
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Ravin memasuki sebuah cafe yang tak terlalu jauh dari kampus.
Setelah menerima telepon dari Rachel tadi, ia memutuskan untuk bertemu perempuan itu karena Rachel mengatakan sedang ada di dekat kampus mereka.
Perempuan itu meminta bertemu untuk mengambil tas miliknya.
"Hai .. maaf nunggu lama ya?" tanya Ravin saat duduk di sebuah meja di mana Rachel dan Amel sedang menunggu mereka
"Hai Ravin .. enggak kok kita juga baru dateng.
Elo mau pesen minum apa?" jawab Amel
"Apa aja, Mel" jawab Ravin
Amel pun memesankan sebuah jus untuk Ravin pada pelayan.
Juga cemilan dan minuman mereka berdua.
Sedangkan Rachel, perempuan yang tadi jelas menelpon dan memintanya bertemu malah diam saja.
"Itu di sapa dong, gimana sih lo" bisik Amel gemas dengan sahabatnya itu
Rasanya ingin Amel mencubit sahabatnya itu saat ini
Rachel mendelik pada sahabatnya nya itu, menggerutu pelan
"Sorry Rav gue ganggu waktu elo, gue mau minta tas gue. Adakan?" tanya Rachel to the point
Amel benar-benar di buat gemas dengan Rachel, ia di suruh basa-basi menyapa malah langsung menanyakan saja niatnya bertemu Ravin bahkan saat minuman Ravin pun belum datang.
"Nanya tasnya entar dong Chel, Ravin kan baru aja dateng"
Amel mencubit lengan Achel dari bawah meja, membuat gadis itu memekik.
"Aww .. sakit Mel. Apaan sih" gerutu Rachel sambil mengelus lengannya yang sakit
"Ya ampun si bodoh" batin Amel
Sahabatnya itu benar-benar tidak peka pada kode Amel.
Ravin yang menyaksikan keduanya itu malah terkekeh.
Merasa lucu dengan persahabatan kedua perempuan yang memiliki sifat saling bertolak belakang itu.
"Tenang aja tas lo ada kok, masih lengkap sama isi-isinya" ucap Ravin sambil tersenyum
Entah kenapa perasaanya menjadi senang saat Rachel tiba-tiba menelponnya, meski pun perempuan itu menghubungi nya hanya untuk mengambil barang miliknya.
Rachel mengalihkan pandangannya saat melihat senyuman dari Ravin yang tiba-tiba memunculkan percikan aneh di hatinya.
"Terus sekarang mana tas nya?" tanya Rachel masih memandang ke arah lain
"Kalo ngobrol sama orang tuh di liat dong Chel wajahnya" senyum usil tercipta dari Amel
Ia menyadari ada hal yang berbeda dari sikap Rachel.
"Tas nya ada di rumah, gue gak bawa" jawab Ravin bohong
Tidak tahu dorongan apa yang membuat dirinya berucap seperti itu.
Yang jelas Ravin kini sedang mencari alasan agar bisa bertemu lagi dengan Rachel.
"Kalo tau gitu ngapain dateng ke sini? Bilang aja tadi di telepon" ucap Rachel
Bersamaan dengan itu pesanan milik mereka baru saja tiba.
"Enggak apa-apa, gue juga lagi senggang.
Kelas gue masih ada satu jam lagi" jawab Ravin
"Makasih, Mbak" ucap Amel kepada pelayan baru mengantarkan pesanan mereka
"Berhubung kita udah di sini dan kita juga udah pesan makanan sama minuman juga, kita nikmatin aja dulu" usul Amel
memecah kecanggungan di kedua insan itu
Ravin menyetujui usulan Amel dan Rachel pun yang hanya mengikuti saja mereka berdua.
********
Hampir satu jam lama nya Ravin menghabiskan waktu di cafe bersama Rachel dan Amel.
Perasaan nya terasa senang, saat bisa banyak mengobrol dengan mereka berdua.
Lebih tepatnya bisa mengobrol banyak dengan Rachel.
Entah bagaimana jarak antara yang tercipta di antara mereka berdua selama ini terasa mulai memudar meski belum sepenuhnya.
__ADS_1
Perempuan itu sudah mulai banyak berbicara, bercanda dan tertawa di depan Ravin.
Ekspresi dingin yang selama ini sering Ravin lihat di wajah Rachel sedikit demi sedikit mulai tak terlihat.
Justru wajah cantik Rachel saat senyum,
wajah lucu nya saat merajuk dan wajah bahagia nya saat tertawa baru kali ini Ravin lihat.
Ravin merasa beruntung bisa melihat itu semua, meski ia tahu Rachel bisa berekspresi seperti itu karena ulah Amel.
Sahabat dari Rachel itu benar-benar orang yang humble dan mudah bergaul.
Bahkan, Ravin pun tak merasa canggung meski baru bertemu Amel.
Malah Amel bisa membuat dirinya dekat dengan Rachel secara alami.
"Gimana elo bisa ikut gue nanti sore? Sekalian ambil tas elo juga" tanya Ravin
Pria itu sengaja beralasan bahwa Mama Rara ingin memeriksa luka Rachel, agar perempuan itu mau ikut dengan nya.
Meski tak sepenuhnya berbohong, tapi Ravin tetap mencari cara agar bisa bertemu Rachel lagi.
"Emm .. yaudah nanti kalo udah balik elo hubungin aja nomer yang tadi, itu punya Amel" ucap Rachel
"Oke, nanti gue hubungin Amel sebelum jemput lo" ucap Ravin
"Enggak perlu, gue bisa di anter Amel" tolak Rachel
"Aduh gak bisa Chel, nanti sore gue mau pergi ke rumah bokap" ucap Amel buru-buru
Kalo dirinya yang mengantar Rachel, bisa kacau rencananya mencomblangkan kedua orang ini.
"Yaudah kalo anterin gue sekalian jalan ke rumah bokap lo" ucap Rachel
"Gak bisa, gue ada urusan dulu sebelum ketemu bokap" ucap Amel bohong
Rachel mengerenyit kan dahinya merasa curiga dengan sikap aneh Amel.
"Udah biar gue jemput aja, sekalian juga" ucap Ravin
"Iya di jemput Ravin aja, entar gue pergi kalo elo udah pergi juga" ucap Amel
"Yaudah terserah" jawab Rachel tak bisa membantah
"Oke nanti gue kabarin kalo udah di depan apartemen Amel" ucap Ravin yang di iyakan oleh Rachel
"Kalo gitu gue pergi dulu, sebentar lagi kelas gue mulai" ucap Ravin
"Oke Rav, thanks ya teraktirannya" ucap Amel senang
"Iya sama-sama. Sampe ketemu nanti ya" ucap Ravin sebelum benar-benar pergi dari sana
Tinggal lah Rachel dan Amel yang masih duduk di dalam cafe.
"Ravin tuh boyfriendable banget ya, Chel"
Amel menatap punggung Ravin yang menjauh dari jangkauan mata.
"Terus?"
"Udah di depan mata loh Chel, jangan di sia-siain tuh"
"Maksud lo?"
"Maksudnya buruan pepet, entar keburu di embat cewek lain"
"Gila! Jangan mikir aneh-aneh deh, elo aja sono kalo mau.
Gue gak minat"
"Sampe kapan sih Chel elo mau begini terus? Belajar lah buka hati, gue liat Ravin suka sama lo"
"Ngaco!"
"Kalo bener gimana?" tanya Amel
Dan entah kenapa Rachel tak bisa menjawab.
Hal seperti rasa sayang atau cinta adalah hal tabu dan omong kosong semata baginya.
Tapi,
entah kenapa keyakinan nya itu mulai goyah semenjak mengenal Ravin dengan segala kebaikannya.
Apakah lelaki itu memang tulus pada dirinya?
********
Ravin masuk ke dalam mobil miliknya untuk kembali ke kampus yang berjarak tak terlalu jauh dari cafe tadi.
Saat duduk di kursi kemudinya, Ravin melihat Tote bag milik Rachel yang tergeletak di kursi samping.
__ADS_1
Tiba-tiba saja dia jadi teringat tentang kejadian tadi.
Entah apa yang ia pikirkan sampai membohongi gadis itu bahwa tas nya tertinggal di rumah.
Padahal jelas-jelas tadi ia sengaja mencari Rachel untuk mengembalikan tas tersebut.
Tapi ketika melihat wajah perempuan itu lagi tadi,
Ravin jadi tidak rela jika nanti atau besok-besok ia tak bisa lagi bertemu sedekat itu lagi.
"Ada apa sama lo Rav?"
Ravin bertanya pada hatinya sendiri.
Drrrttt ...
Drrrttt ...
Drrrttt ...
Getaran pada hp miliknya membuat Ravin tersadar dari pikirannya sendiri.
Dan panggilan dari Jojo yang menanyakan keberadaan dirinya ada dimana.
"Rav, elo gak masuk kuliah?" tanya Jojo dari sebrang sana
"Masuk, ini gue lagi di jalan" jawab Ravin
"Tumben mepet banget?"
"Iya gue ada urusan sebentar"
"Bukannya elo tadi udah ada di kampus kata Nara?"
"Iya tapi keluar dulu sebentar" jawab Ravin
Ia mulai menyalakan mesin mobilnya menuju kampus
"Oh .. "
"Yaudah gue jalan dulu Jo"
"Eh .. bentar Rav"
"Apaan lagi?"
"Emm .. elo tau gak ada apa sama Nara?"
"Nara? Kenapa dia?"
Ravin sampai lupa kalau tadi gadis itu marah dan pergi begitu saja.
Demi bertemu Rachel ia jadi lupa hendak mengejarnya.
"Tadi gue liat dia kaya nangis gitu, terus dia balik sendiri dan gak masuk kuliah"
Ravin tertegun mendengar ucapan Jojo
"Elo yakin dia nangis?" tanya Ravin memastikan
"Yakin .. waktu gue tanya kenapa dia gak jawab. Gue tawarin anterin pulang juga nolak" ucap Jojo
Apa Nara benar-benar menangis? Kenapa perempuan itu menangis?
Ravin bertanya-tanya.
"Elo tau gak dia kenapa?" tanya ulang Jojo
Ravin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dirinya sendiri pun bingung dengan sikap Nara hari ini.
"Gue gak tau. Nanti coba gue cari tau sepulang kuliah" jawab Ravin
"Yaudah , cepetan dateng. Kelas lo bentar lagi mulai"
"Yaudah gue matiin , gue bentar lagi sampe" ucap Ravin yang di iyakan oleh Jojo
Sambil menyetir pikiran Ravin terganggu dengan ucapan Jojo tentang Nara.
"Ada apa sama Nara?"
Dirinya menjadi merasa bersalah karena tadi tak mengejar gadis itu dan malah membiarkannya begitu saja.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like dan Coment
See you next episode ❣️