
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Nara tak pernah tahu dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Gadis itu tidak mengerti apa yang menjadi penyebab laki-laki yang ada di hadapan nya kini terlihat sedang menahan marah.
Apa kesalahan yang telah ia perbuat? Itu pikir Nara.
"Aku mau langsung ke inti nya saja" ucap Ravin tanpa basa basi.
"Tolong kamu dan Papi kamu jaga batasan" ucap Ravin.
Nara mengerenyit tak mengerti dengan maksud ucapan tersebut.
"Maksudnya?" tanya Nara bingung.
"Kamu pasti tau apa maksud pembicaraan aku" hardik Ravin.
Nara benar-benar merasa bingung dengan sikap dingin Ravin yang tiba-tiba seperti ini.
"Aku benar-benar enggak ngerti maksud kamu Rav. Dan lagi pula apa maksudnya aku dan Papi untuk menjaga batasan kami?" tanya Nara.
Hampir dua puluh tahun mereka bersahabat. Tentu Nara tahu bagaimana peringai Ravin jika sedang marah.
Tapi, pasalnya Nara bingung apa yang membuat lelaki itu marah saat ini.
"Bukannya seharusnya kamu juga tahu apa yang di lakuin Papi kamu? Atau kamu berpura-pura enggak tahu kalau Papi kamu mencari tahu tentang kehidupan Rachel, lalu dia membeberkannya sama kedua orang tua aku?"
Nara menggelengkan kepalanya.
"Maksud kamu.... "
"Bahkan Papi kamu juga mengajukan perjodohan antara kita" sambar Ravin memotong ucapan Nara.
Nara mengerjap kaget mendengar penuturan Ravin, pasalnya ia tak tahu apapun tentang itu.
"Tunggu ... Maksud kamu Papi aku mengorek tentang masa lalu Rachel, dan mengajukan perjodohan pada Om dan Tante?" tanya Nara.
"Apa kamu sekarang berpura-pura enggak tau?"
Nara menggeleng.
"Aku enggak tau Rav, sama sekali enggak tau"
"Lalu dari mana Om Hendra bisa tau tentang Rachel kalau bukan dari kamu.
Pasti kamu udah cerita tentang dia kan sama Papi kamu" tuduh Ravin.
"Rav!" bentak Nara tanpa sadar, membuat beberapa pengunjung di sana memperhatikan mereka berdua.
Ravin sedikit tersentak juga, Nara yang langsung terdiam sejenak saat menyadari kini beberapa pasang mata melihat ke arah dirinya dan Ravin.
"Maaf .. " cicitnya saat menyadari ia telah kelepasan.
Nara tak pernah berbicara kasar apalagi bernada tinggi dengan siapapun, apalagi ini Ravin.
Sahabat sekaligus orang yang ia cintai, tapi mendengar tuduhan Ravin yang terus menyudutkan dirinya membuat Nara kesal dan marah. Dan secara refleks ia bereaksi seperti itu.
"Maaf aku gak sengaja bentak kamu, tapi aku merasa marah dengan tuduhan kamu itu Rav.
Aku sama sekali enggak tau dan bicara apapun tentang Rachel sama Papi" jelas Nara.
"Bahkan aku sendiri pun kaget dengar tentang hal ini dari kamu.
Aku masih gak percaya kalo Papi aku berbuat kaya gitu. Apa kamu yakin Papi aku... maksud aku kamu enggak salah paham?" tanya Nara memastikan lagi.
Jujur Papi nya bukan orang yang picik seperti itu, Nara tak bisa percaya.
"Enggak ada yang salah paham disini Nara, Papa dan Mama aku sendiri yang udah menjelaskan semuanya.
Dan karna itu juga Papa minta aku buat berpikir lagi tentang hubungan aku dan Rachel, juga mempertimbangkan tentang perjodohan kita.
Dengan artian lain, Papa aku terpengaruh sama fakta yang Om Hendra kasih" ucap Ravin.
"Aku tau, latar belakang kehidupan Rachel memang kurang baik tapi aku tetap enggak bisa melepas dia.
Dan membuat kamu menggantikan dia gitu aja" tambahnya.
Nara tertunduk, satu tangannya meremas ujung dress nya mendengar pengakuan Ravin.
Tiba-tiba matanya terasa panas, mencoba menahan genangan air mata yang sudah tertumpuk.
Yang mungkin dalam sekali kedip saja, air itu akan meleleh di kedua pipi putihnya.
"Apa aku segitu enggak berarti nya di mata kamu?" tanya Nara lirih.
Ravin bergeming, jujur dia tidak bermaksud melukai hati sahabat itu.
Mungkin ia telah kelewat batas karena perasaannya yang kalut.
"Nar ... "
"Apa aku memang gak memiliki tempat sama sekali di hati kamu, Rav?" tanya gadis itu lagi tak kalah lirih.
Jika sebelumnya menunduk, Nara kini mendongkak mempertemukan kedua netra matanya dengan milik Ravin.
Pelupuk mata itu terlihat menggenang.
Hati Ravin seketika merasa bersalah.
Ia sudah menyakiti perasaan gadis yang ia sayangi sebagai sahabat.
"Nara ... "
__ADS_1
Ravin meraih tangan Nara yang ada di atas meja untuk ia genggam.
"Kamu salah paham. Kalau kamu mengira kamu enggak berarti buat aku itu salah, kalau kamu mengira kamu enggak punya tempat di hati aku juga itu salah.
Kamu itu berarti dan memiliki tempat tersendiri di hati aku, kamu itu orang yang aku sayang dan berarti buat aku. Tapi itu bukan sebagai orang yang aku cinta, tapi sebagai sahabat yang sudah belasan tahun kita bersama"
"Kamu dan Rachel memiliki tempat dan artian yang berbeda di hati aku, Nara.
Kamu itu sahabat terbaik aku selama ini.
Maaf kalau perkataan aku menyakiti kamu, melukai hati kamu tapi ... aku ingin jujur pada kamu dan diri aku sendiri.
Aku enggak mau berbohong dan malah akan melukai kamu lebih dalam pada akhirnya" sambung Ravin.
Nara tahu, kedudukan nya di hati Ravin hanya sebagai sahabat dan tak lebih.
Tapi mendengar semua kenyataan tetap saja menyakitkan.
"Aku berharap hubungan persahabatan kita gak hancur karna masalah perasaan lain Nar" ucap Ravin setelah keheningan terjadi sejenak di antara mereka.
Lama terdiam, Nara menganggukan kepalanya.
"Aku minta maaf Rav. Kalau perasaan aku ini membebani kamu, juga maaf karena perbuatan Papi" cicit Nara.
Jujur Nara merasa malu dan bingung, ia tak tahu tentang masalah ini. Bagaimana Papi nya bisa tahu tentang Rachel karena ia tak pernah sekali pun bercerita tentang itu.
"Kita lupain aja tentang ini Nar. Aku memang gak bisa memaksakan perasaan kamu untuk berhenti, tapi aku berharap kamu bisa coba hapus itu perlahan dan coba buat buka hati kamu untuk orang lain.
Aku juga pengen liat kamu bahagia" ucap Ravin tulus.
Tangan Ravin terulur menghapus sisa air mata yang ada di pipi Nara.
"Dan masalah Om Hendra, aku minta maaf atas ucapan aku yang menuduh dan menyudutkan kamu" ucap Ravin.
Nara menganggukan kepalanya.
"Aku juga minta maaf atas nama Papi, aku bakal bilang sama Papi buat berhenti menjodohkan kita" jawab Nara.
Ravin tersenyum mendengarnya.
"Makasih Nar"
Nara mencoba membalas senyum Ravin sebisa mungkin. Meski sakit ia harus menerima kenyataan bahwa Ravin kini sudah tak mungkin baginya, tapi setidaknya Nara bersyukur Ravin masih menganggapnya sahabat dan tak membenci dirinya setelah apa yang ia lakukan.
Karena jika sampai Ravin benar membencinya, Nara mungkin tak akan sanggup.
"Rav .. "
Ravin berdehem menjawab.
"Sebelum pulang, boleh aku peluk kamu sekali aja?" pinta Nara.
Tak merasa keberatan Ravin menganggukan kepalanya.
Nara memeluknya erat, sangat erat menyembunyikan wajahnya di dada Ravin.
Pelukan itu dulu biasa mereka lakukan sebagai kedua sahabat, dan kali ini pun tetap sama hanya sebagai sahabat.
Tapi, siapa yang akan menyangka pelukan itu hanya pelukan persahabatan jika pelukan sang gadis terlihat begitu erat seperti sedang menyalurkan cinta dan kerinduan.
Termasuk bagi seseorang yang kini terlihat mematung di depan pintu caffe dengan dada yang mencelos dan bergemuruh hebat.
Perasaanya tak kuat jika harus terus berdiri di sana melihat lelaki nya tak juga menguraikan pelukan keduanya.
Dengan rasa sakit di hatinya, ia lebih memilih pergi dari sana meninggalkan caffe.
*********
Rachel berjalan gontai tanpa tujuan. Menundukkan wajahnya, Rachel berusaha menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.
Kedua matanya tampak basah seperti habis menangis. Ya ia menangis.
Ini pertama kalinya Rachel meneteskan air mata karena lelaki itu.
Setelah melihat Ravin yang berpelukan erat dengan Nara tadi, Rachel keluar dari caffe dan berjalan menyusuri panjangnya trotoar.
Bayangan Ravin yang berpelukan dengan Nara masih terlintas jelas di kepalanya.
Rachel bingung harus berbuat apa saat melihat itu tadi.
Haruskan ia menghampiri keduanya?
Tapi melihat bagaimana Nara memeluk Ravin dengan erat dan Ravin pun membalas pelukan Nara, Rachel merasa tak mungkin ia tiba-tiba muncul.
Rachel merasa cemburu melihat itu.
Bukankah wajar jika seseorang perempuan merasa cemburu melihat lelakinya memeluk perempuan lain?
Meski Rachel tahu Ravin dan Nara sudah bersahabat sejak kecil tapi Rachel juga tahu kalau Nara memiliki perasaan lebih pada Ravin.
Dan mungkin itu yang membuat rasa cemburu tiba-tiba menjalar di hatinya.
Berdiri di depan sebuah halte bus, Rachel mendongkak kala tiba-tiba sebuah mobil jaguar hitam berhenti di depan halte tersebut.
Beberapa orang lain yang sama sedang menunggu bus pun ikut menatap mobil tersebut, hingga kaca mobil tiba-tiba di turunkan membuat si pengendara terlihat.
Lelaki berwajah blasteran yang terlihat mirip dengan dirinya terlihat tersenyum ke arahnya sambil menurunkan kacamata hitam dari hidung mancungnya.
"Edward .. "
"Chel, kamu ngapain di situ?" tanya nya dari balik kemudi.
"Gue lagi nunggu bus datang, elo ngapain berhenti di situ?" tanya Rachel yang sedang duduk di bangku halte.
__ADS_1
Wajah Rachel menunjuk mobil mewah Edward yang seenaknya saja di jalur pemberhentian bus.
"Aku lagi lewat sini, kebetulan liat kamu di sini. Kamu mau ke mana? Ayo kamu bareng aku aja" ajak Edward.
"Enggak usah, gue mau tunggu bus aja" tolak Rachel.
"Chel, lama nunggu bus. Kamu mau kemana aja aku antar"
"Enggak usah, makasih"
"Ayolah Chel, bareng aku aja" paksa Edward.
"Ish .. yaudah lah" decak Rachel.
Rachel terpaksa ikut karena merasa tak nyaman orang-orang memperhatikan interaksinya dengan Edward.
Akhirnya Rachel memutuskan masuk ke dalam mobil Edward. Membuat lelaki itu bersorak kegirangan.
"Kamu mau aku antar ke mana?" tanya Edward begitu menjalankan kembali mobilnya.
"Antar gue pulang aja" jawab Rachel singkat.
"Oke" ucap Edward.
Hening mengisi di sepanjang perjalanan.
Hingga Edward yang sedari tadi mencuri-curi pandang pada wajah Rachel akhirnya mulai bertanya.
"Kamu habis nangis ya?" tanya Edward.
"Enggak" sanggah Rachel cepat.
"Tapi mata kamu keliatan bengkak kaya habis nangis"
"Enggak usah sok tau deh lo. Udah fokus aja kejalan" ucap Rachel sambil mengalihkan wajahnya ke arah jendela.
Edward mengangguk-angguk pelan.
"Chel sebelum ngantar kamu pulang, aku mau mampir dulu ke suatu tempat sebentar enggak apa-apa kan?" tanya Edward.
"Kemana?"
"Ke tempat temen aku, di depan sana. Kamu bisa tunggu di mobil kalo ke keberatan, aku enggak lama beneran" ucap Edward meyakinkan.
Berdecak dalam hati, tapi Rachel tetap mengiyakan.
"Yaudah" jawab Rachel.
Tak lama setelah Edward mengatakan itu, mobilnya berhenti di sebuah toko alat-alat elektronik.
"Bentar ya" ucap Edward yang di angguki oleh Rachel.
Begitu membuka sabuk pengamannya, Edward langsung melesat turun dari mobil.
Tapi tak lama ia kembali lagi sambil membawa sebotol jus kemasan di tangannya.
"Ini minuman buat kamu sambil nunggu aku" ucap Edward menyodorkan botol tersebut pada Rachel.
Rachel menerimanya.
"Thanks"
"Itu di minum ya, aku gak lama" Edward menunjukkan senyum ramahnya seperti biasa.
"Iya sana cepetan" ucap Rachel kesal lantaran lelaki itu malah masih bergeming memperhatikan nya.
"Yaudah aku tinggal"
Edward kembali pergi, meninggalkan Rachel yang menunggu di dalam mobil.
Rachel membuka jus dari Edward lalu meneguk nya beberapa kali.
Sambil menunggu Edward, Rachel merasakan ponselnya bergetar dari dalam tas.
Merogohnya, Rachel melihat satu panggilan masuk dari Ravin.
Tangannya tak berniat menerima panggilan tersebut. Hingga ponselnya mati lalu bergetar kembali hingga panggilan ketiga kali.
Ponselnya kembali menyala tapi kali ini bukan sebuah panggilan melainkan pesan masuk.
Membuka pesan tersebut, Rachel sudah tahu itu dari Ravin.
Rav 🖤 : Sayang kamu di mana? Kenapa telepon aku enggak di jawab? Aku masih di Caffe, kamu jadi ke sini?"
Tak berniat membalas, Rachel langsung saja mengunci kembali ponselnya lalu memasukan nya kembali ke dalam tas.
Menyandarkan tubuhnya di jok mobil, Rachel yang sedang memperhatikan lalu lalang kendaraan tiba-tiba merasakan kantuk yang sangat berat di matanya.
Hingga akhirnya tanpa sadar ia terlelap tidur.
•
•
•
•
Jangan lupa Like Coment dan Vote.
Kalo yang protes up nya lama maaf ya aku memang malas. Penyebabnya karna cerita ini enggak kontrak jadi gak menghasilkan apapun.
Itu sebabnya mau aku tamatin buru-buru.
__ADS_1
Tapi aku enggak bakal asal kok bikin alur dan ceritanya. Yang penting kalian sabar aja kalau masih mau baca hehehe