Antara Cinta & Luka

Antara Cinta & Luka
Bab 13


__ADS_3

Pagi pagi sekali Joanna mandi dan mencari makanan keluar karena selera makannya yang suka gonta ganti. Joanna juga ingin melihat suana vila yang dibicarakan kemaren dengan orang pemilik vila. Vila yang saat ini ditempati terasa aneh dan seperti hotel kecil menurut nya.


Ruangan yang hanya bisa ditempati satu kamar dan kamar lainnya ditempati orang lain. Joanna tidak menyangka itu semua yang membuatnya ingin pergi dari sana sesegera mungkin.


Joanna berjalan menuju vila baru yang tidak jauh dari tempat berjualan makanan. Joanna membeli beberapa makanan untuk sarapan dan sebotol minuman untuk dirinya. Maira sedari tadi bangun tiba tiba kaget saat melihat secangkir minuman keras berada di atas meja kamar.


Maira terus memanggil joana namun tak ditemukan titik suara joanna. Maira berlari ke toilet berulang kali disaat dirinya muntah dan mual tiba tiba. Maira cemas dan mengira dirinya hamil muda. Maira menangis dan merasa sangat hina dan kecewa akan sesuatu hal yang dia rasakan begitu salah.


Kring.... kring.... kring....


Ponsel Maira berbunyi yang membuat Maira berlari untuk mengangkatnya. Joanna menelfon untuk menanyakan kabar Maira saat itu. Maira menjawab dengan suara yang gemetar dan sangat ketakutan sekali.


Joanna yang mendengar suara sang cinta seperti itu akhirnya berlarian menuju vila untuk mengecek keadaan Maira yang sepertinya sedang sakit. Joanna berlari sangat kencang hingga dia lupa membawa makanan yang dipesan nya.


Buk... buk... buk...


suara kaki Joanna terdengar memasuki kamar mereka. Joanna langsung memeluk Maira yang didapati nya sedang muntah di kamar mandi.Joanna menepuk leher belakang maira agar Maira mudah untuk mengeluarkan isi perut nya.


"Kamu kenapa sayang?"


"Mas aku hamil mas, aku gak tau apa yang terjadi tapi aku takut mas."


"Kita tidak melakukan itu bagaimana kamu bisa hamil? "


"Aku gak tau mas aku nggak mengerti dengan semua ini."


Joanna lalu menghindar dan membuang muka menjauh dari Maira. Maira terus saja menangis dan berjalan menuju tas pakaian dengan menyandang tas nya di siku kiri. Maira berniat untuk pergi saat Joanna seperti ilfil padanya dan tidak ingin tanggung jawab dengan anak yang ada di perut nya.


Joanna hanya diam dan membiarkan Maira pergi.joanna begitu sangat kecewa saat dia mendapat kabar buruk akan wanita yang dicintainya. kesal bercampur sedih menyelimuti hatinya. Rasa cinta yang tumbuh dan harapan bersatu sudah jadi bayangan nya.


Namun itu sudah usai saat Maira mengatakan dirinya hamil sambil menangis kebingungan. Entah itu benar bingung atau hanya sekedar ingin mendapatkan tempat bersandar Joanna tidak tahu. matanya memerah dan tangan membentuk gumpalan.

__ADS_1


Joanna mendapatkan pesan SMS dari Maira yang sudah berada di rumahnya. Maira tidak lagi melanjutkan sekolah dan mengambil jalan pintas yaitu membuat ijazah paket untuk usaha. Ayah nya juga pernah berjanji akan membelikan mall untuk dirinya. Maira membulatkan tekat untuk membesarkan anak itu sendiri.


Tok... Tok. tok...


Buk Naim lalu membuka pintu saat dirinya mendengar ada orang mengetuk pintu. Maira yang lemes langsung naik ke atas, Naim sudah memanggil dan bertanya kemana Maira beberapa hari ini namun Maira hanya diam. Maira naik ke atas tanpa menghiraukan Naim.


Maira menelfon kembali ayah nya dan mengatakan bahwa dirinya sudah berada di rumah. Saat Maira ingin mandi, Maira melihat bercak darah di celananya. Menunggu beberapa menit dan tidak mengeluarkan darah lagi,maira semakin kuat bahwa dirinya tidak haid melainkan hamil. karena selama ini dia tidak pernah haid dengan fase mual dan sebagainya.


Maira bingung dengan hal itu, dia ragu apakah itu darah halangan. Dia memang belom ada halangan sejak bulan kemaren, namun saat didapati darah itu pun hanya sedikit dan hanya sebentar. Setelah mandi, Maira lalu pergi keluar untuk membeli alat untuk memeriksa kehamilan. Saat sedang membelinya dia bertemu Joanna yang sedang membeli obat di apotek yang sama. Maira membuang muka dan berpura pura tidak melihat Joanna.


Joanna sangat sedih dan ragu untuk menyusul Maira yang kelihatan nya sangat lemah. Joanna lalu masuk ke dalam mobil dan kembali ke vila mereka. Dia lalu membuka situs soal kehamilan. Dia lalu mengingat ingat kejadian di saat dirinya menggantikan pakaian Maira pada saat Maira nginap dirumahnya.


Joanna lalu pergi ke rumah maira dengan menggunakan motor milik pemilik vila yang baru ditempatinya. Vila yang rencananya akan ditempati bersama Maira. Namun gagal karen Maira sudah pergi.


Ponsel Maira berdering terus hingga Membuatnya membanting ponsel tersebut hingga pecah. Maira sangat kesal dan marah atas kelakuan Joanna pada dirinya. Saat Maira hendak melakukan pengecekan kehamilannya, Naim lalu datang mengetuk pintu kamar Maira untuk mengantarkan makanan.


"Nona ngapain beli Tes pack? "


" ham nggak ada buk."


"Ham buk Naim jangan bilang siapa siapa yah."


"Iyah Nona Maira."


Maira lalu memeluk Naim yang tersenyum padanya. Naim menepuk pundak Maira sambil bersedih. Dia yang menginginkan anak namun Maira yang hamil.


"Nona yang coba Lihat lewat alat ini."


"Ham iya buk."


Maira lalu masuk ke kamar mandi mencoba alat itu. Maira heran dan bingung dengan hasilnya dan lalu melihat kan ke Naim yang sedang duduk di atas kasurnya. Naim melihat dan mengatakan Maira tidak hamil dan tidak ada tanda tanda orang hamil.

__ADS_1


"Nona emangnya lakuin hal itu dengan siapa? "


" Gak ada buk, cuma sejak terakhir kali saya bertemu dengan pacar saya dan tidak ada rasanya bermain ke sana buk, tapi mengapa bisa hamil buk."


"Nona tidak hamil nona, mungkin haid cuma tidak lancar."


"Terus gimana lagi buk."


"Ayo kita ke rumah sakit untuk memeriksa nya."


"Iya buk."


Maira lalu mengganti baju dan memakai pakaian yang sedikit tertutup. Maira mengikat rambutnya ke samping dan memperlihatkan leher kirinya. Naim lalu datang menarik Rambut Maira dan membuka ikatan itu.


"Tutup lehermu nak."


Naim lalu pergi mengambil ikat rambut yang lebih kecil. Merapikan rambut Maira dan mengikat separo rambut Maira agar terlihat anggun dan indah dipandang mata. Leher maira tertutup dan rambut nya sedikit lebih pendek dari biasanya.


Maira lalu kembali mual dan mengeluarkan isi perutnya. Naim lalu mengambil minyak angin dan membalut kan ke pundak Maira. Mereka lalu pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil pribadi nya.


Dengan menggunakan supir mereka berangkat ke rumah sakit langganan Naim. Meski hanya jadi pembantu Naim tidak seperti orang susah yang berobat di tempat mewah. Naim mengusap bahu maira yang sejak tadi membisu tanpa suara.


"Buk telfon ayah buk, bilang Ponsel ku pecah karena jatuh."


"Oh itu nona, kita beli aja karena kebutuhan nona bapak sudah Tinggalkan bersama suami saya."


" Beneran buk? Jadi saya sudah bisa belanja kayak dulu lagi."


"Iya nona."


Naim lalu Mengambil Kartu dalam tas nya dan diberikan kepada Maira. Maira dan Naim seperti anak dan ibu saja tidak seperti pembantu dan tuannya.

__ADS_1


Setelah membeli ponsel Naim dan Maira lalu langsung ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Maira. Naim berpesan agar Maira tidak menggunakan nama aslinya saat melakukan pemeriksaan. Naim memberi nama Talita untuk Maira nama yang ingin diberikan untuk anaknya nanti.


Setelah Sampai rumah sakit maira langsung di periksa dokter. Dokter tertawa dengan hasilnya yang menyatakan Maira masih perawan dan belom di sentuh sedikit pun. Naim dan dokter tertawa hingga membuat Maira malu lalu menutup wajahnya dengan tas genggamnya.


__ADS_2