Angan Cinta

Angan Cinta
Mengigau


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Kejadian tabrakan tadi benar-benar menjadi berita heboh di seluruh kampus, para perempuan penggemar Ravin yang mendengar berita itu merasa iri dengan keberuntungan Rachel yang bisa dekat bahkan jatuh ke pelukan tubuh Ravin meskipun itu hanya sebuah kecelakaan


Lelaki paling populer di kampus, lelaki yang hanya dekat dengan satu sahabat perempuannya, lelaki yang banyak di kejar para wanita itu kembali menjadi malaikat penolong Rachel


Selain merasa iri, tentu saja mereka juga merasa kesal dengan Rachel


Bagaimana bisa perempuan itu selalu membuat kerusuhan, sering kali Rachel di kerjar-kerja oleh para pria di kampus mereka


Dan


kejadian sore ini pun sama halnya


karena menghindari dua pria tampan, Rachel malah mendapat bertabrakan dengan pria yang lebih tampan dan populer


Dan mungkin besok di kampus ia akan di serang oleh para penggemar pria itu


"Ngapain sih elo masih ngikutin gue"


Rachel menghentikan langkahnya, berbalik menatap kesal laki-laki yang sedari tadi mengikutinya dari belakang


Edward tersenyum ramah tanpa rasa bersalah


"Ya aku kan mau jagain kamu sampe ke tempat kerja, lagian kamu mau aku anterin malah milih naik bus" ucap Edward


Lelaki itu rela meninggalkan mobil miliknya di kampus Rachel dan malah mengikutinya hingga kini ada di depan halte bus umum


"Gue gak perlu penjagaan dari elo, gara-gara elo gue jadi nabrak itu orang kan" omel Rachel


Ia merasa kesal, kenapa juga harus ada orang-orang menyebalkan seperti Leo dan Edward yang terus mengikutinya


Karena mereka berdua juga,


dirinya jadi harus bertabrakan dengan Ravin dan mendapatkan pertolongan untuk kedua kalinya


"Kok gara-gara aku sih? Lagian kamu kenapa tadi lari coba, padahal aku udah bela-belain dateng ke kampus kamu loh" ucap Edward


"Ngapain juga elo bela-belain dateng? Emangnya gue minta elo dateng?" Rasanya ia semakin


geram pada lelaki di hadapannya kini


Edward menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyengir kaku


"Ya enggak ..


Abis kamu blokir nomer aku sih, aku kan jadi susah hubungin kamu, Chel.


Aku kan kangen" ucap Edward


Rachel mendelik kesal pada Edward


"Elo gak ngerti di tolak ya?" ucap Rachel geram


Berkali-kali di tolak dan di abaikan, tapi lelaki itu masih saja mengejar-ngejarnya


Semakin membuat Rachel pusing saja karna sang ibu juga sangat setuju pada lelaki itu


Sebenarnya, Mela setuju pada siapa pun lelaki yang suka pada putrinya itu


asalkan lelaki itu kaya raya


dan


bisa menaikan derajatnya lagi


"Kamu jangan jahat gitu dong, Chel sama aku.


Nanti aku aduin loh sama Mami kamu" ancam Edward


Rachel sudah sangat malas berurusan dengan lelaki di hadapannya ini


Untung saja bersamaan dengan itu, bus yang akan ia naiki tiba


"Aduin aja sana, gue gak peduli.


Dan jangan ikutin gue lagi" ucap Rachel


Ia langsung bergegas naik ke dalam bus itu meninggalkan Edward sendiri di depan halte


Saat bus yang di naiki Rachel sudah jalan, Edward menatap bus itu yang semakin menjauh


"Sok jual mahal. Kita liat nanti, elo gak bakal bisa lepas dari gue, Chel" gumam Edward


Tatapannya yang semula sendu berubah jadi tatapan tajam di iringi dengan seringai sinis dari sudut bibirnya.


*******

__ADS_1


Ravin kini dalam perjalanan pulang kerumah, tapi sebelum itu ia harus mengantar Nara pulang lebih dulu


Sebelum kejadian tabrakan tadi, ia memang sudah berencana pulang dan mengantar Nara lebih dulu


karena sahabat perempuan nya itu sudah menunggu sekitar satu jam agar bisa pulang bersama


Sepanjang perjalanan gadis itu terus mendumel soal kejadian tadi


"Kenapa sih tiap ketemu perempuan itu, kamu pasti aja selalu sial Rav" ujar Nara


Ravin hanya melirik sekilas Nara dari kemudinya


"Udah gitu dia gak pernah bilang makasih deh tiap di tolongin. Gak punya sopan santun banget" dumelnya lagi-lagi


"Jangan nilai orang yang belum kita kenal, Nar" ucap Ravin mengingatkan


"Ya tapi emang dia gak sopan, udah dua kali kamu tolongin dia.


Emang dia pernah bilang makasih" ucap Nara


"Dia udah bilang makasih kok" jawab Ravin


"Kapan? Aku gak pernah denger tuh"


"Waktu di restoran, aku gak sengaja ketemu dia di depan toilet.


Dan dia udah bilang makasih"


"Kamu ketemu dia?" tanya ulang Nara


Ravin yang masih fokus pada kemudinya hanya menganggukan kepalanya


"Kamu kok gak bilang sama aku?" tanya Nara


Ravin mengernyitkan dahinya


"Emangnya harus?" tanya Ravin


Nara tersentak, raut wajahnya berubah kecewa


"Ya enggak sih" jawab Nara


Ia mengalihkan wajahnya ke arah jendela, mencoba menahan rasa asing yang tiba-tiba tidak terasa nyaman di hatinya


Suasana di dalam mobil pun menjadi hening, hanya suara dari musik yang di putar dari dalam mobil yang menjadi satu-satu nya pengisi keheningan


Usai mengantar Nara, Ravin langsung bergegas pulang ke rumah padahal gadis itu sudah menawari nya mampir lebih dulu


Karena merasakan tidak nyaman pada tubuhnya, Ravin memutuskan langsung pulang saja


Sesampai di rumah, Ravin langsung izin naik ke kamarnya seusai menyapa kedua orang tuanya


"Jangan tidur ya kak, sholat magrib dulu" ucap Mama Rara saat Ravin mengeluh tidak nyaman dan lelah pada tubuhnya


"Iya Ma .. " jawab Ravin


Masuk ke dalam kamar, Ravin langsung membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya


Masih memakai sarungnya, Ravin pun merebahkan diri di atas kasurnya


Ia meringis merasakan nyeri di siku nya


Dirinya baru sadar saat mandi tadi kalau sikunya terluka karna menahan tubuh Rachel tadi


"Kenapa perempuan itu selalu berurusan sama laki-laki" gumam Ravin


Ternyata tanpa sadar ia memikirkan perempuan itu


Hingga akhirnya rasa kantuk pun menghampirinya dan memnbawanya ke alam mimpi


Mimpi yang tak Ravin mengerti


"Jangan sok jadi pahlawan, gue gak perlu bantuan lo"


Ravin bergerak gelisah dalam tidurnya


Kata-kata itu terus terngiang-ngiang bersamaan dengan wajah Rachel dengan tatapan dinginnya


terus berputar di dalam alam bawah sadar Ravin


Tapi mimpi itu semakin aneh saat Ravin tiba-tiba memeluk gadis itu di atasnya, posisi mereka sama seperti saat tadi mereka bertabrakan di kampus


"Lepasin ... "


Ravin tak tahu kenapa mimpinya terasa sangat nyata, saat ia memeluk Rachel dan gadis itu berontak di dalam pelukannya


"Rachel .. " gumam Ravin


"Perempuan gila" gumam nya lagi

__ADS_1


"Lepasin .. "


teriakan perempuan itu semakin keras juga dengan berontak nya


"Kakak lepasin ih .. "


"Kak, bangun ..


Ih mimpiin apa sih"


Mata Ravin perlahan terbuka saat kesadarannya muncul


"Dek .. kamu ngapain disini?" wajahnya masih linglung menatap Raisa


"Aku di suruh Mama panggil Kakak buat makan malem"


"Oh .. " jawabnya masih setengah sadar


"Lepasin kak ih .. aku sesak tau" gerutu Raisa


Ravin menatap tangannya yang sedang mendekap sang adik dengan erat


Matanya membulat sempurna, kemudian melepaskan Raisa dari pelukanya


Berangsur duduk, Raisa memanyunkan bibirnya sebal


Ravin pun ikut duduk di sampingnya


"Kakak mimpi apa sih sampe meluk-meluk aku kenceng banget?" tanya Raisa


Ravin yang masih yang masih menguap pun menggelengkan kepalanya


Ia pun tidak mengerti kenapa ia bisa bermimpi seperti itu tadi


"Gak mimpi apa-apa" jawab Ravin


"Masa sih gak mimpi apa-apa? Pasti mimpi yang engga-enggak" tebak Raisa


"Enggaklah enak aja" jawab Ravin berdiri


Ia berjalan sempoyongan menuju toilet untuk membasuh wajahnya


Raisa pun mengikutinya dari belakang


Menatap sang Kakak yang sedang mencuci wajahnya, Raisa melipat kedua tangannya di dada sambil bersandar pada pintu kamar mandi


"Masa sih engggak?


Tadi aku denger loh kakak, ngigau sebut nama Rachel" ledek Raisa


Seketika Ravin pun menengok pada adiknya itu


"Kakak ngigau nyebutin nama itu?" tanya Ravin tak percaya


Raisa mengangguk yakin


"Iya .. orang aku denger banget.


Kakak ngigau sebut Rachel .. perempuan gila, gituh"


Ravin berjalan melewati Raisa keluar kamar mandi


dan adik kesayangannya yang cerewet itu terus mengekorinya


"Siapa sih kak? Cerita dong, aku penasaran nih"


"Ceritain apa?" tanya Ravin berjalan keluar


"Ceritain tadi mimpi apa? Terus Rachel itu siapa?" tanya Raisa penasaran


"Bukan mimpi apa-apa dan dia bukan siapa-siapa" jawab Ravin tegas


Mencebikan bibirnya sebal, lalu ide jahil pun muncul dari kepala Raisa


Berjalan mendahului Ravin, Raisa pun berlari turun dari tangga sambil berteriak yang membuat perhatian semua yang ada di meja makan teralihkan


"Mama .. Papa .. Kak Ravin mimpiin perempuan ... "


.


.


.


.


Jangan lupa di Like , Vote dan Coment


See you next episode ❣️

__ADS_1


__ADS_2