Antara Cinta & Luka

Antara Cinta & Luka
Bab 48


__ADS_3

"Silahkan Masuk Mbak Maira."


"Iyah pagi Mbak Deina."


" Bisa langsung dilakukan? "


"Oh tentu mbak saya sudah tidak sabar."


"Haha mbak bisa saja."


" Oh ya ini Joanna calon suami saya."


"Oh salam kenal saya Deina Pemilik salon ini."


" Salam kembali Deina."


"Istrinya sangat cantik yah."


"Yah tentu, kalo nggak mana mungkin saya jatuh hati."


" oh jadi jika Aku sudah jelek kamu nggak cinta lagi begitu mas? " Sontak Maira dari kursi salon.


"Masih cinta, cuma tanpa disadari Rasa dan kelembutan pasti akan pudar dan Aku pun mungkin tidak menyadarinya dan hanya kamu yang tau bagaimana Rasanya."


" ham jadi mbak Maira harus selalu cantik yah."


"Bukan gitu juga sih Dei."


"Yah terus gimana mas."


"Iyah Aku gak bisa jawab soal itu Ra, Aku mendapatimu dengan paras Cantikmu dan sifat baikmu, Aku belom pernah lihat kejelekan mu apalagi wajah jelek kamu ra yang mungkin saja akan merubah perlakuan Aku kepada kamu tapi asal kamu tau, mau bagaimana pun kamu Aku akan selalu dampingi kamu hingga akhir hayat ku."


"Belom apa apa saja kamu udah niat berubah mas apalagi besok kalo emang terjadi."


"Aku juga manusia biasa Sayang, Aku bekerja melihat wanita cantik diluar sana yang mungkin juga seindah kamu, tapi saat Aku pulang dan keindahan itu telah pudar apa salah kalo Aku mulai bosan dengan wajah yang itu itu saja."

__ADS_1


"Oh mungkin maksud Joanna, Maira harus pintar dandan rayu suami sama jangan lalai sama badan kan laki laki lemah sama yang bening bening."


"Ham iya mas." Menjawab dengan wajah kesal.


"Aku sayang kamu."


" Percuma kalo hanya sementara."


"Ham jangan gitulah sayang."


Maira beranjak masuk ke dalam Ruangan salon spesial yang diikuti Joanna dari belakang bersama Deina. Maira yang masih ngambek sama Joanna tidak berkutik sama sekali dan hanya fokus dengan Aktivitas salonnya.


"Rambutnya mau dikasih warna apa? "


"Warna Coklat aja Deina biar makin wah Istri Saya. "


"Bagaiman Maira? "


"Iyah ikuti saja Suami saya Mbak."


"Iyah bagus juga yah mbak."


" Oke."


Joanna memegang tangan Maira erat seakan tak mau jauh dari Maira yang sedang mempercantik Dirinya. Mereka lalu saling menatap saat Deina mem blow rambut Maira yang sudah diberi Cat rambut. Rambut Maira yang sudah berwarna Coklat Muda memudahkan Deina untuk mengulang cat nya kembali.


" Dei beri juga cat kuku pada Maira yah."


" Oke Pak bos."


"haha Pak bos."


" Udah kelihatan Tua yah Dei, Joanna nya."


" Ah nggak juga Maira."

__ADS_1


" Ham bilang aja kalo iya Dei."


" Ah nggak Joanna."


Auh..


" Kenapa sayang? "


" Kok perut ku terasa sakit mas."


" Kamu abis makan apa tadi."


" Kan kita sama keluar kamar mas."


" Oh iya yah."


" Yasudah abis ini kita cari makan."


" Kamu pesan aja Joanna di depan dan bawa kesini."


" Kamu bener juga Deina."


" Yasudah pergi buruan ntar keburu habis loh jajanannya."


Joanna pergi dalam waktu tiga belas menit Joanna datang membawakan Maira makanan dan minuman. Joanna menyuapi Maira makanan hingga habis. Deina berulang kali memberi Senyum manis ke arah Maira yang buat Maira malu dan memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dengan Joanna.


Joanna berpindah duduk ke arah Maira yang sedang malu dengan dirinya. Joanna memberikan Senyuman dan kecupan di kening Maira di depan Deina yang sedang bekerja. Saat Joanna hendak menyuapi Maira makanan lagi Maira tiba tiba mual lagi dan langsung lari ke kamar mandi untuk mengeluarkan Makanan yang ada di tenggorokan nya.


Joanna yang cemas langsung bergegas mengambil tas Maira dan mengeluarkan minyak angin yang ada didalamnya. Memberikannya ke tangan Maira dan memeluk Maira dari belakang memberi kehangatan untuk Maira yang menggigil tiba tiba. Deina pun datang membawa Air putih hangat untuk Maira, memberikan Air itu ke tangan Joanna yang dekat dengan posisi Maira saat itu.


Deina dan Joanna lalu mengajak Maira masuk kamar tempat luluran untuk beristirahat sejenak. Deina mematikan AC dan menyalahkan Lampu di sana. Joanna yang cemas tak memikirkan rasa malu, Dia malah menggendong Maira yang jelas jelas sudah berada di tempat yang aman dan tidak perlu di bawa ke Rumah sakit dengan segera.


Ruangan Itu memiliki alat yang ada di rumah sakit, Deina sengaja memasang alat itu seperti infus karena sering mendapatkan pelanggan yang tiba tiba sakit. Memiliki jiwa perawat yang juga sempat sekolah di bagian itu dulu membuat Deina cukup tau akan hal gawat darurat.


Maira yang sudah diinfus tertidur yang ditemani Joanna dan Deina yang mulai akrab dan berbincang banyak hal tentang daerah sekitar Rumah Joanna yang saat ini ditinggalkan. Dan ternyata di sana juga komplek rumah Orang Tua Deina.

__ADS_1


__ADS_2