
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Rachel merasa hampa.
Sudah tiga hari lama nya semenjak ia keluar dari rumah sakit, semenjak itu pula ia tidak bertemu dengan Ravin.
Tidak ada kabar apapun sejak saat terakhir lelaki itu mengantarkan nya ke apartemen Amel.
Bahkan, dua hari ini ia tidak melihat Ravin sama sekali di kampus.
Lelaki itu seolah hilang entah kemana.
Rachel masih duduk di ruang kelasnya, ia menggenggam handphone di tangan nya.
Sedari tadi mata kuliah terakhirnya berakhir, ia berpikir ingin menghubungi Ravin.
Tapi, ketika ia sudah siap menekan tombol telepon pada kontak Ravin, ia mengurungkan niatnya kembali.
Hatinya masih merasa bimbang, apakah ia pantas menghubungi Ravin setelah penolakan yang dirinya lakukan pada lelaki itu?
Ia pun tak yakin.
"Udahlah .. " ucap Rachel.
Ia menyerah saja.
Tak jadi menghubungi Ravin, ia cukup tau diri setelah apa yang ia lakukan.
Meletakan kembali ponsel nya ke dalam tote bag lalu bersiap keluar dari kelas.
Saat dirinya baru keluar dari kelas nya, tanpa sengaja Rachel berpapasan dengan Jojo dan Nara yang sedang lewat.
"Hai Rachel .. " sapa Jojo saat mereka saling berhadapan.
"Iya, hai" balas Rachel.
"Apa kabar? Udah lama ya gak ketemu, Chel" ucap Jojo.
"Gue baik kok" jawab Rachel.
"Mau balik Chel?" tanya Jojo.
"Iya, kelas gue udah abis" jawab Rachel.
Kedua mata menelisik ke daerah sekitar, mencari seseorang yang sedari tadi ia pikirkan.
Tapi bukan menemukan sosok Ravin, mata Rachel malah bertemu dengan tatapan tajam Nara pada nya.
"Ehem .. ehem .. nyariin siapa sih Chel?" tanya Jojo dengan nada meledek.
Rachel mengalihkan pandangan kepada Jojo.
"Eh .. enggak nyariin siapa-siapa" sangkal Rachel.
"Kalo nyariin Ravin, dia gak ada" ucap Jojo.
"Kemana?"
"Dia lagi keluar kota, ada urusan sama Om Ken" jawab Jojo.
Rachel mengangguk-anggukan kepalanya.
"Emang nya dia gak ngehubungin elo?" tanya Jojo.
"Enggak" jawab Rachel sambil mencoba tersenyum.
Mengingat Ravin tak menghubungi nya membuat Rachel miris.
"Oh .. mungkin dia lagi sibuk" ucap Jojo.
Rachel menampilkan senyum terpaksa nya.
"Ayo ah Jo" ucap Nara yang sedari tadi diam.
Wajah Nara sedari tadi terlihat sekali malas berpapasan dengan Rachel.
Apalagi saat Jojo mengajaknya mengobrol.
"Oh iya ayo Nar .. " jawab Jojo.
Jojo memandang Nara dan Rachel secara bergantian.
Dapat Jojo lihat kedua nya terlihat saling menatap tak suka satu sama lain.
"Persaingan sengit nih" batin Jojo.
"Eh Chel kita mau ke cafe deket kampus nih, gimana kalo lo ikut?" tawar Jojo yang berhasil membuat Nara mendelik tajam pada Jojo.
"Enggak usah deh Jo, makasih" jawab Rachel.
Melihat wajah Nara yang tak bersahabat padanya sedari tadi sudah membuat Rachel enggan.
Apalagi ia juga tak terlalu dekat dengan Joshua, apalagi untuk bisa makan bersama.
Melihat wajah Nara yang semakin kesal membuat Jojo semakin gencar mengajak Rachel untuk ikut.
"Ayolah Chel, gue lagi mau teraktir Nara makan siang nih.
Elo ikut aja ayo, sekali-kali gue teraktir juga.
Jangan sama Ravin terus" ucap Joshua.
"Lain kali aja deh Jo" tolak Rachel tak enak.
"Udah sih Jo ngapain juga di paksa kalo orang gak mau" sambar Nara ketus.
__ADS_1
Melihat kesengitan kedua perempuan itu malah semakin membuat jiwa jahil Jojo makin bersemangat.
"Seru nih kalo Ravin liat, mana ya yang bakal Ravin pilih di antara sahabat dan cinta" batin Jojo cekikikan.
Jojo yang memang sengaja mengajak Rachel untuk ikut makan siang bersama nya tak gentar meski perempuan itu sudah menolak.
Karena paksaan terus dari Jojo juga yang membuat Rachel akhirnya mengiyakan dan ikut makan bersama mereka.
Ketidak sukaan makin terlihat jelas di wajah Nara saat mereka jalan beriringan menuju kantin.
********
Di cafe yang tak jauh dari kampus mereka, Rachel, Nara dan Jojo makan siang bersama.
Suasana di meja mereka terlihat sangat hening dan sedikit tegang.
Tak ada obrolan keluar dari bibir kedua perempuan itu selain menjawab apa yang Jojo tanyakan.
Sebenarnya Jojo juga merasa tak nyaman akan situasi ini.
Tapi, ia memang sengaja melakukan ini bukan hanya sekedar untuk mendapatkan reaksi dari Ravin tapi juga agar Nara dan Rachel bisa sedikit dekat karena keduanya memang sangat menjaga jarak satu sama lain.
Jojo yang sudah tahu kalau Ravin menyukai Rachel, ingin membuat Nara bisa menerima Rachel juga di lingkungan mereka.
Apalagi jika Ravin nanti benar-benar menjalin hubungan serius dengan Rachel.
Tidak
mungkin kedua gadis yang penting bagi Ravin itu akan saling berjarak seperti ini.
Karena hal itu akan menyulitkan bagi Ravin kedepan nya.
Dan yang ia lakukan sekarang pun karena permintaan Ravin agar Jojo mendekatkan keduanya.
"Chel elo mau nambah apalagi gak? Pesan aja, enggak usah sungkan" ucap Jojo.
Rachel menggelengkan kepala nya sambil menyeruput sisa jus nya.
"Enggak usah Jo, gue udah kenyang" jawab Rachel.
"Kamu Nar, kenapa makan nya gak di abisin?
Mau pesan yang lain?" tanya Jojo.
Nara sama hal nya menggeleng.
"Enggak Jo, aku udah gak nafsu" jawab Nara.
Matanya melirik ke arah Rachel seolah mengatakan kalau nafsu makannya menghilang karena Rachel.
"Yaudah mau dessert?" tawar Jojo pada Nara.
"Enggak usah Jo" tolak Nara lagi.
"Elo Chel, mau dessert? Biar gue pesanin" tawar Jojo pada Rachel.
"Jangan Jo, udah cukup kok" jawab Rachel.
Tapi, karena ia menghargai Joshua yang baik ia mencoba bersikap baik juga.
Ia juga malas mencari masalah dengan gadis itu.
Jojo yang sudah menyelesaikan makan nya merasakan tak nyaman pada perutnya.
Ia pun berpamitan pada Rachel dan Nara untuk ke toilet.
Dan meninggalkan kedua perempuan itu berduaan.
********
Beberapa menit setelah Jojo pergi ke toilet hanya keheningan yang ada di antara Rachel dan Nara.
Rachel mencoba mengalihkan perhatiannya pada hp nya, meski ia terganggu pada pandangan Nara yang terus menatapnya.
"Ada yang mau di bicarain?" tanya Rachel karena merasa tak suka Nara terus menatap pada dirinya.
Nara bersidekap, meletakan lipatan tangannya di atas meja.
"Aku liat kamu makin dekat sama Ravin" ucap Nara.
Nada suara nya masih terdengar tenang.
"Kalau iya memang kenapa?" tanya Rachel.
"Enggak apa-apa sih, tapi kata Mama Rara kamu juga udah beberapa kali main ke rumah mereka"
Nada suara Nara kali ini sudah terdengar jelas ketidaksukaan.
"Cuma beberapa kali" jawab Rachel.
"Tapi apa itu ada urusan nya sama elo kalo gue pernah main ke rumah Ravin?" tanya nya.
"Jelas ada" jawab Nara terlihat mulai kesal.
Sejak ia mendengar dari Raisa kalau Rachel beberapa kali pernah berkunjung ke rumah Ravin, perasaan gadis jadi kesal dan semakin tak suka pada Rachel.
Selama ini tak ada satu gadis pun selain dirinya yang dekat dan kenal dengan semua keluarga Ravin selama belasan tahun.
"Apa?" balas tanya Rachel.
"Aku itu bersahabat dari kecil sama Ravin.
Dan aku itu perempuan pertama dan satu-satu nya yang selalu Ravin bawa ke rumahnya.
Selama aku kenal Ravin, dia gak pernah bawa satu pun perempuan ke rumahnya meski itu mantan-mantan pacar nya" ucap Nara.
Rachel mengerenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Rachel.
"Aku enggak tau apa maksud dan tujuan kamu ngedekatin Ravin.
Apa kamu punya tujuan buruk dengan ngedekatin Ravin dan keluarganya?
Apa kamu mau mempermainkan Ravin seperti kebanyakan laki-laki yang selama ini kamu pacarin?" ucap Nara.
Rachel mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, ia meremas tote bag miliknya untuk mencoba menahan marah atas ucapan sembarangan Nara.
"Atas dasar apa lo berhak menilai sikap gue sama Ravin?"
"Tentu aku berhak sebagai sahabat Ravin, atas dasar image kamu selama ini aja udah cukup untuk aku menilai sikap kamu.
Aku berhak melindungi Ravin dari perempuan seperti kamu"
Rachel benar-benar geram, sebisanya ia menahan amarahnya.
Tak pernah Rachel bayangkan bahwa perempuan di hadapannya yang terkenal dengan kelembutan nya itu bisa berbicara buruk seperti ini.
"Sahabat? Image? Melindungi?" ucap Rachel tersenyum sinis.
"Ternyata perempuan pintar dan bermartabat kaya lo juga bisa berpikiran picik juga ya" ucap Rachel sinis.
"Apa kamu bilang?"
"Elo berpikiran picik! Apa gue salah?"
"Jaga ya ucapan kamu ya Rachel" ucap Nara marah.
"Bukannya gue yang harusnya bilang gitu?" ucap Rachel membuat dahi Nara berkerut dalam.
"Tanpa kenal dan tau apa-apa elo menilai gue punya niat buruk sama Ravin.
Elo mencap gue punya niat buruk dan memanfaatkan Ravin dan keluarganya.
Bukannya,
harusnya gue yang marah atas ucapan elo itu?" ucap Rachel geram.
"Aku berkata bergitu kare.."
"Karena ucapan orang-orang yang elo dengar di luar sana?" potong Rachel membuat Nara bungkam.
Rachel mencondongkan tubuhnya ke depan meja Nara.
"Kanara, gue gak tau semua tuduhan buruk lo buat gue ini memang berdasar murni karena rasa khawatir lo sebagai sahabat
atau
karena rasa cemburu sebagai perempuan.
Yang jelas apapun itu elo gak berhak menilai apapun tentang gue" ucap Rachel penuh penekanan membuat Nara tak mampu menjawab.
Apa ia bersikap picik karena cemburu?
Dan mengatas namakanya dengan persahabatan?
Batin Nara terus bergelut karena ucapan terakhir Rachel.
Rachel beranjak bangkit dari duduknya usai mengatakan itu semua.
Ia mengeluarkan uang dari dompet nya lalu meletakannya di atas meja untuk membayar makanannya.
Dirinya tak akan bisa menahan lagi emosi jika harus tetap berada di sana.
Tapi,
saat Rachel hendak pergi ia bertepatan dengan Jojo yang baru datang.
"Loh Chel elo mau kemana?" tanya Jojo.
"Gue harus balik duluan Jo. Sorry"
"Oh oke, tapi ini kok elo bayar pake kasih uang segala?
Kan gue udah bilang mau teraktir"
"Enggak apa-apa.
Maksih sebelumnya, tapi biar gue bayar sendiri.
Gue gak bisa nerima kebaikan orang lain lagi dan di cap memanfaatkan orang lain" ucap Rachel sarkas.
Jojo mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rachel.
"Maksud lo apa?"
"Enggak apa-apa.
Gue pergi dulu Jo" ucap Rachel
Tak menjawab kebingungan Jojo, Rachel benar-benar pergi dari sana.
Jojo menatap bingung pada Rachel, lalu beralih menatap aneh pada Nara yang bungkam saja.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi tadi" batin Jojo.
Jojo menyesal meninggalkan kedua perempuan itu berduaan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like dan Coment.
See you next episode ❣️