
Pagi ini Adel sengaja tidak pergi kuliah. Ia membuat sarapan buat Mika yang masih tertidur. Mika yang telah berpakaian rapi, karena ingin bersiap kerumah sakit, kaget melihat Adel yang masih ada dirumah.
"Kamu nggak kuliah Del... "ucap Mika Dan duduk dekat meja makan.
"Nggak... "
"Mengapa.. aku sudah bilangkan, kalau aku nggak bisa mengantar kamu karena aku ada keperluan "
"Ya... kamu sebenarnya mau kemana Mik"
"Ada meeting"jawab Mika bohong
"Sampai jam berapa meetingnya"
"Sampai jam berapa nya aku belum tahu"
"Kalau begitu aku ikut kamu meeting ya. Aku menunggu diluar saja"
"Nanti kamu bosan menunggu"
"Nggak aku mau menunggu kamu meeting. Setelah itu kita harus ke rumah sakit"
"Ke rumah sakit... buat apa Del"tanya Mika gugup
"Aku mau ikut kamu periksa kesehatanmu.. "
"Periksa kesehatan.... "tanya Mika pura pura kaget
"Mika... aku tahu kamu hari ini mau kerumah sakit. Kamu ingin periksa kesehatan kamu. Aku melihat kertas rujukan ke spesialis saraf yang terjatuh kemarin ketika kamu tertidur.. "
"Nggak Del.. aku pergi sendiri saja"
"Aku ikut Mik. Aku juga mau tahu penyakit yang mungkin sedang kamu idap. .."
"Tapi aku ingin sendiri saja.. "
"Mika aku mohon... kamu jangan melarang aku. Kalau kamu memang mencintaiku, kamu tak akan melarang dan menyembunyikan sesuatu dariku"
"Tapi aku takut kamu nanti mendengar penyakit apa yang sedang aku derita"
"Apapun itu aku siap mendengarnya.. "
"Tapi Del... "
"Nggak ada tapi tapian... itu jika kamu memang tulus mencintaiku... karena apa pun itu yang kamu rasakan aku ingin ikut merasakan.. "Adel sudah sedikit tahu jika Mika mungkin menderita kanker otak. Ia melihat ponsel Mika apa yang Mika cari tahu kemarin dari google.
Ia curiga setelah melihat Mika menangis kemarin. Ketika Mika tertidur dipahanya, Adel membuka ponsel Mika dan mencari tahu semuanya.
"Tapi Del... aku yang belum siap, jika kamu tahu apa yang sedang aku derita.. aku tak mau kamu jadi kasihan padaku"
__ADS_1
"Mika... aku mohon. Aku harus ikut"Adel berjongkok didepan Mika memohon
"Berdirilah... tapi kamu janji ya... nggak akan memberitahukan bunda apa yang kamu ketahui nanti "
"Baiklah Mik... "
#####################
Mika Dan Adel pergi kerumah sakit dengan mobil. Sampai dirumah sakit ia langsung menemui spesialis saraf.
Mika menjalani berbagai tes kesehatan. Dari CT scan, ambil darah dan sekalian MRI. Semua selesai sampai sore hari.
Dan mereka harus kembali dua hari lagi untuk mengetahui hasilnya.
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, tiba tiba Adel menangis didalam mobil.
Mika menepikan mobilnya dijalanan yang sepi.
"Mengapa menangis... "
"Mika... aku belum siap mendengar hasilnya..."
"Itulah sebabnya aku melarang kamu ikut. Kamu pasti akan sedih. Kamu tahu, jika aku sendiri yang tahu, aku menderita satu penyakit berbahaya, aku bisa menahannya sendiri. Tapi melihat orang orang yang aku cintai juga ikutan sedih,aku tak akan kuat dan tambah membuat aku terpuruk. Aku mau orang yang aku cintai hidup dengan bahagia... "
"Mika... aku sayang banget sama kamu... kamu harus janji tidak akan pernah menyembunyikan apapun itu, aku ingin merasakan apa yang sedang kamu rasakan juga"
Mika membawa Adel kedalam pelukannya, ia mengecup rambut Adel.
Adel menangis terisak di dada Mika,ia tak dapat berkata apa apa lagi.
Dirumah Adel Dan Mika bersikap biasa saja, mereka tak ingin bunda curiga.
Sudah hampir sepuluh hari Adel menemani Mika melakukan berbagai cek kesehatannya.
Berbagai tes dilakukan Mika. Ia sempat drob dan ingin berhenti melakukan serangkaian tes itu, tapi Adel selalu menyemangatinya.
Dimulai dari tes darah yang meliputi hitung darah lengkap, tes fungsi ginjal, tes ureum dan elektrolit,serta tes penanda tumor dan kimia.
CT scan, MRI Dan PET scan juga dilakukan. Ini dilakukan agar dokter dapat memindai otak, dengan metode metode ini untuk mengetahui lokasi tumor/kanker dan penyebarannya.
Adel sebenarnya kasihan melihat Mika harus melakukan serangkaian tes itu. Mika yang harus menahan sakit kepala yang tiba tiba datang, rasa mual dan muntah yang terkadang juga dirasakannya.
Adel berusaha tampak tegar didepan Mika, ia tak mau memperlihatkan kesedihan dan kerapuhannya didepan Mika.
Tapi ketika di kamar, ia akan menumpahkan semua tangisnya. Setiap malam ia hanya menangis.
Adel ingin meminta bantuan papanya untuk biaya pengobatan Mika. Ia bermaksud menghubungi papanya.
Pagi ini bunda merasa heran ketika melihat Adel membuat sarapan.
__ADS_1
"Kamu nggak kuliah Del. Mika juga mana, apa anak itu belum bangun"
"Belum bun... Bunda sarapan dulu, nanti biar Adel yang bangunkan"
"Coba kamu sudah nikah dengan Mika, bunda tak akan pernah kuatir lagi. Sudah ada yang mengurus nya"
"Kalau begitu bunda bisa nikahkan Adel dengan Mika sekarang"
"Kamu.. ada ada saja Del... "
"Apa bunda tak suka kalau aku jadi menantu bunda"
"Siapa yang bilang tak suka. Malahan bunda sangat mengharapkan kamu jadi menantu bunda. Tapi apa orang tuamu juga setuju. Lagi pula kalian masih sangat muda"
"Memangnya tak boleh ya bunda nikah seumuran aku sekarang. Bolehkan? "
"Tentu saja boleh... tapi bunda takut nantinya kamu menyesal karena masa mudamu harus kamu jalani sebagai seorang istri"
"Bunda... akan aku pikirkan itu"
"Kamu serius mau menikah dengan Mika.. "
"Hhhmmmm..... "jawab Adel
"Sekarang sarapan dulu... kamu ada ada saja, kok mikirin nikah pagi pagi"
"Biar bunda tak perlu kuatir jika tinggalin kami berdua"
"Bunda percaya sama kamu dan Mika. Bunda berangkat dulu. Jangan lupa bangunkan Mika"
"Ya.. bunda. Hati hati bun. Aku sayang bunda"ucap Adel menangis sambil memeluk bunda
"Mengapa kamu menangis sayang"ucap bunda sambil mengusap punggung Adel
"Bunda... aku sayang banget sama bunda "
"Bunda tahu itu, bunda juga sangat menyayangi kamu.. Jangan cengeng ah... kayak anak kecil mau ditinggalin bunda nya saja"
"Aku ingin peluk bunda sebentar saja... boleh ya bunda"
"Oke.. peluklah sampai kamu merasa sudah enakan "
Adel memeluk bunda dengan erat, ingin rasanya ia mengatakan semua penyakit Mika, agar ia bisa berbagi kesedihannya. Tapi ia juga tak ingin bunda sedih jika tahu putra kesayangan nya lagi mengidap penyakit berbahaya.
Setelah sekian lama memeluk, akhirnya Adel melepaskannya.
"Sekarang bunda boleh pergi"ujar Adel.
Bunda tersenyum sambil mengacak rambut Adel dan ia pun pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
**************************
Terima kasih untuk semua pembaca novel ini