
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Rachel kini sudah sampai di apartemen. Sesuai dengan permintaan Rachel, Edward hanya mengantarnya sampai depan saja.
Lelaki itu pergi setelah memastikan Rachel masuk ke dalam taksi yang ia berhentikan.
Di sepanjang perjalanan maupun telah sampai, Rachel tidak bisa berhenti memikirkan siapa orang yang beberapa hari ini terus mengikuti nya. Bukan hanya mengikuti tapi kini orang itu sudah terang-terangan muncul di hadapannya.
Meski tidak tahu apa yang hendak orang itu lakukan, Rachel merasa takut dan terancam.
Orang itu seperti mempunyai maksud buruk.
Bahkan menguntitnya secara diam-diam saja itu sudah termasuk hal buruk bukan?
Pikiran-pikiran jelek terus bersarang di kepalanya, hingga tak sadar daging yang sedang ia masak gosong.
Bau gosong dari daging tersebut berhasil menyadarkan Rachel dari lamunan nya.
"Astaghfirullah!!" pekiknya kaget.
Dengan panik ia mematikan kompor lalu memegang pan grill dagingnya.
"Aaww!!" jerit Rachel kesakitan sambil melepaskan pan tersebut jatuh ke lantai.
Karena tanpa sadar Rachel memegang pan daging itu tanpa sarung tangan atau pelindung apapun.
Meringis, Rachel merasakan panas dan perih pada telapak tangan kirinya yang melepuh akibat panas dari pan yang menyambar.
Terduduk di lantai, Rachel merasakan perih yang amat sangat sambil meniup-niup telapak tangannya.
"Ash.. sakit" ringisnya.
Kedua matanya berair karena menahan sakit.
"Sayang .. "
Ravin yang sudah datang entah sejak kapan, masuk ke dalam dapur sambil memanggil-manggil Rachel.
Matanya terbelalak saat mendapati Rachel sedang mengaduh kesakitan di lantai, dengan keadaan sekitar yang berantakan.
Lelaki itu buru-buru menghampiri dengan tampang khawatir.
"Ya ampun Sayang kamu kenapa?"
Ravin langsung meraih tangan Rachel, melihat luka di tangannya dengan khawatir.
"Aw.. sakit Rav" ringis Rachel saat Ravin meraih tangannya.
"Ya Allah kenapa bisa begini" ujar Ravin.
Lelaki itu langsung mengajak Rachel berdiri menuju wastafel, lalu menyalakan air mengalir di luka Rachel.
"Aaww.. " Rachel meringis merasakan perih dan dingin menyentuh luka nya.
"Tahan sebentar, ini biar rasa panasnya berkurang" ucap Ravin.
Rachel mengangguk patuh, menahan rasa sakit nya beberapa saat sampai Ravin membawanya ke ruang tv.
"Tunggu, aku ambil kotak obat dulu" ucap Ravin mendudukan Rachel di atas sofa.
Sambil menunggu Ravin, Rachel terus meniup-niup telapak tangan nya yang masih terasa panas dan terlihat melepuh.
"Kamu kok bisa luka begini sih sayang?" tanya Ravin seraya mendudukan diri di samping Rachel.
"Aku tadi lagi masak, terus steak nya gosong.
Karena kaget aku jadi pegang pan nya tanpa sengaja" ucap Rachel menjelaskan.
"Hati-hati dong, Sayang. Bahaya kan, liat nih jadinya kaya gini" omel Ravin.
"Iya maaf aku kurang hati-hati" jawab Rachel.
Memang dirinya yang salah, memasak sambil melamun.
Bagaimana jika terjadi sesuatu yang lebih parah.
Rachel meringis, menggigit bibir bawahnya menahan perih saat Ravin mengobati lukanya.
__ADS_1
"Perih Rav .. " rengek Rachel berusaha menarik tangannya dari Ravin.
"Tahan sebentar sayang" Ravin menahan tangan Rachel, mengobati sambil meniup pelan luka Rachel.
Tanpa sadar, Ravin juga meringis ngilu melihat luka di tangan sang kekasih.
"Udah selesai, kamu tunggu sini. Aku mau simpan lagi kotak obat"
"Aku harus beresin yang berantakan dulu di dapur" ucap Rachel hendak beranjak tapi Ravin menahannya.
"Udah enggak usah, biar aku aja"
"Tapi.."
"Enggak ada tapi-tapian, kamu tunggu di sini" kukuh Ravin, lelaki itu pergi meninggalkan Rachel untuk membersihkan dapur.
Sedangkan, Rachel menunggu Ravin selesai di ruang tv.
Tak berselang lama, Ravin kembali datang menghampiri Rachel.
"Kamu udah selesai?" tanyanya saat Ravin mendudukan diri di samping Rachel.
"Udah kok" jawab Ravin.
"Masakan aku jadi hancur semua ya?" tanya Rachel sedih.
Niatnya ingin membuatkan makanan untuk Ravin tapi semua malah jadi berantakan.
"Cuma daging aja kok, salad yang kamu buat masih utuh. Nanti steak nya biar aku pesan di luar aja, nanti kita makan sama salad buatan kamu" hibur Ravin seraya merapihkan rambut Rachel kebalik telinga.
Rachel mengangguk pelan dengan wajah sedihnya, membuat Ravin tersenyum gemas melihatnya.
"Lain kali kamu harus lebih hati-hati, Sayang. Beruntung aja lukanya cuma ini kalo lebih dari ini, aku gak akan biarin kamu masak lagi" ucap Ravin.
"Ih kok gitu" ujar Rachel merajuk.
"Ya habis, aku gak mau kamu luka"
"Itu gak sengaja sayang, aku cuma lagi gak fokus aja karna ngelamun" ceplos Rachel.
"Kamu ngelamun? Ngelamun kenapa? kamu mikirin sesuatu?" tanya Ravin berturut turut.
"Emm.. itu aku ngelamun, karena mikirin... " Rachel mencoba mencari alasan.
"Mikirin apa?" desak Ravin.
"Mi..mikirin sidang aku minggu depan" jawab Rachel buru-buru.
"Benaran?" tanya Ravin.
"Iya" jawab Rachel cepat, menimbulkan kerenyitan di dahi Ravin karena melihat tingkah Rachel yang aneh, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu gak bohong? Gak ada yang kamu sembunyiin dari aku kan?" tanya Ravin belum yakin.
"Enggak, aku bohong" jawab Rachel.
Ravin mengangguk percaya. Meski masih ada keraguan.
"Jangan terlalu di pikirin sayang, aku yakin sidang kamu pasti berjalan lancar" ucap Ravin menyemangati.
"Iya semoga" Rachel mencoba tersenyum.
"Kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama aku ya, jangan di pendam sendirian" ucap Ravin.
Rachel tersenyum mengangguk.
"Iya sayang .. " jawab Rachel.
Ravin ikut tersenyum sambil mengelus rambut Rachel penuh cinta.
"Yaudah aku ambil handphone dulu, aku mau pesan makanan buat kita"
"Iya .. "
Ravin beranjak dari sofa meninggalkan Rachel yang masih menatap punggungnya.
"Maaf Rav, aku belum bisa cerita sama kamu. Aku harus cari tahu dulu siapa orang itu" batin Rachel.
Karena Rachel takut kalau orang yang mengintai nya itu adalah orang suruhan, dari orang-orang yang tak menyukai hubungan nya dengan Ravin.
__ADS_1
Dan terlebih, Rachel takut kalau orang itu orang terdekat Ravin.
Jika benar maka itu hanya akan melukai Ravin sendiri.
"Apa mungkin orang itu suruhan Nar..."
Rachel buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Ah enggak-enggak, jangan berprasangka buruk Chel" batinnya mengingatkan.
Tapi, firasatnya terasa buruk.
*********
Di sebuah tempat, seseorang tampak sedang duduk di sebuah ruangan cukup remang.
Pandangan nya menatap lurus ke depan, di mana ada sebuah papan besar yang tertempel banyak foto.
Orang itu beranjak mendekati, mengambil satu foto di antara ratusan foto yang tertempel acak di sana.
Sudut bibirnya terangkat begitu melihat foto seorang gadis cantik itu.
Membuang foto itu ke lantai lalu menginjaknya, tangannya kembali terulur untuk meraih foto yang lainnya.
Kini foto seorang perempuan dan laki-laki yang tampak sedang bergandengan bersama dari belakang.
"Kalian pikir, kalian akan terus bersama?" ucapnya seolah-olah sedang berbicara dengan orang di dalam foto.
Memandangi sebentar foto itu, orang itu memegang kedua sudut atas foto, merobek nya menjadi dua. Memisahkan antara pasangan di dalam foto itu.
"Jangan harap!" ucapnya lagi.
Membuang kasar sobekan foto tersebut, orang itu mengeram marah sambil memandangi seluruh foto acak yang ada di depannya.
"Gue gak akan biarin satu orang pun menghalangi rencana yang udah gue buat bertahun-tahun lamanya"
Mengambil satu foto gadis cantik itu lagi, mata orang tersebut menyalak tajam.
"Rachel .. " ucapnya.
"Gue bakal bikin elo ngerasain apa yang udah gue rasain selama ini.
Gue bakal bikin elo lebih menderita dari penderita yang udah gue terima karena elo. Elo gak akan bisa dengan mudahnya hidup bahagia di atas penderita gue.
Bakal gue pastiin itu" ucapnya tajam.
Meremas foto yang ada di tangannya, amarah nya terlihat sangat menyeramkan.
Seakan-akan ia bisa menghancurkan Rachel hanya melalui sebuah foto.
Suara ponsel yang berdering mengalihkan perhatian orang itu.
"Halo .. bagaimana?"
"......... "
"Awasi terus dia saat Ravin gak ada, buat di semakin ketakutan semakin bagus"
"........... "
"Lebih hati-hati, jangan sampai Ravin tau" ucapnya lalu mematikan sambungan telepon tersebut.
Bibirnya tersenyum jahat.
"Let's see Rachel .. Seberapa lama elo bakal bertahan" ucapnya dengan seringai jahat.
Ruang kosong itu seakan menjadi saksi seberapa banyak amarah dan rasa benci yang tertanam di sana.
•
•
•
•
Jangan lupa Like Coment dan Vote.
See you next episode ❣️
__ADS_1