
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Aaaaa ... "
Rachel langsung melemparkan kotak di tangannya jauh-jauh.
Wajahnya pucat seketika dengan jantung yang berdetak cepat.
Mela yang mendengar teriakan Rachel dari dalam kamar, berlari langsung menghampiri sang putri.
"Chel kamu kenapa?" tanya Mela panik.
"Mi ... " gumam Rachel mendongkak.
Mela menghampiri dengan wajah khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Mela.
Melihat wajah Rachel yang pucat membuat Mela kaget.
Melirik ke arah kotak hadiah yang tergeletak di dekat meja rias, Mela merasa ada yang aneh saat Rachel terlihat ketakutan pada kotak tersebut.
"Jangan Mi" ucap Rachel menahan saat Mela hendak mendekat untuk melihat kotak tersebut.
"Kenapa?" tanya Mela.
"Jangan" tahan Rachel.
Tak mengindahkan ucapan sang putri, Mela tetap beranjak untuk melihat kotak tersebut.
"Aakkh .. " Mela terhuyung ke lantai saat melihat isi kotak tersebut.
"Mi .. "
Rachel langsung mendekat, merangkul sang Mami dari depan untuk menghalangi pandangan Mela yang masih menatap isi kotak.
"I.. Itu apa Chel?" tanya Mela bergetar.
Rachel menggeleng, masih menutupi Mela.
"Achel juga gak tau Mi" jawab Rachel.
Isi kotak yang mengerikan membuat keduanya ketakutan.
Di dalamnya terdapat foto Rachel dan Mela yang di tetesi darah di atasnya.
Tapi, yang lebih mengerikannya adalah sebuah kepala kelinci tanpa badan dan note yang bertuliskan
'kalian akan bernasib sama seperti ini'
"Kenapa benda itu bisa ada di sini? Mami takut" ucap Mela ketakutan.
Rachel juga sebenarnya ketakutan, dan mungkin lebih kaget dari Mela.
Tapi, ia berusaha menenangkan Mami nya lebih dulu.
"Ayo Mi, kita keluar dulu aja. Rachel bakal minta bantuan sama tetangga buat buangin itu" ucap Rachel.
Rachel berusaha membantu Mami nya berdiri dan menuntun nya untuk keluar kamar.
Kedua nya sama-sama membuang muka, tak ingin melihat lagi isi kotak tersebut.
"Mami tunggu sini, Rachel mau minta tolong sama Pak Anwar dulu" ucap Rachel, mendudukan Mela di sofa ruang tamu.
Mela mengangguk, mendudukan tubuh nya yang terasa lemas di sofa.
Sedangkan, Rachel meminta bantuan pada tetangga sebelah nya untuk membuang kotak serta bunga tak jelas tadi.
"Di mana Neng?" tanya Pak Anwar ketika memasuki rumah bersama Rachel.
"Di kamar saya Pak" jawab Rachel sambil menunjuk kamarnya.
Istri Pak Anwar pun ikut masuk, menghampiri Mela yang ada di sofa.
"Bu Mela gak apa-apa?" tanya Bu Hindun.
Mela menggeleng samar.
"Enggak apa-apa Bu, saya cuma lemas aja. Kaget" jawab Mela.
"Rachel, kamu tolong ambilkan minum aja ya buat Mami kamu.
Biar Pak Anwar dan Ibu yang periksa benda di dalam" ucap Bu Hindun.
Rachel mengiyakan.
"Baik Bu, Makasih sebelum nya"
Bu Hindun tersenyum tulus.
"Enggak apa-apa. Ayo Pak" ajaknya pada sang suami.
Pak Anwar dan Istri pergi masuk ke dalam kamar Rachel.
__ADS_1
Sedangkan, Rachel pergi ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Mela.
Lalu Rachel membawa segelas air putih di tangannya, ia berikan kepada Mela.
"Minum dulu Mi, biar Mami tenang" ucap Rachel.
Rachel sebisa mungkin menutupi rasa takutnya di hadapan sang Mami.
Ia harus menenangkan Mela, karna kalau keduanya sama-sama panik dan takut, tidak akan ada yang bisa saling melindungi.
Mela menyerahkan gelas kosong yang sudah ia tegak habis airnya.
"Kamu gak hubungin Ravin, Chel?" tanya Mela.
Rachel menggeleng.
"Jangan Mi"
"Kenapa? Telepon Chel, minta bantuan sama dia"
"Enggak usah Mi, kan udah ada Pak Anwar dan Bu Hindun yang bantu"
"Tapi Ravin harus tau Chel ada yang teror kamu" ucap Mela kukuh.
"Enggak perlu Mi, aku.... " ucapan Rachel terpotong ketika melihat Pak Anwar keluar dengan kotak di tangannya.
Serta Bu Hindun yang membawa buket besar bunga yang tadi, karena Rachel meminta bunga itu juga di buang.
"Udah Pak?" tanya Rachel mendekat.
"Udah Neng, ini Bapak tutup"
"Ya ampun Chel, kamu bisa dapat benda mengerikan kaya gitu dari mana?" tanya Bu Hindun.
Saat di kamar tadi, Bu Hindun juga sempat melihat isi kotak hadiah tersebut.
Dan sama seperti Rachel dan Mami, Bu Hindun dan suami nya pun merasa kaget saat melihatnya.
"Saya gak tau Bu, itu ada yang kirim" jawab Rachel.
"Udah Bu, ayo cepat kita bawa keluar aja dua barang ini" ajak Pak Anwar.
Bu Hindun setuju, ia membawa buket bunga di pelukannya mengikuti sang suami.
Rachel mengikuti mereka hingga keluar.
Mereka menaruh benda tersebut di depan pagar rumah Rachel.
"Di taruh sini dulu ya Neng Rachel, soalnya motor saya lagi di bawa Bagas.
"Iya Pak, Makasih banyak. Maaf merepotkan" ucap Rachel sungkan.
"Iya, Neng. Enggak perlu sungkan. Kita kan tetangga, sudah seharusnya saling menolong kalau butuh bantuan"
"Iya Chel, kalo butuh apapun bisa bilang sama Bapak dan Ibu.
Kamu kan juga selalu baik sama kami" ucap Bu Hindun.
Rachel memang orang yang dingin, tapi gadis itu di kenal cukup baik oleh lingkungan sekitarnya.
Meski tak ramah, tapi Rachel termasuk anak yang sopan dan suka membantu. Rachel sudah terbiasa berinteraksi dengan tetangga sebelah nya itu untuk saling tolong menolong.
Sering juga gadis itu membagikan sedikit rezeki nya pada tetangga untuk menjalin silaturahmi yang baik. Dan itu yang membuat Bu Hindun dan juga Pak Anwar tak segan membantu Rachel tatkala butuh bantuan.
"Kalau begitu Bapak sama Ibu tinggal dulu ya Chel, kamu sama Mami kamu enggak apa-apa kan kita tinggal?" tanya Bu Hindun.
Rachel mengangguk.
"Iya, nggak apa-apa Bu" jawab Rachel.
Bu Hindun dan suaminya akhirnya kembali pulang setelah Rachel kembali mengucapkan terima kasih.
Ia juga ikut masuk ke dalam.
********
"Mami benaran gak tau siapa yang kirim?" pertanyaan itu sudah Rachel ulang untuk kedua kalinya.
Mereka kini tengah duduk di ruang tv.
Rachel sudah membuatkan dua teh hangat untuk menenangkan diri mereka.
"Enggak Chel, yang nganter nya itu kurir. Pas Mami tanya kok gak ada nama pengirim nya, kurirnya cuma bilang gak tau.
Ya Mami kira itu dari Ravin" jawab Mela.
Rachel menggeleng.
"Rachel seharian ini sama Ravin Mi, dia juga udah kasih Rachel bunga dan hadiah.
Gak mungkin itu dari dia" jawab Rachel.
Mela yang tadi sedang selonjoran tiba-tiba bergerak heboh.
"Chel .. Chel .. apa jangan-jangan itu dari mantan pacar kamu yang dendam kamu putusin" ucap Mela.
__ADS_1
Rachel tampak berpikir sejenak, tapi ia merasa tak yakin.
Pasalnya mantan pacarnya itu banyak, Rachel tak tahu yang mana. Jika itu dari mantan terakhirnya yaitu Leo, mana mungkin lelaki itu baru menerornya sekarang.
Sedangkan, putusnya mereka sudah terjadi hampir setahun yang lalu. Rachel pun sudah 7 bulan menjalin hubungan dengan Ravin.
Dan selama hampir setahun ini juga ia baik-baik saja, tak pernah ada hal aneh.
Hal-hal aneh baru ia alami beberapa minggu belakangan ini saja. Dimana ia merasa di ikuti seseorang, lalu ada yang orang yang menakuti nya di supermarket, dan kini teror secara langsung.
Rachel masih merasa janggal dengan itu.
Apa ini semua ulah dari salah satu perempuan yang menyukai Ravin, dan tak terima saat mereka tahu Rachel dan Ravin berpacaran?
Entahlah Rachel merasa pusing.
"Rachel gak tau Mi" jawabnya.
"Terus siapa dong? Dia ngirim bunga tapi malah sama ancaman" ucap Mela.
Ancaman.
Eh tunggu dulu, Rachel merasa ingat sesuatu.
"Mi .. "
"Hemm .. "
"Aku ingat sesuatu"
"Apa?" tanya Mela menoleh pad wajah Rachel yang terlihat serius.
"Kenapa sih?" tanya Mela takut-takut.
"Di.. di dalam kotak tadi ada aku liat ancaman yang orang itu kasih.
Di sana di tulis, 'kalian akan bernasib sama seperti ini'.
Mami ngerasa aneh gak?" tanya Rachel.
"Maksud kamu, orang itu bukan cuma ngancam kamu tapi juga Mami?" tanya Mela.
Rachel menganggukan kepalanya.
"Dan Mami liat kan foto yang di dalam tadi foto kita berdua, bukan foto aku sendiri.
Itu artinya orang itu bukan cuma ngancam aku tapi juga Mami, kita berdua" jelas Rachel.
"Ih .. kamu bikin Mami takut sih Chel" ucap Mela.
Mami nya itu beringsut mendekat, lalu merangkul lengan Rachel.
"Berarti itu gak mungkin dari salah satu mantan pacar aku, Mi"
"Te.. terus siapa? Mami gak punya musuh kok Chel" ucap Mela ketakutan.
Rachel juga masih berpikir, siapa sebenarnya orang yang meneror mereka ini.
Saat hening, diantara Rachel dan Mela yang masih berpikir.
Suara ketukan pintu dari luar membuat keduanya terlonjak kaget.
"Siapa itu?" tanya Mela pada Rachel waspada.
Rachel menggelengkan kepalanya.
Hendak beranjak untuk membuka pintu, tapi Mami nya menahan.
"Jangan di buka Chel, Mami takut" tahannya.
Mengingat ini sudah lewat petang dan mulai gelap, Mela jadi merasa parno.
"Enggak apa-apa Mi"
"Takut orang jahat Chel"
Ketukan itu terdengar lagi berkali-kali.
"Enggak apa-apa, kalo orang jahat Mami tinggal teriak aja.
Suara Mami kan kencang, tetangga pasti dengar" ucap Rachel meyakinkan.
Melepaskan cekalan tangan Mami nya, Rachel beranjak membuka pintu.
Saat pintu itu Rachel buka, matanya membulat kaget melihat orang yang kini berdiri di hadapannya.
•
•
•
•
Jangan lupa Like Coment dan Vote.
__ADS_1
See you next episode ❣️