
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Keheningan terasa setelah Amel pergi meninggalkan ruang perawatan Rachel.
Ravin maupun Rachel sama-sama masih terdiam.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua.
Saat Rachel bergelut dengan pikiran nya sendiri, Ravin mendekat.
Duduk di kursi samping ranjang nya, membuat Rachel sedikit terlonjak.
Mata mereka saling bertemu sesaat sebelum kecanggungan kembali menyelimuti.
"Rav .. "
"Chel .. "
Ucap kedua nya bersamaan.
Keduanya terlihat salah tingkah.
"Elo duluan aja" ucap Ravin.
Ia membiarkan Rachel mengatakan apa yang ingin di katakan nya.
Pasti Rachel ingin mengatakan sesuatu tentang pernyataan cintan nya di taman tadi.
Mungkinkah gadis itu akan menolak atau menerima pernyataan cinta nya?
Ravin menjadi gugup.
"Emm .. Gue .. emm .. soal yang tadi.. "
"Chel .. " sela Ravin saat Rachel belum sempat menuntaskan ucapan nya.
Melihat Rachel yang ragu ingin mengatakan sesuatu, membuat Ravin merasa kalau gadis itu pasti merasa tak nyaman.
"Gue minta maaf soal pernyataan gue yang tadi.
Jujur gue gak maksud bikin lo merasa terbebani"
"Eh?"
"Soal pernyataan cinta gue sama lo.
Gue ungkapin itu sama lo karena gue mau jujur aja tentang perasaan gue sama lo.
Elo gak perlu jawab kok kalo emang elo merasa enggak nyaman, yang terpenting elo udah tau soal perasaan gue" ucap Ravin.
Rachel menggelengkan kepalanya, bingung.
"Bukan itu Rav. Elo jangan salah paham" ucap Rachel.
"Jujur gue kaget, tapi gue gak merasa terbebani.
Gue cuma ngerasa diri gue enggak pantes aja, elo laki-laki baik Rav"
"Elo juga perempuan baik, Chel"
Rachel menggelengkan kepalanya.
"Rav .. elo tau sendiri kan image gue di selama ini.
Kehidupan elo dan gue itu berbanding terbalik 180 derajat. Elo laki-laki baik, keluarga lo keluarga baik-baik, teman-teman dan sekeliling lo semua nya baik.
Sedangkan gue?
Hidup gue semuanya cuma di lingkupi sama hal buruk.
Pertemuan pertama kita bahkan berawal dari keributan di kehidupan gue" ucap Rachel.
"Enggak ada hal yang buat diri gue pantas buat nerima perasaan sebaik itu dari lo"
Rachel selama ini hidup dengan serampangan, baginya tidak ada hal yang berarti di hidupnya.
Selama ini tidak ada yang seorang pun yang menginginkan kehadirannya,
bahkan kedua orang tuanya sekalipun.
Kini ada seseorang yang menginginkan nya, menganggap ia berarti.
Dan
lelaki itu bukan lelaki sembarangan, lelaki yang bahkan banyak perempuan yang memujanya.
Bukan seperti para lelaki yang selama ini sering mengejar-ngejarnya hanya karena rasa penasaran.
Rachel benar-benar merasa tak pantas jika harus bersanding dengan Ravin.
"Apa atas dasar itu elo menganggap kalo elo itu enggak pantas buat gue?" tanya Ravin tak percaya.
Rachel berusaha menampik dalam hatinya jika ia juga menyukai Ravin.
Bahwa hatinya juga berdebar-debar karena lelaki itu.
"Iya .. gue merasa gue gak cocok buat. Di sekeliling lo banyak banget perempuan yang lebih pantas buat lo, perempuan baik-baik seperti Nara.
Elo sama dia bisa jadi pasangan yang serasi, bukan perempuan kaya gue"
"Kenapa jadi bawa-bawa Nara sih, Chel.
Gue sama Nara itu sahabat, Chel. Kita gak mungkin"
__ADS_1
"Tapi dia orang yang pantas buat lo, bukan kaya gue"
"Elo juga pantas, Chel"
"Enggak Rav"
"Pantas Chel. Dan perasaan gue bilang itu, perasaan gue cuma mau elo"
"Enggak, Rav. Apa yang bakal orang lain bilang kalo sampe kita bersama"
"Jaid itu yang elo pikirin?
Elo gak bisa nerima gue karna itu?
Gue enggak peduli sama omongan orang lain, Rachel" ucap Ravin kesal.
"Mau apapun alasannya itu gak penting" ucap Rachel.
Ravin mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Frustasi!
Kenapa ia malah jadi berdebat dengan gadis yang ia sukai.
"Itu penting buat gue, Chel"
"Kalo elo nolak gue karena elo gak suka sama gue mungkin gue bisa terima.
Tapi kalo elo nolak gue cuma karena elo peduli sama omongan orang-orang, gue gak akan bisa terima"
Ravin mengucapkan dengan nada tegas, ia akan menyakinkan hati gadisnya.
Gadisnya?
Bahkan Rachel belum mengatakan iya.
Rachel bungkam, pernyataan demi pernyataan tulus Ravin berhasil memporak porandakan hatinya.
"Apa elo bener-bener enggak suka sama gue?" tanya Ravin serius.
Ia menatap serius kedua mata Rachel yang gelisah.
Rachel terdiam tak bisa menjawab.
"Jawab gue, Rachel.
Kalo elo emang gak punya perasaan apapun sama gue, maka gak akan memaksa" ucap Ravin.
Rachel masih saja terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa.
Hati nya terus saja berdebar-debar dengan cepat seolah mengatakan bahwa ia,
tapi di satu sisi logikanya seolah terus menolak kenyataan itu.
"Gue .. " ucap Rachel bimbang.
"Gue .. gue gak bisa" ucap Rachel pelan.
Dan
hanya kata itu yang sanggup ia keluarkan.
"Oke gue ngerti" jawab Ravin cepat membuat Rachel mendongkak menatap wajahnya.
Entah kenapa sudut hati Rachel merasa sedih.
Apakah Ravin kecewa padanya?
Apakah Ravin benar-benar akan berhenti berjuang?
"Rav .. " ucap Ravin
Tapi tiba-tiba Ravin bangkit dari duduknya membuat mata Rachel mengikuti gerak lelaki itu.
"Mending elo istirahat, gue mau keluar sebentar" ucap Ravin hendak pergi.
Rachel diam, ia tahu lelaki itu kecewa.
Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, ia sudah terlanjur mengatakan hal yang membuat Ravin terluka.
Kini ia hanya mampu menatap punggung Ravin yang berjalan menjauh dan menghilang di balik pintu yang kembali tertutup.
Sedangkan di sisi lain, di depan pintu Ravin tersenyum miring saat mendengar jawaban Rachel.
Bukan karena ia kecewa, tapi justru sebaliknya. Ia bahagia.
Ia kini tahu perasaan Rachel juga sama dengan perasaannya.
Gadis itu juga menyukai.
"Pertanyaan gue bukan soal elo bisa terima gue atau enggak Chel,
tapi soal apa elo punya perasaan yang sama atau enggak sama gue.
Dan jawaban elo tadi bukan jawaban yang tepat.
Sekarang gue tau kalo elo juga sebenernya punya perasaan yang sama kaya gue" gumam Ravin sambil tersenyum
Ia bertekad akan meyakinkan Rachel, ia akan membuat Rachel menjadi miliknya.
"Gue bakal perjuangin elo, Rachel Irish Zelena" ucap Ravin sungguh-sungguh.
********
Semalaman ruang perawatan Rachel terasa sunyi sepi.
Jika malam-malam biasanya ada obrolan hangat sebelum tidur antara Rachel dan Ravin, tapi tidak pada malam tadi.
__ADS_1
Seusai Ravin kembali masuk ke ruangan Rachel lelaki itu hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun selain menyuruh Rachel untuk segera beristirahat.
Begitu pula dengan Rachel yang bingung dan gelisah, ia tak tau harus mengatakan atau berbuat apa.
Ia sadar penolakan yang ia lakukan pada Ravin pasti akan berakibat seperti ini.
Diantara keduanya pasti tidak akan bisa lagi seperti sebelumnya.
Harusnya Rachel senang jika Ravin mendiami nya dan mungkin akan segera menjauhi nya.
Karena itu yang ia inginkan.
Tapi,
bukannya senang hatinya malah merasa sedih.
Apakah Rachel benar-benar ingin Ravin menjauh darinya?
Hatinya berdenyut membayangkan itu.
"Ayo udah siap?"
Suara Ravin berhasil menyentak Rachel dari lamunannya.
Rachel menganggukan kepalanya sambil melihat semua barang miliknya yang sudah di kemas rapi oleh Ravin dalam satu tas.
"Udah" jawab Rachel seraya menghampiri Ravin.
Ia sudah berganti pakaian kasualnya, hari ini Rachel sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Luka luarnya sudah sembuh, kondisi tubuhnya juga sudah stabil.
Hanya, Rachel harus melakukan konsultasi dengan psikiater seminggu sekali untuk menyembuhkan trauma nya.
"Biar gue aja" ucap Ravin saat Rachel hendak membawa tas miliknya.
"Enggak apa-apa, gue bisa bawa sendiri" ucap Rachel tetap meraih tas jinjing itu ke tangannya.
"Kan gue bilang gue aja"
Ravin merebut tas itu dari tangan Rachel, membuat gadis itu mengalah.
Ravin masih tetap baik dan perhatian padanya, meski nada bicara lelaki itu terdengar dingin dan berbeda dari biasanya.
"Ayo .. " ucap Ravin saat semua barang sudah siap di bawa.
Rachel menganggukan kepalanya, lalu mengikuti Ravin yang berjalan lebih dulu keluar ruangan.
Mereka memasuki sebuah lift, untuk menuju lobby.
Selama di dalam lift tidak ada percakapan apapun di antara keduanya.
Semuanya terasa hening.
Sesampainya di lobby, Ravin sering di sapa ramah oleh para pegawai rumah sakit yang berpapasan dengannya.
Ravin pun membalas sapaan mereka dengan sama ramahnya.
Rachel dapat melihat Ravin benar-benar mempunyai sifat yang sangat rendah hati dan tidak sombong dari cara nya memperlakukan pada pegawai rumah sakit.
Dan
itu membuat Rachel semakin merasa bahwa dirinya tidak pantas bagi Ravin.
Lelaki itu terlalu sempurna dari segala hal.
"Mau pulang kemana? Apartemen Amel atau ke rumah?" tanya Ravin saat mereka sudah di dalam mobil.
"Apartemen Amel aja" jawab Rachel sambil memasang sabuk pengamannya.
Tidak ada jawaban apapun dari Ravin, lelaki itu hanya menganggukan kepalanya saja sambil menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya menuju apartemen Amel.
Selama di perjalanan pun tak ada obrolan di antara keduanya, Rachel hanya diam karena Ravin pun tak bersuara apapun.
Hatinya merasa tak nyaman Ravin mendiamkan nya seperti ini.
Meski ekor matanya berusaha terus melirik ke arah Ravin yang serius mengemudi.
Sedangkan Ravin sebenarnya sedang menahan dirinya agar tidak berbicara pada Rachel.
Padahal ia ingin sekali mengajak Rachel mengobrol seperti biasanya.
Akan banyak topik yang mereka bahas, akan banyak hal yang mereka tanyakan satu sama lain
dan yang paling Ravin rindukan adalah melihat wajah Rachel yang tertawa saat ada hal lucu di antara obrolan mereka.
Bukan karena marah atau kekanak-kanakan Ravin mendiamkan Rachel, tapi ada rencana di balik sikapnya yang seperti itu pada Rachel.
Rencana untuk membuat Rachel agar merindukan nya dan mengakui kalau ia pun merasakan hal yang sama dengan yang Ravin rasakan.
Dan untuk itu Ravin menahan diri sementara saja.
"Gue kangen senyum lo, Chel" batin Ravin.
.
.
.
.
Berhasil gak ya rencana Ravin 😁
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
__ADS_1
See you next episode ❣️