
Setahun telah berlalu sejak pertunangan Daffa da Citra. Sekarang aku sudah akan masuk ke perguruan tinggi.
Aku masuk perguruan tinggi dimana Mika dan Daffa juga Citra kuliah . Aku dan Daffa masih sering komunikasi. Terkadang Daffa main ke toko bunda dan sesekali aku masih pergi jalan dengannya. Aku hanya menganggap Daffa sebagai teman. Tapi Daffa masih saja berharap hubungan kami seperti dulu.
Aku tak ada perasaan apa apa lagi dengan
Daffa. Karena terus terang.. aku mulai menyukai Mika. Tapi aku tak berani mengutarakannya... aku takut hanya aku yang memiliki perasaan lebih sedang Mika hanya menganggap aku adik.
Hari ini aku ke mall untuk membeli buku persiapan buat kuliah tanpa ditemani Mika,karena ia ada meeting ,ingin kerjasama dengan satu perusahaan untuk membuka bengkel yang jauh lebih besar.
Setelah puas mencari keperluan buat kuliah, aku merasa lelah dan haus. Aku masuk kesebuah kafe yang terdapat di dalam mall.
Aku tak tahu ternyata didalam ada Citra dan mama yang juga lagi makan. Mama tersenyum ke arahku, tapi aku tak membalasnya.
"Maaf ma... jangan pura pura baik... itu akan menambah lukaku... lebih baik kita menganggap kalau kita tak ada hubungan apa apa... agar aku tak selalu sedih memikirkan mama yang memeluk Citra bukan aku putrimu "
"Ma.. lihat siapa yang datang.. sudah dicampakan Mika ya... kok sendirian. Kasihan... tak ada yang mau menemanimu.. "
"maaf.. bukannya tak ada yang menemani tapi aku hanya tak mau ditemani"aku membalas perkataan Citra. Aku merasa sangat membencinya karena telah merebut kasih sayang mama.
Aku melihat mama mengelus lengan Citra seperti menenangkannya.
"Siapa memangnya yang mau menemanimu... kamu jangan pernah berharap Daffa masih mau menghubungimu... kami akan menikah"
"Kalau memang Daffa mencintai mu... mengapa kamu hanya ditemani mamamu... bukan calon suami"
"Jangan takut.. aku tak pernah menghubungi Daffa, tapi ia sendiri yang selalu menghubungiku, masih berharap aku mau menerimanya"ucapku memanasi Citra.
"Kamu jangan berbohong... aku selalu jalan dengannya... kapan ia menghubungimu"
"Kamu nggak 24 jam bersamanya bukan. Dari mana kamu yakin dia tak pernah menghubungiku"
"Dasar wanita jal*ng...kau tahu kan ia tunanganku...masih saja kau mengharapkan nya.. "
"Sudah Citra... malu dilihat orang"ucap mama membujuk Citra. Melihat itu hatiku tambah sakit. Ketika ponsel ku berdering, ku lihat tertera nama Daffa, aku langsung menghidupkan speakernya buat memanasi Citra.
"Hallo Daf... ada apa"
__ADS_1
"Kamu dimana... "
"Aku lagi di mall mencari buku buat kuliah"
"Dengan siapa... "
"Sendiri... Mika ada meeting.. "
"Kok nggak ngomong mau ke mall, aku kan bisa temani"
"Nggak perlu Daf.. nanti tunangan mu marah"
"Apa hak dia marah... aku kan sudah katakan dari dulu kalau aku tak mencintainya... aku bertunangan hanya karena perjodohan "
"Kamu nggak boleh begitu, nanti aku yang akan disalahkan Citra,dipikirnya aku yang merayumu"
"*Adel... jangan kamu pikirkan Citra... aku tak peduli apa kata Citra.. "
"Tapi aku nggak mau ia salah sangka.. jadi aku harap kamu jangan hubungi aku lagi*... "
Adel mematikan sambungan ponselnya sebelum Daffa selesai bicara.
"Maaf.. aku harus mematikannya... aku tak mau kamu lebih sakit hati mendengar ucapan yang akan keluar dari mulut Daffa.. sekarang kamu tahukan... aku tak pernah menghubungi Daffa.. tapi ia yang selalu menghubungiku"
Tiba tiba Citra berdiri dan menyiramkan minumannya ke wajah Adel.
"Kau dasar jal*ng...apakah kau sudah tak bisa mencari lelaki lain sebagai mangsamu... apakah kau tak pernah diajari ibunya bagaimana bersikap terhormat sebagai wanita sehingga harus menggoda tunangan orang... "
"Kamu benar... aku tak pernah diajari ibuku.. jangankan buat mengajariku... menanyakan kabarku saja ia tak pernah... ia tak tahu apa penyakitku, apa yang kuperlukan... apa yang aku rasakan... karena ia tak pernah merasa punya putri... aku sudah tak punya ibu sejak aku kecil...ia telah pergi meninggalkanku... puas kau"
"Kau memang pantas ditinggalin... ibumu pasti membencimu... dan malu punya anak yang tak ada harga diri seperti kamu yang bisanya menggoda tunangan orang... "ujar Citra
"Citra... sudah.. apa kamu nggak malu... lihat orang orang pada memperhatikan kita... "ucap mama menenangkan Citra.
"Maaf Adel... saat ini mama belum bisa memberitahukan Citra kalau kamu anak kandung mama... dan maafkan mama tak bisa membelamu"
Aku berlari meninggalkan mama dan Citra... hatiku sakit dan sedih melihat mama menenangkan Citra dan tak perduli padaku anak kandungnya...
__ADS_1
Rasa lapar dan haus tak lagi kurasakan... aku langsung pulang. Sampai dirumah bunda aku lihat Mika yang lagi santai diruang keluara sambil bermain gitar.
Aku langsung masuk... dan menangis di kamar. Mika mendengar tangisan Adel, ia pun masuk kamar.
"Adel... kamu kenapa menangis.. kamu capek ya mencari buku sendiri. Aku kan sudah bilang.. malam saja mencari bukunya... bisa aku temani"ucap Mika
"Mika... "Adel menangis sambil memeluk Mika.
"Mengapa baju mu basah begini... "
Adel menceritakan apa yang terjadi di mall tadi.
Mika melepaskan pelukan Adel, dan memegang kedua bahu Adel..
"Adel... aku bukan membela Citra... tapi ia memang berhak marah ketika tahu tunangan nya mencintai wanita lain.. coba kamu ada diposisi Citra dan mengetahui tunanganmu masih berhubungan dengan wanita lain... kamu pasti marah jugakan. Aku sudah sering bilang... lepaskan Daffa... masih banyak lelaki lain yang akan mencintaimu.. "
"Aku tak mencintai Daffa... aku tak pernah mengharapkannya lagi"
"Tapi kamu masih mau berhubungan dengan Daffa... itu berarti kamu masih membuka hatimu buat Daffa masuk lagi kedalamnya.. "
"Sudahlah Mika... kamu tak akan mengerti aku.. kamu sama saja dengan mama... membela Citra. Semua salah ku... Citra benar aku memang gadis malang yang pantas ditinggalin.. tak ada yang mencintaiku.. "
"Aku tak membela Citra.. kamu tahu Del... kamu itu hanya memanfaatkan Daffa buat membalas sakit hatimu pada Citra karena ia telah merebut ibumu...jika memang benar kamu tak mencintainya lagi. "
"Ya... aku memang sakit hati pada Citra karena merebut kasih sayang mama... sekarang kamu puas dengan jawabanku... sekarang keluarlah..tak akan ada yang mengerti dengan perasaan aku... tak ada yang bisa memahami aku... tinggalkan aku sendiri Mika.. aku sudah terbiasa hidup sendiri... aku sudah terbiasa menata hati sendiri... aku sudah terbiasa hidup tanpa kasih sayang... "teriak Adel dan mendorong tubuh Mika keluar dari kamarnya dan mengunci..
"Adel... dengar dulu.. bukan maksud aku menyalahkanmu... cuma aku minta kamu juga harus mengerti posisi Citra sebagai tunangan Daffa... bukan sebagai anak tiri ibumu"
Adel tak menjawab perkataan Mika. Ia hanya menangis. Mika mendengar tangisan Adel. Ia tak tahu harus berbuat apa... ia sudah berulang kali meminta Adel membuka pintu, tapi tak digubris.
"Seandainya ada bunda... pasti ia bisa menghibur Adel... maaf Adel.. aku bukan bermaksud membela Citra.. "
**************************
Terima kasih sudah membaca novel ini.
Mampir juga kenovelku berjudul ELEGI CINTA LANGIT DAN PELANGI
__ADS_1