Angan Cinta

Angan Cinta
Berkumpul


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


"Aku pusing!" desah Rachel seraya menyandarkan tubuhnya di jok begitu ia masuk ke dalam ke dalam mobil.


Ravin tersenyum sambil mengusap pipi Rachel dengan penuh kasih, membuat Rachel nyaman hingga memejamkan mata.


"Revisi lagi?" tanya Ravin memandangi wajah cantik Rachel dari samping.


Rachel mengangguk sambil masih memejamkan mata.


"Pak Nawawi kayanya mau ngerjain aku.


Masa aku revisi terus, ini udah ketiga kali loh" keluhnya seraya mata terbuka.


Ravin terkekeh sambil membuka botol air mineral, yang kemudian ia berikan pada Rachel.


"Mana mungkin sih, Sayang.


Mungkin skripsian kamu ada yang kurang, coba kamu lebih teliti lagi" ucap Ravin.


"Enggak tau deh, aku pusing" ucap Rachel.


Rachel meletakan air mineral yang sudah di minum.


"Pusing banget?"


Rachel mengangguk cepat.


"Bangeeettt ... " jawabnya panjang.


Ravin tersenyum gemas lalu mengusap kepala Rachel dengan lembut.


"Sabar .. berjuang terus, siapa tau nanti kita bisa lulus bareng" ucap Ravin.


"Kok kamu bisa sih skripsi kamu lancar-lancar aja, usah gitu kamu juga santai banget.


Aku harus dari awal udah banyak kendala banget kayanya" keluh Rachel.


Rachel merasa iri karena kekasihnya itu selalu terlihat biasa saja dan tidak terbebani.


"Enggak lancar kok, aku sama juga kaya kamu.


Cuma, aku enggak di bawa pusing terus-terusan. Coba kamu juga bawa enjoy aja" saran Ravin, tangannya menhmjangkau untuk memakaikan sabuk pengaman pada Rachel.


Lalu lelaki itu mulai melajukan mobilnya, meninggalkan tempat biasa mereka berjanjian bertemu sepulang kuliah.


"Mana bisa aku enjoy kalo lagi kaya gini" jawab Rachel sambil bersandar.


Mata nya mulai terasa berat karena semalaman begadang.


"Bisa kok. Kamu coba lebih relax, Sayang.


Nanti coba kita kerjain skripsinya bareng-bareng, siapa tau bisa bikin kamu lebih semangat"


"Huh kalo bareng-bareng yang ada kamu gangguin aku mulu"


"Enggak lah, yang ada malah aku semangatin kamu dong"


"Aku bakal nemenin kamu sambil teriak terus, Ayo kasihku, cintaku, pacarku, Rachelku, kesayanganku semangat revisian nya.


Aku selalu mendukungmu, Sayang" hibur Ravin yang berhasil membuat Rachel tertawa renyah.


"Hahaha apaan sih kamu ..


Emang nya aku lagi turnamen bola pake di teriakin semangat kaya gitu" ucap Rachel.


Ravin reflek jadi ikut tertawa karena melihat Rachel tertawa.


Sebelah tangan Ravin terulur untuk mengusap air mata yang keluar dari sudut mata Rachel yang keluar karna tertawa sedari tadi.


"Nah gitu dong ketawa, kan cantik" ucap Ravin.


"Terus kalo enggak ketawa, aku jelek dong" ucap Rachel memanyunkan bibir.


Ravin di buat gemas oleh sikap sang kekasih.


"Cantik dong, kamu selalu cantik setiap saat.


Mau ketawa, mau cemberut, mau ngelamun, mau tidur pokoknya semuanya tetap keliatan cantik buat aku"


"Gombal .. " cebik Rachel.


"Kok gombal sih, aku benaran loh.


Kamu itu yang tercantik paling cantik dan selalu cantik buat aku" ucap Ravin lagi.


"Uluh uluh kok manis banget sih pacar aku ini" ucap Rachel gemas.


Cup

__ADS_1


Satu ciuman Rachel berikan di pipi kiri Ravin membuat lelaki itu menoleh senang.


"Eh bandel ya main cium" ucap Ravin senang.


"Kenapa? Enggak boleh?" ledek Rachel sambil tersenyum.


"Ya bolehlah, sebelah lagi malah belom" jawab Ravin sambil menunjukan pipi kanannya.


Rachel menonyor pipi Ravin dengan jari telunjuknya.


"Mau nya kamu .. " ucap Rachel.


Ravin mencebikan manja pada Rachel.


"Kok gitu, nanti yang kanan syirik loh, Yang"


"Enggak ada ya, udah fokus nyetirnya" ucap Rachel yang berhasil membuat Ravin merajuk manja padanya.


Rachel hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat sikap manja kekasihnya itu.


"Dasar .. " gumam Rachel sambil tersenyum.


********


Di rumah mewah milik Dinda dan Bayu sedang di adakan acara makan malam untuk merayakan ulang tahun Bayu.


Acara makan malam tersebut hanya di hadiri oleh para keluarga serta para sahabatnya.


Yang tak lain juga keluarga Rara dan Ken.


Rara dan Ken tampak sudah hadir dengan putra kedua dan putri bungsu mereka, Arkana dan Raisa.


Kedua remaja itu langsung menghambur bergabung dengan si kembar setelah sampai di kediaman mewah tersebut.


"Loh Ravin sama Rachel mana, katanya mau ikut?" tanya Dinda pada Rara.


"Mereka nyusul, tadi sepulang kuliah Ravin antar Rachel pulang dulu buat ganti baju dan siap-siap" jawab Rara.


"Ya ampun pake siap-siap segala. Cuma makan malam keluarga ini"


"Kaya sendiri nya enggak aja, kamu aja dari dulu sampai sekarang masih begitu.


Mau anterin makanan buat aku ke rumah sakit aja kadang siap-siap nya lebay" sambar Bayu yang ikut menimbrung.


"Ya namanya juga perempuan Bay" timpal Ken.


"Ih kamu kok malah jadi ngomongin aku sih" ujar Dinda tak terima.


"Eh udahlah kok jadi adu argumen begini" ucap Rara menengahi.


Kedua suami istri itu pun menjadi diam.


Memang hanya Rara yang selalu bisa menjadi penengah di antara keduanya.


Meski kini mereka sudah berumur, persahabatan keduanya tak lekang di makan waktu.


Malah mereka semakin erat menjalin persahabatan layak nya saudara.


"Ini ngomong-ngomong Dika sama Vina mana? Kok belum keliatan?" tanya Ken.


"Iya benar, mana mereka?" tanya Rara juga.


Keduanya melihat ke sekeliling, tapi tak menemukan Dika dan Vina.


"Mereka bakal dateng kok, tapi katanya agak sedikit telat.


Dika masih ada jadwal operasi, jadi Vina mau nunggu aja" jawab Dinda


"Oh .. " seru Rara dan Ken.


Keempatnya kembali asik mengobrol, kadang mereka membicarakan tentang pekerjaan, anak-anak, masa depan, atau bernostalgia tentang masa lalu.


Tak akan habis pembicaraan mereka jika sudah berkumpul seperti ini.


********


Kama tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis cantik bergaun peach yang kini sedang tertawa bersama saudara kembarnya, di sudut ruangan yang tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.


Arkana yang memang berdiri di samping nya sambil mengajak Kama mengobrol tahu benar kalau fokus lelaki sebaya nya itu bukan pada pembicaraan mereka, tapi pada adik kesayangannya.


"Awas nanti muka adek gue bolong" sindir Arkana yang berhasil membuat Kama kaget dan malu.


"Elo Ar .. " ucap Kama malu.


Arka tersenyum miring sambil melihat Kama yang masih tampak kikuk.


"Segitu sukanya elo sama adek gue?" tanya Arka terang-terangan.


Kama mengalihkan pandangannya pada Arka lalu kembali lagi memandang Raisa.


"Ya gitulah .. elo tau sendiri " Kama menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.

__ADS_1


Tentu saja Arkana tahu, kalau Kama begitu menyukai adik kesayangannya itu.


Arkana itu orang yang paling peka jika menyangkut tentang Raisa, apapun itu.


"Jangan terlalu berharap lo.


Gue masih belum kasih restu, gue juga masih gak izinin Raisa pacaran" ucap Arkana mengancam.


Kama mendelik kesal pada sahabat sekaligus putra dari sahabat kedua orang tua nya tersebut.


Arkana terlalu posesif sebagai Kakak.


"Jangan terlalu posesif banget deh elo Ar sama Raisa.


Biarin aja sih Raisa udah gede ini, bebasin dua sedikit aja" ucap Kama.


"Itu sih mau nya elo, biar bisa bebas dekatin adek gue" ucap Arka.


"Lah bukan gitu dodol, gue cuma kasian sama Raisa.


Dia terlalu elo kekang pergaulannya, nanti dia bisa jenuh juga lama-lama kalo begitu terus"


"Biarin aja, ini juga gue lakuin buat kebaikan dia.


Gue enggak mau ada nyakitin dia" ucap Arkana sungguh-sungguh sambil menatap Raisa.


"Elo masih marah soal kejadian waktu itu?" tanya Kama.


"Ya jelas aja gue marah dan gue enggak bakal lupa" ucap Arka tepancing emosi.


Bukan tanpa alasan Arka begitu posesif soal pergaulan Raisa di luar sana.


Ini semua karena kejadian tahun lalu saat Raisa memasuki bangku SMA, seseorang menjadikan Raisa sebagai barang taruhan.


Seorang lelaki anggota OSIS begitu baik yang mendekati Raisa, tapi ternyata lelaki itu menjadikan Raisa barang taruhan dengan teman-teman nya.


Kalau dirinya berhasil membuat Raisa yang merupakan anak konglomerat menyukai nya, anak lelaki itu akan mendapatkan satu mobil mewah.


Sejak kejadian itu Arkana membatasi pergaulan Raisa dengan lawan jenis.


Dirinya yang selalu menjaga dan menemani Raisa kemanapun, sampai tidak banyak anak lelaki yang berani mendekati adik nya.


Kama terdiam, ia tahu kalau sudah salah bicara.


Arkana yang jarang marah, akan selalu terlihat emosi jika membicarakan tentang kejadian itu.


"Kak, kenapa?" pertanyaan itu terlontar dari Raisa yang datang menghampiri nya.


Melihat wajah Arkana yang kesal dari kejauhan membuat gadis itu penasaran.


"Enggak apa-apa" jawab Arkana.


Ekspresinya kesal dan marahnya coba ia redam.


"Beneran?" tanya Raisa.


Arkana menganggukan kepalanya.


Raisa menatap Kama dengan tatapan bertanya, yang hanya di jawab angkatan bahu oleh Kama.


"Raisa kenapa ke sini? Bukannya lagi ngobrol sama Kalila?


Lila nya kemana?" tanya Kama.


"Oh .. itu Kak Lila lagi panggil yang lain.


Makan malam nya udah mau di mulai, ayo kita ke sana" ajak Raisa pada keduanya.


"Kakak sama Kak Rachel belum datang?" tanya Arkana.


"Enggak tau, coba kita liat aja" ajak Raisa merangkul lengan Arka.


Lelaki itu menganggukan kepalanya, lalu mengikuti adiknya.


Sedangkan Kama mengikuti dari belakang terlihat gemas ingin juga di rangkul oleh gadis yang ia sukai itu.


...Tapi jangankan untuk merangkul, baru menatap saja Kama sudah di berikan tatapan mengacam dari Arkana....





Note : Aku bakal update sebisa dan semampunya aja ya.


Dan mungkin juga akan segera aku tamatkan.


Karena ada alasan pribadi, jadi maaf ya buat semuanya.


Jangan lupa Like, Coment dan Vote

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2