
Sesampainya dirumah, Mika mengambil kotak obat dan mengobati luka disudut bibir Adel.
"Mengapa kamu sampai bertengkar dengan Citra dan temannya"
"Aku tak tahu.... "ucap Adel, ia tak ingin menjawabnya
"Nggak mungkin kamu nggak tahu. Apakah karena Daffa... "
"Aku tak tahu Mika... "
"Nggak mungkin Citra marah tanpa ada penyebabnya... "
"Citra mengatakan aku wanita jal*ng karena masih mau berhubungan dengan lelaki yang sudah bertunangan. Dan yang membuat aku bertambah marah... ia mengatakan aku ini mungkin terlahir dari ibu yang seorang pel*cur sehingga aku tidak punya harga diri. Aku lalu menamparnya. Citra tak terima aku tampar,ia lalu mengeroyokku... "
"Oh.. jadi itu masalahnya. Citra sudah tahu mama kandungmu adalah mama tirinya... "
"Dari mana kamu tahu... "
"Aku melihatnya ketika mamamu datang ke rumah sakit. Ia menguping semua pembicaraanmu dari balik pintu"
"Jika memang Citra tahu mama tirinya adalah mama kandungku.. mengapa ia tega mengatakan mamaku pel*cur. Padahal mama begitu sayangnya dengan Citra.. "
"Karena Daffa lah... ia tak bisa terima kamu masih berhubungan dengan Daffa.. apa lagi penyebabnya selain karena itu. "
"Mika... semenjak Daffa bertunangan.. aku sudah tak punya perasaan apa apa dengannya. Aku hanya menganggap nya teman"
"Apakah Daffa juga hanya menganggap kamu teman. Ia masih mencintaimu.. ia berpikir kamu masih menerima dan mencintainya walau ia telah bertunangan "
"Aku akan menjelaskannya... dan mulai menjauhinya.. jangan takut"ucap Adel sambil memandangi Mika
"Mengapa memandangiku seperti itu"
"Kamu ternyata jauh lebih ganteng dari Daffa"
"Baru sadar... "
Adel menganggukkan kepalanya sambil matanya masih memandangi Mika dengan intens.
Mika lalu menangkup wajah Adel dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya, lalu Mika mengecup bibir Adel.
Adel kaget Mika mengecup bibirnya..
"Manis... "ucap Mika, membuat wajah Adel memerah menahan malu.
Mika mengecup kembali bibir Adel,dan kemudian Mika melum*t bibir Adel. Melihat Adel yang hanya diam Mika makin menuntut, ia memasukan lidahnya dan bermain dirongga mulut Adel. Walau Adel tak membalasnya Mika masih terus bermain lidahnya.
Melihat Adel yang hanya terdiam sambil menahan nafasnya.. Mika menghentikan lum*tannya. Ia mengusap bibir Adel yang basah.
"Bernafas... jangan ditahan. "ucap Mika mengagetkan Adel. Ia langsung menghirup udara dengan rakusnya.
Mika tertawa melihat tingkah Adel.
"Nggak pernah dicium ya"ucap Mika sambil menarik badan Adel dan memeluk pundaknya. Adel menyandarkan kepalanya dibahu Mika.
"Mengapa masih diam... "
"Aku kaget tahu.. "ucap Adel polos
"Kamu tak pernah ya dicium Daffa"
"Nggak.... "
"Berarti itu ciuman pertamamu... "ucap Mika sambil tersenyum melihat Adel yang masih bengong . Adel hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku beruntung dong... dapat bibir yang masih perawan... ha.. ha"tawa Mika.
__ADS_1
"Mika... malu ah. Jangan ngomongin itu lagi"
"Mau lagi... "
Adel menengadahkan kepalanya,memandangi Mika.
"Cupp... "Mika mengecup kembali bibir Adel,membuatnya malu dan menyembunyikan kepalanya didada Mika.
"Kita keluar ya... cari makanan. Aku lapar"ujar Mika
"Di rumah saja lah... biar aku masak"
"Nggak capek... "
"Nggak lah... lagian aku nggak ada melakukan apa apa kok... mengapa capek."
"Baiklah.. biar aku bantu ya"
"Nggak.. kamu duduk saja, nanti bukannya bantu,kamu bisanya ngerecokin"
Adel mengambil ayam didalam kulkas. Ia akan membuat ayam kecap. Dan mengambil wortel,nenas dan timun buat sayur acar.
Ketika Adel sedang memasak, ia merasakan pelukan dipinggangnya.
"Mika... lepasin aku masak nih"
"Masak saja... aku kan cuma memeluk saja"
"Gangguin tahu... "
Mika menyembunyikan wajahnya diceruk leher Adel..
"Aku sudah lama menginginkan hal seperti ini, memelukmu ketika memasak... tapi aku nggak mau melakukannya karena aku menghargai perasaan kamu dan Daffa"
"Berarti kamu sudah lama ya menyukaiku"
"Lama juga... aku pikir perhatianmu hanya sekedar kakak dengan adiknya"
"Kamu saja yang nggak peka... dipikiran kamu hanya ada Daffa... aku yang selalu ada disaat kamu senang atau pun susah tak pernah ada dalam pikiranmu"
Adel membalikan badannya..
"Maaf.... aku merasa kamu terlalu baik, tak pantas buatku. Jujur dulu aku pernah punya perasaan denganmu... tapi kupendam dan kubuang sebelum berkembang... "
"Gadis bod*h..siapa bilang kamu tak pantas buatku... kamu lebih dari pantas buat jadi kekasihku... "ucap Mika sambil mengusap kepala Adel. Tinggi Adel yang hanya sedadanya membuat Mika dengan mudah mengacak rambut Adel
"Mika... kusut nih rambutku"
"Tetap cantik kok"ucap Mika dan mengecup pipi Adel
"Sana ah... mesum saja. Dari tadi maunya mencium terus"Adel mendorong tubuh Mika agar menjauh.
"Duduk sana... sampai aku selesai masak. Awas kalau kesini lagi... "ancam Adel, membuat Mika tertawa terbahak.
Bunda yang baru pulang heran mendengar suara tawa Mika yang besar.
"Lagi senang banget nih kelihatannya "
"Bunda... mengapa pulang cepat. Bunda sakit"ucap Adel sambil memeluk bunda
"Nggak sakit kok... ada yang mau bunda ambil... nanti bunda mungkin pulangnya telat.. karena mau langsung pergi pesta, baunya enak nih. Masak apa anak gadis bunda.. "
"Masak ayam kecap, dengan sayur acar"
"Bunda jadi lapar nih... "
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu sebentar lagi... setelah semua masak, bunda makan dulu sebelum pergi"
"Boleh juga... kamu mengapa dari tadi senyum senyum terus. Menang tender lagi lagi"
"Kepo banget sih bun... "
"Itu bukan kepo.. tapi bertanya"ucap bunda sambil menjitak kepala Mika
"Sakit bun... main jitak saja. Keras lagi"
"Habis ngomong sembarangan "
"Bunda tuh memang kepo orangnya"
"Kepo dengan anak sendiri apa salahnya... "
"Bunda pengen tahu atau pengen tahu banget"
"Banget... "
"Nggak boleh pengen tahu banget urusan pribadi orang, walau anak sendiri"
"Kamu minta dijitak lagi ya.. tadi kamu yang bertanyakan"
Mika tertawa terbahak melihat raut wajah bunda yang kesal.
"Jitak saja lagi bun... "
"Kamu bukannya membela pacar sendiri..."
"Pacar... sejak kapan kamu pacaran dengan Adel"
"Sejak saat ini... "
"Memang Adel mau sama kamu... "ucap bunda sambil nyengir
"Siapa yang bisa menolak pesona aku... cowok ganteng begini"
"Narsis banget"ucap Adel cemberut
"Memang gantengkan bun... anak bunda ini"
"Sudah ah.. makan dulu nih. Bunda mau cepat pergi. Nanti nggak jadi makannya "ujar Bunda
Adel menyendokan nasi kepiring bunda. Mika menyodorkan piringnya buat Adel isi juga
"Aku disendokin juga dong... "
"Enak banget masakan kamu sayang... calon menantu idaman deh. Sudah cantik, baik dan pandai memasak lagi"
"Adel kan memang calon menantu mama"
"Kamu benar benar mau Del sama Mika"ucap Bunda dengan keraguan
"Bunda... malu ah. Masa bunda tanya itu"ucap Adel
"Mengapa malu.. bunda hanya ingin tahu, apakah kamu benar benar menyukai Mika. Kamu tak lagi berhubungan dengan Daffa. Binda nggak mau nanti Daffa salah paham"
"Bunda aku sudah lama tak punya perasaan apa apa dengan Daffa, sejak ia bertunangan. Aku hanya menganggapnya teman.. besok aku akan menjelaskan semuanya pada Daffa"
"Sebaiknya memang begitu... kamu harus menyelesaikan hubunganmu dengan Daffa agar tak ada kesalah pahaman"
"Baik bun... "
Setelah makan... bunda pamit. Dan berpesan dengan Mika, jangan macam macam dengan Adel.. Bunda percaya dengan Mika.
__ADS_1
******************************
Terima kasih telah membaca novel ini.