
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Seusai makan siang keluarga, Ravin benar-benar di sidak oleh kedua orang tuanya.
Jika Mama dan Papa nya itu sudah mengajak berbicara di ruangan kerja sang Papa itu berarti mereka ingin berbicara serius.
Dan
itu sudah menjadi kebiasaan yang di terapkan oleh Papa Ken di keluarga mereka.
Meski dalam sehari-hari Papa Ken selalu bersikap lembut dan bersahabat dengan putra-putri nya,
tapi jika ada masalah serius yang melibatkan anak-anaknya, Papa Ken akan bersikap tegas.
Semua anak-anaknya pun sudah di biasakan bertanggung jawab akan sesuatu yang sudah mereka lakukan, terlepas itu baik atau buruk Papa Ken dan Mama Rara pasti selalu bersikap toleran.
Itulah yang menjadikan Ravin tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab.
Ravin menceritakan semua hal yang terjadi kemarin.
Hal buruk yang terjadi pada Rachel, serta sikap nya yang melakukan kekerasan dan main hakim sendiri karena tersulut emosi.
Papa Ken bisa mengerti apa yang di lakukan anak nya itu mungkin spontanitas emosi karena sama hal nya dengan Ravin, Papa Ken pun pernah melakukan hal seperti itu saat muda dulu.
Tapi, ia tak membenarkan perbuatan putra sulungnya itu.
Tentu saja Ravin harus menerima nasihat tegas dari Papa nya.
Dan
tentu ceramah panjang dari Mama nya.
"Yasudah karena masalah nya sudah di bawa ke jalur hukum, kita tinggal melanjutkan proses selanjutnya.
Dan Papa percayakan kamu untuk urus masalah ini sampai selesai dengan bantuan Om Hadi" ucap Papa Ken sebelum acara sidak itu selesai.
Papa Ken hanya akan memantau masalah ini dari belakang, ia akan membiarkan putra nya menyelesaikan masalahnya sendiri.
Karena Ravin sudah dewasa, Papa Ken percaya putra nya itu selalu bisa bertanggung jawab.
"Terus keadaan Rachel sekarang gimana Kak?" tanya Mama Rara
Perempuan paruh baya itupun khawatir pada teman dekat putranya.
"Udah lebih baik Ma, mungkin perlu 2-3 hari lagi buat keluar rumah sakit"
"Syukurlah .. Terus dia di rumah sakit sama siapa?"
"Ada Amel sahabatnya yang jaga, Mah"
"Apa keluarganya tau kejadian yang dialami Rachel?" tanya Papa Ken.
Ravin menggelengkan kepalanya.
"Rachel cuma tinggal sama Mama nya dan dia minta buat jangan kasih tau masalah ini sama Mama nya" jawab Ravin.
"Kenapa?" tanya Papa Ken.
"Emm .. mungkin dia gak mau Mama nya khawatir aja Pa" bohong Ravin.
Padahal tadi pagi saat Ravin mengatakan pada Rachel bahwa ia hendak memberitahukan kondisi nya pada Mami Mela, Rachel mengatakan tidak usah.
Karena Mami nya itu tidak akan peduli pada keadaanya, malah jika Mami nya tahu mungkin Mami malah akan menyalah Rachel yang tak mampu menjaga diri.
Mengingat ucapan Rachel pagi tadi tentang Mami nya, membuat Ravin kesal sekaligus iba.
Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang bisa bersikap seperti itu pada putri kandung nya sendiri.
"Kak .. " seruan dari Mama Rara menyadarkan lamunan Ravin.
"Iya Ma?" tanya Ravin.
"Kapan kamu pergi lagi ke rumah sakit?" tanya Mama Rara.
"Mungkin nanti malam, Mah. Kakak harus gantian jaga sama Amel.
Enggak apa-apa kan Kakak nginep lagi di rumah sakit?" tanya Ravin
"Ohh enggak apa-apa .. kalo gitu Mama sama Papa ikut ya.
__ADS_1
Mama sama Papa mau jenguk Rachel" ucap Mama Rara
"Kakak sih gak keberatan, Ma.
Rachel juga pasti seneng di jengukin Mama Papa"
"Yaudah berarti jadi ya nanti malam kita jenguk Rachel, Pa" ucap Mama Rara
"Iya Papa terserah Mama aja" jawab Papa Ken
"Yaudah kamu udah boleh keluar, Kak.
Istirahat aja" ucap Papa Ken.
Ravin menganggukan kepalanya.
"Kakak pamit keluar ya Ma Pa"
"Iya sayang" jawab Mama Rara.
********
Saat Ravin baru saja keluar ruang kerja Papa nya, ia di kejutkan dengan kedua adiknya yang sedang menunggu tak jauh dari ruangan itu.
"Kakak udah keluar" ucap Raisa langsung berdiri.
Gadis itu sedang berjongkok di dekat tangga.
Sedangkan,
Arka sedang bersandar di sampingnya sambil melipat kedua tangan di dada.
Mereka seperti sedang menunggu Ravin dengan gelisah sedari tadi.
Keduanya langsung menghampiri dengan terburu-buru.
"Eh kalian ngapain?" tanya Ravin.
Tak menjawab pertanyaan Ravin, Raisa dan Arkana langsung mengampit Ravin di sisi kanan dan kiri.
Mereka langsung menarik lengan Ravin menuju kamar.
"Hei .. hei .. ini kenapa? Kakak mau di bawa kemana?" tanya Ravin bingung.
"Iya nanti Mama sama Papa denger" sambung Arkana.
"Iya tapi ada apa? Jangan di tarik-tarik gini dong Kakak" protes Ravin.
Kedua adik nya itu tak mendengarkan ucapan Ravin, mereka langsung membawa Ravin masuk ke kamar milik Ravin dan mengunci nya dari dalam.
Raisa dan Arkana mendudukan tubuh Ravin di tepi tempat tidur.
Sedangkan keduanya berdiri di depan Kakak sulungnya itu.
"Cepet cerita" ucap Raisa sambil melipat kedua tangan nya di dada.
"Iya cerita" ucap Arkana juga ikut-ikutan melipat tangan.
"Cerita apa?" tanya Ravin mengerenyit.
Ia ingin tertawa melihat sikap kedua adiknya itu yang terlihat kompak mengintrogasi nya.
Padahal biasanya mereka akan bertengkar jika berdekatan.
"Cerita soal semuanya" ucap Raisa.
"Iya semuanya" ikut Arka
"Semuanya apa?" Ravin pura-pura tidak mengerti.
Raisa bedecak jengkel, ia dan Arka sudah penasaran sedari makan siang tadi saat melihat wajah Kakaknya yang babak belur.
Makanya mereka sampai menunggu di depan ruang Papa Ken, bahkan sempat menguping di pintu meski tak bisa mendengar apapun dari dalam.
"Soal semuanya, kenapa Kakak enggak pulang semalam.
Kenapa muka Kakak babak belur.
Kenapa Kakak di panggil Papa keruangannya.
Pokoknya semuanya deh" ucap Raisa cerewet.
__ADS_1
"Iyaa soal semuanya" sambung Arka.
"Ih kakak tuh dari tadi cuma ngikutin omongan aku terus.
Ikut tanya juga dong" ucap Raisa gemas.
"Tanya apa?" ucap Arka.
"Ya tanya yang tadi aku tanyain ke Kak Ravin"
"Ya kan kamu udah tanyain, ngapain juga aku ikut tanya" jawab Arka.
"Ih .. bukan itu. Ya tapi dukung pertanyaan aku kek" ucap Raisa gregetan.
"Kan dari tadi Kakak juga dukung pertanyaan kamu, Dek" jawab Arkana membuat Raisa jengkel.
"Ih ... Kakak tuh bener-bener ngeselin ya" ucap Raisa kesal.
"Salah, bukan bener-bener ngeselin. Tapi bener-bener ngangenin kali" celetuk Arka.
Raisa berdecak selalu di buat kesal dengan tingkah Kakak keduanya itu.
Sedangkan Ravin malah terkekeh melihat kedua adiknya itu.
Benarkan mereka itu tidak bisa akur, pasti selalu saja bertengkar.
Buktinya baru sesaat lalu kompak, kini keduanya malah kembali berdebat.
"Jadi mau introgasi atau mau berantem nih?" tanya Ravin sambil tertawa.
Kedua adiknya yang sedang adu sengit itu lalu beralih pada sang Kakak yang asik duduk santai.
"Kalo gak mau berantem di luar aja sana, Kakak mau istirahat" ucap Ravin hendak berbaring.
"Jangan ..!" Raisa dan Arka kompak.
Keduanya kembali menarik tangan tangan Ravin yang siap merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.
"Cerita dulu baru tidur" ucap Raisa.
"Iya kak cerita dulu, Kakak kenapa di bawa k ruangan Papa?
Kakak gak bikin masalahkan?" tanya Arkana.
Ravin m ngusap wajahnya, pusing mendengar celotehan kedua remaja itu.
Kedua adik nya itu tidak mungkin bisa diam jika belum di beritahu.
"Yaudah Kakak ceritain" ucap Ravin.
Ia menceritakan semua kejadian apa yang kemarin terjadi.
Membuat rasa penasaran kedua anak itu terpenuhi.
"Ya Allah kok bisa sih, kasian banget Kak Rachel" ucap Raisa saat mendengar semua cerita Ravin.
"Gila cowok gak bermoral, berani-berani nya dia ngelakuin hal begitu" ucap Arka.
Mendengar cerita pelecehan yang di alami Rachel membuat kedua remaja yang sudah mengenal teman dekat Kakak nya itu juga ikut tersulut emosi.
"Udahlah, masalahnya juga udah di urus di kantor polisi.
Kakak minta kalau kalian ketemu Kak Rachel kalian jangan ungkit apapun ya.
Biar dia gak keinget terus kejadian buruk itu" pinta Ravin.
"Iya Kak .. " jawab Raisa dan Arka kompak.
Keduanya mengangguk patuh.
"Yaudah kakak mau istirahat. Kalian keluar gih" ucap Ravin
Keduanya menurut, lalu pergi keluar kamar setelah Ravin meminta mereka pergi dan ingin beristirahat.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like , Coment dan Vote
See you next episode ❣️