
Karena Maira sudah terlalu lama di dalam sana akhirnya Joanna mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan Maira yang sedang duduk menutup wajahnya dengan Sikunya. Joanna mencoba mendekati Maira namun maira terus melakukan perlawanan. Karena tak mau terjadi apa apa dengan anak yang ada di perut Maira, Joanna akhirnya Memaksa menggendong Maira ke atas kasur dan memeluk tubuh Maira yang sedang terlentang.
Joanna mencoba menenangkan Maira dengan usapan Hangat lewat tangan dan tubuhnya. Joanna mengusap kepala Maira sambil Mendekatkan Tubuhnya dengan Maira. Maira terus saja menangis terisak isak hingga matanya membengkak dan tubuhnya mulai gemetaran.
" Kau rasakan Detak jantung aku Ra, apa masih kau ragukan cinta aku untuk kamu. jantungku berdetak lebih cepat saat ini disaat kau memilih pergi di situasi aku butuh kamu sebagai Penghibur dan teman hidupku. Aku bersumpah aku tidak ada hubungan dengan Aluna ra, Aku sama sekali tidak mengetahui hal yang ada difoto itu. Aluna juga tidak mungkin menjebak aku sementara dia saja mencoba menghindari aku saat Jiwa meminta kami untuk berpelukan."
" Tapi tetap pelukan kan mas? "
" Iyah tapi sebentar sayang nggak lama."
" Oh jadi kalau sebentar tidak apa apa gitu? "
" Yah bukan juga sayang."
" Lah terus? "
" Ra, coba percaya sama aku ra, Kamu ingat kita pernah berjanji untuk hal seperti ini, kau janji ra, akan menemaniku dan percaya dengan aku jika terjadi sesuatu antara kita."
" Tapi aku tak menyangka akan seperti ini Mas."
__ADS_1
" Kita ulangi masa indah kita bersama Buah hati kita yang butuh kasih sayang dari kita. Ku mohon kamu jangan mudah terbujuk dan langsung percaya akan hal yang mungkin hanya jebakan untuk kita Ra, Jika aku tak mencintaimu untuk apa aku disini sementara aku bisa bayar orang kalau hanya untuk menemani tidur malam ku."
" Aku mau kita pergi dari sini mas, jauh dari jiwa dan Aluna."
" Usahaku disini Sayang."
" Kamu kan bisa alihkan ke Bali atau kemana gitu mas, nggak harus di satu daerah saja."
" Tapi sayang."
" Yasudah kalo nggak bisa setelah anak ini lahir aku akan pergi jauh dari dan kamu bebas mau lakukan apa saja."
" Gimana kalau kita tinggal di daerah vila waktu itu aja."
" Kamu kenapa sih Ra."
" Pertama soal anak kamu sudah buat aku terluka mas, dan semenit setelah itu ibu dari anak itu kan mas mantan kekasihmu dan mungkin saja Jiwa adalah anakmu mas."
Maira lalu pergi ke depan cermin dan merapikan rambutnya dan ingin langsung kebawah untuk sarapan dan berkemas. Joanna yang pusing hanya diam terpaku di ujung ranjang dengan Wajah yang kusut.
__ADS_1
" Apa nggak ada lagi kesempatan kedua untuk ku ra, Kita sudah siapkan ini dari jauh jauh hari dan nggak mungkin dibatalkan Ra."
" Aku nggak bisa mas menikah dengan orang yang jelas jelas mencintai orang lain."
" Opa buktinya Ra, apa bukti nya aku mencintai Dia yang kamu sebut orang lain."
" Aku nggak kuat mas jika harus bersanding dengan orang yang jelas jelas sudah melukai hati aku."
" Ra hubungan kita nggak mungkin mulus terus ra, pasti akan ada masalah ra jika kamu begini terus kita nggak akan pernah menemukan Kebahagiaan itu ra.
" Iyah kamu benar juga mas, tapi beri aku waktu tuk bisa menyembuhkan luka ku mas."
" Oke kita akan liburan berdua ku mohon ini jangan sampai tau siapa siapa yah sayang termasuk ayah."
" Ham Iyah mas."
" sudah hapus air matanya dan kita akan turun kebawa sayang hitungan jam kita akan menikah sayang."
" Hek hek hek."
__ADS_1
Maira semakin menangis saat Joanna menatap matanya yang sudah bengkak dan menghapus air mata Maira setiap kali air mata itu jatuh. Joanna terus saja menatap Wajah Maira sambil mengucapkan maaf dan silang beberapa menit kemudian Air mata Joanna juga terjatuh dan memeluk Maira dengan erat.
Ketulusan Joanna terlihat saat itu yang membuat Maira kembali luluh dan percaya akan ucapan Joanna kembali. Namun niat untuk pergi dari maldives masih tetap dihatinya dan tidak akan berubah.Baginya Menjauhi adalah jalan terbaik dari pada hanya menginginkan yang mungkin saja bisa bermain api dibelakang.