
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Sudah hari ketiga Papi Nara di rawat di rumah sakit, dan selama itu pula Ravin sibuk menemani Nara untuk bergantian berjaga.
Karena memang Nara dan Papi nya hanyalah tinggal berdua saja.
Semua keluarga Papi nya berada di Surabaya, di kampung halaman sang Papi.
Sedangkan, keluarga dari Mami nya yang berada di Jakarta hanya beberapa orang saja.
Nara sedari kecil hanya tinggal dengan Papi nya juga asisten rumah tangga, maka itu Ravin dan keluarga nya sudah menganggap Nara seperti keluarganya sendiri.
Apalagi mereka sudah bersahabat sedari masa taman kanak-kanak.
"Nar .. " panggil Hendra yanh sedang duduk bersandar dari atas ranjang nya.
"Iya Pi?" Nara yang sedang mengisi pitcher air menghampiri Papinya, setelah meletakan benda tersebut di atas nakas lalu Nara duduk di kursi samping ranjang Hendra.
"Kapan Papi boleh pulang, Papi udah bosen di rumah sakit terus?" tanya Hendra.
Nara mengambil satu buah apel untuk ia kupas.
"Nanti Nara tanya dokter dulu ya Pi.
Katanya kalo keadaan Papi udah membaik Papi pasti di bolehin pulang kok" jawab Nara.
"Papi udah membaik kok, Sayang"
"Iya Nara tau, nanti ya kita tunggu persetujuan dokter Pi"
"Iya Sayang.
Kalo bisa minta pulang besok ya, Papi bosen tiduran terus.
Kerjaan Papi juga banyak yang tertunda" ucap Hendra.
Nara menyuapkan potongan apel yang sudah ia kupas pada Papi nya itu.
"Tuh kan belum juga dapet izin pulang, Papi udah mikirin kerjaan aja" keluh Nara.
"Ya bagaimana lagi sayang, kan kerjaan Papi memang banyak dan yang ngurus cuma Papi sama Garry"
Garry itu sepupu satu-satunya Nara dari Mami nya sekaligus yang menjadi Wakil CEO di perusahaan Hendra.
"Ya makanya, Papi cepet pensiun aja.
Minta Om Hasan buat pindah ke Jakarta, biar dia yang urus perusahaan Papi yang di sini" ucap Nara.
"Kasian Om mu Nar, dia kan baru aja menikah.
Masih menikmati kehidupan pengantin baru, masa sudah Papi beratkan dengan tanggung jawab di perusahaan utama" jawab Hendra.
"Itu juga di sudah telat menikah loh karna terus ngurusin perusahaan cabang" lanjut Hendra.
Om Hasan yang merupakan adik dari Papi nya Nara memang termasuk orang yang gila kerja.
Dia sudah mengurusi perusahaan sejak usia 20 tahun dan dia baru aja menikah di usia 32 tahun di mana teman-teman sudah kebanyakan memiliki anak.
"Menikah itu bukan soal siapa paling cepat Pi.
Tapi, yang terpenting di saat yang tepat.
Mungkin saat tepatnya Om Hasan di usia segitu" ucap Nara
Hendra menggeleng saat Nara menyodorkan kembali potongan apel yang entah sudah keberapa suap.
"Minum Pi" ucap Nara menyodorkan segelas air setelah meletakan piring yang masih bersisa beberapa potong apel.
Hendra meminum air yang di berikan putri kesayangannya itu.
"Makasih Sayang" ucap Hendra.
Nara mengangguk lalu kembali duduk di samping sang Papi, tangannya bergerak memijat kaki kaki Hendra.
__ADS_1
"Ngomongin soal menikah, Papi jadi kepikiran sama kamu" ucap Hendra tiba-tiba.
"Kok jadi Nara?" Nara mengerutkan dahinya.
"Jangan bilang Papi mau Nara nikah muda" tebak sang putri.
Hendra tersenyum penuh arti.
"Kalo bisa kenapa enggak? Papi sama Mami juga dulu nikah muda kok"
"Enggak ya Pi, kuliah Nara aja belum selesai.
Lagian Nara mau nikah sama siapa, pasangan aja enggak punya" sela Nara buru-buru.
"Buat apa cari pasangan kalo yang di depan mata udah ada" ucap Hendra.
"Di depan mata?" tanya Nara bingung.
"Maksud Papi siapa?" tanya Nara.
"Maksud Papi... " belum sempat Hendra menjawab, pintu ruang perawatannya terbuka.
Ucapan salam berserta sosok Ravin muncul, masuk ke dalam ruangan milik Hendra setelah Nara dan Papi nya itu menjawab salam.
Ravin mendekat sambil membawa beberapa bungkusan di tangannya.
Hendra membelai kepala putri nya penuh sayang, membuat Nara menoleh lagi padanya.
Nara dapat melihat senyuman penuh arti dari Papi nya itu.
"Sekarang tau kan siapa yang Papi maksud di depan mata" bisik Hendra yang berhasil membuat Nara tertegun seraya menatap Ravin yang mendekat.
"Om .. Nar .. " sapa Ravin.
Hendra membalas sapaan Ravin, sedangkan Nara tampak masih membisu dengan tatapan yang tak lepas dari Ravin yang kini berdiri tepat di hadapannya.
********
Beberapa hari ini Ravin begitu sibuk membantu Nara di rumah sakit menjaga Papi nya Nara.
Biasanya setiap pulang kuliah mereka akan menghabiskan waktu bersama-sama, kini tidak bisa karena Ravin harus pergi ke rumah sakit.
Rachel sendiri pun tidak mempersalahkan nya, dirinya tidak mau menjadi perempuan yang pengekang karena rasa cemburu.
Meski, tak bisa Rachel pungkiri ia juga merasa hal tersebut.
Hari ini sepulang kuliah Rachel hanya diam saja di rumahnya, karena dirinya sudah tidak bekerja di restoran sejak seminggu yang lalu.
Rachel mengundurkan diri dari restoran karena Ravin yang selalu memaksa meminta nya berhenti.
Dirinya terpaksa melakukan itu karena Ravin tidak suka jika Rachel pulang bekerja pada malam hari.
Alhasil kini ia hanya bermalas-malasan saja di rumah setiap pulang kuliah.
"Tumben kamu ada di rumah"
Itulah yang di ucapkan Mela saat melihat putri nya hanya diam di rumah selama tiga hari ini.
Karena biasanya Rachel hanya akan ada di rumah saat larut malam sepulang kerja, lalu pergi lagi pad apagi hari.
Bahkan, Rachel kadang tak pulang dan menginap di apartemen Amel.
"Emang nya aku enggak boleh ada di rumah ku sendiri" jawab Rachel sambil berlalu menuju dapur,
melewati Mela yang sedang duduk santai di meja makan.
"Bukan enggak boleh sih, tapi tumben aja.
Emang nya kamu enggak kerja?" tanya Mela sambil sibuk memakan puding dengan sok cantik.
Sikap konglomerat nya belum hilang sama sekali meski sudah lama semenjak keluarga nya bangkrut dan hidup susah.
"Aku berhenti" jawab Rachel hendak meminum air putih yang baru ia ambil dari kulkas.
"Apa?" teriak Mela di sertai suara pelantingan garpu yang membentur kaca meja makan nya.
__ADS_1
Rachel mengusap dagu dan baju yang basah dengan kesal.
Karena teriakan dari Mami nya membuat Rachel yang sedang minum berjengit kaget hingga air minum nya tumpah.
"Mami kenapa teriak gitu sih, aku kan jadi kaget" ucap Rachel kesal.
"Kamu yang bikin Mami kaget!" ucap Mela dengan nada tinggi.
"Kok bisa-bisanya sih kamu berhenti kerja! Kalo kamu berhenti kita mau makan apa?" ucap Mela menggebu-gebu.
"Makan nasilah, Mi" jawab Rachel sekena nya.
"Ya Mami juga tau makan nasi, tapi beli nya pake uang dari mana kalo kamu berhenti kerja" ucap Mela.
"Ya tinggal cari kerja yang lain" jawab Rachel masih santai.
Mela mengeram geram melihat tingkah santai putri cantik nya itu.
"Chel, kamu pikir cari kerja gampang? Apalagi yang gaji nya besar kaya gitu?
Kamu sadar enggak sih ngelepas pekerjaan yang bagus.
Haduuuhh gimana ini, mana keperluan kita itu banyak banget.
Tagihan air, tagihan listrik, keperluan dapur, keperluan sehari-hari, belum lagi semua keperluan Mami, skincare, nyalon, arisan, shopping" cerocos Mela.
Rachel yang jengah memilih meninggalkan dapur tanpa memperdulikan ocehan sang Mami yang bisa memicu pertengkaran jika ia tanggapi.
"Loh Achel, kamu mau kemana?
Mami belum selesai ngomong, kamu malah pergi" teriak Mela dari arah dapur yang tak di tanggapi.
Rachel langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar nya agar tak bisa lagi mendengar teriakan Mami nya.
Melentangkan diri di atas tempat tidur, Rachel tersenyum saat melihat ponsel nya yang penuh dengan pesan spam dari Ravin yang baru tak Rachel balas beberapa menit saja.
Rachel membalas pesan dari sang kekasih masih dengan bibir yang tersenyum lebar.
Sejak malam di mana Ravin menyatakan ingin menikahi nya, Ravin menjadi semakin posesif saja karena Rachel tak memberikan jawaban ataupun respon perihal ucapan Ravin itu.
Rachel malah terkesan menghindar saat Ravin membicarakan soal pernikahan.
Bagi Rachel, ini terlalu dini untuk membicarakan tentang pernikahan.
Apalagi hubungan nya dengan Ravin baru berjalan tiga bulan.
Rachel masih memiliki banyak ketakutan dari dalam dirinya, apalagi jika mengingat kehidupan pernikahan kedua orang tuanya.
Dirinya masih takut dan tak percaya.
Rachel mengerjap saat mendapati satu pesan masuk dari nomor Tante Rara, ibu dari kekasihnya.
Satu pesan singkat dari Rara yang mengajak dirinya pergi bersama.
From : Tante Rara
Rachel sayang, kamu sibuk enggak?
Kalau enggak sibuk bisa temenin Tante keluar?
Tante mau ngajakin kamu jalan berdua. Gimana?
Kamu enggak keberatan kan Sayang?
•
•
•
•
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
See you next episode ❣️
__ADS_1