Angan Cinta

Angan Cinta
Situasi Berbahaya


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Rachel berjingkat kaget saat tangannya di tarik oleh seseorang dari belakang.


Berbalik badan, kini Rachel ada di hadapan seorang pria yang sedang memegang tangannya.


"Hai Cantik .. "


Satu sudut bibir pria itu ketarik membuat sebuah seringai.


"Randy .. "


"Ternyata bener elo, long time no see Rachel .."


Rachel menepiskan lengan nya dari genggaman lelaki itu.


"Ngapain elo ada di sini?"


"Loh seharusnya gue yang tanya begitu sama lo, kenapa orang rendah kaya lo bisa dateng ke grand opening lounge berkelas kaya gini?" ucap pria itu


Mimik wajahnya seolah meremehkan pada Rachel.


"Bukan urusan lo" jawab Rachel malas


Ia memilih tak menanggapi ucapan Randy.


"Eits .. Mau kemana gue belum selesai ngomong sama lo"


Randy kembali menahan pergelangan tangan Rachel, saat ia hendak pergi.


"Enggak ada yang perlu gue omongin sama lo"


Rachel hendak menepiskan kembali tangan pria itu dari lengannya, tapi Randy malah menarik tangan Rachel dengan kuat sehingga tubuh dan wajah mereka menjadi dekat.


"Elo masih aja belagu ya" ucap Randy marah


Kilatan emosi tampak terpancar dari sorot mata pria itu.


"Apa-apaan sih lo, lepasin gue" ucap Rachel geram


Ia melangkah mundur untuk menjauhkan jarak dirinya dengan Randy


"Jangan harap, gue gak akan mengelepasin elo" ucap Randy


Cengkraman Randy terasa semakin kuat hingga membuat Rachel meringis pelan.


"Apa mau lo?"


Rachel masih berusaha berontak dari Randy.


"Elo tanya mau gue apa?" ucap Randy


Wajahnya menunjukan seringai jahat.


Rachel kembali mundur saat Randy semakin mendekatkan dirinya pada Rachel.


"Jangan macem-macem. Gue gak ada urusan apapun sama elo"


Rachel berusaha mendorong tubuh Randy, namun sayang tenaga nya tak mampu menandingi pria itu.


Randy malah semakin berani, ia mengurung Rachel dengan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri saat Rachel sudah terpojok di tembok belakang.


Rachel sudah tidak bisa kabur kemana pun.


"Kata siapa kita gak ada urusan? Gue masih punya urusan sama lo.


Gue harus balas sama apa yang udah elo lakuin dulu" ucap Randy penuh penekanan.


Rachel mulai merasa takut, saat melihat wajah Randy yang tampak penuh amarah.


Tapi, sebisa mungkin ia mencoba menutupi rasa takutnya.


Ia berharap akan ada seseorang yang datang atau sekedar melitas di sana untuk membantunya.


"Minggir lo Ren, jangan macem-macem atau gue bakal... "


"Bakal apa? Hah? Bakal apa?" potong Randy


"Elo mau teriak? Mau minta tolong?


Silahkan, elo coba. Gak bakal ada yang denger juga"


Randy semakin gila saja, ia merapatkan tubuhnya pada Rachel.


Menghimpit tubuh perempuan itu dengan tubuhnya.


Dan Rachel sekuat tenaga berusaha mendorong tubuh Randy meski nihil.


Tubuh langsing nya tak mampu melawan tubuh kekar Randy.


"Minggir si*lan" umpat Rachel marah.


Ia merasa seperti di lecehkan.


"Kenapa sayang, elo takut sama gue?


Haha geli juga gue liat muka takut lo begini" ucap Randy tertawa

__ADS_1


Buku jari nya menelusuri wajah mulus Rachel.


"Cih .. gue enggak takut sama sekali sama lo" lawan Rachel


Decihan dari Rachel membuat Randy semakin marah.


"Bre*gsek, ternyata elo masih sama aja ya kaya dulu. Enggak ada takutnya"


"Lepasin, gue udah gak ada lagi urusan sama lo sekarang ataupun dulu" ucap Rachel.


Mendengar hal itu membuat Randy naik pitam.


Dengan kasar Randy mencengkram kedua pipi Rachel dengan tangannya.


Membuat Rachel mengaduh pelan.


"Seenaknya elo bilang gak ada urusan setelah dulu elo berhasil bikin sakit hati dan mempermalukan gue gitu aja" ucap Randy marah.


Rachel jadi teringat kejadian tiga tahun yang lalu.


Dimana Randy berusaha mendekati nya terus menerus, hingga akhirnya Rachel menerima Randy sebagai kekasihnya.


Ya Randy adalah mantan kekasih Rachel saat SMA, dia berhasil menjadi pria pertama yang menjadi kekasih Rachel.


Diantara puluhan pria di sekolahnya yang mengejar Rachel, dirinya lah yang beruntung bisa memiliki gadis itu.


Tapi hubungan yang bahagia versi Randy itu tak bertahan lama, hanya satu bulan saja.


Bukan hanya sakit hati yang Randy terima saat harus putus dengan Rachel,


tapi


juga rasa malu karena ternyata Rachel memilih berpisah dengannya setelah gadis itu menerima pernyataan cinta dari Tama yang merupakan pria populer sekaligus kapten basket di sekolah mereka.


Tama yang secara terang-terangan menusuk Randy di depan mata dengan menyatakan cinta nya di lapangan basket saat di adakan nya pertandingan antar sahabat dengan sekolah lain.


Dan


Rachel dengan santai nya mengatakan akan menerima Tama dan siap memutuskan Randy jika pria itu berhasil menang melawan sekolah pesaing.


Akibat dari kejadian itu, Randy sering menjadi bahan gosip dan ejekan anak-anak lain.


Rachel tersentak saat merasakan cengkraman tangan Randy di pipinya.


"Kenapa melamun? Nyesel ya inget kejadian dulu" ucap Randy meledek.


"Jangan berharap, gue enggak pernah nyesel." ucap Rachel.


Meski takut, Rachel sangat enggan untuk bersikap lebih baik.


Randy semakin bertambah marah dengan ucapan Rachel.


"Lepasin gue!" teriak Rachel.


Dia terus berteriak berharap ada yang mendengarnya, meski lorong itu terlihat sangat amat sepi.


Badannya mulai gemetar saat Randy memojokannya ke depan wastafel dan mengunci kedua tangan Rachel ke atas kepala dengan satu tangannya.


"Lepasin br*ngsek!" teriak Rachel.


Tanpa sadar air matanya mulai berjatuhan.


"Elo gak pernah nyesel kan, oke sekarang bakal gue bikin elo nyesel seumur hidup karna udah permainin gue" ucap Randy


Rachel pun semakin ketakutan tatkala wajah Randy yang semakin mendekat dengan tangannya yang mulai menarik lengan dress Rachel hingga robek.


Saat situasi semakin berbahaya,


Tanpa sadar hatinya berteriak meminta pertolongan pada satu orang.


"Ravin .. tolong .. "


*******


Ravin terus melirik detik waktu pada jam tangan yang melingkar di lengannya.


Sudah hampir setengah jam Rachel berpamitan ke toilet dan sampai kini perempuan itu belum kembali.


Raut wajah Ravin yang terlihat tak fokus dan khawatir itu di sadari oleh Marko.


Membuat Marko menghentikan pembicaraan mereka.


"Elo khawatir sama cewek lo ya Rav?" tanya Marko.


Ravin yang sesaat memperhatikan sekitar berharap Rachel muncul, ia menoleh kepada teman sekolahnya itu.


"Enggak gue cuma cemas aja, dia ke toiletnya lama banget" jawab Ravin.


"Mungkin cewek lo sakit perut atau toiletnya penuh" ucap Marko


Ia mencoba membuat Ravin tak cemas.


"Udah lebih dari setengah jam, masa ia selama itu" jawab Ravin.


Gerak tubuhnya terlihat gusar.


"Yaudah kalo gitu, gimana kalo kita coba cari aja ke toilet?" usul Marko


Ravin mengangguk setuju, tanpa menunggu lama ia langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Toiletnya ada di sebelah mana?" tanya Ravin


Marko ikut berdiri dari duduknya, berdiri di samping Ravin.


"Toiletnya ada tiga, dua buat customer satu buat karyawan.


Toilet customer ada di lantai atas satu dan yang di lantai ini ada di sebelah sana"


Marko menunjuk ke arah menuju toilet.


"Yaudah gue mau cari ke sana" ucap Ravin pergi mendahului.


Marko pun mengikutinya dari belakang.


"Pelan-pelan Rav, mungkin aja cewek lo masih ada di sana" ucap Marko


Ravin yang tak memperdulikan ucapan Marko terus berjalan menuju toilet.


Tapi saat mereka sudah tepat berada di depan toilet perempuan mereka berdua kebingungan untuk masuk ke sana.


"Gimana caranya kita ngecek ke dalem nih?" ucap Marko bingung.


Lelaki itu tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Akhirnya Marko meminta tolong pada seorang karwayanya untuk memeriksa di dalam.


"Gimana?" tanya Marko saat karyawan perempuan itu baru saja keluar.


"Tidak ada bos , perempuan yang seperti di foto tidak ada di dalam" jawabnya


"Kamu yakin?"


"Yakin, saya sudah periksa semunya. Ada beberapa perempuan, tapi bukan yang bos cari"


Ravin yang terlihat khawatir semakin gusar, saat berusaha menghubungi Rachel tapi tak di angkat.


Ia yakin pasti terjadi sesuatu.


"Toilet customer lain nya ada di lantai dua Rav, apa mungkin dia di sana?" tanya Marko


"Toilet di lantai ini ada di sebelah mana lagi?"


"Kalo di lantai ini cuma ini sama toilet karyawan"


"Ada di ujung koridor sebelah sana" tunjuk Marko


Ravin menepuk pundak Marko meminta pertolongan.


"Ko tolong elo cek toilet yang di atas, gue mau pergi cek toilet karyawan" ucap Ravin


"Elo yakin? mau ngecek kesana?"


"Iya, coba elo cekin toilet atas" ucap Ravin.


Marko pun setuju.


Ia meminta karyawan perempuan nya untuk ikut dengan Ravin, agar bisa membantu memeriksa lagi ke dalam toilet nanti.


"Thank you Ko" ucap Ravin


Ia pergi terburu-buru menuju toilet karyawan.


Begitu sudah masuk ke daerah lorong, Ravin seolah mendengar suara sayup-sayup meminta tolong.


Lorong yang sepi itu semakin membuat Ravin mempercepat langkahnya.


"Kamu denger suara orang minta tolong?" tanya Ravin pada karaywan Marko.


Karyawan perempuan itu pun mengangguk sambil terus mengikuti langkah cepat Ravin di belakang.


"Iya Mas"


Ravin berlari saat mengenali suara yang semakin terdengar jelas itu.


"To..long!"


"Ini suara Rachel"


Tanpa aba-aba dirinya langsung mendobrak pintu toilet itu dengan tubuhnya.


Braaakkk ....


Pemandangan yang ada di depan matanya kini membuat Ravin marah.


Tangannya terkepal dengan erat sehingga menunjukan urat-uratnya.


"BR*NGSEK!!" teriak Ravin


.


.


.


.


Jangan lupa Like, Comen dan di Vote ya


See you next episode ❣️

__ADS_1


__ADS_2