
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Seperti hari-hari biasanya hari ini Ravin dan Rachel pergi ke kampus bersama. Meski hubungan mereka masih belum di ketahui banyak orang kecuali orang-orang terdekat saja, tapi sedikit banyak para penghuni kampus sudah tahu soal hubungan Ravin dan Rachel karena kedua nya kini sudah tak lagi sembunyi-sembunyi dan dengan jelas memperlihatkan kebersamaan mereka.
Kini Ravin tak pernah lagi mengantar Rachel sampai luar kampus, sudah tak sembunyi lagi jika ingin bertemu, dan Ravin sudah jelas-jelas menunjukkan hubungan nya di depan semua orang.
Begitupun Rachel, gadis itu sudah tak peduli pada omongan, sindiran dan tatapan sinis dari para mahasiswi pengagum Ravin.
Meski banyak mahasiswi yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan, serta omongan yang mengatakan Rachel memperalat Ravin, Rachel sudah tidak memperdulikan semua itu.
Rachel sudah tak ambil pusing, toh dia akan segera lulus dan tak akan mendengar omongan mereka lagi.
"Sayang .. " panggil Ravin begitu mereka ia memarkirkan mobilnya di parkiran kampus.
"Hemm .. " jawab Rachel sambil membuka sabuk pengaman.
"Nanti sore kamu pulang sendiri dulu gak apa-apa kan" ucap Ravin sambil menatap Rachel.
Rachel berbalik menatap Ravin setelah melepas sabuk pengaman nya.
"Kamu mau kemana?" tanyanya.
"Aku harus ketemu orang, ada urusan" jawab Ravin.
"Terus kita gak jadi ke apartemen?" tanya Rachel.
"Jadi kok, nanti kamu pergi duluan aja. Begitu aku selesai, aku langsung susul kamu ke sana" jawab Ravin.
Rencana nya sepulang kuliah nanti, Rachel dan Ravin akan pergi ke apartemen yang di beli kan Ravin untuk Rachel.
Ravin berencana membereskan beberapa laporan yang di berikan Papa Ken untuk di pelajari, Ravin sekalian meminta Rachel menemani nya.
Meski Rachel tak menerima apartemen itu, tapi kini apartemen itu sering di jadikan tempat istirahat sementara Rachel dan sering pula di gunakan Rachel dan Ravin untuk menghabiskan waktu bersama jika mereka malas kencan di luar.
"Emang kamu mau pergi ke mana sih?" tanya Rachel ingin tahu.
Biasanya Ravin akan mengatakan jika pergi ke manapun tapi kini Ravin hanya mengatakan ada urusan, membuat Rachel penasaran.
"Ada urusan aja sebentar. Aku gak bakal lama kok" bukannya menjawab pertanyaan Rachel, Ravin malah mengalihkan jawaban nya.
Tak ingin memaksa, Rachel pun hanya menganggukan kepalanya pada Ravin.
"Yaudah aku tunggu kamu di apartemen. Enggak lama kan?"
Ravin tersenyum sambil membelai rambut Rachel penuh kasih.
"Iya gak lama kok. Aku bakal pulang cepat" jawab Ravin.
"Aku tunggu kamu" ucap Rachel.
Ravin terkekeh dalam hati, merasa percakapan mereka sudah layaknya sepasang suami istri saja.
Ah jadi tidak sabar ingin segera menghalalkan.
Andai Rachel sudah siap dan Papa Ken tidak memberi syarat mereka harus lulus dulu, pasti Ravin sudah menikahi Rachel.
"Yaudah kalo gitu aku ke keluar duluan" ucap Rachel sambil menyelempangkan tas miliknya.
"Kenapa sih masih harus sendiri-sendiri, kita keluar bareng aja." protes Ravin.
Toh orang-orang sudah tahu tentang hubungan mereka.
"Aku masih kurang nyaman, enggak apa-apa kan kita kaya gini dulu?" pinta Rachel.
Meski dengan terpaksa Ravin hanya mampu mengiyakan saja.
"Yaudah, kamu keluar duluan nanti aku susul" jawab Ravin.
Rachel mengangguk, setelah berpamitan Rachel pun bergegas turun dari mobil.
Untung saja situasi di parkiran saat itu tak ramai, hanya ada beberapa mahasiswa saja.
Rachel menghembuskan nafas lega, karna dirinya selamat dari tatapan-tatapan sinis para mahasiswi lain.
Pergi menuju ruang kelasnya, Rachel berpapasan dengan kedua temannya, Siska dan Una.
"Chel .. " panggil mereka dari belakang.
Siska dan Una berlari kecil menghampiri Rachel.
"Sis .. Na .. " sapa Rachel.
"Mau ke kelas kan? Bareng yuk .. " ajak Siska yang di angguki oleh Rachel.
Mereka berjalan bertiga menuju kelas sambil sesekali mengobrol.
"Chel .. "
Rachel menoleh, melihat ke wajah Siska yang seperti ingin bertanya sesuatu tetapi ragu.
"Kenapa?" tanya Rachel mengerti gelagat wajah Siska.
"Soal berita hubungan elo sama Ravin itu... benar?" tanya Siska ragu.
Una yang sama penasaran pun ikut menimbrung.
Mereka memang cukup dekat, tapi tidak begitu dekat untuk saling berbagi tentang kehidupan pribadi.
Rachel terlalu membentengi dirinya pada orang lain, selain Amel.
"Yahh .. gitulah. Enggak perlu gue jelasin juga kalian pasti udah ngerti" jawab Rachel.
__ADS_1
"Kok enggak cerita-cerita sih Chel.
Sejak kapan?" tanya Siska lagi.
Gadis itu terlihat sangat antusias dan penasaran.
Tapi, Rachel hanya menanggapi nya dengan senyuman. Rasanya Rachel enggan untuk membahas hubungan percintaannya dengan orang lain.
Selain karena canggung, Rachel juga tak ingin sesumbar hubungan nya dengan Ravin karena itu hanya malah membuat dirinya terbebani.
Tak mendapatkan jawaban dari Rachel, membuat Siska bungkam sambil memanyunkan bibirnya.
"Yaudah deh kalo gak mau cerita" ucap Siska seolah merajuk.
Sedangkan Una terlihat santai saja, karena Una tidak ingin banyak tahu.
Rachel mencoba tersenyum sambil terus melangkah, tanpa sadar tiba-tiba saja seseorang dengan sengaja menabrak bahu nya dengan keras.
"Akh .. "
"Eh jalan lihat-lihat dong" ucap Una.
"Uppss .. Sorry" ucap santai gadis cantik yang menabrak Rachel.
Gadis itu tertawa kecil sambil melangkah pergi dengan teman-temannya.
Rachel berusaha tidak peduli, hendak melangkah lagi tapi ucapan para gadis itu membuat Rachel terhenti.
"Itu kan pacarnya Ravin?"
"Cantik sih, tapi playgirl nya kampus"
"Jago juga ya trik nya bisa dapatin Ravin, padahal udah jelas-jelas ada Nara di depan mata Ravin"
"Wahh kayanya kita harus berguru nih sama dia biar gampang dapat cowo kaya dia"
"Dih berguru? Gue sih ogah, murahan begitu!"
Keempat gadis itu saling melempar gunjingan satu sama lain dan seakan sengaja agar Rachel mendengarnya.
Berusaha tak peduli, Rachel tersentak saat Una tiba-tiba marah
"Eh si*lan banget tuh cewek-cewek" ucap Una.
Gadis eksotis itu hendak berbalik melabrak keempat gadis tersebut, tetapi Rachel dengan cepat mencegahnya.
"Udah biarin aja" cegah Rachel.
"Tapi mereka keterlaluan Chel, harus di tegur" ucap Una.
"Iya Chel" timpal Siska.
"Udah biarin, biarin. Gue malas berurusan sama orang-orang kaya mereka" ucap Rachel.
"Udah ayo kita ke kelas aja" potong Rachel sambil menarik tangan kedua tangan Una dan Siska.
Sempat melirik sekilas ke arah keempat gadis yang menunjukkan seringai sinis, Rachel hanya melengos tak peduli.
Inilah alasan ia tak ingin hubungan nya dengan Ravin di ketahui orang-orang.
Semua karena perbedaan reputasi dan status dirinya dan Ravin yang sangat berbanding terbalik.
Seolah dirinya memang tak layak jika harus bersanding dengan Ravin.
*********
Sesuai perkataannya pada Rachel, sore itu Ravin pergi untuk suatu urusan.
Dan di sinilah ia sekarang, di dalam rumah mewah yang sudah tak asing baginya.
Rumah milik Nara.
Begitu tiba di sana, Ravin langsung di sambut ramah dan di persilahkan masuk ke dalam.
Rumah itu memang selalu terlihat sepi seperti biasanya, karena hanya di isi oleh Nara dan Om Hendra juga dua orang pekerja rumah tangga.
"Rav .. "
Ravin menoleh lalu berdiri dari duduknya begitu mendengar suara Hendra yang menyapanya dari belakang.
"Om ... " Ravin mendekat, lalu mencium punggung tangan Hendra, sopan.
"Maaf ya bikin kamu nunggu, ayo duduk" ucap Hendra begitu Ravin melepaskan tangannya.
"Iya Om .. " jawab Ravin.
Keduanya duduk di sofa yang saling berseberangan dan terhalang oleh meja kaca.
Di atas meja tersebut sudah tersedia teh makanan ringan yang Bi Asih suguhkan.
"Gimana kabar kamu?" tanya Hendra begitu mereka duduk.
"Ravin baik kok Om. Om sendiri gimana kabarnya?" tanya Ravin.
"Ya ... tubuh Om terlihat baik, tapi perasaan dan pikiran Om sedang tidak baik" jawab Hendra sambil tersenyum tipis.
"Kamu pasti tahu kan apa penyebab nya" ucap Hendra.
Ravin mengangguk singkat, tak melepaskan pandangannya dari lelaki paruh baya di hadapannya ini.
Wajah Hendra memang terlihat kurang baik, dan Ravin tahu penyebabnya.
"Gimana keadaan Nara sekarang Om?" tanya Ravin langsung ke inti.
__ADS_1
Hendra menghembuskan nafas berat sambil menatap Ravin serius.
"Sama seperti yang Om bilang di telepon kemarin, dia masih seperti itu sejak seminggu terakhir" jawab Hendra.
Kemarin setelah Ravin pulang mengantarkan Rachel, lelaki itu langsung menghubungi Hendra begitu sampai di rumah.
Hendra mengatakan semua tentang Nara pada Ravin, tentang keadaan putri semata wayangnya itu.
Dan meminta Ravin untuk datang ke rumah untuk melihat kondisi Nara, Hendra berharap dengan kedatangan Ravin bisa membuat Nara menjadi lebih baik.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?" pertanyaan itu memutus keheningan sesaat antara Hendra dan Ravin.
Ravin kembali melihat pada Hendra yang menatapnya begitu serius.
"Ada masalah antara Ravin dan Nara, Om" jawab Ravin.
"Masalah apa?"
"Apa Nara enggak bilang sama Om?"
Hendra menggelengkan kepalanya.
"Dia cuma bilang takut kamu membenci nya" ucap Hendra tajam.
Ravin tahu nada bicara dan atapan tajam Hendra mengisyaratkan ancaman pada Ravin.
Hendra takut kalau Ravin menyakiti Nara.
"Kalau Nara enggak bilang soal permasalahan antara kami, maka Ravin juga enggak berhak untuk menceritakan semua pada Om" ucap Ravin tenang.
Hendra tahu bahwa Ravin tidak mungkin menyakiti putrinya. Karena Hendra tahu benar seperti apa sifat Ravin.
Bukan satu atau dua tahun, Hendra sudah mengenal Ravin sangat lama.
Tapi, bukan berarti itu tidak memungkinkan.
Bisa saja keadaan membuat Nara putrinya terluka.
"Apa Ravin boleh ketemu Nara, Om?" tanya Ravin pada Hendra.
Hendra mengangguk lalu berdiri dari duduknya untuk mengajak Ravin ke kamar Nara.
"Nara ada di kamar" ucap Hendra.
Ravin mengikuti Hendra menuju kamar Nara yang berada di lantai dua.
Sesampainya di depan kamar Nara, Hendra meminta Nara menemui Nara sendiri agar keduanya merasa lebih nyaman.
"Tolong kamu bicara sama Nara, bujuk dia agar mau makan dan keluar untuk beraktivitas seperti biasanya" pinta Hendra.
Ravin mengangguk mengerti.
"Ravin usahakan, Om" jawab Ravin.
Hendra percaya pada Ravin.
Menepuk bahu Ravin, Hendra kemudian pergi untuk meninggalkan kamar Nara.
Tak lama setelah Hendra pergi, Ravin beberapa kali mengetuk pintu kamar Nara.
Sampai beberapa lama tak ada sahutan atau jawaban apapun dari dalam.
Membuat Ravin mengangkat suara.
"Nara .. "
Tok
Tok
Tok
"Nara ini aku Ravin, buka pintu nya" ucap Ravin lagi.
Tak lama berselang, Ravin dapat mendengar suara gaduh dari dalam lalu pintu kamar itu terbuka dari dalam.
Sosok Nara tampak berdiri tepat di depan Ravin.
Satu kata yang dapat Ravin simpulkan begitu melihat Nara yang ada di depannya saat ini, yaitu kusut.
"Ra.. vin... " bibir gadis itu bergetar saat mengucapkan nama Ravin.
Ravin tersenyum simpul membuat kedua mata Nara yang memerah berkedip beberapa kali sampai akhirnya tubuh kurus itu berhambur memeluk Ravin.
"Rav .. "
Isak kecil dapat Ravin dengar dari balik tubuhnya.
Mengusap punggung Nara, Ravin mencoba menenangkan.
"Hey jangan nangis .. Nar"
Nyatanya ucapan Ravin baru saja malah membuat tangisan Nara semakin kencang.
•
•
•
•
Jangan lupa Like Coment dan Vote.
__ADS_1
See you next episode ❣️