Angan Cinta

Angan Cinta
Masih Trauma


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Nara masih menundukkan pandangannya dari Ravin yang kini duduk di sofa di sampingnya.


Sudah lima menit berlalu setelah Ravin berhasil menenangkan Nara dari tangisannya.


Keduanya kini di landa keheningan, hanya suara detik jam di dinding kamar Nara yang menjadi satu-satunya suara antara mereka.


"Nar .. " ucap Ravin memecah keheningan di antara mereka.


"Iya .. " jawab Nara masih menundukkan wajahnya.


"Gimana keadaan kamu? Om bilang kamu lagi sakit?" tanya Ravin


Nara menggelengkan kepalanya sambil masih menunduk.


"Enggak apa-apa kok, cuma enggak enak badan aja" jawab Nara.


Ravin menjulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Nara, dan itu berhasil membuat Nara mendongkak dan menoleh pada Ravin.


"Masih panas" ucap Ravin.


Padahal Ravin sudah tahu tubuh Nara memang demam tinggi, itu terasa saat Nara memeluk tubuhnya tadi.


"Cuma demam biasa, Rav" ucap Nara.


Nara mengalihkan pandangannya ke lain arah saat matanya bertemu dengan Ravin yang melihat padanya.


"Kamu demam tinggi. Om bilang kamu enggak mau di periksa dokter atau di bawa ke rumah sakit. Kenapa?" tanya Ravin.


"Aku cuma enggak enak badan aja, Rav. Enggak perlu di periksa dokter" jawab Nara.


Ravin menghela nafas, terlihat ada rasa jengkel dengan sikap Nara.


"Kenapa kamu begini sih, Nar?"


"Maksud kamu?" tanya balik Nara.


"Kata Om udah seminggu kamu enggak mau keluar rumah, kamu terus-terusan ngurung diri di kamar.


Enggak mau makan, enggak mau aktivitas kaya biasanya"


"Aku cuma lagi pengen menyendiri Rav"


"Kamu sadar enggak sih Nar, sikap kamu yang seperti ini bikin Papi kamu kepikiran" ucap Ravin.


"Oh .. jadi kamu datang ke sini karena mikirin Papi bukan aku.


Apa Papi yang minta kamu datang ke sini?" tanya Nara.


"Aku datang ke sini karena peduli sama kamu dan juga Om Hendra" ucap Ravin.


"Berarti benar kamu terpaksa ke sini karena Papi yang minta kamu datang" ucap Nara kecewa.


"Aku enggak terpaksa dan aku datang karna memang peduli sama kamu" sangkal Ravin.


Nara mengalihkan wajahnya membelakangi Ravin saat air matanya kembali menetes tanpa di minta.


"Kamu enggak perlu bohong Rav. Aku tahu kamu memang udah enggak peduli lagi sama aku karna sekarang kamu udah punya Rachel" ucap Nara.


Ravin menggeleng samar sambil menghela nafas.


Tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Nara, mau sampai kapan kamu terus bersikap kekanak-kanakan begini?" ucap Ravin menohok.


"Jadi kamu berpikir aku kekanak-kanakan?" ucap Nara menoleh.


Sudut hatinya terluka mendengar ucapan Ravin yang seperti itu.


"Itu bukan pikiran aku semata, tapi kenyataan nya. Melihat kamu yang bersikap begini apa namanya kalau bukan kekanak-kanakan?"


"Terus kalo aku kekanakan, memang apa peduli kamu" sungut Nara.


"Jelas aku peduli, itu sebabnya aku datang ke sini.


Kamu itu sahabat aku Nar, apapun yang udah terjadi di antara kita gak akan merubah hubungan persahabatan yang udah kita jalin selama ini"


"Aku enggak mau kamu kaya gini Nar" ucap Ravin.


"Harusnya kamu benci aja Rav, benci aku. Bukan malah baik begini" ucap Nara sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa aku harus benci kamu?" tanya Ravin tak mengerti.


"Karena mengetahui kamu enggak membenci aku dan masih peduli sama aku malah membuat hati aku semakin sakit, karna kenyataan nya kita hanya sebatas sahabat" batin Nara.


Ravin menarik kedua tangan Nara lepas dari wajahnya, membuat Nara mendongkak dengan wajah yang berlinang air mata.


Ravin menatap dalam kedua mata Nara.


"Aku memang kecewa sama kamu, tapi bukan berarti aku membenci kamu, Nar.


Yang kamu lakuin memang kesalahan, tapi aku enggak sepicik itu buat membenci kamu hanya karna kesalahan itu.


Bagaimana pun juga kamu termasuk orang yang berarti buat aku" ucap Ravin tulus.


"Dan aku pun berharap kamu menganggap diri kamu sendiri berarti. Jangan seperti ini.


Banyak orang yang sayang sama kamu, terlebih Om Hendra.


Apa kamu mau liat dia collapse lagi karna dia kepikiran kamu?"


Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Enggak Rav" jawab Nara sesegukan.


"Maka itu, tolong jangan egois dan kekanakan.


Jangan hanya memikirkan hati kamu sendiri, tapi pikirkan juga hal-hal di sekitar kamu" ucap Ravin sambil mengusap air mata Nara.


Nara mengangguk pelan sambil ikut mengusap kedua matanya yang masih berair.


"Maaf, Rav" ucap nya pelan.


"Jangan meminta maaf. Lebih baik kamu perbaiki lagi diri kamu.


Jangan begini, mengurung diri dan menyiksa diri kamu sendiri enggak akan merubah apapun dan hargai perasaan orang lain"


Ya tidak akan merubah apapun termasuk hati Ravin, karna nama Rachel lah yang kini ada di dalam sana.


Tapi,


apakah Ravin sudah menghargai Rachel?


Bahkan dia berbohong pada kekasihnya itu untuk satu hal ini.


*********


Rachel yang pulang kuliah sendiri memutuskan untuk langsung pergi ke apartemen.


Tapi sebelum datang ke sana, Rachel memutuskan untuk mampir ke supermarket lebih dulu.


Ia ingin membeli beberapa makanan ringan dan bahan-bahan untuk memasak makan malam. Karena Rachel dan Ravin memutuskan makan malam bersama nanti, Rachel berpikir untuk memasak dan makan malam di apartemen saja.


Sekalian juga ia mengusir bosan, karna harus menunggu Ravin datang.


Sudah sekitar dua puluh menit mengelilingi toko swalayan dengan troli yang ia dorong.


Sudah setengah troli terisi dengan barang-barang yang Rachel perlukan.


Kemudian Rachel mendorong troli nya menuju chiller daging.


Entah karena di bagian deretan chiller daging ini terlihat cukup sepi, Rachel kembali merasakan seperti ada orang yang memperhatikan nya.


Mencoba menengok ke kanan dan kiri, Rachel tak mendapati ada orang yang mencurigakan.


"Aneh .. enggak ada orang yang mencurigakan. Tapi kenapa gue ngerasa terus di awasi ya" batin Rachel.


Merasa semakin tak nyaman, dengan buru-buru Rachel mengambil daging yang ia perlukan dan berlalu pergi dari sana.


Karena terlalu terburu-buru Rachel tak menyadari kalau dirinya salah tujuan. Yang tadinya Rachel hendak membayar menuju kasir tapi dirinya malah masuk lagi ke lorong bagian kebutuhan rumah tangga.


Perasaan Rachel tiba-tiba menjadi tidak tenang.


Ketika Rachel terus mendorong troli nya, tiba-tiba saja ada seorang pria berpakaian serba hitam yang sedang berdiri di ujung lorong sambil mendekat kearah Rachel.


Rachel seketika merasa panik dan takut, sekelebat rasa trauma nya atas kejadian Randy dulu terbayang.


Rasa takut dan panik membuat otak Rachel terasa buntu.


Bruuk!


"Hei jalan yang benar dong"


Rachel yang tak sengaja menabrak seseorang di belakangnya, membuat langkah lelaki serba hitam itu terhenti dan langsung pergi begitu mengetahui ada orang lain di sana.


Mengetahui orang itu menghilang, membuat kaki Rachel terasa lemas. Seketika tubuh gadis itu jatuh terduduk di lantai.


"Ehh .. ehh " Melihat Rachel yang ambruk ke bawah membuat orang yang di tabrak nya tadi kaget.


Orang tersebut berjongkok di depan Rachel untuk melihat kondisinya.


"Elo gak apa-apa?" tanyanya.


Rachel yang masih menunduk dengan menopang kedua tangannya di lantai hanya mampu menganggukan kepala.


Rasa sesak dan lemas menyerang dirinya.


Untung saja ada orang lain yang ia tabrak di belakang nya tadi, kalau tidak entahlah orang serba hitam itu akan melakukan apa padanya.


Meski di sini banyak cctv, Rachel tetap merasa ketakutan.


Mungkin ini efek trauma yang masih ada padanya akibat kejadian dulu.


"Rachel .. ini kamu kan, Rachel?"


Mendongkak perlahan, Rachel melihat pada orang yang tak sengaja menyelamatkan nya itu.


Dan sedikit kaget saat mendapati orang itu orang yang ia kenal.


"Edward .. "


"Rachel, tuh benarkan ini kamu" ucap Edward sama kagetnya.


"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.


Rachel menggelengkan kepalanya.


"Gue enggak apa-apa" jawab Rachel dengan nafas nya mulai teratur.


Lalu ia menoleh sesaat untuk memastikan orang tadi sudah benar-benar tidak ada.


Dan ia kembali bernafas lega.


"Benaran gak apa-apa?" tanya Edward masih khawatir.


Rachel mengangguk lagi, kemudian berusaha bangun.


"Ayo gue bantu" ucap Edward sambil memegangi kedua tangan Rachel.

__ADS_1


Tak menolak, Rachel berdiri dengan bantuan Edward.


Merapihkan dirinya sejenak, Rachel lalu melihat pada Edward yang masih berdiri di depannya.


"Elo lagi apa di sini?" tanya Rachel.


"Aku lagi belanja" jawab Edward sambil menunjuk troli yang ia bawa.


Beberapa makanan ringan dan kebutuhan pria terdapat di sana.


"Kok di sini?" tanya Rachel yang mengundang tawa Edward.


"Emang harus di tanya ya? Ini kan supermarket Chel, tempat umum" ucap Edward sambil terkekeh.


Rachel berdengus sebal.


"Ya tau, maksudnya kok di sini. Rumah kamu kan bukan daerah sini. Malah bisa di bilang jauh banget" ucap Rachel.


Menghentikan tawanya, berganti dengan senyuman Edward memandangi Rachel.


"Jadi kamu masih inget rumah aku?" tanya Edward tersenyum gembira.


"Enggaklah, ngapain gue inget-inget" jawab Rachel kesal.


Rachel memang tahu di mana rumah Edward, ia pernah sekali ke sana.


Saat itu Edward mengajaknya pergi keluar dan karena di paksa oleh Mami nya, Rachel terpaksa ikut.


Saat mereka hendak mengantar Rachel pulang, Edward mampir ke rumah nya untuk mengambil sesuatu.


Rachel hanya menunggu di dalam mobil saja.


Hanya sebatas itu, tak ada yang lebih di antara mereka berdua.


"Aku sekarang tinggal di daerah sini, aku baru aja ngebangun caffe baru di sini.


Jadi aku beli apartemen yang gak jauh dari daerah ini" jawab Edward.


"Apartemen daerah sini? Berarti itu gedung apartemen Ravin" batin Rachel.


Ya karna hanya ada satu gedung apartemen yang dekat di daerah ini.


"Kamu sendiri kok belanja di daerah ini?" tanya Edward sambil melirik troli belanjaan milik Rachel.


"Emm.. itu, gue mau ke rumah teman. Dan di daerah sini juga" jawab Rachel kikuk.


Jangan sampai Edward tahu, Ravin membelikan apartemen untuknya. Bisa-bisa nanti ia mengadu pada Mami nya.


Urusannya akan jadi panjang kalo berurusan dengan sang Mami.


"Oh .. " Edward mengangguk-anggukan kepalanya.


"Terus kamu udah selesai belanja nya? Kalo udah ayo aku anter ke tempat teman kamu, kebetulan aku juga udah selesai" ajak Edward.


"Eh enggak usah" tolak Rachel buru-buru.


"Kenapa?"


"Gue bisa pergi sendiri, gak jauh juga"


"Tapi aku liat keadaan kamu kaya lagi kurang baik. Muka kamu agak pucet gitu, mending aku antar" paksa Edward.


"Gue bilang gak usah. Elo tahu kan gue gak suka di paksa" ucap Rachel keras kepala.


Bisa bahaya kalau Edward tahu Rachel berbohong dan bahaya pula kalau Ravin sampai tahu Rachel di antar Edward.


"Kamu yakin?"


"Iya, gue yakin"


"Yaudah, kalo gitu aku antar sampai depan supermarket aja gimana?


Aku masih khawatir liat kamu jatuh kaya tadi" ucap Edward.


Aduh perhatian lelaki itu tak pernah berubah dari dulu.


"Cuma sampai depan kok" ujar Edward meyakinkan.


Rachel berpikir sejenak.


Ada benarnya juga Edward mengantarnya sampai depan, karena dirinya masih takut akan orang tadi.


Setidaknya harus ada yang menemani nya sampai di tempat keramaian.


Tidak mungkin kan orang tadi mendekati nya lagi jika di tempat ramai.


"Gimana?" tanya Edward membuyarkan lamunan Rachel.


Mengangguk lalu Rachel menarik troli miliknya.


"Cuma sampai depan ya, gue gak mau ada pemaksaan setelah ini" ucap Rachel tegas yang di jawab pasrah oleh Edward.


"Iya .. " jawab Edward.


Keduanya pun pergi bersama untuk membayar lebih dulu belanjaan masing-masing di kasir.






Jangan lupa Like Coment dan Vote

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2