
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Pagi hari di kediaman Nugraha, semua orang berkumpul untuk sarapan bersama seperti biasanya.
Kakek Wisnu, Papa Ken dan Mama Rara, serta Arkana dan Raisa sudah duduk di meja makan.
Sarapan masih belum di mulai karena ada satu orang lagi yang belum hadir, yaitu Ravin.
Anak sulung dari keluarga ini belum terlihat batang hidung nya sama sekali.
"Ra .. Ravin mana kok belum turun-turun?" tanya Kakek Wisnu pada Mama Rara.
"Enggak tau Pa, tadi sih Raisa udah panggil katanya lagi siap-siap.
Coba Rara panggil lagi deh" jawab Mama Rara.
Perempuan paruh baya itu hendak beranjak dari kursi nya.
Tapi, putra keduanya itu menahan sang ibu.
"Mama biar Arka aja yang panggil" tahan Arkana.
"Oh yaudah. Makasih ya sayang" ucap Mama Rara yang di iyakan oleh Arka.
Adik dari Ravin itu beranjak hendak memanggil sang Kakak, tapi baru sampai pada undakan tangga pertama.
Ravin sudah terlihat turun dari atas.
"Lama banget Kak, kita semua udah nungguin dari tadi" ucap Arka menunggu di ujung tangga.
Ravin merangkul pundak adiknya itu saat sudah tiba di bawah.
"Kan lagi siap-siap" jawab Ravin.
Mereka berjalan menuju ruang makan bersama.
"Beda banget hari ini" ucap Arka meneliti penampilan Ravin.
"Beda gimana?" tanya Ravin.
"Rapi dan wangi banget"
"Emang biasanya enggak rapi sama wangi?" tanya Ravin.
Apa penampilan nya hari ini berlebihan? pikir Ravin dalam hati.
Memang sih hari ini ia berpenampilan sebaik mungkin karena akan menjemput Rachel di rumahnya.
Ravin akan mengajak Rachel pergi ke kampus bersama, berjalan bersama lalu saling bergandengan tangan.
Ia ingin menunjukkan pada semua orang kalau dirinya dan Rachel kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih, agar tidak ada lagi laki-laki yang berani mendekati kekasih nya itu.
"Biasanya juga rapi dan wangi, tapi hari ini kaya beda aja aura nya" ucap Arka.
Ia tahu betul aura bahagia yang tercetak jelas di wajah sang Kakak, lain dari biasanya.
Seperti ada hal membahagiakan yang terjadi.
"Masa sih? Emang keliatan banget ya?" tanya Ravin.
Tentu saja terlihat, bagaimana tidak terlihat jika senyuman di bibir Ravin tak surut-surut.
"Ada kabar baik apa nih?" tanya Arkana.
"Nanti juga kamu tau" ucap Ravin sambil tersenyum lebar.
Mereka memasuki ruang makan.
"Maaf ya semuanya, Kakak bikin kalian nunggu" ucap Ravin.
Ia mendudukan diri di samping Kakek Wisnu.
"Kakak nih lama banget, kasian kan Kakek udah laper" omel Raisa pada sang Kakak sulung.
Ravin menoleh ke samping pada Kakek nya.
"Maaf ya Kek, lama nungguin Rav" ucap Ravin.
Kakek Wisnu tersenyum, sambil menepuk-nepuk pipi cucu pertamanya itu.
"Enggak apa-apa" ucap Kakek Wisnu.
"Yaudah ayo kita mulai sarapannya" ucap Papa Ken yang di iyakan oleh semua anggota keluarga.
********
Rachel sedang bersiap-siapkan diri untuk pergi ke kampus.
Secara tiba-tiba sang Mami masuk ke dalam kamar nya tanpa meminta izin lebih dulu.
"Chel .. " teriak sang Mami.
Rachel yang sedang duduk di meja riasnya menoleh ke belakang.
Mendapati Mami nya yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
"Mi, Rachel kan udah bilang kalau mau masuk ketuk pintu dulu" ucap Rachel.
Ia dari dulu paling tak suka jika sang Mami masuk ke kamar nya tanpa izin.
Meski mereka ibu dan anak, Rachel itu sudah dewasa.
Ia punya ruang privasi sediri.
"Kelamaan lah kalau harus ketuk pintu.
Lagian Mami kan ibu kamu, pake harus izin segala" ucap Mela.
Rachel menghembuskan nafasnya kasar.
"Yaudah, ada apa?" tanya Rachel.
Bukan tanpa alasan Rachel bertanya demi kian, jika Mami nya sudah menghampiri nya ke dalam kamar berarti ada sesuatu.
"Mami minta uang dong" ucap Mela sambil menadahkan tangan di depan wajah Rachel.
"Uang lagi?" tanya Rachel.
Mela menganggukan kepala nya.
"Mi, tiga hari yang lalu kan Achel baru kasih uang.
Masa udah habis lagi?
Bahkan semua kebutuhan rumah juga Achel yang beli" tanya Rachel.
"Udah habis, kan uang nya Mami pake buat shopping.
Hari ini Mami mau ke salon janjian sama teman-teman Mami" ucap Mela tanpa merasa bersalah.
Rachel di buat kesal dengan jawaban sang Mami, bagaimana tidak?
Uang yang ia berikan tiga hari lalu cukup besar nominalnya.
Uang itu ia dapatkan hasil dari keuntungan saham dari sisa warisan yang Papi nya tinggalkan.
Meski Papi nya bangkrut dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri,
tapi Papi nya itu cukup bertanggung jawab pada Rachel.
Papi nya tak meninggalkan hutang pada keluarganya maupun Rachel.
Bahkan, Papi nya itu meninggalkan cukup banyak tabungan untuk kehidupan dan pendidikan Rachel.
Itu sebabnya lah Rachel masih mampu melanjutkan pendidikan nya hingga kuliah.
Dan sahabat Papi nya lah yang selama ini mengatur keuangan untuk Rachel.
Tapi semua itu di rahasiakan oleh Rachel dan Agler dari Mela, mengingat sifat Mela yang sangat serakah dan selalu menghambur-hambukan uang.
Bahkan, Rachel rela bekerja part time di restoran agar menutupi hal tersebut dari sang Mami.
Ia selama ini berpura-pura pad Mami nya kalau uang untuk kehidupan mereka adalah hasil dari kerja keras Rachel.
Tapi, Mami nya tetap tak merasa kasian pada putri semata wayang nya.
Ia tak peduli dan masih hidup dengan mewah, meski Rachel harus bekerja.
"Mi, bisa enggak sih Mami itu lebih berhemat.
Kita itu udah bukan orang kaya lagi yang bisa sesuka nya hambur-hamburin uang" ucap Rachel kesal.
"Mana bisa Chel ..
Apa kata teman-teman Mami kalau sampai tahu Mami hemat,
nanti Mami bisa-bisa di keluarin lagi dari Genk sosialita"
"Tapi kita bukan orang kaya lagi Mi.
Buat apa sih ikut-ikut Genk enggak penting kaya begitu" ucap Rachel tak habis pikir dengan kelakuan Mami nya.
"Kata siapa enggak penting? Ini penting buat Mami.
Itu kehidupan yang Mami suka, masa Mami harus ninggalin lagi kehidupan berharga Mami gara-gara kamu" ucap Mela.
Rachel merasa sakit saat mendengar ucapan sang ibu, kesekian kali nya Mela selalu mengatakan kalau Rachel lah yang membuat hidupnya berantakan.
Dan kali ini masih sama saja.
Apakah kehadirannya ke dunia adalah keinginan nya?
Bahkan Rachel tak pernah menerima sedikit pun cinta dari Mela.
Apa masih pantas Mela mengatakan hal demikian?
"Ya aku minta maaf Mi, karena aku Mami harus meninggalkan kehidupan berharga Mami.
Aku memang penyebab kekacauan hidup kalian" ucap Rachel.
Sekuat hati ia mencoba menahan air mata nya untuk tidak menetes.
Mela menatap resah pada Rachel.
__ADS_1
Mela tahu ia sudah salah berbicara.
"Achel bukan maksud Mami.... "
"Nanti uang nya aku transfer" potong Rachel saat Mela belum sempat menuntaskan ucapan nya.
Rachel beranjak berdiri, mengambil tas dan ponsel miliknya lalu ia hendak keluar dari kamar.
Tiba-tiba saja tangan Mela menahan lengan nya.
"Chel maaf Mam.... "
"Aku udah telat, Mi" Rachel menepis pelan tangan Mela dari lengannya.
Ia segera pergi keluar dari kamar dan keluar dari rumah nya.
Air matanya sudah tidak mampu ia tahan untuk tidak keluar.
Cairan bening itu akhirnya menetes membasahi kedua pipi nya.
Hati nya merasa sakit sekali.
Dengan buru-buru ia keluar dari rumahnya, tapi saat ia sudah ada di depan pintu rumah.
Air mata nya semakin mendesak keluar lebih banyak saat mendapati sosok seseorang di halaman rumahnya sedang berdiri sambil tersenyum padanya.
Seketika Rachel berlari sambil menangi, ia langsung menghambur memeluk tubuh tegap yang kini menjadi sandaran baru bagi nya.
Rachel menumpahkan seluruh tangisannya di sana.
Ia terluka
********
Seusai sarapan, Ravin langsung berpamitan pada kedua orang tua dan juga Kakek nya untuk pergi.
Ravin pergi bersamaan dengan Arkana dan juga Raisa yang juga ikut berpamitan.
Ketiga nya langsung pergi ke tempat tujuan masing-masing, dengan menggunakan mobil yang berbeda.
Sepanjang perjalanan Ravin tak sabar untuk segera melihat wajah kekasih yang ia rindukan.
Padahal baru saja semalam mereka bertemu.
Entah kenapa ia sudah merasa sangat rindu lagi.
Dengan bahagia Ravin terus bersenandung sambil mengemudi.
"Gue hubungin jangan ya?" gumam Ravin di sela-sela mengemudi nya.
Ravin ingin memberikan kejutan dengan tidak memberitahukan kedatangannya menjemput.
Tapi, ia takut Rachel sudah pergi lebih dulu jika ia tak bilang.
"Jangan deh .. biar surprise" gumam Ravin lagi.
Senyuman kembali tersemat di bibir lelaki tampan itu.
Butuh sekitar 30 menit untuk Ravin tiba di depan halaman rumah Rachel.
Ia segera beranjak turun dan berdiri di depan mobil.
Baru saja Ravin akan menghubungi Rachel dengan ponselnya.
Tapi suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Ravin.
Ravin tersenyum saat melihat sosok Rachel lah yang keluar dari rumah.
Ia tersenyum saat melihat gadisnya itu.
Tapi, senyuman Ravin perlahan pudar saat melihat kedua mata Rachel yang menangis.
Rachel berlari menghampirinya, lalu gadis langsung menghambur ke dalam pelukan nya.
Dengan sigap kedua tangan Ravin langsung menerima tubuh Rachel.
Ravin mendekap tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Sayang .. kamu kenapa?"
Pertanyaan Ravin tak mendapat jawaban.
Hanya pelukan Rachel yang semakin erat yang dapat Ravin rasakan.
•
•
•
•
•
Jangan lupa Like , Coment dan Vote.
See you next episode ❣️
__ADS_1