Angan Cinta

Angan Cinta
Bersentuhan


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Sudah hari keempat Rachel di rawat di rumah sakit, kondisi nya sudah semakin membaik.


Hanya saja mentalnya yang masih merasa was-was dan ketakutan tiap kali teringat kejadian pelecehan yang ia alami.


Sesuai dengan saran dari Oma Siska untuk Ravin agar Rachel menjalani konsultasi dengan salah satu psikolog untuk menghilangkan trauma mentalnya


Oma Siska menyarankan salah satu dokter psikis terbaik dari dari rumah sakit Harapan.


Karena Rachel harus bisa mengatasi trauma nya itu mengingat kesaksian nya nanti akan di butuhkan oleh persidangan.


Meski Om Hadi mengatakan kalau ia akan mengurusnya agar Rachel tak perlu bersaksi dengan alasan kesehatan mentalnya,


tapi


akan lebih baik jika Rachel bisa bersaksi karena kesaksiannya sebagai korban bisa sangat berpengaruh dalam kasus ini.


"Udah?" tanya Amel saat Rachel baru saja keluar dari ruang konsultasi dengan psikolog nya.


Rachel mengangguk sambil mendekat ke arah Amel yang berdiri dari kursi tunggu.


Sahabatnya itu benar-benar menemaninya di saat sulit.


"Udah" jawab Rachel.


"Gimana perasaan elo sekarang?" tanya Amel menggandeng lengan Rachel.


"Tenyata habis konsultasi rasanya jadi lebih lega dan nyaman" ucap Rachel.


Ternyata melakukan perawatan dengan psikolog tak semenakutkan bayangangan dirinya.


Ia sempat khawatir sebelumnya, tapi Ravin yang membujuknya dengan sungguh-sungguh berhasil membuat Rachel mau.


"Kan benar kata Ravin, elo jangan khawatir berlebihan.


Rasa takut lo itu harus di lawan" ucap Amel.


"Ia benar Mel" jawab Rachel.


Membicarakan Ravin membuat Rachel memikirkan lelaki itu.


Sedang apa dia sekarang?


Sudah dua hari ini Ravin sibuk kuliah dan mengurusi kasus Randy, lelaki itu hanya bisa datang pada malam hari saat Rachel sudah tidur.


"Mel gue pengen ke taman deh, bosen di kamar terus" ucap Rachel saat mereka berjalan untuk kembali ke ruang rawat Rachel.


"Oh .. boleh juga. Kita cari udara segar di sana, katanya taman rumah sakit ini bagus.


Gue juga penasaran" jawab Amel.


"Yaudah ayo .. " ajak Rachel antusias.


Ia menarik tangan Amel yang semula hendak ke lift, jadi berbalik arah.


"Sabar dong .. Kita pake kursi roda ya buat elo" ucap Amel.


"Enggak usahlah, gue bisa jalan ini.


Ngapain pake kursi roda" tolak Rachel.


"Udah nurut aja jangan bawel, gue di suruh Ravin buat ekstra jagain elo.


Jadi elo harus ikut bekerja sama" ucap Amel.


Rachel mendesah pasrah sambil mengerucutkan bibirnya.


Ravin dan Amel, kedua orang itu kenapa kompak sekali padahal mereka juga belum terlalu saling kenal.


Mendapatkan satu buah kursi roda dari seorang perawat, Rachel benar-benar naik dan di dorong oleh Amel seperti tidak sanggup berjalan saja.


Padahal,


ia sudah sangat sehat secara fisik.


Malah kata dokter, besok ia sudah di perbolehkan pulang.


"Ternyata taman rumah sakit ini luas banget ya" ucap Rachel kagum.


"Iya, tamannya juga cantik banget" jawab Amel.


Selain luas, tamannya juga begitu indah bukan seperti taman rumah sakit.


Rachel menyesal baru berjalan-jalan ke taman ini hari ini, padahal ia sudah di rawat selama empat hari.


Apalagi saat sore dan lagi hari, banyak pasien baik dewasa mau pun anak-anak yang di temani perawat atau keluarganya berjalan-jalan menghirup udara segar.


Kursi roda Rachel terus berjalan menyusuri taman hijau itu, sambil menikmati segarnya udara dan pemandangan yang indah.

__ADS_1


"Mel gue pengen ke kursi sana" ucap Rachel menunjuk sebuah kursi dekat sebuah pohon.


"Kursi mana?"


"Eh? suara ini?" gumam Rachel.


Rachel menoleh kesamping saat mendengar suara barithon dari samping telingan nya.


Saat ia menoleh ke samping,


betapa kagetnya Rachel saat wajahnya kini bertatapan dengan wajah Ravin yang benar-benar di dekatnya.


Begitu pun dengan Ravin yang sama kagetnya saat kini wajah nya dengan wajah Rachel yang begitu dekat, hanya berjarak beberapa centi saja.


Bahkan hidung mancung mereka kini bersentuhan.


*******


Mata kuliah terakhir Ravin berakhir pada sore hari, sepulang kuliah ini ia berencana akan langsung pergi ke rumah sakit.


Beberapa hari ini ia datang larut ke rumah sakit karena sepulang kuliah masih harus mengurus kasus perkara nya dengan Randy.


Tapi, hari ini semua urusan sudah selesia.


Hanya ada beberapa hal lagi yang masih harus di urus, tapi masih bisa di lakukan oleh Om Hadi.


"Rav .. " panggilan dari Jojo membuat Ravin menghentikan langkah kakinya.


Ia menoleh dan menunggu Jojo yang sedang menghampirinya.


"Buru-buru banget. Aku kemana sih lo?" tanya Jojo saat sudah di hadapan Ravin.


Sahabat itu merangkul pundak Ravin untuk berjalan bersama.


"Balik gue"


"Elo belakangan ini kemana deh, susah di hubungin juga sama gue sama Nara" ucap Jojo.


"Ada gue, lagi urusin sesuatu" jawab Ravin.


Lelaki itu belum menceritakan perihal hal yang menimpa Rachel pada sahabatnya itu.


"Urusan apa?" tanya Jojo curiga.


Ravin seperti sedang menyembunyikan sesuatu akhir-akhir ini pikir Jojo.


"Jo .. Nanti gue cerita sama lo kalo udah waktunya.


Mereka sudah bersahabat sejak lama, jadi mereka sudah tahu karakter masing-masing.


Ravin mau pun Jojo selalu saling terbuka sedari dulu, tak pernah ada hal yang mereka sembunyikan satu sama lain termasuk hal kecil.


Jadi ketika salah satunya ada perubahan, mereka akan bisa merasakan.


Seperti halnya Jojo yang seolah tahu kalau Ravin sedang menyembunyikan sesuatu.


Dan Ravin pun tahu kalau sahabat nya itu sedang curiga pada nya.


"Yaudah gue tunggu sampe elo siap buat cerita sama gue.


Tapi kalo elo butuh bantuan, elo bisa minta tolong sama gue" ucap Jojo.


Ravin mengangguk sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


"Thanks Jo" jawab Ravin.


"Yaudah gue balik duluan ya" ucap Ravin pada Jojo.


"Iya balik sana" ucap Jojo sambil bercanda.


Ravin mengangguk dan pergi dari sana setelah Jojo memperbolehkan nya.


Tapi, baru beberpa langkah Ravin kembali menoleh ke belakang saat Jojo memanggilnya.


"Nara cariin elo terus, kalo ada waktu senggang coba elo temuin dia sekali-sekali" ucap Jojo.


Ravin terdiam, ia jadi teringat Nara.


Memang hubungannya dengan Nara merenggang belakangan ini.


Itu semua terjadi karena Nara yang sering kali berubah-ubah sifatnya akhir-akhir ini.


Kadang gadis itu bersikap seperti Nara sahabat kecil nya yang manja dan bawel, kadang ia tak mengenali sifat Nara yang tiba-tiba marah tanpa sebab padanya.


"Iya, nanti gue usahain" jawab Ravin pada Jojo.


*******


Ravin memasuki rumah sakit Harapan seusai memarkirkan mobilnya di parkiran besment.


Saat melangkah masuk, Ravin terus di sapa ramah dan sopan oleh para pegawai rumah sakit karena mereka sudah hafal siapa Ravin.

__ADS_1


Ravin juga membalas sapaan setiap orang dengan sama ramahnya.


Ia tak pernah sombong maupun tinggi hati meski ia anak dari keluarga pemilik rumah sakit ini.


Saat kakinya melangkah menuju lift, ia tak sengaja melihat Amel yang sedang mendorong Rachel di kursi roda.


Ravin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


Dirinya kembali memutar arah, untuk mengikuti kedua gadis itu.


Ravin seolah tahu tujuan Rachel dan Amel hendak menuju ke taman rumah sakit.


Ia berlari kecil untuk mendekat pada Amel.


Ravin menepuk pelan pundak Amel yang sedang mendorong kursi roda yang di naiki Rachel sambil mengobrol bersama.


Perempuan itu pun menoleh.


"Ra.... " Amel hendak mengucapkan nama Ravin.


Tapi,


saat Ravin meletakan telunjuknya di bibir, mengode Amel untuk jangan berisik.


Sssttt ...


Bisik Ravin pelan.


Amel masih mendorong kursi roda Rachel agar perempuan itu tak curiga.


"Biar gue yang dorong" bisik Ravin pelan pada Amel.


Amel menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Dan membiarkan Ravin yang mendorong kursi roda Rachel.


"Gue ke kantin dulu" bisik Amel pelan.


Ia akan pergi ke kantin agar bisa membiarkan kedua insan itu berduaan.


Ravin mengangguk sambil menunjukan jari 'OK' pada Amel.


Ravin mendorong kursi roda Rachel untuk mengelilingi taman.


Matanya melihat ke bawah, menatap wajah Rachel yang sedang menatap indahnya taman rumah sakit keluarga nya.


Ia harus berterima kasih pada Om Bayu yang sudah memberikan ide pada Papa nya untuk membuat taman rumah sakit jadi seindah ini.


Karena taman rumah sakit yang indah ini berhasil menimbulkan senyuman cantik dari bibir manis Rachel.


"Mel gue pengen ke kursi sana" ucap Rachel sambil menunjuk kursi dekat sebuah pohon.


Ravin tersenyum saat tahu gadis itu belum sadar juga bahwa bukan Amel lagi yang kini mendorong kursi rodanya.


Ravin menundukan sebagian tubuhnya, ia mensejajarkan wajahnya di samping Rachel.


"Kursi yang mana?" tanya Ravin sambil menoleh, menatap gadis itu dari samping.


"Eh? Suara ini?" gumam Rachel.


Rachel yang mendengar suara barithon Ravin langsung menolehkan kepalanya ke samping secara tiba-tiba.


Matanya membulat sempurna saat wajah nya dengan wajah Ravin kini saling bertatapan dengan wajah Ravin dari jarak yang sangat dekat.


Bahkan hidung mancung keduanya saling bersentuhan.


Ravin yang sama kagetnya pun membulatkan matanya dengan sempurna.


Jarak antara wajah mereka sangat tipis.


Tapi bukannya menarik wajah mereka masing-masing untuk menjauh, keduanya malah terdiam mematung dengan tatapan mata saling mengunci dan debaran jantung yang saling bersahutan.


Seolah-olah waktu berhenti saat ini begitu saja bagi keduanya.


Tanpa mereka berdua sadari kalau mereka kini masih ada di tempat umum yang ramai dengan orang lain.


.


.


.


.


Aku senyum-senyum sendiri nulis part ini.


Menurut kalian gimana? Baper gak hehe 😆


Jangan lupa di Vote ya mentemen, juga Like dan Coment ya.


Dukungan kalian sangat berarti buat aku.

__ADS_1


See you next time episode ❣️


__ADS_2