
Sudah lebih dari lima bulan Adel bersekolah disini. Ujian semester ganjil juga sudah berlangsung. Minggu depan penerimaan nilai hasil ujian . Para siswa siswi diminta membawa orang tuanya untuk pengambilan nilai.
Adel bingung harus minta tolong pada siapa untuk mengambil hasil ujiannya. Tidak mungkin ia meminta orang tuanya datang, ibu tirinya pasti nggak mau papanya pergi tanpa dirinya.
Hubungan Adel dan Daffa juga semakin dekat, mereka telah sepakat menjalin hubungan yang lebih serius ,sebagai sepasang kekasih.
Tanpa Adel ketahui, ternyata Daffa sudah dijodohkan orang tuanya dengan Citra. Daffa tak mau memutuskan hubungannya dengan Adel, karena yang ia cintai Adel bukan Citra. Keluarga berencana mengadakan pesta pertunangan setelah mereka lulus, sekitar enam bulan lagi.
Orang tua para siswa siswi telah berdatangan. Adel hanya melihat keakraban teman temannya dengan ibu mereka.
Dari tempat Adel duduk, ia melihat Daffa dan Citra hadir bersama orang tua mereka.
Adel memandangi dengan seksama ke arah wanita yang menggandeng Citra wajahnya seperti familiar.
Para orang tua masuk ke aula tempat dimana nilai hasil ujian diberikan. Sebelumnya akan diumumkan nama nama siswa atau siswi yang berprestasi.
Bunda Mika datang kesekolah sendirian, tanpa didampinhi Mika. Entah dimana cowok itu berada. Adel yang melihat bunda, berlari mengejarnya.
"Bunda.... "Adel memeluk dan mengecup pipi bunda Mika
"Baru saja bunda mau mencarimu... "
"Bunda sendirian... mana Mika. Mengapa bunda mencari Adel" Adel bertanya dengan menggebu
"Tanya itu satu satu sayang... bagaimana bunda mau menjawabnya"bunda mencubit pelan hidung Adel.
"Bunda sakit... "
Mika yang berada dibelakang mereka melihat sikap manja Adel pada bundanya.
"Bunda ke sini bukan mengambil nilai ujian Mika... tapi kamu. Kalau Mika, nggak perlu diambil deh, nilainya paling C atau D. Jadi hari ini bunda jadi wali kamu.. "
"Bunda serius... kok bunda tahu Adel nggak ada wali"
__ADS_1
"Tahu dong... kan kamu gadisnya bunda, siapa lagi wali nya kalau bukan bunda.. "
"Bunda... Adel sayang bunda"Adel bergelayut manja dilengan bunda
"Hhhmmm... jadi sekarang anak bunda Adel bukan Mika.. "ucap Mika dari belakang
"Hei.. ada kamu rupanya... bunda bosan ngambil nilaimu... nggak ada bagus bagusnya, mendingan ambil nilai anak gadia bunda, pasti jauh lebih baik dari kamu"
"Bunda... bunda nggak mau kan dikatakan bunda durhaka, karena mencampakan anak kandung sendiri "
"Mana ada bunda yang durhaka, yang ada anak durhaka.. "cabik Adel
"Ada... dong. Jika orang tua yang tak mengakui anaknya disebut apa"
"Itu karena anaknya tak bisa dibanggakan"ucap Bunda sambil melangkah masuk ke aula.
Bunda Mika melihat mamanya Daffa melambaikan tangannya, mengajak duduk dekat mereka. Bunda menyeret langkahnya kesana. Adel mengikuti bunda.
"Sini duduk... dekat kami"ucap mama Daffa
"Mama... "lirih Adel.
Wanita itu menoleh kearah Adel, mata mereka beradu. Adel tak salah lagi, walau penampilan mamanya saat ini berbeda, tampak lebih glamor tapi ia tak bisa melupakan sorot mata itu. Setelah beberapa saat mata mereka bertemu, wanita kembali memandang kedepan.
Adel tak dapat membendung air matanya, ia tak salah lagi. Itu mamanya, mama yang selama ini sangat dirindukannya. Ingin rasanya Adel memeluk wanita itu, tapi karena reaksi wanita itu yang mengacuhkannya, Adel membuang rasa itu.
"Apakah mama sudah tak mengenal aku lagi, apakah mama memang sudah lama melupakan diriku... mama ingin rasanya aku berlari kedalam pelukanmu"bathin Adel
Bunda menoleh kearah Adel, karena mendengar suara isakan.
"Adel... mengapa.kamu menangis. "tanya bunda sambil mengusap air mata Adel.
Mika juga heran melihat Adel yang tiba tiba menangis.
__ADS_1
"Adel kangen mama... "
"Sudah... sini bunda peluk, biar kangennya hilang"bunda memeluk Adel
Diam diam mama Citra memandang ke arah Adel. Ia melihat Adel yang dipeluk bunda sambil mengusap punggung nya.
"Bu Dina... siapa yang duduk diaebelah kamu"bisik Mama Citra yang bernama Ayu.
"Itu orang tua sahabatnya Daffa, tetangga kami.. "
"Itu anaknya yang dipeluk"tunjuknya kearah bunda. Mamanya Daffa yang bernama Dina memandang kesamping kanan nya melihat siapa yang dipeluk Mia bunda Mika
"Bukan.... anaknya lelaki"
Belum sempat mama Ayu bertanya banyak, guru telah memeulai acara.
Setelah kata sambutan dilanjutkan dengan pengumuman hasil nilai belajar di sekolah.
Dari keseluruhan kelas XII, yang mendapat nilai tertinggi adalah Daffa dan dari kelas XI Adel.
"Adel apakah itu namamu yang disebut"tanya bunda senang
"Ya bunda... "
"Akhirnya bunda bisa merasakan berdiri di depan sana mendampingi anaknya yang berprestasi. "Bunda memeluk Adel erat.
Tiba saatnya para juara dan orangtuanya maju ke depan. Mama Ayu terus saja memandangi wajah Adel
"Apakah itu benar benar kamu Adelia Calista. Mama sangat merindukanmu. Maafkan mama karena meninggal kan kamu. Tampaknya kamu sangat bahagia dan papamu membesarkanmu dengan sangat baik, mama juga sebenarnya merindukanmu kamu"
****************************
Terima kasih telah membaca dan menungu novel ini.
__ADS_1
Mampir juga di novel ku AKU BUKAN SIMPANAN.