudah Ravin pasangkan Cctv yang bisa ia pantau setiap saat melalui ponselnya, serta juga memperkerjakan dua satpam untuk bergantian berjaga 24 jam di rumah tersebut.


Sedangkan Rachel sendiri, selalu Ravin jaga dan antar kemana pun gadis itu pergi.


Atau Ravin akan meminta seseorang untuk menjaga Rachel dari jarak jauh dan diam-diam, tanpa sepengetahuan Rachel.


"Gimana udah ada petunjuk belum?" tanya Ravin dari balik ponselnya, sepertinya ia sedang menghubungi seseorang.


Menerima jawaban dari sebrang sana membuat Ravin berdecak pelan.


"Gimana sih, cuma cari tahu hal begini aja gak bisa. Yaudah hubungin lagi kalo ada petunjuk" ucap Ravin sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


Ravin mematikan sambungan telepon tersebut dengan kesal.


Sudah tiga hari ini ia menyuruh orang untuk mencari tahu siapa pengirim paket misterius, tapi sampai hari ini masih belum di ketahui juga siapa pengirimnya.


Padahal Ravin sudah sengaja merebut bukti yang hendak Pak Anwar buang, untuk ia selidiki. Tapi hasilnya masih belum ada.

__ADS_1


Ketukan dari pintu kamarnya membuat Ravin mengalihkan perhatiannya.


Ia membuka pintu tersebut dan mendapati sang Mama sedang berdiri di depannya.


"Ma .. ada apa?"


"Kakak lagi sibuk?" tanya Mama Rara yang di jawab gelengan dari sang putra.


"Papa mau ketemu kamu di ruang kerjanya" ucap Mama sambil mengelus lengan sang putra.


"Kenapa ya Ma?"


"Ada yang mau Papa kamu bicarain, kamu temuin dulu gih. Nanti Mama susul ke sana" titah Mama.


Ravin mengangguk, lalu izin menghampiri Papa nya di ruang kerja.


Mengetuk pintu ruang kerja sebentar, Papa Ken langsung mengizinkan Ravin masuk.


"Papa panggil aku?" tanya Ravin seraya masuk ke dalam.


Ken yang sedang ada di meja kerjanya mengangguk, melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya lalu beranjak dari kursi kerjanya.


"Duduk Kak, ada yang mau Papa bicarain sama kamu" Papa Ken mengajak sang putra duduk di sofa ruang kerjanya.


Tak lama keduanya duduk, Mama Rara datang dengan membawa teh hangat berserta beberapa camilan.


Ibu dari tiga anak itu ikut duduk di samping suaminya dengan Ravin di depannya.


"Ada apa ya Pa?" tanya Ravin tanpa basa basi.


Ravin sudah tahu, jika sang Papa mengajak nya bicara di ruang kerja alih-alih di ruang keluarga, berarti hal yang akan mereka bicarakan itu sesuatu yang penting.


"Ada hal penting yang ingin Papa sampaikan buat kamu" ucap Papa.


"Apa?" tanya nya.


"Tapi sebelum itu, Papa ingin tau bagaimana hubungan kamu sama Rachel" tanya Papa.


Ravin mengerenyitkan dahinya, heran.


Kenapa jadi membicarakan hubungan nya dengan Rachel.


"Hubungan Ravin dan Rachel baik-baik aja. Memang nya kenapa Pa?"


"Apa kamu tau, tentang kehidupannya dia atau masa lalu nya, Sayang?"


Kali ini Mama nya yang bertanya.


Ravin semakin mengerenyit, tak mengerti.


"Apa maksud Mama soal latar belakang Rachel? Ravin tau semuanya" jawabnya.


Ya meski Ravin tak tahu sepenuhnya juga, karna Rachel masih menutup rapat soal kisah keluarga dan masa lalunya.


Ravin hanya tahu dari segelintir ucapan orang tentang buruknya kisah Rachel.


Tentang Ayahnya yang bunuh diri, Rachel yang playgirl, dan Mami nya suka memoroti lelaki yang menyukai Rachel dan menghambur-hamburkan uang itu bersama geng sosialita nya.


Ravin hanya tahu sampai di situ saja dan ia tak berencana mencari tahu lebih dalam. Ia hanya ingin tahu semua dari diri Rachel, jika kekasihnya itu sudah siap bercerita.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Ravin tak sabaran.


Papa dan Mama nya itu terlihat saling pandang sesaat, sampai akhirnya Papa Ken membuka suara kembali.


"Tiga hari yang lalu Om Hendra datang ke rumah untuk menemui Papa dan Mama. Ia membicarakan sesuatu mengenai Rachel"


Papa Ken menjeda ucapannya. Dan Ravin tetap diam menunggu.


"Om Hendra ternyata menyelidiki latar belakang Rachel. Dia memberitahu kan semua tentang Rachel pada Mama dan Papa" ucap Ken.


Mendadak wajah Ravin terlihat tak suka mendengar itu.


"Kenapa Om Hendra selancang itu?" tanya Ravin berusaha tetap meredam marahnya.


"Jangan marah, Sayang. Jujur Mama dan Papa juga tidak setuju dengan tindakan Om Hendra itu, kami juga sempat kaget saat mengetahui nya" ucap Mama Rara.


Dan yang lebih kagetnya bagi Ken dan Rara adalah saat mereka mengetahui latar belakang Rachel yang kurang baik.


"Om Hendra mencari tahu tentang latar belakang Rachel. Mengetahui tentang latar belakang Rachel membuat Om Hendra berpikir, Rachel tidak pantas bersanding bersama kamu" ucap Papa.


Hal itu malah semakin menyulut rasa kesal dan marah Ravin.


"Hanya atas dasar masa lalu dan latar belakang nya Rachel, lalu Om Hendra berani menilai pantas dan enggak pantasnya Rachel buat Ravin?" tanyanya marah.


"Dengarkan Papa dulu, Nak" peringat Mama.


Ken tahu putra sulungnya itu mulai tersulut emosi.


"Ada satu hal lagi yang harus Papa sampaikan sama kamu. Dan Papa rasa kamu harus tahu ini, karena ini lah tujuan Om Hendra membeberkan fakta tentang Rachel" ucap Papa.


"Maksud Papa?" Ravin mulai menerka-nerka dalam pikirannya.


Jangan sampai pikirannya benar.


"Om Hendra mengajukan perjodohan antara kamu dan Nara"






Jangan lupa Like, Coment dan Vote.

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2