
Joanna bangun pagi pagi sekali dan sudah mandi dengan memakai baju yang sama yang digunakan sejak malam tadi. Akibat pertempuran tadi malam Joanna menjadi gerah dan tak tahan untuk berendam di air yang sudah disediakan Maira tadi malam yang sempat ingin digunakan namun terhambat oleh aktivitas kedua mereka yang berlangsung lama.
Maira kelelahan dan tak kuat untuk kembali mandi malam itu, Maira memilih tidur di samping Joanna tanpa busana hingga pagi. Saat hendak memakai pakaian, Joanna terkejut melihat Maira yang tertidur tanpa ditutupi selimut, Joanna langsung berlari mengunci pintu kamar dan menyelimuti tubuh Maira dengan selimut.
Joanna membuka lemari Maira dan mengambil beberapa baju yang cocok untuk dibawa Maira agar nantinya tak menghabiskan Waktu untuk berkemas. Koper dan isinya sudah siap di pinggir Kasur hanya Make up Maira yang belom disediakannya. Joanna lalu kembali naik ke atas kasur mengusap kepala Maira yang sedang tidur dengan posisi miring ke samping.
Karena usapan itu sedikit mengganggu, Maira akhirnya terbangun dan duduk disebelah Joanna dengan Rambut yang masih berantakan. Joanna mengecup kening Maira saat Maira mendekatinya. Setelah diberi sentuhan hangat, Maira pun menyadarkan kepalanya ke bahu Joanna lalu tertidur kembali sambil melingkarkan tangannya ke tangan Joanna.
"Udah kamu tidur aja sayang, aku masih ngantuk."
"Iyah honey."
Joanna mengusap kepala Maira yang tertidur dan lebih membuka file bisnis yang dikirim karyawannya setiap hari tepatnya pukul Enam dini hari. Joanna memang sudah lama tak membukanya dan semua file menumpuk yang membuatnya sedikit kerepotan untuk membaca dan memeriksanya. Joanna sempat mengoceh saat ada karyawan yang tidak bekerja namun tetap meminta gaji penuh kepada perusahaan.
Joanna memeriksa hingga pukul Tujuh pagi. Naim datang mengetok pintu kamar untuk membangunkan Dia dan Maira. Joanna membuka pintu dan mengatakan kalau Dirinya akan membangunkan Maira setelah kerjaan selesai. Namun Joanna kebablasan yang akhirnya membuat Maira telat bangun dan tak sempat beres beres untuk berlibur.
Maira berlari ke kamar mandi sambil menguncir rambutnya dengan Kayu kecil yang terletak di atas meja Rias. Joanna yang melihat nya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Wira dan Lila sudah siap dibawah dengan koper mereka sedangkan Maira masih sibuk dengan Rambutnya yang susah di sisir itu.
Meski sering di salon namun Rambutnya tetap susah di atur. Joanna akhirnya mengangkat koper Maira ke bawah dan memasukannya ke dalam mobil. Joanna tidak hanya membawa koper milik Maira namun juga koper milik Wira yang ditemukannya di depan Pintu depan.
"Mana Maira Joanna kok belom turun? "
"Dia masih sibuk dandan Tante."
"Panggil mama dong Joana. "
Joanna hanya diam dan Naik masuk ke dalam menemui Maira yang tadi ditinggalkan sedang menyisir rambut. Karena Tak ingin terlalu lama menunggu, Joanna akhirnya mengambil sisir yang ada di tangan Maira dan membantu Maira menyisir Rambutnya. Joanna menyisir helai demi helai Rambut Maira hingga semuanya rapi dan tidak berantakan lagi.
"Kamu terlihat Anggun dengan Kunciran sebelum mandi tadi honey."
"Ah mas bisa aja."
"Iya aku serius sayang."
__ADS_1
"Ham jadi kamu mau aku menguncir kembali rambutku? "
"Yah lakukan jika kamu nyaman."
"Akan ku lakukan segala hal agar kau senang sayang."
"Termasuk dengan yang ini honey."
Joanna menarik Gundukan Maira ke atas dengan posisinya sedang berdiri dibelakang Maira dan Maira sedang duduk menghadap ke cermin. Joanna meremas Dua gundukan Itu sambil Maira memasang Make up ke wajahnya.
Setelah semuanya siap, Joanna menggandeng tangan Maira ke bawah menuju mobil dan menunggu Lila dan Wira masuk. Joanna yang tadi mengambil makanan di atas meja memberikan makanan tersebut kepada Maira untuk dimakan Maira karena Maira pasti lapar di jam segitu.
Maira tak mau memakannya karena Takut buang air dijalan atau lipstik nya pudar kena minyak. Joanna memaksa Maira untuk memakan makanan tersebut karena akan melewati perjalanan jauh. Maira akhirnya memakan makanan itu dengan disuapi Joanna suap demi suap makanan.
"Kenapa Ayah lama yah mas."
"Coba kamu telfon sayang dan bilang kita sudah berada di dalam mobil."
"ham Iyah mas."
Ponsel Wira berbunyi disaat Wira sedang membantu Lila memakai Bra yang sempat lepas Talinya saat Wira hendak meremasnya. Wira terpaksa membantu Lila memasangnya yang agak sulit karena pada bagian itu baju Lila dilingkari karet yang membentuk tubuh.
Karena sudah berulang kali berbunyi, Wira akhirnya mengambil Ponselnya yang ternyata panggilan dari Anak gadisnya. Dengan penuh semangat Wira mengangkat telfon dan bergegas turun ke bawah. Meninggalkan Lila yang sedang memperbaiki Bajunya yang sempat kusut oleh ulah Wira.
"Ayah datang Nak."
"Hehe iya ayah mari kita berangkat Tante Lila mana ayah? "
"Oh mami sedang beresin Baju ayah nak."
"Loh bukannya koper ayah sudah ada dibelakang? "
"Iyah kan baju dalam lemari berantakan sayang."
__ADS_1
"oh gitu Ayah."
"Iyah sayang."
"Kita ke rumah Joanna dulu Ayah mengambil baju Joanna Ayah."
"Iya pasti dong sayang,nggak mungkin kan Joanna baju kamu nanti di sana."
"Ah ayah bisa aja."
"Oh iya bulan depan kita akan pindah ke Bali untuk beberapa waktu karena Ayah ditugaskan untuk melatih di sana."
"Aku kan akan tinggal dengan Joanna ayah, jadi aku nggak bisa ikut ayah lagi."
"Kalian benar nggak ingin tinggal satu rumah Nak? "
"Iya Ayah aku ingin hidup mandiri bersama Joana Ayah."
"Ham gak masalah jika itu keputusan kamu nak, Joanna jaga anak saya baik baik yah."
"Baik pak." Menjawab dengan tegas sambil merangkul bahu Maira yang duduk di sampingnya.
Trak trak trak.
Bunyi sepatu Lila sudah terdengar namun wajah Lila belom muncul, Wira akhirnya turun dan melihat Lila yang belom juga muncul. Saat hendak meneriaki Lila, Lila datang sambil membawa Tas genggam miliknya dan masuk ke dalam mobil duduk disebelah Joanna.
"Hey Lila kenapa kamu duduk di sana!"
"Oh maaf mas, aku salah orang."
"Gimana sih ngapain juga duduk dibelakang mang kamu pikir Saya supir. "
Wira sudah mulai curiga dengan gerak gerik Lila yang sejak kemaren memperhatikan Joanna dengan penuh Rasa suka. Joanna memang tak membalas pandangan itu namun Wira tetap terbakar api cemburu dan akan menelusuri hal yang membuatnya curiga dengan istri sirihnya itu.
__ADS_1
Sambil mengobrol Wira menawarkan kerja sama dengan Joanna tentang cafe dan butik yang sudah di atas namakan Maira. Dengan penuh ketegasan Joanna menolak dan tidak mau mencampur adukan urusannya dengan Istrinya karena akan mengurangi Tanggung jawabnya kepada istrinya.
Joanna tanpa basa basi menolak ajakan Wira yang akan menjadi ayah mertuanya. Wira tak marah sedikitpun malahan Dia bangga dengan Joanna yang tak mau dibantu soal Nafkah bagi anaknya. Wira semakin mempercayai Maira kepada Joanna yang sungguh mencintai Maira yang terlihat jelas dari matanya saat menatap Maira.