Angan Cinta

Angan Cinta
Masih Mencari


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Hari sudah berganti larut, tapi Ravin belum mendapatkan kabar juga mengenai keberadaan Rachel.


Dia sudah mencari sebisa mungkin ke orang-orang yang Rachel kenal atau ke tempat-tempat yang bisa Rachel datangi, tapi hasilnya nihil. Rachel sama sekali tak tampak jejaknya.


Ia juga sudah melapor ke kantor polisi mengenai ini, meski belum baru beberapa jam Rachel hilang kabar.


Meminta bantuan Jojo sahabatnya untuk mencari tapi hasilnya tetap sama.


Segala usaha Ravin lakukan agar dapat mengetahui keberadaan kekasihnya itu.


"Rav, elo enggak coba minta bantuan bokap lo? Akses Om Ken kan di mana-mana, pasti lebih mudah buat dia cari tahu" ucap Jojo melalui sambungan teleponnya tadi


Ravin berpikir sejenak, memikirkan usulan dari Jojo.


Memang akan sangat mudah bagi Papa Ken mencari tahu soal apapun, mungkin termasuk keberadaan Rachel saat ini.


Tapi Ravin berpikir apa Papa nya itu akan membantunya? Mengingat mereka kini sedang berselisih paham.


"Apa emang harus minta bantuan Papa?" gumam Ravin masih di dalam mobilnya.


Menimbang-nimbang usulan Jojo, akhirnya Ravin memutar arah mobilnya menuju rumah. Tidak ada salahnya ia mencoba meminta bantuan pada Ayahnya sendiri bukan?


Lagi pula meski berselisih paham dan Ravin sedang marah beberapa hari belakangan ini, Papa nya pasti akan tetap membantunya.


Ravin tahu betul Papa nya itu memiliki sifat sangat baik, meski selalu tegas dalam setiap hal.


Melajukan mobilnya menuju rumah, Ravin langsung di sambut hangat oleh satpam dan para pekerja yang lain di sana.


Bahkan Mama Rara terlihat sampai menghambur memeluknya begitu Ravin baru saja masuk ke dalam rumah.


"Ya ampun Kakak akhirnya kamu pulang, Mama kangen banget tahu" oceh sang ibu pada Ravin.


Ravin membalas pelukan hangat sang Mama.


"Maaf ya Ma, Rav enggak pulang beberapa hari ini. Mama pasti cemas" ucap Ravin merasa bersalah.


"Enggak apa-apa. Kamu udah pulang aja Mama senang, jangan di ulangin aja" ucap Mama sambil melerai pelukannya.


Ravin menganggukan kepalanya sambil mencoba tersenyum.


"Muka kamu keliatan capek Kak, kaya kurang istirahat? Kamu udah makan?" tanya Mama Rara sambil mengusap wajah sang putra.


"Udah kok" jawab Ravin bohong.


"Papa di mana ya Ma? Ada yang mau Kakak bicarain sama Papa" ucap Ravin.


"Papa ada di kamar. Kalo kamu mau bicarain soal perjodohan itu kamu tenang aja, Papa udah batalin kok Sayang"


Jujur Ravin senang mendengar kabar tersebut. Tapi saat ini perasaan masih tidak tenang karena Rachel.


"Bukan masalah itu. Ada hal penting, Kakak mau minta tolong sama Papa, Ma" ucap Ravin.


Mama Rara mengerenyit melihat wajah Ravin yang sangat serius di tambah terlihat kusut dan khawatir bersamaan.


"Ada apa?" Mama Rara tiba-tiba menjadi was-was.


"Ravin mau minta tolong Papa untuk cari Rachel. Rachel hilang dari kemarin" ucapan Ravin membuat Mama Rara kaget.


"Maksudnya hilang gimana?"


"Nanti Rav jelasin Ma, sekarang Rav harus ketemu Papa dulu" jawab Ravin terburu-buru.


"Yaudah, biar Mama panggil Papa. Kamu tunggu dulu di ruang keluarga" ucap Mama Rara yang di iyakan Ravin.


Sebelum memanggil sang suami, Mama Rara lebih dulu meminta di buatkan minuman dan makanan ringan untuk Ravin pada Bi Inah.


Mama Rara tahu, pasti putranya itu lelah dan mengabaikan kondisi fisik dan perutnya saat ini.


Sementara Mama Rara pergi, Ravin langsung pergi ke ruang keluarga.


Menunggu Papa dan Mama nya turun dari lantai atas, Ravin merenggangkan tubuhnya yang kaku sejenak.


Kurang istirahat dan tidak tidur semalaman membuat tubuh Ravin mulai terasa letih.


Di tambah perutnya yang ia biarkan keroncongan, akibat terlalu sibuk mencari Rachel.


**********

__ADS_1


Mela masih menunggu kabar terbaru lagi dari Ravin, sampai sore ini masih belum ada yang tahu keberadaan Rachel.


Ravin, Amel dan Jojo masih usaha mencari, sedangkan Mela masih menunggu di rumah karena Ravin yang meminta nya.


Walau sebenarnya Mela ingin membantu mencari juga, tapi percuma. Mela tak tahu sama sekali harus mencari kemana? Di tambah ia kesulitan kendaraan jika harus mencari seorang diri.


Sedang di landa cemas, Mela tiba-tiba terhenyak saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Ia buru-buru berlari untuk membuka pintu, berharap semoga yang datang itu adalah Rachel.


Tapi, harapannya pupus saat mendapati yang ada di depan pintu kini bukanlah Rachel putrinya melainkan Edward.


Lelaki itu sedang berdiri tersenyum sambil membawa beberapa jinjingan berisi buat tangan.


"Sore Tante" sapa Edward ramah.


Mela membalas sapaan Edward dengan lesu.


"Sore Ed. Kamu ada apa kemari?" sapa nya tanpa basa-basi.


Jika biasanya Mela selalu menyambut Edward dengan senang dan ramah, tapi kali ini tidak. Karena ia masih memikirkan kondisi Rachel.


"Edward mampir ke sini bawa oleh-oleh dari luar negeri buat Tante sama Rachel. Sekalian Edward mau ketemu sama Rachel, Tan" jawabnya.


Mela semakin murung.


"Rachel enggak ada, dia hilang dari kemarin" jawab Mela.


"Hah? Hilang gimana maksudnya Tante?" tanya Edward pura-pura tak tahu.


"Enggak tau, pokoknya dia ilang. Udah kamu jangan nanya-nanya, Tante lagi pusing plus khawatir ini"


"Kalau Rachel hilang kenapa Tante diam aja di rumah? Tante enggak coba cari?"


"Ravin dan teman-teman lagi coba cari. Tante juga pengen ikut cari, tapi Tante bingung harus cari kemana" jawab Mela bingung.


"Gimana kalo Tante cari bareng aku? Aku tahu beberapa tempat yang suka di datangin Rachel. Siapa tau dia ada di sana?"


Mela tampak berbinar mendengarnya.


"Serius?" tanya Mela antusias.


Edward mengangguk mantap, seolah meyakinkan.


"Iya Tante mau, Tante mau ikut. Ayo .. " ajak Mela.


"Tante enggak mau siap-siap dulu?" tanya Edward.


"Enggak perlu, udah ayo cepat. Tante pengen Rachel cepat ketemu"


"Oke kalau gitu, Ayo Tan" ajak Edward dengan senang hati.


"Dasar bodoh! Tenyata bisa semulus ini" batin Edward menyeringai jahat.


Edward langsung mengajak Mela memasuki mobilnya. Setelah perempuan paruh baya itu berpesan pada satpam sebelum pergi, mobil Edward langsung melaju untuk mencari Rachel.


Dan Mela sama sekali tak menyadari niatan jahat Edward yang sebenarnya.


"Let's start the game .. " batin Edward bersorak gembira.


*********


Rachel masih terkurung di ruangan redup dan kotor itu. Dia tak tahu sudah berapa lama ia di sekap di sana, dia juga tak tau kini waktu sudah menunjukkan pukul berapa.


Apakah sudah siang, sore atau malam? Rachel tak tahu.


Dirinya masih berusaha mencari cara agar bisa melepaskan diri dari ikatan lalu kabur dari sana sebelum terjadi sesuatu pada Mami nya. Ia harus menyelamatkan Mami nya.


Rachel sudah berusaha berteriak meminta tolong, tapi yang datang masuk malah dua orang menyeramkan suruhan Edward yang berjaga di depan. Dua orang itu malah menutup mulut Rachel dengan lakban.


Rachel juga sudah berusaha melepaskan ikatan tapi tak ada satu pun benda yang bisa ia gunakan. Mencoba dengan tangan kosong pun percuma.


"Gue capek" batin Rachel.


Energi Rachel rasanya sudah terkuras karena berusaha melepaskan diri.


Perut yang kosong, tenggorokan yang kering, serta badan yang nyeri membuat Rachel mulai melemah.


Tapi saat pintu gerbang besar itu terdengar terbuka, Rachel langsung bersikap waspada.


Apalagi saat sosok Edward tampak muncul masuk ke dalam bangunan, menghampiri nya.

__ADS_1


Saat gerbang itu di buka lebar, Rachel dapat melihat keluar. Langit tampak terlihat berwarna keemasan, yang dapat Rachel tebak waktu sudah mulai petang.


"Halo Rachel Sayang ... " teriak Edward menggema di seluruh ruang.


Rachel berdecih kasar dalam hati saat melihat lelaki yang kini semakin mendekat padanya itu.


"Gimana keadaan lo? Senang berada di sini?" tanya Edward.


Pria blasteran itu kini berdiri di depan Rachel, membungkuk untuk menyentuh wajah Rachel.


"Eemmmhh .. " Rachel berteriak melawan meski suaranya teredam oleh penutup mulut.


"Ngomong apa sayang? Mau ngomong apa?" tanya Edward meledek.


"Eemmmhh .. emmhh .. "


"Hahaha elo lucu deh kalo lagi kaya begini" Edward tertawa terbahak-bahak.


Rachel menatap Edward dengan penuh kebencian.


"Aduh jangan begitu dong ngeliatin nya. Gue kan baik mau kasih hadiah buat lo" ucap Edward meledek.


"Sebentar ya, gue panggilan dulu hadiahnya" Lelaki itu mengedip genit.


Lalu beranjak sedikit dari Rachel.


Prok!


Prok!


Usai Edward menepuk tangan dua kali, tampak dua orang menyeramkan yang tadi masuk ke dalam.


Tapi mereka tidak hanya berdua, mereka menggeret seseorang di tengah-tengah.


Seketika bola mata Rachel membulat sempurna saat melihat orang yang sedang mereka seret dalam keadaan lemah itu.


"Eemmmhh.. eemmmhh .. " Rachel benar-benar ingin teriak saat melihat Mami nya di seret masuk ke dalam.


Tubuhnya terus berontak seakan ingin menyelamatkan.


"Mami .... "


Edward tampak tertawa puas saat Mela di lempar ke lantai oleh kedua orang tersebut.


"Aahhh .. " paruh baya itu meringis nyeri. Tampaknya ia masih belum sadar betul dan masih dalam pengaruh obat bius.


"Eemmmhh .. " Rachel menangis meneriaki sumpah serapah dalam hatinya untuk Edward.


Tega-teganya lelaki itu memperlakukan Mela dengan sangat kasar.


"Kenapa? Elo pasti mau berterima kasih kan sama gue karna udah bawain Mami Lo buat temenin lo di sini, iyakan?"


Rachel tak peduli pada racauan Edward, ia sibuk menggeser kan tubuhnya agar bisa mendekati tubuh Mami nya.


Ia berusaha menggerakkan tubuh Mami dengan bahu nya. Kedua nya sama-sama terikat.


"Eemmhh .. "


"Mami bangun Mi"


"Aduh manisnya kalian berdua" racau Edward yang lagi-lagi Rachel acuhkan.


Fokusnya kini hanya pada sang Mami.


Dan Mela tampak mulai mengerakkan mata.


"Mami ... "


Rachel menatap Mela sambil menangis.


"Ra.. Rachel .. "






Jangan lupa Like, Coment dan Vote.

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2