Angan Cinta

Angan Cinta
Tentang Kita


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Ravin menatap sengit lelaki yang ada di sampingnya.


Begitu pula Edward yang menatap sengit pada Ravin.


Rachel yang duduk di depan kedua pria itu hanya menatap acuh.


Ia malas meladeni Edward dan kesal dengan Ravin.


Tiba-tiba suara cempreng dari Mela berhasil membuat keduanya menyudahi adu sengit itu.


"Ravin di minum ya, ini buatan Tante loh" ucap Mela meletakan segelas minuman di atas meja.


"Makasih Tante, maaf ngerepotin" ucap Ravin sungkan.


"Ah kalo seginii aja sih Tante gak repotlah" ucap Mela dengan bangga.


Rachel menggelengkan kepalanya melihat sang Mami.


Bagaimana tidak?


Jus yang di suguhkan pada Ravin hanyalah jus instan dari botol yang di pindahkan ke gelas.


Tapi, Maminya itu bisa dengan bangga mengatakan itu buatannya.


Astaga Rachel sampai tak habis pikir.


"Yaudah kalian ngobrol aja bertiga. Baik-baik ya jangan pada berantem" ucap Mela yang di iyakan oleh Ravin dan Edward.


Sebelum benar-benar pergi, Mela masih sempat-sempatnya berbisik di telinga Rachel.


"Kalo Mami kasih saran pilih yang mobilnya paling mahal" bisik Mela yang membuat Rachel berdengus kesal.


Mata Rachel mendelik tajam pada sang Mami yang tampak santai melenggak-lenggok masuk ke dalam setelah mengatakan hal tadi.


Kini tinggalah mereka bertiga di sana.


Rachel, Ravin dan Edward.


Keheningan terjadi sesaat di antara ketiganya.


"Chel .. " ucap Ravin dan Edward berbarengan.


Sama-sama memanggil Rachel bersamaan, Ravin dan Edward saling melotot satu sama lain.


Rachel bersandar pada sofa, melipat kedua tangannya di dada sambil melihat malas pada mereka berdua.


"Ngapain elo ke sini?" tanya Rachel yang entah di tujukan pada siapa.


"Kan tadi aku udah bilang mau.. "


"Gue bukan nanya sama lo, tapi sama dia" potong Rachel sambil menunjuk Ravin dengan dagunya.


Ravin tersenyum sinis pada Edward yang tampak mencebik.


"Gue mau ketemu sama elo" jawab Ravin jumawa.p


"Kok elo gue teleponin gak di jawab-jawab?" tanya Ravin.


"Gue enggak denger" jawab Rachel.


Ravin melirik pada ponsel Rachel yang tergeletak di atas meja.


"Enggak denger atau lagi keasikan ngobrol" sindir Ravin.


Terdengar jelas nada tak suka dari suaranya.


Rachel merasa bodo amat, ia memang sengaja tak menjawab panggilan Ravin yang berkali-kali tadi karena kesal pada lelaki itu.


Setelah


menghilangkan beberapa hari tanpa kabar, seenaknya saja lelaki itu ingin Rachel menerima panggilannya.


"Bukan urusan lo" jawab Rachel ketus.


Hal itu membuat Edward tertawa meledek pada Ravin.


"Chel .. " ucap Ravin kesal.


"Kenapa?"


"Elo sekarang tau kan gimana kesel nya kalo tiba-tiba orang yang elo cari gak bisa di hubungin?" sindir Rachel yang berhasil membuat Ravin tertohok.


Oh, jadi gadis itu sedang balas dendam padanya karena Ravin menghilang tanpa kabar beberapa hari.


"Elo marah sama gue?" tanya Ravin pada Rachel.


Rachel tampak acuh, tak ingin menatap pada Ravin.


Ia malah memainkan kuku-kuku tangannya.


"Buat apa gue marah? Gue kan enggak punya hak buat marah" jawab Rachel.


"Yaudah gue minta maaf ya, enggak kabarin elo dan pergi enggak pamit beberapa hari ini" ucap Ravin.


Strategi nya untuk membuat Rachel merindukannya ternyata salah.


Bukannya rindu pada Ravin, Rachel malah marah.


"Buat apa minta maaf? Gue emang enggak berhak tau kan?" jawabnya ketus.


"Bukan gitu, Achel" Ravin mendesah frustasi.


Berurusan dengan wanita memang harus selalu lebih hati-hati.


Kesalahan kecil bisa jadi besar dan kemana-mana.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Helo everybody, gue masih ada di sini ya .. " ucap Edward mengetuk meja di depan mereka tiga kali.


Kenapa dirinya jadi merasa seperti seekor nyamuk yang melihat sepasang kekasih bertengkar.


Ravin menatap kesal pada Edward yang mengganggu pembicaraan nya dengan Rachel.


"Elo bisa diem dulu gak sih, gue lagi ngomong sama Rachel" ucap Ravin kesal.


"Enggak bisa! Gue juga pengen ngomong sama Rachel" jawab Edward.


"Tapi gue belum selesai"


"Tapi gue yang dateng lebih dulu dari elo"


Kedua nya malah berdebat.


"Berisik!!" bentak Rachel yang berhasil membuat Ravin dan Edward diam seketika.


"Kalian berdua mending balik aja deh, gue mau istirahat"


Rachel mengucapkan itu sambil bangkit dari duduknya.


Dengan buru-buru Ravin dan juga Edward ikut berdiri.


"Loh Chel, kita enggak jadi keluar.


Kita jalan-jalan dari pada kamu di rumah" ucap Edward.


"Chel, gue kan baru sebentar.


Gue belum selesai ngomong sama elo" ucap Ravin.


Rachel menarik lengan keduanya, menyeret Ravin dan Edward keluar rumahnya.


"Enggak ada .. enggak ada .. kalian berdua pulang.


Gue enggak mau di ganggu" ucap Rachel.


Kedua lelaki itu masih protes saja bahkan hingga depan pintu.


"Chel sebentar dong" protes Ravin.


"Iya Chel" sambung Edward.


"Udah kalian balik, cuma bikin gue pusing"


Rachel tak peduli pada keduanya dan langsung menutup pintu nya begitu berhasil mengeluarkan Ravin dan Edward.


Rachel langsung pergi menuju kamarnya.


"Loh Ravin sama Edwardnya kemana? Kok kamu malah mau masuk kamar?" tanya Mela yang sedang duduk di ruang Tv.


Rachel menengok sebentar lalu berlalu menuju kamarnya.


********


Sehari setelah kejadian dirinya di usir dari rumah Rachel, Ravin belum bertemu lagi dengan gadis itu.


Ravin sempat mencarinya di kampus tapi tak ada, ia juga sempat mendatangi rumah dan tempat kerja.


Tapi hasilnya sama, Rachel tak ada.


Entah kemana gadis itu.


Bahkan, semua panggilan dan pesan yang ia kirim tak di gubris sama sekali.


Apakah Rachel sedang balas dendam padanya?


Pikir Ravin


"Rav .. nanti anterin aku ke mall yuk.


Aku mau ke toko buku biasa kita" pinta Nara.


Keduanya sedang berjalan di koridor kampus.


"Boleh, kapan?" tanya Ravin pada gadis di sampingnya itu.


"Emm .. nanti malem aja gimana?


Sekalian makan di restoran favorit kita" ujar Nara.


"Ayo aja, aku terserah kamu" jawab Ravin.


"Bener ya?" tanya Nara memastikan.


"Iya si bawel" ucap Ravin mengacak-acak poni Nara.


"Ih kebiasaan deh"


Bibir Nara mencebik sebal saat Ravin terus mengacak rambutnya membuat Ravin tertawa.


Tawa yang membuat hati Nara terenyuh saat melihatnya.


Tapi tiba-tiba saja tawa Ravin terhenti saat melihat seseorang yang kini ada di depan sana.


Gadis yang ia cari-cari seharian kemarin.


Gadis yang ia rindukan.


"Rachel .. " gumam Ravin.


Nara menatap ke arah depan, di mana Ravin sedang menatap Rachel yang sedang berjalan mendekat.


Tangan Ravin yang semula ada di kepala Nara, berulur turun ke bawah membuat hati Nara merasa kehilangan.


Ravin tersenyum senang saat Rachel semakin berjalan mendekat.

__ADS_1


"Che.. " Ravin mencoba menyapa Rachel, tapi gadis itu malah berjalan saja melewati Ravin seolah-olah tak melihatnya.


"Chel .. "


Ravin menahan pergelangan tangan Rachel, membuat gadis itu sedikit berbalik.


Wajah Rachel tampak datar.


Sama seperti awal-awal pertemuan mereka.


Dahi Ravin mengerenyit dalam melihat sikap Rachel.


"Apa dia marah banget sampai bersikap dingin begini lagi?" batin Ravin.


"Ada apa?" tanya Rachel.


Ekspresinya datar tak terbaca.


"Gue mau ngomong sama elo" ucap Ravin.


"Tentang?" tanya Rachel dingin.


"Tentang kita berdua" jawab Ravin.


"Rav .. " panggil Nara.


Ia mencoba mengalihkan perhatian Ravin.


Rachel menarik pergelangan tangan nya dari Ravin.


"Gue enggak punya sesuatu hal 'tentang kita' yang bisa di obrolin" jawab Rachel.


Rachel sengaja menekan nada bicara pada bagian itu.


"Tapi gue punya" ucap Ravin.


"Rav, udahlah biarin aja dia gak mau ngomong sama kamu" sela Nara lagi.


Tatapan Rachel sempat melihat pada Nara yang melirik tak suka padanya.


"Nara tolong jangan ikut campur, ini urusan aku sama Rachel"


"Tapi Rav... " belum sempat Nara berkomentar lagi, Ravin sudah lebih dulu menarik tangan Rachel ke genggamannya.


"Maaf Nar, kita batalin aja soal rencana yang tadi.


Aku harus ada urusan, kamu bisa minta tolong sama Jojo buat temenin kamu" ucap Ravin.


"Apa?" ucap Nara tak percaya.


"Aku pergi duluan" ucap Ravin menarik tangan Rachel.


"Tapi, Rav... " tak mengindahkan ucapan Nara, Ravin langsung membawa Rachel pergi dari sana.


"Ayo .. " ajak Ravin memaksa.


Ia tak peduli meski Rachel terus saja protes dan berontak tak mau mengikutinya.


Sedangkan Nara, gadis itu tampak kecewa dan terluka.


Matanya menatap sendu dan marah pada Ravin yang semakin pergi menjauh bersama Rachel.


.


.


.


.


Hayoh tebak Nara ini sebenarnya jahat atau enggak? wkwk


Sebenarnya tokoh Nara ini masih aku buat abu-abu, jadi belum jelas dia jahat atau enggak.


Yang jelas aslinya dia baik kok, tp bisa berubah juga karena keadaan.


Tergantung nanti deh enaknya aku buat apa hehe.


Oh iya, aku punya novel baru judulnya 'Suami Pengganti'


baru ada 2 episode ya.


Ceritanya tentang sepasang remaja Lea dan Robi yang telah melakukan kesalahan dan melanggar batasan mereka sebagai sepasang kekasih.


Karena kesalahan itu, Lea sang gadis hamil.


Tapi, saat Lea meminta pertanggung jawaban Robi.


Lelaki itu tidak mau bertanggung jawab dan malah pergi meninggalkan Lea.


Diantara semua kekacauan yang terjadi, sebuah pertolongan datang.


Tapi, pertolongan itu berasal dari Kakak laki-laki yang sudah menghamili nya.


Akankah Lea menerima pertolongan dari Kakak orang yang sudah ia benci?


Boleh dong kalian mampir juga di sana, boleh klik di profil aku terus ada di salah satu karyaku.


Di Rate ya .. terus di masukin juga ke favorit novel kalian biar bisa tau updatean terbarunya.


Itu ngetiknya aku selang-selingn sama Angan Cinta kok.


Jadi boleh ya minta dukungan nya juga di sana.


Di Like sama di Coment setiap episodenya.


Makasih semuanya ..


Jangan lupa juga dukung Angan Cinta


Like, Coment dan Vote.

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2