
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Ravin menarik tangan Rachel, membawa nya hingga ke taman belakang kampus.
Taman hijau yang di penuhi rumput yang mulai meninggi itu tampak sangat sepi.
Karena waktu mungkin sudah semakin sore, di tambah di sana memang jarang di datangi para mahasiswa karena ada di belakang gedung.
"Ravin lepas .. "
Rachel menarik pergelangan tangan nya saat Ravin menghentikan langkahnya.
Ia menggusap-usap pergelangan tangannya yang terasa sakit, karena Ravin memegangnya dengan sangat erat.
Seakan-akan takut Rachel kabur.
"Apa-apaan sih elo" ucap Rachel kesal
Tanpa sadar Ravin menariknya terlalu kasar dan membuat pergelangan tangan putih Rachel tampak memerah.
"Maaf Chel .. " ucap Ravin merasa bersalah.
"Elo mau ngomong apa, cepetan gue enggak ada waktu" ucap Rachel.
"Elo kemana aja kemarin? Seharian gue cariin elo" ucap Ravin.
"Elo ajak gue ke sini cuma buat ngomongin ini?" tanya Rachel.
Nada bicara nya terdengar dingin dan tatapannya kembali datar.
Ravin mengerenyit.
Sudah lama sekali Ravin tak pernah melihat Rachel bersikap dingin seperti ini.
Kenapa tiba-tiba gadis nya itu berubah?
"Elo masih marah sama gue soal kemarin?"
"Enggak, buat apa gue marah sama lo.
Udahlah gue enggak ada urusan sama lo lagi"
"Ada apa sama lo sih Chel? Kok elo tiba-tiba berubah kaya gini lagi?" tanya Ravin heran.
"Dari dulu juga gue begini, enggak ada yang berubah" jawab Rachel.
Ravin menggelengkan kepala.
"Enggak, elo berubah. Jujur, ada apa sebenarnya?" desak Ravin.
Pertemuan di lorong kampus tadi Ravin sudah merasa aneh dengan ekspresi dingin Rachel yang di tunjukan kembali gadis itu setelah sekian lama.
"Elo enggak usah sok tau, Rav.
Elo enggak tau apapun soal gue, jadi mending elo urus aja diri lo sendiri" ucap Rachel dingin.
Gadis itu berbalik hendak pergi meninggalkan Ravin, tapi tangan Ravin dengan cepat menahannya.
"Rachel .. " cegah Ravin.
"Lepasin .. "
Rachel berusaha menarik tangannya dari Ravin.
"Enggak akan, gue gak akan lepasin elo sebelum elo bilang dulu ada apa sama lo"
"Kenapa elo jadi bersikap dingin begini lagi?"
"Lepasin gue, mending elo enggak usah peduliin gue lagi"
Rachel terus berontak dari pertahanan Ravin.
"Lepas!"
"CHEL !!" bentak Ravin yang berhasil membuat Rachel diam.
"Kenapa elo begini sih?"
"Elo enggak perlu tau kenapa gue begini, elo enggak akan ngerti"
"Gimana gue bisa ngerti sedangkan elo sendiri gak mau bilang" debat Ravin.
"Meski gue bilang dan elo bisa ngerti sekalipun, tapi elo enggak akan bisa paham rasanya.
Gimana rasanya jadi gue" ucap Rachel marah.
"Maksud lo apa?" tanya Ravin tak paham.
Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Rachel yang ia tak tahu.
"Elo semua cuma bisa memandang orang lain dari luar, menilai cuma dari apa yang kalian liat dan kalian dengar.
Kalian cuma mau mengerti dunia sekeliling kalian,
tapi dengan seenaknya kalian semua nilai orang lain yang dunianya bahkan enggak kalian pahami" ucap Rachel dengan nada tinggi.
Seakan-akan Rachel meluapkan semua amarah dan rasa sakit yang ia sembunyikan.
"Mending elo pergi aja dari hidup gue, anggap kita enggak pernah kenal" ucap Rachel.
Rachel menutup kedua matanya yang mulai berair dengan satu tangan.
__ADS_1
"Enggak Chel .. " Ravin menggeleng, tangannya masih menahan lengan Rachel.
"Gue enggak mau di anggap manfaatin elo dan punya tujuan buruk sama elo.
Elo dan keluarga lo udah terlalu baik sama gue" ucap Rachel.
Meski ia menutup kedua matanya dengan telapak tangan nya, tapi cairan bening itu tetap menetes ke bawah.
Membasahi pipi mulusnya.
Ravin melepaskan lengan Rachel yang ia tahan.
Lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Dan untung nya gadis itu tak berontak.
"Gue enggak peduli sama semua itu.
Apapun anggapan orang di luar sana tentang elo, gue lebih tau elo dari siapapun" ucap Ravin.
Ravin mengusap lembut punggung Rachel, pundak gadis itu bergetar.
Ia menangis tanpa suara.
"Gue sayang sama lo, Chel" bisik Ravin.
Ravin semakin mengeratkan pelukannya saat Rachel melingkarkan kedua tangannya di punggung Ravin.
"Gue juga sayang sama lo, Rav" jawab Rachel pelan.
Rachel menumpahkan air matanya di atas dada Ravin.
********
"Udah tenang?" tanya Ravin.
Kini mereka sudah ada di dalam mobil milik Ravin di parkiran kampus.
Rachel mengangguk, hendak botol air mineral yang baru saja ia minum.
Dengan cekatan tangan Ravin merebut botol dan tutup nya dari tangan Rachel.
"Makasih" ucap Rachel.
Ravin tersenyum, sambil mengusap lembut kepala Rachel.
"Elo masih enggak mau cerita sama gue ada apa yang sebenernya?" tanya Ravin kesekian kalinya.
Rachel diam, masih bungkam.
Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia terluka karena ucapan Nara tempo lalu.
Ia tidak ingin di cap sebagai pengadu atau di cap mengadu domba.
Ia tak berhak menerima lagi berbagai tuduhan buruk.
Karena mereka tidak pernah tahu, sesulit apa kehidupan Rachel dulu sehingga ia harus berjuang menjadi perempuan dingin demi melindungi hatinya sendiri.
Kebungkaman Rachel membuat Ravin mengerti kalau gadis itu tidak ingin menceritakan itu pada Ravin.
Dirinya tidak akan memaksa.
"Yaudah kalo elo gak mau cerita enggak apa-apa" ucap Ravin.
Rachel menundukan wajahnya, merasa bersalah karena melampiaskan kemarahannya pada Ravin yang tak tau apa-apa.
"Maaf Rav, gue udah lampiasin amarah gue sama elo" ucap Rachel.
Pandangannya Rachel tujukan ke bawah.
"Enggak apa-apa yang penting elo udah merasa baikan" lanjut Ravin.
Hening ..
Tak ada obrolan apapun lagi di antara mereka.
Hanya suara cuitan burung-burung yang hendak kembali ke sangkarnya.
Waktu pun semakin petang, senja mulai terlihat semakin tenggelam.
"Chel .. " panggil Ravin, ia menatap ke samping.
Menatap gadis cantik pujaanya.
"Ya?" jawab Rachel, wajahnya mulai mendongkak.
Pandangan mereka saling bertemu.
"Emm.. soal yang gue denger tadi di taman waktu elo nangis.. " ucap Ravin ragu-ragu.
"Elo bilang, elo juga sayang sama gue.
Gue enggak salah denger kan?" tanya Ravin.
Rachel terlihat gugup, pandangannya ia tujukan ke bawah sambil memilin jari-jari tangannya.
Dirinya masih bungkam, membuat jantung Ravin berdetak tak karuan menunggu jawabannya.
"Rav .. " panggil Rachel masih menunduk.
"Iya ..?" jawab Ravin.
Ia masih menunggu apa yang akan di katakan oleh Rachel selanjutnya.
__ADS_1
"Apa elo benar-benar percaya kalo gue ini enggak punya tujuan lain sama lo?" tanya Rachel.
Ravin meraih kedua pipi Rachel dengan tangannya, mengalihkan pandangan Rachel agar tertuju padanya.
"Udah puluhan kali gue bilang, gue percaya sama lo" jawab Ravin serius.
Tatapan matanya pada Rachel memancarkan kejujuran dan rasa percaya.
"Gue enggak tau omongan apa yang elo denger di luaran sana.
Tapi gue enggak perlu peduli sama semua itu, dan gue harap elo juga begitu" sambung Ravin.
Rachel diam, membalas tatapan dalam kedua mata Ravin.
Mereka saling menatap dalam satu sama lain, seolah dapat melihat isi hati masing-masing dari tatapan itu.
"Gue sayang sama lo, Chel.
Dan kalau elo punya perasaan yang sama, gue harap elo enggak menutupi itu semua" ucap Ravin sungguh-sungguh.
Selama hidupnya Rachel selalu memasang tembok penghalang di hatinya.
Ia tidak membiarkan ada satu orang pun yang bisa menerobos tembok penghalang itu,
tapi
kini Ravin telah berhasil menerobos dan masuk ke dalam hati nya.
Bolehkan ia merasa lengah karena lelaki itu adalah Ravin?
"Gue .. Gue.. " ucap Rachel terbata-bata.
Ravin masih menunggu dengan serius.
Kedua tangannya belum turun dari pipi Rachel, menahan wajah Rachel agar tak berpaling darinya.
Ravin ingin melihat kejujuran dari kedua bola mata coklat jernih itu.
"Rav gue .. "
"Iya?" Ravin mendadak gugup.
"Emm .. gue ..
Gue juga sayang sama lo" ucap Rachel pelan, merasa malu sekaligus berdebar.
Pandangannya menatap ke bawah.
"Yess .. Akhirnya !!" seru Ravin dalam hati.
Jawaban dari Rachel berhasil menimbulkan senyuman lebar dari bibir Ravin.
"Apa? Bilang sekali lagi, gue enggak dengar" ucap Ravin.
Ia ingin menggoda gadisnya.
"Gue juga sayang sama lo" ulang Rachel, nada suaranya sedikit meningkat.
"Apa? Apa? Enggek kedengaran" goda Ravin.
"Gue sayang sama lo" ucap Rachel semakin keras sambil mendongkakan pandangannya.
Ravin tersenyum lebar, saat kedua mata coklat itu akhirnya menatapnya.
Wajah Rachel di buat memerah dan menghangat.
Desiran di hatinya terasa nyata, saat Ravin menatap nya dengan penuh cinta.
Senyuman lelaki itu bahkan tak pudar dan semakin melengkung.
Ia menarik Rachel ke dalam pelukannya.
Menciumi puncak kepala gadis yang kini benar-benar resmi menjadi miliknya.
Gadisnya ..
"Gue lebih sayang lagi sama lo" ucap Ravin.
Dagu nya menopang pada puncak kepala Rachel.
Dan
Rachel tersenyum di balik dada Ravin.
Tangannya mulai terulur untuk membalas pelukan Ravin yang terasa erat.
Hati keduanya terasa berbunga, seakan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik di dalam dada nya.
.
.
.
.
Selamat malam Minggu semuanya.
Jangan lupa mampir juga di novel
'Suami Pengganti' ya ..
Coment, Like dan Vote nya di tunggu.
__ADS_1
See you next episode ❣️