Angan Cinta

Angan Cinta
Kenyataan


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Ravin mengajak Nara ke halaman belakang rumahnya.


Halaman itu cukup luas, penerangan di sana pun indah pada malam hari apalagi di tambah dengan bunga-bunga yang bermekaran hasil menanam Mama Rara setiap harinya.


Halaman belakang itu memang di desain indah karena sering menjadi tempat untuk quality time Mama Rara dan Papa Ken.


Ada dua buah balai kokoh yang sengaja di buat di sana.


Dulu saat remaja, Ravin, Nara dan Jojo sering menghabiskan waktu di sana.


Entah itu belajar kelompok atau sekedar bermain menghabiskan waktu bersama.


Dan kini di sana juga Nara duduk dengan Ravin.


Sudah sekitar lima menit keheningan mengambil alih.


Ravin dan Nara masih sama-sama saling terdiam satu sama lain.


Hingga akhirnya Ravin membuka suara lebih dulu.


"Nar .. " ucap Ravin memanggil.


Nara yang duduk di sebelahnya hanya menoleh tanpa menjawab.


Keduanya kini saling bersitatap, terlihat kekecewaan dari mata Nara.


"Nar, soal Rachel.... "


"Kenapa kamu gak jujur Rav?" potong Nara.


"Maaf Nar, aku memang belum bilang sama kamu.


Tapi aku gak berniat membohongi kamu, akan sudah berencana jujur sama kamu" ucap Ravin.


"Jadi benar kalo kamu pacaran sama dia?" tanya Nara yang di akui oleh Ravin.


"Iya aku dan Rachel, kita pacaran" jawab Ravin.


Mendengar pengakuan langsung dari bibir Ravin membuat hati Nara serasa di remas kuat.


Ada rasa sesak dalam hatinya mendengar itu semua.


Nara mencoba menahan rasa sakit nya, kedua tangan Nara meremas rotan bambu di samping paha nya.


"Udah berapa lama?" tanya Nara mencoba kuat.


Ravin terdiam sejenak sebelum kemudian menjawab.


"Hampir tujuh bulan" jawab Ravin.


Nara memejamkan matanya, mencoba tetap tenang meski hatinya sangat marah dengan kebohongan Ravin.


7 bulan, sudah hampir tujuh bulan Ravin membohongi nya.


"Udah hampir tujuh bulan dan kamu gak pernah cerita sama aku soal ini?


Apa kamu enggak menganggap aku sahabat kamu lagi?" tanya Nara.


"Bukan begitu Nar. Aku terpaksa menyembunyikan hubungan ini karena Rachel belum siap kalau orang lain tahu" jawab Ravin.


"Jadi ini semua karna Rachel? Karena kamu lebih mengutamakan hubungan sama perempuan yang baru kamu kenal itu di banding persahabatan kita yang hampir 20 tahun?"


"Maksud kamu apa sih Nar" sentak Ravin.


"Aku ngelakuin itu bukan karena hubungan aku dan Rachel lebih utama di banding persahabatan kita.


Aku gak suka kamu bilang kaya gitu" sambung Ravin.


"Terus apa? Memang benarkan?


Kamu ngebohongin aku Rav, kamu gak jujur dan nutupin semua dari aku" ucap Nara emosi.


Ravin menatap Nara yang sedang terlihat emosi.


Rasanya baru pertama kali Ravin melihat gadis itu marah seperti ini.


"Aku rasa ada yang salah sama kamu, Nar.


Apa kamu harus semarah dan seemosi ini hanya karna aku menutupi hubungan aku sama Rachel dari kamu?


Bukannya kita juga udah terbiasa menutupi satu hal satu sama lain" ucap Ravin.


"Wajar aku marah karna perempuan itu Rachel Rav, dia Rachel.


Kamu punya hubungan sama perempuan kaya gitu" ucap Nara yang memancing emosi Ravin.


"Apa maksudnya kamu bicara kaya gitu" ucap Ravin.


Sebisa mungkin ia mencoba menahan emosi nya karena ucapan buruk Nara untuk Rachel.


"Kamu juga tau Rav dia itu perempuan gak baik"


"Nara tolong jaga ucapan kamu ya"


"Kenapa? Memang nya ucapan aku salah?


Dia kan memang perempuan gak baik, keluarganya juga berantakan, tukang gonta ganti pacar, bahkan satu kampus juga tahu"


"Nara!!"


"Dia pasti cuma mau manfaatin kamu aja Rav"


"KANARA!! bentak Ravin membuat Nara tersentak kaget.


"Ka.. kamu bentak aku Rav" ucap Nara bergetar.


"Aku udah bilang jaga ucapan kamu ya, Nar.


Kamu gak pantas mencap Rachel sembarangan"


"Jadi kamu bentak aku cuma karna belain perempuan itu"


Mata Nara sudah berkaca-kaca, mencoba menahan tangisan nya.


Sepanjang mengenal Ravin, tak pernah sekali pun Ravin marah apalagi membentaknya seperti ini.


"Maaf aku udah bentak kamu Nar.


Tapi, kamu juga gak berhak menilai Rachel buruk hanya dari ucapan di luar sana" ucap Ravin.

__ADS_1


"Itu karena aku gak mau dia nyakitin kamu Rav.


Dia gak pantas buat kamu" ucap Nara.


"Lalu siapa yang pantas buat aku?"


"Kamu?" tanya Ravin.


Nara menggelengkan kepalanya.


"Bukan, maksud aku.... "


"Berhenti berpura-pura Nar. Aku udah tahu semuanya.


Apa yang udah kamu lakuin selama ini"


Ravin menghembus nafasnya kasar, menatap Nara dengan tatapan yang sulit di artikan oleh gadis itu.


Entah kenapa tiba-tiba muncul ketakutan dalam diri Nara.


Apa yang sudah di ketahui oleh Ravin selama ini?


********


Bagi Ravin, Nara adalah salah satu orang yang terpenting dalam hidupnya.


Dia adalah sahabat sekaligus gadis pertama yang Ravin kenal.


Sekaligus cinta pertama bagi Ravin.


Mereka sudah bersama-sama sedari usia empat tahun.


Ravin selalu menjaga, melindungi dan tak pernah menyakiti gadis itu sekali pun.


Meski Ravin yang harus terluka karena Nara, tapi Ravin bersedia.


Namun, itu dulu.


Dulu saat Nara masih menjadi satu-satunya orang yang Ravin sayang.


Sebelum hadir Rachel di hatinya.


"Dulu kamu yang meminta Nar, meminta mengakhiri aku menjadikan kamu satu-satunya orang aku cinta" ucap Ravin.


Ravin menerawang ke belakang, mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


Saat mereka duduk di kelas satu SMA, Ravin yang mulai mengerti cinta menyadari kalau Nara adalah cinta pertama baginya.


Tentu Ravin juga mulai mengerti sebuah hubungan antara dua orang yang saling menyayangi.


Itulah sebabnya tanpa ragu Ravin meminta Nara menjadi kekasihnya, karena ia tak ingin ada orang lain yang merebut Nara darinya.


Dan bak gayung bersambut, Nara pun menerima dan memiliki perasaan yang sama padanya.


Tapi, itu hanya bertahan sebentar.


Satu tahun lamanya mereka menjalin asmara, Nara meminta berpisah secara baik-baik pada Ravin dengan alasan tak ingin kehilangan Ravin jika mereka harus putus karna suatu hal nantinya.


Kemelut percintaan baru mereka alami pertama kali membuat Nara takut.


Ravin yang sama tak ingin kehilangan Nara mencoba menerima itu.


Dan Nara mengikat Ravin dengan ikatan sebagai sahabat selama ini.


"Ma.. maksud kamu?"


Melihat sorot mata serius sekaligus kecewa dari Ravin membuat nya gugup.


Seakan Nara sudah sadar akan kesalahannya.


"Alissa, Safira, dan Rachel juga.


Aku udah tahu Nar, apa yang kamu lakuin sama mereka" ucap Ravin.


Tubuh Nara menegang seketika, semua ketakutannya ternyata menjadi kenyataan.


"Ra.. Rav .. "


"Kamu kan yang mempengaruhi setiap perempuan yang ada di samping aku"


"Rav bukan, aku... "


"Kamu membuat setiap perempuan yang dekat dengan aku mundur. Iyakan?" tanya Ravin.


Nara diam tak mampu menjawab, tapi melihat Nara yang diam membuat Ravin sudah tahu jawabannya.


Ravin memejamkan matanya sejenak sambil menahan dirinya.


Sebenernya Ravin tak ingin mengungkapkan ini semua selama ini.


Meski itu melukai dirinya Ravin tak masalah, asal Nara tak terluka.


Namun kini semua sudah berubah, Rachel sudah menggantikan posisi Nara dan kini Ravin tak ingin Rachel yang terluka.


"Awalnya aku memang enggak percaya semua yang di ceritakan Alissa tentang kamu, karena aku lebih tahu kamu.


Tapi aku terus mengalami hal yang sama di mana kamu membuat setiap gadis yang dekat dengan aku pergi karena ucapan kamu pada mereka.


Aku pun masih menerima hal itu, Nar.


Karena kamu lebih penting buat aku saat itu"


Setelah putus dengan Nara, Ravin memang tak pernah dekat dengan gadis manapun.


Tapi, semua berubah ketika Ravin memasuki universitas.


Ravin sempat dekat dengan beberapa gadis dan bahkan berpacaran.


Namun semuanya tak pernah ada yang berjalan lancar.


Hubungannya tak pernah berlangsung lama dan gadis-gadis itu selalu pergi dari Ravin tanpa alasan.


Dan Ravin mulai tahu penyebabnya saat Alissa mantan kekasihnya mengungkapkan pada Ravin kalau Nara lah di balik itu semua.


Nara melakukan hal yang sama pada semua gadis yang dekat dengan Ravin seperti yang ia lakukan pada Rachel.


Sehingga gadis-gadis itu pergi dari Ravin.


Bahkan Ravin juga sempat merasa curiga ketika Rachel mulai menjauhinya saat itu.


"Rav aku bisa jelasin semua itu" ucap Nara menangis.


Air mata yang sudah ia coba tahan akhirnya turun dengan sendirinya.

__ADS_1


"Aku ngelakuin itu karena aku ingin yang terbaik buat kamu Rav" sambung Nara.


Ravin menggelengkan kepalanya.


"Itu bukan yang terbaik buat aku Nar.


Itu keegoisan kamu.


Dengan kamu melepaskan aku, mengikat aku hanya sebagai sahabat kamu, dan menyembunyikan perasaan kamu yang sebenarnya lalu kamu enggak membiarkan satu orang pun menggantikan posisi kamu itu namanya egois Nar.


Kamu menekan perasaan aku tanpa kamu sadar" ucap Ravin.


Nara tak mampu lagi menahan air matanya.


Ia tak pernah menyangka Ravin akan tahu semuanya.


Yang ia lakukan selama ini memang salah. Nara hanya tak ingin jika suatu hari harus kehilangan Ravin sebagai kekasih dan juga sahabat jika hubungan mereka tak berjalan baik.


Maka itu ia lebih baik menahan semua perasaan sementara waktu sambil terus berada di samping Ravin sebagai sahabat.


Nara ingin menjadi satu-satunya dan menjadi yang terakhir bagi Ravin.


Nara juga berpikir tak akan ada yang bisa menggantikan selama Nara bisa menahan setiap gadis yang dekat dengan Ravin.


Itulah sebabnya Nara tega melakukan itu di belakang Ravin.


Namun Nara salah, Rachel kini telah berhasil menggantikan dirinya di hati Ravin.


"Rav aku minta maaf, aku .. aku cuma takut kehilangan kamu.


Aku takut kita jadi menjauh dan semuanya berubah Rav" ucap Nara.


Ravin menghembuskan nafasnya kasar sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Semuanya memang sudah berubah Nar.


Kamu yang membuat kita menjauh dan Rachel kini yang sudah berhasil menggantikan posisi kamu di hati aku" ucap Ravin.


"Jadi tolong jangan berbicara buruk tentang dia dan hargai Rachel jika kamu menghargai aku sebagai sahabat.


Juga jangan campuri lagi siapapun pilihan aku" sambungnya.


Ravin membalikan badannya membelakangi Nara.


Melangkah menuju pintu masuk ke rumahnya.


Sebenarnya Ravin juga tak tega jika harus melihat Nara menangis seperti itu.


Bagaimana pun mereka sudah bersama hampir dua puluh tahun lamanya.


Meski kini perasaannya pada Nara tak lebih dari sekedar seorang sahabat.


Semakin mendekat ke pintu masuk, Ravin berhenti tepat di depan pintu saat suara Nara memanggilnya.


"Rav .. "


Ravin berhenti tanpa berbalik.


Ia menunggu sejenak apa yang akan Nara ucapkan.


"Maaf .. Aku minta maaf" ucap Nara.


Hening sejenak hingga akhirnya Ravin menjawab.


"Aku enggak pernah marah sama kamu kecuali tentang satu hal.


Ucapan buruk kamu tentang Rachel, tolong tarik itu.


Kamu enggak pernah tahu dia yang sebenarnya" ucap Ravin.


Hanya suara isakan yang dapat Ravin dengar dari belakang.


Ravin sempat mengucapkan sesuatu sebelum benar-benar meninggalkan Nara sendiri di sana.


"Hapus air mata kamu. Biar aku antar kamu pulang" ucap Ravin lalu masuk ke dalam rumah.


Setelah kepergian Ravin, tangis Nara semakin deras.


Meremas baju di bagian dadanya, Nara merasa sakit.


Bukan karna kemarahan Ravin.


Tapi karena kenyataan bahwa ia telah menyakiti Ravin selama ini dan kenyataan bahwa dirinya benar-benar telah terganti oleh yang lain di hati Ravin.





Nah hayoh, baru ketauan kan ternyata apa yang terjadi di antara mereka di masa lalu wkwk.


Kemarin sempat ada yang komentar kalau Rachel gak cocok banget buat Ravin.


Mungkin ini bisa bahasa, jangan dulu menjudge hanya karena satu sisi yang terlihat.


Seperti Nara yang terlihat baik selama ini ternyata ada sisi buruknya juga.


Begitu juga Rachel, yang terlihat selama ini sisi buruknya aja dan terlihat gak cocok dan gak sebanding sama Ravin.


Tapi kan kita belum lihat sisi yang lain dari Rachel.


Mungkin ada yang belum terungkap, ya gak wkwk.


Tapi aku tetap terima kritik kok guys, selama masih dengan bahasa yang sopan.


Asal jangan menghina dengan kata-kata kasar dan kotor karena di DDH pernah ada yang kaya gitu dan itu bikin sakit hati banget loh.


Maaf curhatnya panjang hahaha.


Intinya makasih buat kalian yang masih baca walau update nya males-malesan.


Semoga tetap setia ya..


Aku usahain biar produktif lagi kaya dulu.


Tapi gak janji.


Kalo banyak like, coment dan Vote nya mungkin bisa jadi penyemangat.


Pokoknya makasih semua nya.


See you next episode ya .. ❣️

__ADS_1


__ADS_2