
Wira dan Joanna mengejar Lila hingga dapat dan dibawa ke Hotel untuk menenangkan diri. Wira yang sangat kesal tak mengucapkan satu kata apapun saat Joanna masih berada diruang tersebut. Lila disekap diruang tersebut dengan tangisan yang tak kunjung berhenti dari matanya.
Perlakuan kasar nya muncul kembali saat dirinya merasa dipermalukan didepan orang banyak. Apalagi saat itu ada orang yang dia kenal melihatnya duduk dengan Lila dengan gaya tak seperti teman biasa. Wira bahkan sudah mengatakan Bahwa Lila istrinya kepada temannya itu lewat pesan ponselnya.
Wira tak membiarkan Joanna keluar dari sana untuk beberapa saat karena Dia ingin Joanna tau hal yang seharusnya Maira tau. Bahkan Wira sudah mengatur tanggal pernikahan Maira dan Joanna dua hari lagi. Entah apa yang ada dipikiran Wira saat ini yang pasti dia sedang mengurus seluruh aset miliknya diganti dengan nama Maira anak semata wayangnya.
Dalam liburan itu Wira masih sempat mencuri waktu dibelakang Lila untuk mengurus semua Aset miliknya. Sifat dan logatnya jauh berbeda dari biasanya. Wira yang terkenal Angkuh dan tidak mudah bergaul dengan Teman teman anaknya kini langsung berubah dan bahkan merestui hubungan Maira dengan laki laki yang sama sekali wira tak tahu.
Meninggalkan Lila yang diikat di kursi dengan mulut tertutup di balik tembok arah ke kamar mandi. Wira beranjak pergi ke sebuah Tempat mengajak Joanna bersamanya. Wira saat itu melupakan Maira anaknya yang ditinggalkan di restoran tempat mereka makan tadi. Untungnya Joanna mengirim pesan ke Maira untuk pergi ke sebuah cafe yang berada tidak jauh dari Hotel tempat mereka menginap.
Maira langsung beranjak dari tempat tersebut dan mencari angkutan yang bisa dinaikinya. Setelah sekian lama menunggu, Aluna datang mengendarai mobil tua ditemani anak kecil yang tidak asing lagi wajahnya. Aluna melambaikan tangan ke arah Maira memberi isyarat untuk menyuruh Maira naik ke dalam mobilnya.
"Ra ayok naik."
"Oh nggak usah aku tunggu Ayah aja disini."
"Ayolah disini rawan kamu belom terbiasa."
"Nggak usah gak apa apa aku bisa jaga diri kok."
"Hey ayok lah Ra, aku nggak akan gangguin hidup kamu sama Joanna."
Maira pun naik ke dalam mobil itu sambil menatap panjang ke anak kecil yang kira kira berusia tiga tahun. Anak wanita yang sangat cantik dan berambut pirang. Matanya tidak seperti Mata Aluna, hidungnya juga bukan Aluna. Maira berpikir panjang soal itu dan teringat seseorang namun dia tak tahu itu siapa.
__ADS_1
Sambil memainkan ponselnya Maira terus saja memikirkan orang yang mirip dengan anak kecil yang ada disebelahnya itu. Aluna yang sejak tadi melirik ke arah Maira jadi heran dengan hal yang membuat Maira berdiam sejak tadi. Aluna yang saat ini sudah melupakan Joanna dan akan menutup rapat luka tentang anak hasil perbuatan Joanna jadi cemas akan hal yang membuat Maira diam saat ini.
Karena Tatapan yang panjang ke arah anaknya yang bernama dhe jiwa karla yang memiliki kemiripan dengan Joanna kekasih Maira saat ini. Aluna tak ingin menghancurkan masa depan Joanna dan Maira, Dia bahkan sudah merencanakan orang yang akan. disewanya untuk menjadi suami pura pura nya.
Aluna yang terlihat jahat ternyata hatinya baik, dia bahkan ingin menghadiri pernikahan Maira dan Joanna tanpa ada rasa sakit hati sama sekali. Aluna mencoba mencoba mengalihkan pikiran Maira dengan menanyakan soal pernikahan Maira dan Joanna nanti.
"Gimana dekorasi pernikahan kamu Ra apa sudah ada ide? "
"Belom Luna, aku juga bingung harus dengan dekorasi seperti apa."
"Ham coba kamu Akun Najwa Reina."
"Iyah sudah."
"Ada macam macam deklarasikan, Nah kamu tinggal pilih kamu mau pakai yang mana nanti kalo ada tambahan yang lain kamu tinggal bilang ke orang yang jadi penanggung jawabnya nanti."
"Bukan Dia bos aku."
"Jadi kamu sebenarnya bekerja dimana sih."
"Aku bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan anak aku Ra, susu popok pakaian dan banyak lagi."
"Emang ayahnya kemana."
__ADS_1
"Aku nggak punya suami Ra, Jiwa anak yang lahir tanpa kasih sayang seorang ayah."
"Kok bisa Sih Luna."
"Itu rahasia Ra, kamu nggak perlu tau."
"Dengan bekerja di tiga tempat tidak mampu mencukupi kebutuhan kalian. "
"Jiwa sering sakit Ra, ini juga aku lagi kumpulin uang buat mengajaknya berobat ke luar negeri."
"Berapa yang kamu butuhkan nanti aku transfer. "
"Nggak usah Ra aku bisa kok."
"Udah kamu sebut aja nominalnya nanti aku. kirim yang penting Jiwa sembuh soal uang kamu nggak usah pikirin."
"Tapi aku belom tentu bisa bayar Ra."
"Aku nggak minta kamu untuk bayar Luna tapi. kamu jauhi. Joanna yah." sambil menundukkan Wajah ke bawah.
"Oke aku akan pergi jauh dari sini agar Kami tak lagi bisa bertemu, thank yah Ra kamu sudah mau bantuin aku."
"Kamu nggak pergi, cukup tidak mendekati Joanna itupun sudah cukup."
__ADS_1
Maira pun turun di depan cafe yang diberi alamat oleh Joanna. Melihat Maira yang tengah turun di dalam mobil Joanna pun berlari dan melambaikan tangan ke arah Maira sambil tersenyum. Saat hendak menyeberang, Joanna melihat Aluna dengan Jiwa yang sedang sakit dipangkuan Aluna yang sedang menyetir mobil. Hati Joanna terasa kacau saat dirinya melihat Anaknya yang tidak pernah mendapatkan Sosok ayah sejak lahir.
Namun dia tidak bisa berbuat apa apa karena Dia pun tak tahu Aluna melahirkan anak itu saat mereka tak lagi ada komunikasi. Joanna mengira kehamilan Aluna tak berlangsung lama karena Joanna sudah memberikan uang untuk menggugurkan anak itu dan memberikan rumah untuk Aluna tempati.