
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah kejadian di rumah Ravin tempo hari lalu, Nara tak pernah muncul di hadapan Ravin maupun Rachel selama beberapa hari ini.
Gadis itu tak pernah terlihat datang ke kampus.
Ravin pun tak tau dan tak mencari tahu keadaan Nara setelah hampir seminggu ini Nara menghilang.
Bukan karena ia tak peduli pada Nara, Ravin hanya ingin memberi waktu pada Nara untuk bisa sendiri dulu. Karena Ravin tahu, Nara pasti terluka oleh sikap dan kata-kata terakhir kali mereka bertemu.
Tapi meski begitu Ravin tak menyesal telah mengatakan yang sebenarnya. Soal hubungannya dengan Rachel maupun soal kekecewaan Ravin selama ini.
Karena dengan hal itu Nara bisa merenungkan kesalahannya selama ini.
Biar itu menjadi pembelajaran bagi dia dan juga Nara untuk tidak menyia-nyiakan perasaan tulus seseorang.
Karena hati pun bisa berubah sewaktu-waktu.
"Woy .. Rav!!"
Ravin tersentak saat seseorang tiba-tiba saja datang dan merangkulnya dari belakang.
"Si*lan, bikin kaget aja lo Jo" ucap Ravin pada orang yang merangkulnya itu ternyata Jojo.
Mereka kini sedang berada di salah satu kantin kampus, usai jam kuliah masing-masing.
"Ngapain sih lo, serius amat liatin hp" ucap Joshua sembari mengintip pada layar ponsel Ravin.
Terlihat Ravin sedang membalas pesan chat dengan kekasihnya Rachel.
"Yaelah satu kampus masih chatan aja" ucap Jojo pada Ravin.
Ravin mengerdikan kedua bahu nya sembari meletakan ponsel nya setelah membalas pesan dari sang kekasih.
"Udah enggak usah komentar, jomblo kaya lo mana ngerti" balas Ravin yang membuat Jojo memberengut kesal.
"Rese lo" gerutu Jojo yang tak di gubris oleh Ravin.
Ravin kembali melanjutkan makan nya begitu pula Jojo yang ikut memesan makanan.
Mereka kini menikmati makan siang berdua.
"Oh iya Rav, tahu kabar Nara gak?
Udah beberapa hari ini gue gak liat dia di kampus" tanya Jojo pada Ravin di sela makan mereka.
Ravin menggeleng sambil mengunyah makanannya.
"Gue gak tahu" jawab Ravin.
"Gue khawatir deh Rav sama dia, udah berhari-hari gue coba hubungin dia gak di angkat terus.
Gue chat juga dia gak baca, enggak biasanya dia begitu" ucap Jojo khawatir.
"Dia pasti baik-baik aja kok, mungkin lagi butuh waktu sendiri" jawab Ravin.
Meski terlihat tenang tapi Ravin juga sebenarnya cukup khawatir pada Nara.
Terakhir mereka bertemu saat Ravin mengantar nya pulang ke rumah minggu lalu.
Dan keadaan keduanya cukup tegang saat itu.
"Kok elo tumben santai banget sih? Biasanya elo khawatir banget sama dia.
Elo pasti tahu kan Nara kenapa?" tanya Jojo.
Bukan tanpa alasan Jojo bertanya begitu, semua karena Jojo sudah hafal dan paham dengan sifat kedua sahabatnya itu.
Ravin tak menjawab pertanyaan dari Jojo, dirinya malah sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya membuat Jojo semakin curiga.
"Oyy .. jawablah" ucap Jojo pada Ravin.
"Apaan" timpal Ravin.
"Ada apa sama Nara? Elo pasti tahu kan" desak Joshua.
Menggeser piring nya yang sudah kosong lantas Ravin menegak es jeruk miliknya hingga habis juga.
Lalu Ravin menoleh pada Jojo yang masih menunggu jawaban dari nya.
Menghela nafas pelan lalu Ravin menjawab pertanyaan dari Jojo.
"Nara udah tahu soal hubungan gue sama Rachel" jujur Ravin pada Jojo.
Jojo sudah tahu lebih awal sudah merasa bahwa ini pasti akan terjadi.
"Terus?" tanya Jojo lagi, karena ia tahu Ravin belum menceritakan semuanya.
"Kaya yang elo tebak, Nara ternyata emang menganggap gue sebagai laki-laki" jawab Ravin terjeda sesaat.
Jojo masih setia menunggu ucapan Ravin selanjutnya.
__ADS_1
"Dan reaksi dia saat tahu benar-benar berlebihan. Dia enggak terima hubungan gue sama Rachel dan yang lebih parah dia menjelekan bahkan mengeluarkan kata-kata buruk tentang Rachel" sambung Ravin.
"Dan elo marah sama Nara soal itu?" tebak Jojo.
Ravin mengangguk, juga menjawab.
"Selain itu ada hal yang lebih bikin gue merasa marah sama Nara" jawab Ravin.
"Apa yang bikin lo lebih merasa marah sama dia?" tanya Jojo.
Ravin terdiam sesaat, sebelum bercerita pada Jojo.
"Ternyata selama ini Nara yang permainin perasaan gue"
Jawaban Ravin membuat Jojo mengerenyit kan dahinya.
"Maksud lo, Rav?" tanyanya tak paham.
Ravin menghela nafasnya sejenak dan kemudian Ravin menceritakan semuanya pada Jojo.
Apa yang terjadi pada dirinya dan Nara.
*********
Kata orang, penyesalan memang selalu datang terlambat.
Mungkin itu juga yang saat ini Nara rasakan.
Menyesal semenyesal-menyesalnya.
Menyesal akan hatinya, menyesal akan sikapnya, dan menyesal akan kebodohannya.
Semua rasa sedih, kecewa dan sesalnya bercampur jadi satu.
Bayangan masa lalu seolah terus berputar di kepalanya.
Seolah terus meminta waktu untuk mundur kebelakang. Waktu di mana dirinya dan Ravin bersama dulu.
Dimana mereka masih memiliki perasaan yang sama.
Andai semua bisa terulang kembali dan Nara tak menyia-nyiakan perasaan tulus Ravin hanya karena ketakutan sesaat nya, apakah Ravin akan tetap bersama nya hingga kini?
Itulah yang terus ada di pikiran Nara selama berhari-hari ini.
Merenung dan menyalahkan dirinya hanya itu yang dapat Nara lakukan.
Tok ..
Tok ..
Tok ..
Suara Bi Inah terdengar dari luar sana.
"Non .. Non Nara .. " panggil Bi Inah yang tak mendapat jawaban apapun dari Nara.
"Non .. Bibi udah siapin makan siang nya.
Ayo buka pintu nya Non" ucap Bi Inah lagi.
Nara bergeming, enggan untuk menjawab maupun bergerak sedikitpun.
Sudah berhari-hari Nara mengurung diri di dalam kamar. Nara jarang makan dan hanya keluar dari kamar seperlu nya saja.
Tok ..
Tok ..
Tok ..
"Non, Bibi udah masakin makan kesukaan Non Nara.
Ayo Non di buka pintu nya, makan sedikit aja Non. Kalau begini terus Non bisa sakit nanti" ucap Bi Inah lagi dari balik pintu.
Perempuan paruh baya yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah keluarga Nara itu merasa khawatir.
Apalagi kalau Bi Inah mengingat daya tahan tubuh Nara yang mudah sakit, pasti keadaan akan semakin buruk jika Nara terus mengurung diri di kamar seperti ini.
"Non Nara .. " panggil Bi Inah lagi.
Saat Bi Inah masih berusaha membujuk Nara tiba-tiba saja Hendra Papi Nara datang menghampiri.
"Dia masih enggak mau buka pintu nya, Bi?" ta nya Hendra pada Bi Inah.
Bi Inah menggeleng sambil masih memegang nampan berisi makan siang untuk Nara.
"Udah Bibi bujuk Tuan, tapi Non Nara masih gak mau keluar" jawab Bi Inah.
Hendra mengangguk paham. Lalu meminta nampan berisi makanan itu dari tangan Bi Inah.
"Sini, biar saya yang coba" pinta Hendra.
Bi Inah mengangguk, lalu memberikan nampan itu ke tangan Hendra.
__ADS_1
"Kalau begitu Bibi pamit ke belakang lagi, Tuan" izin Bi Inah yang di iyakan oleh Hendra.
Selepas kepergian Bi Inah, Hendra mencoba mengetuk pintu kamar putri semata wayangnya itu.
"Nara .. Sayang ini Papi. Buka pintu nya, nak" ucap Hendra.
Mencoba mengetuk berkali-kali, tapi Hendra masih tak mendapat jawaban apapun dari Nara.
"Nara ayo di buka pintu nya, Sayang.
Jangan begini terus, kalau ada masalah coba cerita ke Papi" ucap Hendra.
Nara masih diam saja.
"Nara, jangan buat Papi khawatir gini dong.
Kamu mau Papi sakit lagi karna khawatir sama kamu?" tanya Hendra.
Masih tak ada jawaban hingga tak berapa lama kemudian suara kunci di buka terdengar dari pintu kamar Nara.
Nara membuka setengah pintu kamarnya, untuk melihat sang Papi.
Hendra tersenyum tulus pada anak gadisnya itu.
"Boleh Papi masuk?" tanya Hendra yang di jawab anggukan oleh Nara.
Hendra masuk lebih dulu yang di ikuti Nara dari belakang. Hendra meletakan nampan makanan di atas nakas lalu duduk di atas ranjang di mana Nara sudah naik lagi ke sana.
Duduk saling berhadap-hadapan Hendra dapat melihat mata sembab dan wajah pucat putri nya itu.
"Badan kamu demam" ucap Hendra saat menyentuh kening Nara.
"Nara enggak apa-apa, Pi" Nara menurunkan telapak tangan Hendra dari keningnya.
"Kamu sakit, ayo cepat makan ini. Papi mau telepon dokter buat kamu" ucap Hendra memindahkan nampan ke atas kasur.
"Nara enggak apa-apa kok Pi, jangan panggil dokter segala"
"Enggak apa-apa gimana. Wajah kamu pucat dan badan kamu juga demam"
"Nara cuma enggak enak badan aja, Papi"
"Jangan bohong sama Papi, kamu enggak mau makan dan keluar kamar selama berhari-hari. Pasti ada sesuatu kan, sebenarnya ada apa Nara?"
"Enggak ada apa-apa, Pi" jawab Nara dan Hendra tahu itu bohong.
"Jangan menyiksa diri kamu seperti ini Nara, jika ada masalah cerita sama Papi.
Jangan seperti ini Papi khawatir, Papi bisa sakit kalau kamu begini terus"
"Maafin Nara Papi" ucap Nara lirih.
Mata gadis itu tampak berkaca-kaca.
Nara hanya kalut, tapi dirinya malah membuat Papi nya ikut khawatir.
"Cerita sama Papi ada apa?" tanya Hendra.
Air mata yang Nara coba tahan nyatanya mengalir begitu saja.
"Nara yang salah Pi, ini semua salah Nara Pi" ucapnya.
"Salah apa? Kamu salah sama siapa sayang?" tanya Hendra.
Lelaki paruh baya itu mengusap air mata dari wajah anak gadisnya.
"Nara yang salah, Nara udah nyakitin Ravin Pi" ucap Nara semakin menangis.
"Nara .. Nara takut .. Nara takut Ravin benci Nara.
Nara enggak mau Ravin benci Nara Pi" ucap Nara tersedu-sedu.
Melihat Nara menangis membuat Hendra ikut merasa sedih.
Merangkul putri kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa, Hendra membawa Nara kedalam pelukannya.
Hendra membiarkan putri nya itu menangis hingga puas sambil terus menenangkannya.
Kini Hendra paham, bukan tubuh Nara yang sakit saat ini.
Tetapi hatinya lah yang sedang terluka.
•
•
•
•
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
See you next episode ❣️
__ADS_1