Angan Cinta

Angan Cinta
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Ravin berulang kali mengetuk pintu kamar Nara yang tertutup rapat, tapi sudah cukup lama Nara masih enggan membuka atau pun menyahuti panggilan Ravin.


"Nar .. ini aku. Ayo buka pintu nya" ucap Ravin kesekian kalinya


Tak ada jawaban apapun dari dalam sana.


"Nar .. ayo dong. Aku pegel loh berdiri di sini terus" ucap Ravin lagi


Sepulang kuliah tadi Ravin langsung bergegas datang ke rumah Nara.


Ia sampai mengundur janji nya dengan Rachel.


Mendengar Nara menangis tentu membuat Ravin kepikiran.


Sedari kecil, jika Nara menangis Ravin lah yang akan selalu menenangkannya.


Bahkan,


jika ada anak-anak lain yang meledek Nara tidak memiliki ibu hingga gadis itu menangis


Ravin tak segan memukul siapapun itu.


"Yaudah kalo kamu gak mau buka pintu nya aku pulang aja ya" ucap Ravin


Hening sesaat, Ravin masih tak bergeming dari tempatnya.


Tapi, tak lama kemudian suara kunci di putar bersamaan dengan terbukanya pintu itu dari dalam.


Ravin tersenyum simpul, pancingan nya yang berpura-pura akan pulang ternyata berhasil membuat Nara keluar.


Pintu yang terbuka sebagian membuat Ravin bisa melihat wajah sahabat kecilnya itu.


Mata yang sembab dan hidung mancung Nara yang memerah seolah membenarkan gadis itu seperti usai menangis.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Nara pelan


Suaranya terdengar serak.


Ia mengalihkan wajahnya ke samping, tidak ingin Ravin melihat dalam keadaan seperti itu.


"Mau ketemu kamu, masa ketemu Bi Emi" canda Ravin


Tapi candaan nya itu tak sama sekali membuat Nara tertawa, jangan kan tertawa bahkan gadis itu tak tersenyum sama sekali padanya.


"Ngobrolnya di ruang tamu yuk Nar, kaki aku pegel tau dari tadi berdiri" pinta Ravin


Sebenarnya itu hanya alasan, agar Nara mau berbicara lebih santai dengannya.


Nara mengangguk, lalu keluar dari kamarnya.


Ravin tersenyum sambil mengacak poni gadis itu.


"Anak baik" ucap Ravin


Nara menepiskan tangan Ravin yang menyentuh rambutnya dengan kasar, entah itu hanya perasaan Ravin atau bukan.


Tak biasanya Nara menepisnya dengan seperti itu,


meski gadis itu sering kali kesal saat Ravin merusak poni rapi nya.


"Kamu tunggu aja di ruang tamu, aku mau ke dapur dulu minta Bi Emi buatin minum" ucap Nara


Ravin mengangguk lalu pergi ke ruang tamu tanpa canggung.


Rumah ini sudah seperti rumah Ravin sendiri, ia sudah terbiasa menghabiskan waktu di sini bersama Jojo jika Papi nya Nara sedang tugas keluar kota.


Duduk di sofa mewah ruangan itu, yang tak lama di susul dengan kedatangan Nara.


Ravin mengerenyitkan dahi saat Nara malah duduk di sofa sebrangnya.


Mereka tak biasa seperti itu jika sedang bersama.


Di mana pun Ravin berada, gadis itu akan selalu duduk di sampingnya.


"Aku denger dari Jojo kamu tadi nangis, kamu kenapa Nar?" tanya Ravin


Nara menggelengkan kepalanya


"Enggak apa-apa" jawab Nara


Pandangan nya ia tunjukan ke sembarang arah, masih enggan menatap lelaki tampan di hadapannya.


"Jangan bohong, kamu itu gak pinter bohong.


Mata kamu sembab kaya gitu masih mau nyangkal?" desak Ravin


Nara meremas kedua telapak tangan nya saat mendengar perhatian Ravin.

__ADS_1


Tapi, ia malah kembali ingat kejadian di kampus tadi.


Ia merasa kecewa pada lelaki itu, ia kira Ravin tadi akan mengejarnya.


Tapi saat ia menyadari kalau Ravin membiarkannya, Nara menjadi merasa Ravin sudah tak peduli lagi dengan nya.


"Bukan urusan kamu.


Kamu urus aja urusan kamu sendiri"


Mata nya kembali memanas, rasanya ia ingin kembali menangis.


"Nara .. Aku berbuat salah ya sama kamu?Kalo aku buat salah sama kamu tolong bilang.


Jangan bersikap kaya gini, aku gak akan ngerti" ucap Ravin lembut


Ia merasa Nara bersikap tak biasa padanya, tapi Ravin tak mengerti apa salahnya.


Ia bukan lelaki peka yang mudah mengerti perasaan perempuan.


Nara terdiam, hingga menciptakan keheningan di antara mereka berdua.


"Permisi Non, Den.. ini cemilan sama minuman nya" ucap Bi Emi di antara keheningan keduanya.


Ravin tersenyum sambil berterima kasih pada Bi Emi.


"Makasih ya, Bi .. " ucap Ravin yang di iyakan kembali dengan ramah oleh Bi Emi


yang kembali ke dapur.


"Kamu benar-benar gak mau cerita atau bilang apapun sama aku Nar?" tanya Ravin


Kebungkaman perempuan itu membuat Ravin pasrah.


"Yaudah kalo gak mau cerita. Tapi kalo ada apa-apa hubungin aku ya" ucap Ravin


Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Nara yang masih terdiam.


"Aku pulang dulu" pamit Ravin mengelus lembut kepala Nara


Ia berlalu pergi dari rumah besar sahabatnya itu.


Nara menatap punggung Ravin yang semakin jauh dan menghilang.


"Apa kamu cuma akan selalu mengganggap aku sebagai sahabat Rav?" gumam Nara pelan


Matanya terlihat berkaca-kaca.


Ravin melajukan mobilnya menuju apartemen Amel, di tengah padatnya kemacetan ibukota.


Setelah pergi dari rumah Nara, Ravin langsung menghubungi Rachel mengatakan akan menjemput di sana.


Sesuai dengan janji mereka, kedua nya akan akan pergi ke rumah Ravin.


Pagi tadi, Mama Rara sempat berpesan pada Ravin untuk membawa Rachel lagi ke rumah jika gadis itu tak keberatan.


Mama Rara harus memeriksa luka yang ia obati kemarin.


Meski,


luka sobeknya tak begitu parah karena tak sampai di jahit.


Tapi lukanya juga tak terlalu ringan, apalagi ini ada di bagian lutut yang sering kali pasti tergerakan.


Ravin sudah hampir sampai di apartemen milik Amel.


Dirinya melihat Rachel sudah menunggu di pinggir jalan tempat mereka kemarin menunggu Amel.


Secara refleks bibirnya mengembangkan sebuah senyuman saat melihat gadis itu dari kejauhan.


Ravin mengehentikan mobilnya di tepat di depan Rachel.


Buru-buru ia turun dari sana.


"Hai .. Maaf ya lama, jalannya macet banget " sapa Ravin dengan senyum cerahnya


"Enggak apa-apa" jawab Rachel


Senyum nya yang hanya sedikit saja sudah berhasil membuat hati Ravin bergetar.


Akhirnya ekspresi dingin gadis itu sudah semakin berkurang.


"Amel mana? Kok gak keliatan?" tanya Ravin


"Dia udah pergi duluan jadi mau ke rumah Ayahnya" jawab Rachel


Ravin mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


"Yaudah kita juga jalan langsung aja" ajak Ravin yang di setujui juga oleh Rachel


Saat mereka siap pergi dan Rachel sudah siap membuka pintu mobil Ravin.

__ADS_1


Tiba-tiba lelaki itu teringat sesuatu.


"Astaghfirullah tasnya Rachel masih ada di kursi depan" batin Ravin kaget


Buru-buru ia mendorong pintu mobil yang sudah berhasil Rachel buka knop nya.


Rachel mengerenyit melihat tingkah aneh Ravin.


"Kenapa?" tanyanya


Ravin terlihat sedikit gelagapan.


"Itu kursi depannya kotor, jangan naik dulu.


Biar gue bersihin dulu" Ravin mencari alasan


"Oh .. enggak apa-apa, biar gue bersihin sendiri" jawab Rachel


Tangannya yang masih memegang knop mobil siap membuka lagi pintu itu.


"Jangan!" ucap Ravin


Kini malah tubuh Ravin yang menghalangi pintu mobil, membuat dirinya dan Rachel berhadapan sangat dekat.


Rachel memundurkan tubuhnya, menatap curiga pada Ravin.


"Elo tunggu sebentar, sebentar aja, biar gue bersihin dulu" ucap Ravin mencoba tak terlihat mencurigakan


Rachel yakin Ravin menyembunyikan sesuatu, tapi ia tak mau mengganggu privasi orang lain.


"Yaudah gue tunggu di sini" jawab Rachel


Ravin sedikit mendesah lega dalam hati nya, setidaknya ia tak ketahuan berbohong.


Bisa-bisa perempuan itu marah atau malah ilfil padanya.


Ravin pun akhirnya berputar arah,


ia masuk melalui pintu kemudi untuk mengambil tas Rachel dan menyembunyikan nya di bawah jok belakang.


Kemudian ia menutupi nya dengan baju miliknya yang ada di mobil,


berjaga-jaga agar Rachel tak melihatnya.


"Dia ngapain sih" batin Rachel


Ravin cukup lama di dalam menyembunyikan tas milik Rachel,


kaca mobil yang gelap tak bisa membuat Rachel dapat melihat pergerakan Ravin.


"Udah yuk .. " ajak Ravin yang kini sudah berdiri di depan Rachel.


Saat perempuan itu mendekat ke pintu mobil, Ravin dengan gentle nya membukakan pintunya untuk Rachel.


Rachel masuk ke dalam mobil, sedikit melihat dalam mobil yang tak terlihat mencurigakan.


"Kita jalan ya .. " ucap Ravin yang sudah duduk di kemudi nya.


"Iya .. "


Ravin menjalankan mobil menuju kediaman keluarganya.


Hening yang tercipta di antara mereka.


Rachel fokus menatap jalanan ibukota sambil menikmati alunan musik yang terdengar dari flashdisk mobil Ravin.


Dan


Ravin yang sedang mengemudi sesekali melirik ke arah gadis cantik itu.


Ia jadi teringat kejadian tadi.


Sebenarnya ia merasa malu dengan sikapnya tadi, ia takut gadis itu berfikir dirinya itu aneh.


Tapi apa boleh buatlah dari pada ia ketahuan, bisa lebih malu nanti.


"Bodo amat lah, yang penting aman" batin Ravin


.


.


.


.


Aduh babang Ravin hampir aja ketahuan guys wkwkwk


Jangan lupa di like, coment dan vote ya


See you next episode ❣️

__ADS_1


__ADS_2