Angan Cinta

Angan Cinta
Shock


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Rachel terus berusaha berontak dan berteriak meminta tolong, tapi nihil tak ada seorang pun yang datang membantu nya.


"Jangan Randy, lepasin gue" teriak Rachel.


"Hahaha .. jangan takut sayang. Mending elo nikmatin aja" ucap Randy


"Lepas br*ngsek!"


Rachel sudah tak mampu melakukan apapun lagi kecuali menangis dan berteriak.


Kaki nya terasa lemas saat Randy terus saja mencoba menciumnya, Rachel terus berusaha menghindar dengan menggelengkan kepalanya.


"Jangan .. " ucap Rachel


Tenaga nya terasa habis karena terus berontak.


Saat Randy terus berusaha menciumnya, Rachel membenturkan kepalanya dengan keras ke wajah Randy membuat pria itu kesakitan.


"Aaarrggghh .. " teriak Randy


Randy memegangi hidungnya terasa sangat sakit.


"Cewek si*alan"


Plaakk


Satu tamparan keras Randy daratkan di pipi putih Rachel, sehingga meninggalkan bekas yang merah.


Sudut bibir Rachel bahkan sedikit terluka.


"Elo emang minta di kasarin ya, Chel"


Cengkraman tangan kirinya pada kedua tangan Rachel di atas kepala masih belum terlepas.


Malah semakin kuat.


"Dasar cowok gila, lepasin gue"


"Karna elo suka nya main kasar, biar kabulin permintaan lo" ucap Randy


Dengan ganas Randy menciumi leher Rachel bahkan tak segan-segan menggigitnya hingga terluka.


Rachel semakin ketakutan dan berteriak kesakitan.


"Jangan .. tolong jangan" air matanya sudah lulu lantah.


"To..long!"


Rachel merasa putus asa, ia merasa tak sanggup lagi melawan.


Terlebih tangan Randy sudah tak segan untuk menarik paksa baju Rachel.


Braaakkk ...


Pintu yang di dobrak dari luar membuat Randy berlonjak kaget.


Begitu pun Rachel menoleh ke arah pintu, saat melihat sosok Ravin lah yang kini ada di depan pintu hati nya merasa sangat lega.


"Ravin .. " ucap Rachel lemah


Melihat Rachel dalam keadaan berantakan dan posisi yang sedang di perlakukan tak senonoh berhasil membuat Ravin emosi.


"BR*NGSEK!" teriak Ravin


Rahangnya mengeras di sertai kepalan tangan yang kuat.


Ia menarik kerah baju Randy dengan kuat dan langsung menghantamkan pukulan bertubi-tubi di wajah pria itu.


"Baj*ngan, apa yang elo lakuin hah!" teriak Ravin


Begitu tubuh Rachel terlepas dari cekalan dan sudutan Randy, ia langsung terduduk lemas ke lantai.


Kaki nya terasa seperti jelly yang tak mampu menopang tubuhnya.


"Mbak, mbak enggak apa-apa?" tanya karyawan wanita itu merangkul tubuh Rachel yang bergetar.


Rachel menggelengkan kepalanya lemah.


Sedangkan Ravin dan Randy tampak saling adu tinju.


Beberapa kali Ravin sempat mendapat pukulan dari Randy, meski tak separah pukulan yang ia hantamkan pada wajah Randy.


"Tolong .. tolong .. " teriak karyawan Marko


Ia berteriak minta tolong, untuk memisahkan kedua orang itu karena dirinya tidak mungkin memisahkan keduanya.


"Mbak tunggu sebentar saya mau cari bantuan"


Karyawan perempuan itu berlari keluar toilet untuk meminta bantuan, tapi tepat saat ia berlari di lorong pintu ia bertemu Marko yang sedang berjalan menuju ke sana.


"Bos tolong .. Bos .. "


Marko yang melihat karyawannya itu panik langsung bertanya ada apa.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak" tanya Marko


"Anu .. itu Bos itu .. di dalem Bos"


"Itu apa? Bicara yang jelas"


"Teman Bos berantem, udah ayo cepet Bos pisahin" ucap Karyawan itu.


"Berantem sama siapa?" tanya Marko


Tidak ada waktu untuk menjelaskan.


Karyawan itu langsung menarik tangan Marko berlari masuk kedalam toilet.


Marko tersentak kaget saat melihat Ravin sedang memukuli Randy yang sudah terkapar lemah, ia juga sempat melihat Rachel yang terpuruk di lantai.


"Rav .. Rav .. berhenti Rav"


Marko berusaha kedua tangan dan tubuh Ravin dari belakang.


"Woy Rav berhenti"


Ia menahan sekuat tenaga, Ravin yang masih ingin memukul Randy yang tak lain adalah teman kuliahnya.


"Lepasin gue Ko, biar gue hajar dia" ucap Ravin.


"Jangan Rav, berhenti. Dia udah babak belur, bisa-bisa di mati" ucap Marko.


"Biar aja, biar cowo ******** ini masuk neraka langsung" teriak Ravin.


Nafasnya masih memburu walau melihat Randy sudah terkapar lemah.


Terlihat orang-orang mulai berdatangan ke sana saat mendengar keributan.


"Gue gak tau masalahnya apa, tapi elo gak bisa main hakim sendiri, Rav.


Keadaan bisa runyam kalo ada yang liat elo begini"


"Lebih baik elo urusin dulu Rachel, dia lebih penting sekarang" ucap Marko lagi.


Ravin tertegun, ia sampai melupakan keadaan gadis itu saking emosinya.


Ia menoleh ke belakang, terlihat Rachel sedang di tenangkan oleh karyawan yang tadi.


"Lepasin gue" ucap Ravin


Marko tak berani untuk melepaskan kedua tangan Ravin, takut-takut Ravin akan kembali menyerang Randy.


"Lepasin gue Marko" pinta Ravin lagi.


Ravin tak ada niatan untuk kembali memukul Randy.


Kini ia lebih khawar pada keadaan Rachel.


"Chel .. " Ravin berjongkok di depan tubuh Rachel hendak memegangnya.


Tapi,


Rachel beringsut mundur sambil ketakutan.


"Jangan.. " perempuan itu menundukkan kepala nya sambil memejamkan mata.


Badan Rachel gemetar hebat.


"Chel ini gue" ucap Ravin.


"Tolong jangan" ucap Rachel ketakutan.


Melihat perempuan yang ia suka seperti ini, membuat Ravin sedih.


Harusnya ia bisa menjaga Rachel dengan baik.


"Achel, ini gue Ravin. Buka mata lo, jangan takut" ucap Ravin lembut.


"Chel .. " panggil Ravin lembut sambil membelai rambut panjang nya.


Rachel terlihat sedikit tenang, ia perlahan berani membuka matanya.


"Ra..Ravin .. " ucap Rachel bergetar.


Ravin menganggukan kepalanya, terus bersikap lembut.


"Iya ini gue" jawab Ravin


Ravin membuka kemeja miliknya demi memakaikan nya pada Rachel.


Kini ia hanya memakai kaos putih polos berlengan pendek.


Marko ikut berjongkok di samping Ravin lalu menyentuh bahunya.


"Rav, sekarang mending elo bawa dulu Rachel kerumah sakit.


Dia kayanya shock parah, soal masalah ini bisa elo pikirin nanti" ucap Marko


"Elo juga harus obatin muka lo itu" tambah Marko.


Ravin menatap Rachel yang tampak kacau penampilannya, baju yang robek, wajahnya yang bengkak dan lebam, serta tubuh nya masih bergetar ketakutan.

__ADS_1


Benar kata Marko, yang terpenting saat ini adalah Rachel.


Masalah ini ia bisa mengurusnya nanti.


"Iya gue harus bawa Rachel ke rumah sakit" ucap Ravin


*******


Amel langsung berlari memasuki rumah sakit Harapan dengan panik.


Dirinya kaget bukan main saat mendengar kabar dari Ravin tentang kejadian tadi.


Amel langsung menuju kamar VIP tempat Rachel di rawat setelah menanyakan nya pada resepsionis.


"Rav .. " panggil Amel saat memasuki ruangan rawat Rachel


"Mel elo udah dateng"


"Gimana keadaan Rachel?" tanya Amel


Ia menatap tak tega wajah Rachel yang terluka.


"Sekarang lagi tidur, dia tadi sempet di kasih obat penenang sama dokter.


Dia masih shock parah tapi, keadaan yang lain baik-baik aja.


Luka luar nya gak terlalu serius" jawab Ravin


Amel mendesah berat, antara lega tapi juga sedih.


"Kenapa bisa kejadian kaya gini sih, Rav?" tanya Amel


"Sorry Mel ini salah gue" ucap Ravin merasa bersalah.


Andai saja Ravin tidak mengajak Rachel pergi kesana mungkin ini tidak akan terjadi.


Atau jika saja ia bisa menjaga Rachel lebih baik lagi, pasti Rachel akan baik-baik saja.


Amel menepuk pundak Ravin dua kali, merasa tak pantas juga jika ia menyalahkan Ravin.


"Bukan salah lo kok Rav, ini cuma kecelakaan aja" ucap Amel


"Justru elo udah berhasil selamatin Rachel. Seandainya elo telat aja dateng mungkin Rachel keadaan Rachel gak tertolong.


Jadi, jangan salahin diri lo" sambung Amel


Entahlah, perkataan Amel tak sama sekali membuat hari nya lega.


Ia tetap merasa bersalah akan hal yang menimpa Rachel.


"Muka lo udah di obatin?" tanya Amel saat melihat luka-luka lebam di wajah Ravin.


"Belum, gue gak bisa tinggalin Rachel sendirian" jawab Ravin


"Sekarang udah ada gue, mending elo obatin luka lo.


Terus elo balik aja keadaan lo juga gak baik-baik aja, biar gue yang jagain Rachel di sini" ucap Amel


Ravin menggelengkan kepalanya menolak.


"Gue mau pergi dulu ke tempat Marko lagi, gue harus urus masalah ini dulu.


Abis itu gue pasti balik lagi ke sini" jawab Ravin


"Itu bisa elo urus besok aja Rav, sekarang udah malem"


"Enggak bisa, gue harus urus sekarang juga.


Gue enggak bisa biarin orang itu seenaknya berkeliaran"


"Yaudah terserah elo, tapi jangan lupa kabarin orang rumah dulu.


Jangan bikin keluarga lo khawatir nunnguin elo" ucap Amel


"Iya, kalo gitu tolong jagain Rachel ya Mel"


"Iya tanpa lo minta pasti gue jaga"


"Gue pergi dulu"


"Iya hati-hati elo di jalan Rav"


Ravin mengangguk.


Ia menatap wajah terlelap Rachel sebentar lalu membelai lembut kepala Rachel sebelum akhir pergi dari ruangan itu.


.


.


.


.


Jangan lupa Like , Coment dan Vote.


See you next episode ❣️

__ADS_1


__ADS_2