
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Ravin baru saja memarkirkan mobil nya di garasi rumah begitu sampai di sana, keadaan di rumah terlihat sudah sepi.
Mungkin keluarganya itu sudah beristirahat karena waktu sudah menunjukan pukul 10.15 malam.
Saat membuka sabuk pengaman, Ravin tak sengaja melihat tas milik Rachel di kursi samping yang sepertinya tertinggal.
Tangannya terulur untuk meraih tas itu.
"Dia pasti lupa" gumam Ravin
Tas yang di pegang Ravin itu terlihat terbuka sebagian sehingga terlihat beberapa barang Rachel di dalamnya.
Ravin merogoh hp Rachel yang rusak, sedari tadi hp itu mencuri perhatiannya.
Sebuah smartphone berwarna putih itu terlihat rusak parah di bagian layarnya.
Bahkan saat Ravin mencoba menghidupkan nya, hp itu sama sekali tak menyala.
"Kayanya rusak parah" ucap Ravin
Dirinya kembali memasukan hp di tangannya itu ke dalam tas.
Lalu menutup sleting tote bag itu tanpa melihat isi barang yang lain.
Ia tak ingin menjadi lancang, memeriksa barang milik Rachel.
Ravin pun memutuskan membawa tas itu dan akan ia kembalikan esok hari pada pemiliknya.
Memasuki rumah yang terlihat sudah sepi, Ravin pun bergegas menuju kamarnya di lantai dua.
Baru saja ia memasuki kamar, ketukan pintu dari Arka membuat perhatian Ravin teralihkan.
Tok
Tok
Tok
"Kak, Arka boleh masuk?"
"Masuk Ar"
Arkana membuka sebagian pintu itu lalu masuk ke dalam kamar Ravin.
"Baru pulang kak?" tanya Arka duduk di tepi kasur king size Ravin
"Heemm .. "
Ravin melepaskan aksesoris tubuhnya, seperti jaket, jam tangan dan sepatu nya.
"Kok lama banget nganterin Kak Rachel nya? Kemana dulu" tanya Arka
"Tadi ada masalah sedikit. Tumben, ada apa?" tanya Ravin
Tidak biasanya adik nya itu, sampai bertanya tentang kepergiannya.
"Enggak. Cuma tadi Kak Nara neleponin aku terus.
Nanyain kenapa Kakak enggak angkat telepon sama bales pesan dia" ucap Arka
sambil berbaring di tempat tidur Ravin
"Oh .. tadi hp nya Kakak silent.
Tadi udah Kakak kabarin kok" jawab Ravin berjalan menuju kamar mandi
"Oh .. yaudah"
"Aku tidur di sini aja ya kak" ucap Arka sambil mengubah posisi nya jadi tengkurap
Ravin tersenyum kecil sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi
"Terserah kamu" jawab Ravin sebelum menutup pintu kamar mandinya
Saat Arkana mencoba memainkan hp nya, ia tak sengaja melihat Tote bag milik Rachel yang Ravin taruh di atas sofa.
Melihat tas milik Rachel membuat Arka jadi teringat lagi pada perempuan itu.
Saat melihat Rachel di rumahnya tadi, Arka merasa pernah mengenali teman Kakak nya itu.
Tapi ia tak ingat pernah kenal di mana.
Meski, Rachel mengatakan kalau mereka pernah bertemu di restoran saat acara anniversary pernikahan Ken dan Rara.
Tapi, Arka merasa bukan saat itu.
Arkana seperti pernah mengenal perempuan itu sebelum di restoran.
Arka pun tak bisa mengatakan pada Kakak nya kalau ia seperti pernah bertemu Rachel, karena
ia sendiri pun belum yakin kapan ia bertemu perempuan itu.
"Di mana ya aku pernah ketemu Kak Rachel" gumam Arka mengingat-ingat
********
"Elo udah makan malem?" tanya Amel saat mereka baru saja memasuki apartemen milik nya
Rachel menganggukan kepalanya sambil duduk bersandar di sofa ruang tamu
__ADS_1
"Hem .. udah" jawab Rachel
Saat memiringkan kepala Rachel baru sadar kalau ia masih memakai jaket milik Ravin
"Elo berantem lagi ya sama Tante?" tanya Amel
Perempuan itu baru saja membawakan segelas air untuk Rachel dari dapur
"Biasalah" jawab Rachel meraih gelas yang di sodorkan Amel
lalu meneguk air nya hingga habis
"Kenapa lagi sih?" tanya Amel
Ia ikut menyandarkan tubuhnya di samping Rachel
"Karena Ravin?" tanya ulang Amel saat tak mendapat jawaban
Amel yang tadi mencari Rachel sempat datang ke rumahnya dan mendapati Mela yang sedang kesal.
Perempuan paruh baya itu mengeluh dan bercerita panjang pada Amel kalau anak gadisnya itu tidak sopan padanya,
padahal
ia hanya menanyakan tentang Ravin.
Tapi Amel yang sudah bersahabat sejak lama dengan Rachel, tentu tahu kalau masalahnya pasti
tidak sesederhana itu jika Rachel sampai tidak bisa menahan amarahnya.
"Biasalah, elo pasti bisa tau tanpa gue cerita" jawab Rachel malas
Ia tidak mau merusak mood nya kembali jika membicarakan tentang sang Mami.
Amel menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
Sebenarnya ia selalu lebih kesal jika sudah membicarakan tentang Mela yang selalu membuat Rachel kesusahan.
Tapi,
sebisa mungkin ia menahan nya di depan Rachel.
Karena merasa kasihan pada sahabatnya itu.
"Yaudah gak usah bahas nyokap lo.
Sekarang ceritain tentang luka-luka lo ini, terutama tentang Ravin" ujar Amel sambil tersenyum jahil
Rachel seolah mengerti senyuman meledek sahabatnya itu, pasti Amel sedang salah paham kalau di antara dirinya dan Ravin ada sesuatu.
"Enggak usah senyum begitu, gue gak ada apa-apa sama Ravin"
"Bener gak ada apa-apa"
"Enggak ada"
"Enggak akan"
"Masa?"
"Bener"
"Yakin?"
"Iya .. "
"Serius?"
"Amelia!"
"Hahaha .. Peace peace" tawa Amel sambil mengacungkan kedua jarinya
Rachel terlihat sedikit kesal
"Yaudah kalo gitu ceritain semuanya sama gue dari awal" pinta Amel
Dan Rachel pun menceritakan semua kejadian nya dari awal.
Dari awal ia di tolong Ravin, sampai kejadian hari ini.
Amel mengepalkan tangannya kesal saat mendengar cerita tentang kejadian ia di labrak oleh geng nya Intan.
"Si*lan tuh cewek-cewek cabe-cabean, beraninya keroyokan.
Coba kalo gue ada di sana, udah gue cakar-cakar tuh mukanya" omel Amel
Rachel terkekeh pelan
Sahabatnya itu memang sudah garang sedari kecil, bahkan Rachel pun bisa menjambak Intan tadi siang karena pernah di ajari oleh Amel.
Saat sekolah menengah pertama Rachel di bawa oleh sang Mami pindah ke Indonesia,
ia sering kali di musuhi dan di bully oleh teman-teman sekolahnya karena di anggap sombong.
Dan Amel lah orang pertama yang membela nya dengan berani dan tulus.
Sejak saat itulah mereka berdua bersahabat.
"Elo tuh ya malah ketawa. Aturan tadi tuh elo jambak aja tuh cewek sampe botak, Chel.
Biar kapok tuh cewek-cewek kegatelan kaya gitu" ucap Amel berapi-api
"Elo mau gue di tuntut?" ucap Rachel
__ADS_1
"Enggak apa-apa, kalo elo di tuntut tenang aja. Biar gue minta bokap gue sediain pengacara buat elo.
Yang penting itu cewek botak, biar tau rasa"
"Hahaha makasih lo ya, tau gitu tadi gue bikin botak beneran itu orang" ucap Rachel sambil tertawa
Amel memang sudah seperti penawar di saat Rachel sedih.
Amel pun ikut tertawa melihat tawa dari Rachel,
merasa lega melihat tawa Rachel meski Amel tahu pasti dalam hati sahabatnya sedang menyembunyikan rasa sedihnya.
Kedua nya tertawa bersama.
Rachel mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa lepas.
"Makasih ya Mel" ucap Rachel saat tawanya berhenti
"Makasih buat apaan deh lo" ucap Amel mengerucutkan bibirnya
"Makasih udah jadi sahabat gue" jawab Rachel tulus
Amel tersenyum kecil sambil menatap sahabatnya itu.
"Makanya elo harus baik-baik sama gue, mana ada lagi coba sahabat sebaik dan secantik gue" ucap Amel dengan percaya diri
Rachel mendengus kecil sambil menoyor kepala Amel
"Najong .. " ucap Rachel sambil bangun dari duduknya
"Ih .. Achel .. " protes Amel sambil mengusap-usap kepalanya yang tidak sakit sama sekali
Rachel hanya tertawa sambil berjalan menuju kamar milik Amel.
"Siapin aku baju ya sahabat ku yang paling cantik dan baik" ucap Rachel sok manis dan imut
Amel mendengus geli pada sahabatnya itu
"Please jangan bikin gue mual ya, Chel" ucap Amel yang hanya di jawab tawa dari perempuan itu
********
Seusai membersihkan tubuh dan berganti pakaian, Rachel duduk sambil meluruskan kaki nya di atas tempat tidur
Sedangkan Amel baru saja bergantian masuk ke dalam kamar mandi.
Rachel menatap ke arah kedua lututnya yang di tutupi perban,
tiba-tiba saja dia jadi teringat Rara ibu Ravin.
Perempuan paruh baya yang masih awet muda dan cantik itu sangat baik pada Rachel.
Saat lukanya di obati tadi, Mama Rara benar-benar memperlakukan Rachel seperti anaknya sendiri.
Padahal itu baru kedua kali nya mereka bertemu.
Sudut hati Rachel merasa hangat sekaligus iri jika mengingat Ibunda dari Ravin.
Menghangat karena bisa merasakan kasih sayang dan sentuhan seorang ibu untuk pertama kalinya
Dan
Iri karena kehidupannya hangat itu bisa di miliki orang lain sedangkan ia tak pernah.
Keluarnya Amel dari kamar mandi menyadarkan lamunan Rachel.
"Ngelamunin woy malem-malem" tegur Amel
"Siapa yang ngelamun" bantah Rachel
"Elo, gue liat tau. Mikirin apaan sih?" tanya Amel merangkak naik ke atas kasur
"Enggak mikirin apa-apa"
"Mikirin Ravin ya .. cie .. cie .." ledek Amel
"Ngaco" jawab Rachel sambil merebahkan tubuhnya
"Ngaku aja kali. Enggak dosa kok mikirin cowo ganteng" ledek Amel lagi
Dirinya ikut merebahkan diri di samping Rachel
"Apaan deh elo. Udah ah berisik gue ngantuk" ucap Rachel
Dirinya memiringkan tubuhnya ke samping sambil menarik selimutnya semakin atas.
"Awas kebawa mimpi Ravin nya" ledek Amel sambil cekikikan
Sedangkan Rachel malas menanggapi ledekan sahabatnya itu.
Mata nya menatap lurus ke arah pojok kamar.
Jaket jeans milik Ravin yang tergantung di gantungan baju berhasil membuat perhatian Rachel teralihkan ke sana.
Seulas senyuman tiba-tiba saja terbit dari bibir manisnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Coment
See you next episode ❣️