
Setelah lama terdiam, Adel merosotkan badannya kelantai dengan kepala diletakan diujung tempat tidur, ia menangis terisak.
"Adel... mengapa kamu menangis nak"ucap bunda duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap kepala Adel
"Bunda... mengapa dunia ini masih mempermainkan Adel.. mengapa bunda"
"Mengapa kamu berkata begitu nak"
"Bunda... aku tadi sudah berharap jika itu memang Mika.. Mika ku kembali, tapi mengapa semua ternyata hanya mimpi..."
"Sayang... sudahlah nak.. relakan kepergian Mika. Dan ini juga bukan hanya mimpi.. Itu kembarannya Mika nak... "
Michael yang masih berdiri memandangi Adel yang menangis. Ia mendekat dan duduk disamping bunda sambil matanya tak berkedip memandangi wajah Adel.
"Mengapa menangisi seseorang yang telah pergi, walau air mata kamu kering ia tak akan pernah bisa kembali, hatimu yang akan semakin sakit karena terus mengenangnya"ucap Michael
Adel memandangi Michael tanpa kedip..
"Kamu Mika kan... kamu mau menipu aku.. "
"Hai...apa kamu tak bisa membedakan aku dengan Mika.. walau wajah kami sangat mirip tapi sebagai istrinya yang selalu berada disampingnya seharus nya kamu bisa membedakan antara aku dan Mika.. "
"Michael.. sudahlah nak.. kamu harus mengerti.. ia baru saja kehilangan Mika dan saat ini Adel lagi hamil yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari suaminya.. kamu tak boleh terlalu keras berkata dengan Adel"
"Bunda... kita harus bicara tegas.. jika kita membiarkan ia larut dalam kesedihan.. ia tak akan pernah bisa menerima kenyataan.. ia akan terus hidup dengan kenangan dan kesedihan... justru karena ia lagi hamil kita harus terus mengingatkannya agar ia tak
terus bersedih.. itu akan mempengaruhi janinnya. Tinggalkan aku berdua dengannya.. bolehkan bunda.. "
"Michael.. tapi kamu janji tak akan menambah kesedihannya.. "
"Bunda.. aku juga masih punya perasaan. Nggak mungkin aku membuat ia tambah bersedih"
"Baiklah nak.. tapi ingat ya jangan berkata terlalu keras"
"Bunda.. percaya padaku.. bunda pergilah dulu. Bagaimanapun ia juga adik ipar aku"
Bunda akhirnya keluar dari kamar Adel dan membiarkan Michael bicara dengan Adel.. tapi pintu kamar dibiarkan terbuka.
"Bunda... apa ada yang bisa aku bantu lagi"ucap Daffa melihat bunda.
__ADS_1
"Mana kembaran nya Mika tadi bunda.. "tanya Citra sama bunda
"Terima kasih Daffa.. bunda rasa tak ada lagi yang perlu dikerjakan.. kita hanya menunggu para undangan datang. Michael ya Citra.. ia ada di dalam kamar Adel.. ingin ngobrol dengan nya"
"Oh.. lagi didalam berdua Adel"ucap Citra sengaja biar Daffa mendengar.
"Bunda.. pamit dulu. Mau temani mama kamu yang lagi nyiapin makanan ringan buat anak anak yatim nanti malam"
"Baiklah bunda.. "ucap Daffa dan kembali duduk di lantai beralaskan karpet diruang tamu.
Di dalam kamar Adel, Michael makin mendekatkan duduknya dengan Adel.
"Bisa temani aku ke kuburan Mika... "ucap Michael, tapi Adel tak menjawab, ia masih diam dengan air mata yang terus mengalir.
"Kamu mengapa menangisi orang yang telah meninggal, kamu kira Mika akan mendengar kamu menangis.. kamu kira jika kamu menangis itu akan membuat Mika senang karena memiliki istri yang setia yang terus menangisi kepergiannya"ucap Michael
"Kamu mau apa... keluarlah.. aku tak mau bicara sama kamu"ucap Adel dan menutup wajahnya dengan lengannya
"Kamu mau atau pun tidak aku harus bicara. Karena aku harus menyadari wanita bodohnya seperti kamu.. kamu seharusnya tetap semangat dan tetap kuat, karena ada darah daging Mika di rahimmu. Kalau kamu mencintai Mika, seharusnya kamu menjaga titipan Mika.. itu akan membuat Mika tenang disana"
"Kamu tak akan pernah mengerti bagaimana perasaan aku.. bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kita cintai dan sayangi.. separuh hidupku seakan dibawa pergi. Aku rasanya ingin ikut... "ucap Adel kembali menangis
"Tapi kamu harus ingat... semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan, jadi jika kamu tak terima kenyataan sama saja kamu menentang kehendak dan takdir Tuhan."
"Dokter bukan Tuhan.. ia hanya bisa memprediksi...tapi semuanya kembali kepada Tuhan.. "
Adel makin terisak dengan tangisnya. Michael mengambil sapu tangan dari saku nya dan menghapus air mata Adel.
"Kamu hari ini boleh menangis sampai malam,tapi aku minta ini hari terakhir kamu menangisi kepergian Mika. Besok kamu sudah harus menjalani hidupmu lagi.. kamu harus menjaga titipan Mika.. aku juga akan marah jika terjadi sesuatu dengan calon ponakan aku"
Michael memberi sapu tangannya yang telah basah dengan air mata ke tangan Adel.
"Aku keluar lagi.. menangislah... buang semua kesedihan dan air mata kamu hari ini.. besok kamu sudah harus bisa tersenyum kembali, aku yakin kamu pasti akan tampak lebih cantik jika tersenyum.. "
Michael meninggalkan Adel sendiri, dan ia keluar dari kamar. Ia melihat Daffa yang sedang memandangi ke arah kamar Adel.
"Kamu temannya Adel atau Mika.. oh ya kenalkan aku Michael.. "ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
"Daffa... aku sahabat Mika dan Adel... "
"Oh.. jadi kamu mengenal keduanya dengan baik.. "
__ADS_1
"Ya.. "
"Berarti kamu juga sahabatnya aku juga sekarang"
"Tentu saja.. "ujar Daffa.
"Ini siapa.. "tunjuk Michael ke arah Citra
"Aku Citra... tunangannya Daffa "
"Oh.. kamu sudah bertunangan.. berarti mau menikah"
"Ya... doakan saja kami secepatnya menikah"ujar Citra.
Mereka bertiga terlibat obrolan dengan serunya. Michael memang orangnya sangat ramah jadi mudah akrab.
Malam harinya tampak kesibukan dan keramaian di rumah bunda. Semua para undangan sudah pada datang. Doa sudah dibacakan Ustad.
Adel yang mendengar Ustad membaca doa keluar dari kamar, para tamu yang duduk depan kamarnya pada melihat ke arahnya.
Ia mendekat ke arah bunda dan duduk disampingnya. Para tamu pada berbisik bisik.. membicarakan Adel.
Setelah semua pembacaan doa, dan rangkaian acara selesai... para undangan pada pulang.
Adel masih tetap duduk ditempat semula. Daffa masuk dan duduk di depan Adel.
"Adel... kamu mau apa.. kamu mau makan.. "
"Nggak Daf.. aku masih kenyang.. "
"Memangnya kamu sudah makan.. Aku ambilkan ya.. "Daffa langsung berdiri mengambil nasi dan lauk pauknya.
Ia kembali duduk dihadapan Adel. Citra dan mama Adel sudah pulang, karena ada acara keluarga papanya.
"Ini... buka mulutmu"ujar Daffa menyuapinya,ia menyuapi dengan telaten sampai separuh nasi dipiring sudah dilahap.
Michael dari tadi memperhatikan Daffa dan Adel.
"Sepertinya Daffa menyukai Adel... tampak dari cara ia memandangi dan memperlakukan Adel."
*******************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini. Mampir juga ya ke novel aku yang berjudul SAHABATKU MADUKU