Angan Cinta

Angan Cinta
Masalah


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Di setiap hubungan pasti ada pertengkaran, baik itu pertengkaran kecil atau pertengkaran besar.


Sama halnya dengan hubungan Rachel dan Ravin. Sudah enam bulan mereka bersama, tentu pasti mereka pernah bertengkar.


Tapi, kali ini mungkin yang terbesar selama hubungan keduanya.


Semua nya berawal dari Ravin yang membelikan apartemen untuk Rachel secara diam-diam.


Niat Ravin untuk memberikan kejutan pada Rachel memang berhasil. Tapi alih-alih menerima nya dengan senang, Rachel malah menolak apartemen pemberian Ravin dengan berbagai alasan.


Tentu, itu membuat perdebatan diantara keduanya yang ternyata memicu pertengkaran.


Entah karena ego atau gengsi, keduanya benar-benar saling diam dan tak berkomunikasi selama tiga hari ini.


Dan nyatanya tidak ada yang mau mengalah hingga detik ini.


Rachel masih kukuh enggan berbaikan jika Ravin masih terus memaksa kehendaknya dan Ravin sama keras kepalanya jika tak mau berbaikan jika Rachel tak menerima pemberiannya.


Kekeras kepalaan keduanya malah menyiksa diri mereka berdua.


Terutama bagi Ravin, dirinya tidak terbiasa saling cuek dan diam seperti ini.


Ia sangat rindu dengan Rachel.


"Tau ah pusing .. " Ravin membanting lagi ponsel miliknya ke sofa setelah sesaat berpikir akan menghubungi Rachel lebih dulu.


Tapi, niatnya kembali berubah karena ego nya yang tinggi.


Meski rindu, ia berharap Rachel yang menghubungi nya lebih dulu.


Tapi gadis itu, bertemu di kampus saja malah cuek dan tak menyapa Ravin selama beberapa hari ini.


Ravin meraih lagi ponsel yang ada di ujung sofa, lalu membuka kunci ponsel tersebut.


Matanya menatap lama, foto dirinya dan Rachel yang terpasang sebagai wallpaper ponsel.


Melihat, wajah kekasihnya membuat Ravin semakin rindu.


"Gue hubungin enggak ya?" gumam Ravin.


"Kalo gue hubungin duluan, nanti dia ngira gue ngalah.


Terus dia tetap enggak mau terima apartemen nya" gumam Ravin lagi.


Tangannya terus bergulir menekan kontak Rachel lalu kembali, menekan nya lagi lalu kembali lagi.


"Rachel aku kangen ..


Kamu kenapa keras kepala banget sih" gumam Ravin lagi.


Mendesah berat, kepala Ravin bersandar pada kepala sofa sambil terpejam erat.


Mama Rara yang sudah melihat putra nya itu gusar selama berhari-hari, mendekat duduk di sofa ruang keluarga di samping Ravin.


Menepuk kaki sang putra, membuat mata Ravin terbuka menoleh pada Mama Rara yang tersenyum padanya.


"Kenapa Kak? Mama liatin beberapa hari ini kamu uring-uringan terus?" tanya Mama Rara.


Ravin mengalihkan tubuhnya untuk berbaring, menjadikan kedua paha Sang ibu sebagai bantalan.


Dengan penuh sayang, Mama Rara membelai rambut sang putra.


"Ravin berantem Ma, sama Rachel" ucapnya jujur.


Ravin memang paling tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang ibu.


Hanya dari sikap saja Mama nya itu bisa tahu kalau Ravin sedang mengalami sesuatu, apapun itu.


"Kok bisa? Kenapa?" tanya Mama Rara.


Mata Ravin terpejam, merasakan lembutnya belaian sang ibu.


"Heemmm ... " Ravin membuang nafasnya panjang.


Hening sesaat di antara mereka.


Mata Ravin kembali terbuka, melihat wajah Mama nya dari bawah.


"Salah enggak sih Ma, kalo Kakak mau kasih semua yang terbaik buat Rachel?" tanya Ravin.


"Ya enggak salah dong, sayang" jawab Mama Rara.


"Tapi, masa Rachel jadi marah karna Kakak mau ngelakuin itu" ucapnya Ravin.


"Memangnya kamu ngelakuin apa sampai Rachel bisa marah?"


"Kakak cuma beliin apartemen Ma, buat dia.


Habis Kakak enggak tega setiap dia berantem sama Mami nya pasti dia pergi ke apartemen sahabatnya sampai berhari-hari.


Kakak beliin dia apartemen biar dia punya tempat tinggal sendiri"


"Terus Kakak sebelumnya udah diskusi dulu sama Rachel kalau mau kasih dia unit apartemen?" Mama Rara menunduk, menatap Ravin yang memandanginya.


Ravin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kakak sengaja enggak diskusi, karna mau kasih di kejutan.


Tapi, dia malah nolak dan kita jadi debat karena itu.


Bahkan, Rachel sampai sekarang enggak mau kita berhubungan kalo Kakak masih maksa dia buat terima apartemen nya"

__ADS_1


"Dan kamu juga tetap enggak mau mengalah?" tanya Mama Rara.


"Kakak kan cuma minta Rachel terima apartemen nya, Ma.


Lagian ini juga pemberian pertama Kakak buat Rachel"


"Meski jadinya kamu harus bertengkar sama Rachel?"


"Kakak cuma mau kasih yang terbaik buat Rachel" ucap Ravin.


"Yang terbaik buat Rachel menurut kamu, belum tentu yang terbaik juga menurut dia Kak" ucap Mama Rara membuat Ravin terdiam.


Tangan Mama Rara mengusap lembut dahi Ravin yang terus menatapnya.


"Mama ngerti kalau kamu sayang banget sama Rachel. Tapi, ada baiknya segala hal itu tidak di paksakan Kak.


Kalian harus bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain.


Kalau Rachel yang keras, maka kamu yang harus mengalah.


Jangan sampai karena permasalahan kecil bisa menimbulkan pertengkaran di antara kalian"


Ravin mengerjapkan matanya berulang kali, masih mendengarkan nasihat dari sang ibu.


"Kamu tahu kan kalau enggak mudah buat Rachel membuka hatinya buat orang lain setelah apa yang di lalui nya selama ini?"


"Iya Kakak tahu Ma.


Enggak mudah buat Kakak bisa yakinin Rachel"


"Nah jadi, kamu enggak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang udah Rachel kasih karna udah membuka hatinya buat kamu"


"Itu enggak akan Ma" jawab Ravin tegas.


"Yaudah kalo gitu cepat kalian baikan.


Temuin dia kalo kamu kangen.


Duduk di sini sambil terus liatin foto dia juga percuma, enggak akan bikin kalian baikan" ucap Mama Rara.


Ravin tersenyum, lalu bangun dari tidurnya.


"Makasih Mama sayang" Ravin kecup pipi wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Sama-sama, Sayang" Mama Rara mengusak kepala Ravin dengan sayang.


"Kakak pergi dulu ya, Ma.


Mau temuin Rachel" ucapnya dengan semangat.


Bergegas bangun sambil meraih ponselnya dan kunci mobilnya, Ravin tak sabar ingin bertemu sang kekasih.


"Hati-hati di jalan Kak" teriak Mama Rara sambil menggelengkan kepala melihat putra sulungnya itu berlari begitu bersemangat.


Rachel kaget bukan main saat Mami nya masuk ke dalam kamar dan memberitahukan nya bahwa Ravin datang kerumahnya dan sedang menunggunya di ruang tamu.


Bagaimana tak kaget?


Keadaannya saat ini terlihat sangat kacau, baju nya yang tampak compang camping, rambutnya yang acak-acakan serta wajahnya yang tampak pucat dengan lingkar hitam di bawah mata.


Seharian ini Rachel hanya berdiam diri di dalam kamar sambil mengerjakan skripsi nya yang tak selesai-selesai.


Pikirannya di tambah semakin pusing karena bertengkar dengan Ravin berhari-hari.


Tapi, secara tiba-tiba Ravin datang di saat dirinya sedang kusut seperti ini.


Membuat Rachel dengan buru-buru langsung merapihkan diri.


Mengganti hot pants dan kaos oblong nya dengan baju terusan. Rachel mencuci muka dan memulas sedikit make up dan merapihkan rambutnya yang tampak semerawut.


"Chel cepat dong keluar, itu Ravin udah nungguin kamu loh dari tadi" Mami nya sudah masuk kedua kali untuk memanggilnya.


"Bentar dong Mi" ucap Rachel.


Gadis itu sibuk memulas lip tint pada bibirnya.


"Kamu dandannya lama banget sih, kasian orang nunggu" ucap Mami Mela sambil bersidekap memperhatikan sang putri yang sibuk.


"Biarin aja ah, lagian dateng enggak bilang-bilang.


Aku kan malu lagi kucel begitu" tangan nya sibuk menyisir rambut yang kusut.


"Lagian kamu anak gadis kucel banget, enggak kaya Mami banget" ucap Mami Mela membuat Rachel memutar kedua bola matanya.


"Udah buruan keluar" ucap Mami Mela lalu pergi meninggalkan kamar Rachel.


"Iya .. Iya .. "


Rachel lalu menatap dirinya lagi di balik cermin, penampilan nya kini terlihat rapih dan segar.


Seulas senyum tersemat sebelum kemudian ia mengatur lagi ekspresi datarnya untuk menemui Ravin.


Keluar dari kamar, Rachel langsung di suguhi pemandangan Ravin yang sedang mengobrol dengan sang Mami.


"Ehem .. " Rachel berdeham membuat Mami nya mendongkak dan Ravin menoleh ke belakang.


"Eh Rachel nya udah keluar tuh, yaudah Tante tinggal ke dalam ya Ravin" ucap Mami Mela langsung bangkit dari duduknya.


"Iya Tante .. "


Mela langsung menghampiri Rachel, menarik tangan sang putri untuk duduk di samping Ravin.


"Apaa sih Mam" gerutu Rachel pelan.


"Jangan masang muka jutek, udah duduk situ" bisik Mela.

__ADS_1


Perempuan paruh baya itu tersenyum pada Ravin lalu pergi ke meninggalkan keduanya setelah Rachel duduk.


Ravin tersenyum pada Mela, lalu mengalihkan pandangannya pada gadis yang kini berada di sampingnya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Rachel ketus begitu Mela pergi.


"Mau ketemu kamu" jawab Ravin lembut.


"Ngapain?" Nada ketus dan wajah jutek Rachel masih di tunjukan nya.


Ravin tersenyum, memandang wajah Rachel yang masih menatap lurus ke depan.


Enggan untuk menoleh padanya.


"Aku kangen sama kamu .. " ucap Ravin, sedikit menggeser duduknya agar jarak antara mereka berkurang.


"Kamu masih marah sama aku?" pertanyaan itu terlontar karna Rachel hanya diam.


"Menurut kamu?"


"Aku minta maaf ya, Sayang"


"Buat?"


"Buat semuanya, maaf aku udah bikin kamu marah.


Maaf juga aku ikut kepancing emosi, maaf juga karna aku enggak memaksakan keputusan aku"


"Kamu enggak perlu minta maaf, toh kata maaf dari aku enggak berpengaruh bagi kamu sama kaya pendapat aku yang enggak penting bagi kamu" ucap Rachel.


"Sayang .. " ucap Ravin memelas.


Tangan Ravin terangkat, untuk meraih jemari Rachel.


Untung saja kekasihnya itu tak menolak.


"Bukan begitu Sayang" ucap Ravin.


"Iya aku minta maaf karna enggak meminta pendapat kamu lebih dulu soal apartement itu.


Tapi, bukan karna aku enggak menghargai keputusan kamu.


Aku minta maaf ya, aku janji enggak akan memaksa lagi kalau emang kamu enggak bisa terima apartemen nya. Tapi jangan gini, aku enggak bisa diam-diaman terus kaya sama kamu" ucap Ravin.


Nada memohon terdengar jelas, membuat Rachel tak tega.


Rachel juga tahu, Ravin bukan tak menghargai pendapat nya.


Ravin begitu hanya karna terlalu menyayangi nya.


Rachel pun tak ingin terlalu egois dengan mementingkan ego nya yang tinggi.


"Sayang .. " Ravin mengecup punggung tangan Rachel membuat gadis itu akhirnya menoleh.


Tatapan sendu dari Ravin benar-benar membuat Rachel luluh.


"Iya aku enggak marah kok, aku cuma lagi kesel aja" jawab Rachel.


"Jadi ... kamu udah maafin aku?"


"Iya .. iya .. "


Senyuman Ravin langsung mengembang, lalu menarik Rachel ke dalam pelukannya.


"Makasih Sayang ku .. " Ravin kecup pelipis Rachel membuat Rachel memerah.


"Iya .. aku juga minta maaf ya"


Rachel menyembunyikan wajahnya di balik bahu Ravin.


"Iya Sayang .. " jawab Ravin.


Ravin mengeratkan pelukannya membuat Rachel sesak.


"Sayang .. jangan kencang-kencang, aku susah nafas" Rachel menepuk pundak Ravin berkali-kali.


Ravin terkekeh sambil melepaskan pelukannya.


"Maaf sayang, aku terlalu senang akhirnya bisa ketemu kamu lagi" ucap Ravin.


Ravin usap pipi putih itu dengan buku jarinya.


"Aku juga senang" jawab Rachel sambil tersenyum.


Ravin kembali meraih Rachel kedalam pelukannya lagi.


"Rav .. Nanti Mami liat"


"Enggak apa-apa, aku mau peluk kamu sampai puas"


Rachel terkekeh sambil perlahan melingkarkan lengannya di tubuh Ravin.


Keduanya berharap masalah apapun yang terjadi di antara mereka, mereka akan bisa saling mengatasinya.






Jangan lupa Like, Coment dan Vote


See you next episode ❣️

__ADS_1


__ADS_2