Antara Aku, Kekasihku Dan Sahabatnya

Antara Aku, Kekasihku Dan Sahabatnya
Bab 37. Pertengkaran Daffa dan Mika


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Adel di kafe sebulan yang lalu, Daffa tak pernah dapat menemuinya. Adel selalu menghindarinya.


Daffa akhirnya menemui Mika. Kebetulan jadwal kuliah mereka hari ini sama.


"Mik... sehabis mata kuliah ini, aku mau bicara. Aku tunggu kamu di taman belakang kampus"


"Oke... "jawab Mika singkat


Daffa merasa sedikit bosan ketika mengikuti mata kuliah. Ia sudah tak sabar ingin bertemu Mika.


Sehabis mata kuliah nya Daffa langsung menuju taman belakang kampus. Ternyata Mika sudah menunggunya.


"Sudah lama menunggu"ucap Daffa basa basi


"Baru saja sampai... apa yang ingin kamu omongkan"


"Aku nggak ingin berbasa basi lagi, apakah kamu dan Adel pacaran"


"Ya... mengapa "


"Kamu tahu kan kalau Adel itu pacarku, kamu sebagai sahabat aku,mengapa tega menusukku dari belakang"


"Tapi setahuku Adel telah memutus hubungan denganmu sejak lu bertunangan "


"Kami belum putus... "


"Belum putus... atau lu yang tak mau diputuskan"


"Hubungan itu terjadi karena dua buah pihak, jika salah satu pihak belum bisa menerima kata putus berarti hubungan itu belum berakhir "


"Itu mau lu... sadar nggak lu itu egois. Lu meminta Adel mengerti keadaan lu, sedangkan lu sendiri tak pernah memahami perasaannya . Bagaimana ia harus menghadapi kemarahan dan kebencian Citra, dan sindiran temannya yang menganggap Adel pengganggu tunangan orang.. belum lagi dia harus menahan perasaan nya ketika melihat lu jalan berdua Citra... "


"Tapi ini hanya buat sementara waktu sampai aku siap secara finansial. "


"Sampai kapan waktu itu... setehun dua tahun.. lima tahun.. dan pada saat keuangan lu sudah stabil, lu harus menikahi Citra... lalu Adel dapat apa dengan penantiannya... lu benar benar egois. Jika lu memang mencintai Adel dengan tulus... lu tak akan membiarkan hatinya terluka.. "


"Aku mencintai Adel.... aku tak akan membuatnya terluka"


"Lu sudah melukai hatinya... dari pertama lu menerima perjodohan orang tua lu, hati Adel sudah terluka. Lu nggak tahukan ketika ia harus menangis melihat lu jalan berdua Adel dan ketika lu mengingkari janji hanya untuk mengantar Citra ke salon... dan banyak janji janji yang lu ingkari demi Citra. Semua lu mengatas namakan perintah orang tua. Apa lu tidak bisa sedikit pun membantah perintah orang tua lu. Apakah Citra tak bisa dan tak boleh jalan sendiri tanpa ada lu."


"Tapi keluarga gue dan keluarga Citra tahu nya gue tunangannya. Dan gue nggak mungkin hadir diacara keluarga tanpa Citra. Tapi itu semua hanya sandiwara.. gue tak pernah mencintai Citra"


"Tapi itu menyakitkan buat Adel... Lu selalu mengatasnamakan tunangan dan perintah orang tua setiap jalan dengan Citra.. Dasar pengecut... lu tak punya pendirian.. lu pecundang.. lu tak pantas buat Adel... "


"Apa lu kira.. lu pantas buat Adel... "


"Setidaknya aku tak pernah menyakiti hatinya. Terima tak terima Adel sekarang adalah pacar gue... jadi gue harap lu jangan pernah dekati dia lagi... "

__ADS_1


"Dasar bajing*n...."Daffa melayangkan tinjunya kerahang Mika. Darah mengalir dari sudut bibir Mika. Ia menyeka darah itu dengan jarinya.


"Gue tak meladeni lu bukan karena gue pengecut... tapi karena gue masih menghargai persahabatan "ucap Mika berjalan meninggalkan Daffa


"Tunggu... urusan kita belum selesai.. "Daffa menendang pinggang Mika membuat ia terhuyung kedepan.


"Daffa... jangan menguji kesabaran gue... lu tahu siapa gue... jika kesabaran gue sudah habis... gue tak peduli itu yang namanya sahabat"


"Gue tak takut... lu sudah berani merebut Adel dari gue, berarti lu harus berani menghadapi gue. Lu pikir gue akan melepaskan Adel begitu saja... "


"Mau lu apa... "ucap Mika mencengkeram kerah baju Daffa


"Gue mau lu jauhin Adel. Dan lu usir Adel dari rumah lu... gue tak mau Adel tinggal seatap lagi dengan lu. "


"Memangnya lu siapa.. mengapa gue harus menuruti kata kata lu"


"Gue kekasihnya Adel... "


Mika melayangkan tinjunya bertubi tubi kewajah Daffa. Membuat wajahnya memar dan darah segar menyembur dari mulutnya.


Mika melepaskan cengkeraman tangannya,membuat Daffa terduduk dipasir.


Mika berlalu meninggalkan Daffa yang menahan sakit di wajahnya.


Sesampainya dirumah, Mika langsung masuk kamar. Ia merasakan kepalanya sakit sekali.


Ia mencoba tidur agar sakit kepala yang dirasakannya hilang. Adel yang hanya kuliah pagi, sudah sejak tadi pulang. Ia mendengar suara motor Mika. Ia mencari Mika tapi tak ada tampak.


"Kemana tuh anak... apa langsung masuk kamar. Tumben langsung tidur. Biasanya tidurannya disofa saja kalau siang. Mungkin kecapean.. Biarin deh tidur dulu.. "


Adel membersihkan dapur bekas ia masak tadi. Lalu ia menyapu rumah. Setelah semua tampak rapi.. Adel pergi mandi.


Jam sudah menunjukan pukul lima sore, tapi Mika belum juga keluar dari kamarnya .


"Ngapain Mika didalam kamar, nggak biasanya ia betah di kamar. Apa Mika sakit"


Adel yang mulai merasa kuatir, mengetuk pintu kamarnya Mika. Lama ia mengetuk baru terdengar suara sahutan dari dalam kamar.


"Masuklah... "


"Ngapain... kamu sakit "Adel memegang dahi Mika. Tapi tak terasa panas.


"Cuma sedikit sakit kepala"


"Bisa juga kamu sakit kepala.. "goda Adel.


"Lu kira gue robot... yang tak bisa merasakan sakit"

__ADS_1


"Bibir kamu kenapa... "Adel memegang bibir Mika dan mengusap darah yang sudah mengering.


"Biasalah... "


"Kamu berkelahi... dengan siapa.. masih saja sok jagoan. Kamu tuh sudah kuliah bukan anak sekolahan lagi.. yang suka tawuran"


"Bawel banget sih pacarku ini"ucap Mika sambil menggenggam tangan Adel.


"Kamu pasti belum makan. Kalau aku telat makan kamu pasti ceramahin.. sekarang kamu sendiri yang telat makan"


"Aku nggak ada riwayat sakit lambung.. "


"Jadi karena nggak sakit boleh telat makan.. nanti jadi sakit benaran lho"


"Ih memang bawel banget sih"ucap Mika mencubit hidung Adel


Mika duduk dan memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Ia meringis.


"Kenapa... masih sakit ya kepalanya. Apa tadi kepalamu kena pukul. Sini aku lihat"Adel langsung menundukan kepala Mika dan memeriksanya, takut ada luka.


"Nggak ada yang luka ataupun benjol"


"Tentu saja Adel... yang ditinju rahangku bukan kepala"


"Kok kepala kamu yang sakit"


"Mungkin karena terlalu mikirin kamu"


"Gombal... "


Terdengar suara pesan masuk dari ponsel Adel. Ia melihat siapa yang mengirimi pesan. Ternyata dari Daffa yang mengirimkan foto wajahnya yang babak belur. Daffa memberi keterangan dibawah fotonya... hasil perbuatan pacar barumu..


Adel memandangi wajah Mika dengan intens.


"Mengapa mandangnya begitu amat"


"Kamu tadi berkelahi dengan Daffa"


"Oh.. jadi itu pesan dari Daffa.. ia mengadu denganmu "ucap Mika sambil mencibir


"Kamu harus menjelaskan ini"


"Nanti aku jelaskan... sekarang perutku lapar banget"Mika bangun dan berjalan menuju ruang makan. Adel mengikuti langkah Mika.


***************************


Terima kasih banyak untuk semua yang telah membaca novel ini

__ADS_1


__ADS_2