Angan Cinta

Angan Cinta
Semoga Tidak Tahu


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Setelah kejadian tadi, dimana Rachel menangis di dalam pelukan Mama Rara situasi menjadi hening sejenak.


Tangisan gadis itu sudah mereda setelah Mama Rara menenangkan nya.


Dekapan hangat seorang ibu yang tak pernah Rachel dapatkan kini dapat ia rasakan dari Mama Rara.


Meski keluarga Ravin tidak mengerti apa yang menjadi penyebab gadis itu sampai menangis seperti itu,


tapi di antara mereka semua tidak ada yang berani bertanya apapun pada Rachel.


Mereka menghargai privasi kehidupan Rachel, jika gadis itu tak ingin bercerita mereka tidak akan bertanya.


Tapi,


jika gadis itu siap bercerita mereka akan siap menjadi pendengar yang baik.


"Maaf Tante" ucap Rachel sambil mengusap sisa air mata di pipi nya.


Ia merasa malu karena terbawa perasaan sampai tak bisa mengontrol perasaannya.


Mama Rara tersenyum sambil mengusap sudut mata basah gadis itu.


"Enggak apa-apa sayang.


Kalau kamu butuh tempat bercerita, Tante siap denger cerita kamu" ucap Mama Rara.


"Jangan pendam perasaan kamu sendiri. Jika kamu bahagia, kamu boleh tertawa.


Jika kamu bersedih, kamu boleh menangis.


Jika kamu kecewa, kamu boleh marah.


Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan membatasi perasaan yang kamu miliki.


Menjadi kuat bukan berarti hebat, menjadi lemah bukan berarti kalah.


Jujur pada perasaan sendiri adalah apresiasi terbaik bagi diri kita sendiri" ucap Mama Rara


sambil membalai penuh kasih rambut gadis cantik itu.


Rachel tersentuh terharu dengan ucapan bijak perempuan paruh baya itu.


Ia seperti melihat sosok malaikat dalam diri Mama Rara.


Andai semua ibu di dunia ini seperti Mama Rara, mungkin semua anak di dunia akan merasa sangat bahagia.


Termasuk dirinya.


"Makasih Tante .. " ucap Rachel.


Gadis itu tersenyum tulus pada Mama Rara.


Bahagianya ia bisa mengenal keluarga Ravin yang sangat baik.


"Kakak gak perlu sungkan, anggap aja kita ini keluarga Kakak juga" ucap Raisa secara tiba-tiba.


Gadis belia itu mendekat lalu menggenggam jemari Rachel.


"Iya .. kamu bisa anggap kita semua keluarga kamu, Rachel" ucap Papa Ken juga.


"Iya aku juga gak keberatan punya Kakak secantik Kak Rachel" ucap Arka jenaka.


Rachel kembali di buat terharu kesekian kalinya, ia merasa sangat bersyukur.


"Makasih, Om Tante. Arkana Raisa" ucap Rachel.


Senyuman tulus tersungging di bibir pink nya.


Ravin bahagia, melihat keluarganya itu bisa menerima Rachel tanpa peduli latar belakang atau kehidupan buruk gadis itu.


Didikan kedua orang tuanya untuk jangan membedakan orang hanya dari status sosial ternyata memang bukan hanya sekedar ajaran semata.


Karena,


semua keluarga nya menerapkan itu dalam kehidupan mereka juga.


Ravin beruntung terlahir di keluarga sempurna itu.


"Udah ya jangan sedih lagi, sayang" ucap Mama Rara sambil tersenyum.


"Iya Tante .. " jawab Rachel juga tersenyum.


"Emm .. kayanya udah waktu nya kita buat pulang, Ma.


Rachel kan juga harus istirahat" ucap Papa Ken.


Mama Rara menganggukan kepalanya.


"Iya Pa .. "


"Rachel, kita semua pulang dulu ya.


Kamu banyak istirahat, biar cepat pulih.


Kalau ada perlu apa-apa atau pengen makan sesuatu hubungin, Tante ya.


Insya Allah Tante pasti selalu siap" ucap Mama Rara.


"Iya Tante. Makasih banyak"


"Enggak perlu sungkan, Sayang"


"Iya Kak, cepat sembuh ya biar bisa main ke rumah lagi" ucap Raisa.


"Iya Raisa doain ya.. " jawab Rachel yang di iyakan oleh Raisa.


"Cepat sembuh Kak Rachel"


"Cepat pulih ya Rachel"


"Makasih Arka .. "

__ADS_1


"Makasih Om .. "


Rachel mencium tangan kedua orang tua Ravin.


Raisa dan Mama Rara memeluk Rachel sebelum keluar.


"Hati-hati di jalan semuanya, makasih udah jengukin Rachel" ucap Rachel yang di iyakan semua nya.


"Gue anter Mama Papa kedepan dulu ya" bisik Ravin pada Rachel.


Gadis itu menganggukan kepala nya mengiyakan.


Ravin mengantar keluarganya sampai di depan pintu kamar ruang inap Rachel.


"Mama Papa hati-hati ya di jalan" ucap Ravin sambil mencium tangan Mama Papa nya.


"Iya Nak"


"Kakak gak ikut kita makan malam?" tanya Raisa.


"Enggak, kasian Kak Rachel sendirian kalo Kakak tinggal.


Biar nanti Kakak pesan makanan di kantin rumah sakit aja" jawab Ravin.


"Yaudah gini aja nanti biar Papa kirim aja makanan ke sini dari restoran tempat kita makan" ucap Papa Ken.


"Iya Pa, makasih"


"Kita pulang dulu ya, Sayang" ucap Mama Rara.


"Iya Ma" ucap Ravin mencium puncak kepala wanita yang sudah melahirkan itu.


"Jaga dia baik-baik, Kak" ucap Papa Ken sambil menepuk pundak putra sulung nya itu.


"Pasti, Pa" jawab Ravin lugas.


Ia menunggu di sana sampai semua keluarnya itu masuk ke dalam lift.


Setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamar rawat Rachel.


*******


"Kok sebentar?" tanya Rachel saat melihat Ravin sudah masuk kembali ke dalam ruangan Rachel.


"Cuma anter sampe depan ruangan aja kok" jawab Ravin.


"Gue mau ke toilet sebentar" ucap Ravin di jawab anggukan oleh Rachel.


Beberapa waktu Ravin berada di dalam toilet.


Saat Ravin keluar ia melihat Rachel masih duduk bersandar di ranjangnya.


"Kok belum istirahat?" tanya Ravin.


Ia mendekat, duduk di kursi samping ranjang Rachel.


"Iya sebentar lagi" jawab Rachel.


"Makasih ya, Rav" ucap Rachel saat Ravin sudah duduk di sampingnya.


"Makasih buat apa?" tanya Ravin.


"Gue enggak ngelakuin apapun" ucap Ravin.


"Elo dan keluarga lo udah ngelakuin banyak hal buat bantu gue.


Gue enggak bisa balas semua kebaikan lo dan keluarga elo" ucap Rachel.


"Mungkin cuma ucapan terima kasih yang bisa gue ucapin"


"Chel, jangan ucapin terima kasih.


Gue enggak mau denger elo bilang itu" ucap Ravin.


"Apa karena ucapan gue dulu?" tanya Rachel.


Ravin menggeleng.


"Bukan. Semua yang gue dan keluarga gue lakuin itu tulus.


Dan enggak perlu balasan dalam bentuk apapun, meski sebuah ucapan terima kasih" ucap Ravin.


"Gue tau kalian semua tulus banget dan kalian enggak perlu balasan apapun.


Tapi,


tetap aja gue bakal berterima kasih"


"Gue pernah bicara hal buruk sama lo, soal ini.


Kalo gue gak mau berterima kasih untuk kedua kalinya sama orang lain.


Tapi ternyata elo selalu bantu gue dengan tulus dan itu yang bikin gue selalu pengen berterima kasih sama lo" sambung Rachel.


"Kalo elo bilang kaya gitu, itu sama aja elo nganggep gue dan keluarga gue orang asing" ucap Ravin


"Dan gue gak mau jadi orang asing buat lo.


Gue gak mau elo terus menerus bilang makasih buat semua yang gue lakuin buat lo" sambung Ravin serius.


Tatapan mata Ravin yang dalam menguci tatapan mata Rachel yang juga menatapnya.


Detak jantung Rachel berdegup cepat saat melihat tatapan dalam Ravin padanya.


Ada sesuatu yang tersirat dari sorot mata itu.


Sesuatu yang tidak Rachel mengerti.


Perlahan Ravin meraih jemari lentik Rachel.


Menggenggam erat tangan perempuan itu.


Tatapan seriusnya menghujam dalam kedua bola mata Rachel.


Rachel seakan terhipnotis oleh kedua manik hitam Ravin.

__ADS_1


"Chel, gue.... "


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu ruang rawat Rachel mengganggu keduanya.


Ravin dan Rachel menoleh ke arah pintu saat terdengar lagi suara ketukan dari sana.


Tok


Tok


Tok


Seolah tersadar, Rachel menarik tangannya dari genggaman Ravin dengan canggung.


"A.. ada yang dateng Rav" ucap Rachel grogi.


Entah kenapa ia jadi merasa gugup.


Ravin mengumpat dalam hati pada orang yang mengetuk pintu ruangan itu.


Kenapa juga harus ada orang yang datang di saat yang tidak tepat.


Ravin beranjak berdiri untuk membukakan pintu.


"Siapa sih ganggu aja.


Awas aja kalo sampe gak penting" batin Ravin kesal.


Ravin membuka pintu terlihat seorang perawat membawa sesuatu di tangannya.


" Tuan Ravin, tadi ada yang mengantarkan ini.


Orang itu bilang nya di kirim oleh Tuan Kendra" ucap perawat itu.


Ravin menerima paper bag berisi makanan yang dikirim oleh Papa nya melalui jasa antar restoran tempat keluarnya biasa makan.


"Makasih, sus" ucap Ravin.


Ia kembali masuk dan menutup pintu kamar begitu perawat itu mengiyakan dan pergi berlalu dari sana.


Perasaanya jadi kesal sendiri, kenapa perawat yang membawa paper bag itu harus di saat yang tidak tepat.


Padahal tadi keadaan sangat mendukung, sedikit lagi ia mengatakan hal yang penting pada Rachel.


Tapi, semuanya jadi gagal total.


Tidak mungkin ia mengulangi kejadian tadi, karena kini yang ada dia dan Rachel terlihat canggung.


Berjalan ke dalam, Ravin meletakan paper bag itu di atas sofa.


"Siapa yang dateng?" tanya Rachel canggung.


Suasana aneh tadi membuatnya berdebar, genggaman tangan Ravin dan tatapan seriusnya.


"Oh itu perawat tadi


Dia nganterin ini, Papa kirim makan malam dari restoran" jawab Ravin sama canggungnya.


"Elo belum makan malam?" tanya Rachel kaget.


Ravin mengangguk sambil mendekat kembali pada sisi ranjang Rachel.


"Kok belum makan malam?"


"Tadi Raisa sama Arka ngerengek minta ikut ke rumah sakit,


yaudah Papa bolehin mereka ikut sekalian ajak mereka makan malam di luar karna mumpung hari Minggu juga" jawab Ravin.


"Jadi tadi kita pergi sebelum waktu makan malam" sambungnya.


"Yaudah kalo gitu elo cepat makan gih.


Nanti makanan nya keburu dingin" ucap Rachel.


Ravin menganggukan kepalanya.


"Nanti gue makan, sekarang elo istirahat dulu" ucap Ravin di samping Rachel.


Ravin meraih remote ranjang di atas nakas, ia bersiap menurunkan punggung ranjang Rachel.


"Enggak apa-apa, gue bisa sendiri kok Rav" Rachel ingin meraih remote dari tangan Ravin.


"Biar gue aja" tolak Ravin.


Ia menekan tombol pada remote kecil itu, setelah blankar Rachel sudah lurus sempurna Ravin menarik selimut di kaki Rachel menutup hingga dada.


"Istirahat gih" ucapnya sambil mengusak kepala gadis itu.


Rachel menganggukan kepalanya.


"Iya gue istirahat, yaudah elo makan aja sana" jawab Rachel.


"Iya .. " jawab Ravin.


Ravin kembali meletakan remote di atas nakas, ia mengusap rambut coklat Rachel saat gadis itu sudah menutup kedua matanya.


Lalu Ravin kembali menuju sofa, tanpa tahu kalau hati Rachel sedang berdebar-debar akibat perlakuan manis nya.


"Semoga dia gak tau" batin Rachel malu.


.


.


.


.


Jangan lupa Like, Coment dan Vote.

__ADS_1


Share juga sama yang lain.


See you next episode ❣️


__ADS_2